Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 32



POV : Najla


Najla dan Neil terpaku melihat Alezo yang menyantap mie instan cup dengan lahap. Alezo bahkan sudah menghabiskan dua cup dan sekarang sedang menikmati cup ketiganya.


"Apa kau tidak makan selama seminggu?" Tanya Neil keheranan.


"Aku tidak menyangka mie instan cup ternyata selezat ini," jawab Alezo sambil mengunyah.


"Tunggu. Apa kau tidak pernah makan ini sebelumnya?" Sela Najla.


Alezo menggeleng. Sungguh ia sekarang persis seperti anak kecil yang baru menikmati makanan enak.


"Si kampret ini hanya memakan makanan sehat sejak dulu karena kedua orangtuanya dokter," jawab Neil lalu menyeruput mie nya.


Najla menggaruk kepalanya. Kenapa sepertinya Neil dan Alezo terbalik. Neil seorang dokter tapi suka makan mie instan, sementara Alezo justru lebih selektif memilih makanan sehat.


"Apa aku boleh minta lagi? Punyaku sudah habis tapi aku masih ingin,"


"Tidak!" Jawab Najla dan Neil bersamaan sambil melototi Alezo yang tersentak.


"Ah kalian kompak sekali," goda Alezo lagi-lagi dengan senyum jahilnya.


"Cepat katakan padaku bagaimana kalian bisa berteman dekat seperti ini. Aku tidak lupa dengan pertanyaanku," lanjutnya sambil melipat tangannya di meja.


Najla mendelik. Apa benar ini Alezo aktor tampan yang dipuja-puja para wanita? Najla setuju dengan ketampanannya. Tapi kenapa kali ini Alezo terlihat seperti bocah jahil yang senang memancing emosi?


Najla meletakkan sumpitnya lalu menuruti posisi Alezo, melipat tangannya di meja.


"Listen. Kami bertetangga lalu tidak sengaja kami berpapasan. You know what's funny? Aku pingsan di koridor lalu dia menolongku. Itu terjadi dua kali so we decided to be friend after that. Aku mengundangnya di konser, lalu dia datang. Then we came to the bar and drunk. I slept in his car and can't wake up so dia meggendongku ke sini karna dia tidak tau password unitku  That's all," jelas Najla panjang lebar sambil mengibaskan tangannya.


Alezo dan Neil melongo. Sejurus kemudian dua pria itu kompak bertepuk tangan dan mengacungkan jempol.


"Waw...kau benar-benar seorang rapper handal," puji Alezo takjub.


"Kalimatmu bisa dijadikan sebuah lagu," timpal Neil tak kalah kagum.


Najla mendesis. Ada apa dengan dia pria ini, pikirnya. Kenapa mereka bertiga seperti satu pertemanan padahal ia dan Alezo baru pertama kali bertemu.


"Jadi buang pikiran anehmu jauh-jauh," cetus Najla pada Alezo sambil berkacak pinggang.


"Memangnya apa yang ku pikirkan?" tantang Alezo.


Najla baru akan menjawab ketika ponselnya berdering. Matanya seketika berbinar melihat nama Jemima tertera di layar. Kebetulan Alezo ada di sini, rasanya pasti akan menyenangkan jika Jemima juga datang.


"Ini Jemima," tukas Najla. Namun baru saja ia akan menjawab, Alezo tiba-tiba merebut ponselnya.


"Hey kau kenapa?!" Sentak Najla terkejut.


Alezo menghela nafas. Ia lalu menekan tombol silent hingga ponsel Najla berhenti berdering.


Najla melirik ke arah Neil, berharap Neil mengerti apa yang terjadi namun ternyata Neil mengangkat bahu, pertanda ia pun tak tahu-menahu.


Najla menangkap perubahan raut wajah Alezo. Pria itu terlihat pias dan seperti akan mengatakan sesuatu, namun tertahan.


"Well...Ehm...aku ke sini sebenarnya ingin bertemu Neil. Ada yang ingin ku ceritakan tentang aku dan Jemima," ujar Alezo sejurus kemudian.


"Tapi karena ada kau, sahabatnya, aku kira lebih tepat untuk menceritakannya padamu," lanjut Alezo pada Najla.


Najla mengerjapkan mata. Otaknya seketika berpikir apakah Alezo dan Jemima dalam masalah hingga ia perlu bercerita?


"Lalu aku?" Tanya Neil tiba-tiba.


"Kau pergilah. Aku ingin bicara dengan Najla," jawab Alezo lesu.


Najla mengernyitkan dahi. Bisa-bisanya Alezo menyuruh Neil pergi padahal ini apartemennya. Sungguh sepertinya Alezo sedang eror hingga ucapannya asal.


"Bagaimana kalau kau ke unitku jika itu benar-benar penting. Kau salah mengusir Neil dari unitnya sendiri," ujar Najla memberi solusi.


"Benar juga. Ayo," sahut Alezo tanpa berpikir panjang sambil beranjak.


Sementara Najla dan Neil saling berpandangan karena keheranan dengan tingkah Alezo yang seperti orang linglung.


"Kau bisa menyusul kami nanti," ucap Najla pada Neil sebelum keluar.


***


Najla membuka pintu unitnya dan mempersilahkan Alezo masuk. Najla lalu berjalan menuju kulkas untuk mengambil minuman.


"Kau mau beer atau cola?" Seru Najla dari pantry.


"Beer," jawab Alezo yang duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya.


Najla kembali dengan dua kaleng beer di tangannya dan menyuguhkannya pada Alezo.


"It's so weird menerima seorang Alezo sebagai tamu. Penggemarmu pasti akan membunuhku," canda Najla sambil membuka beernya.


"Jangan berlebihan," tukas Alezo tersenyum malas.


Najla meletakkan kaleng beer setelah menenggaknya beberapa teguk.


"So, jadi apa yang ingin kau ceritakan? Aku mengira-ngira kalian ada masalah,"


"Kau bersahabat dengan Jemima, bukan?"


Najla mengangguk heran.


"Apa kau tahu tentang keluarga Jemima?"


Najla terkesiap mendengar pertanyaan Alezo. Ia menatap mata pria itu yang seolah mendesak untuk segera di jawab. Najla kemudian berdehem, berusaha menetralisir perasaannya yang mulai tak karuan. Mengingat cerita keluarga Jemima selalu membuatnya tak nyaman. Ia mengusap tangannya karena merasa bulu romanya berdiri.


"Ya, I know. I know it well. She told me everything. Dan aku sangat mengingat detailnya," jawab Najla.


Alezo kembali menyandarkan tubuhnya di sofa, mencoba mengatur kata-kata yang akan ia ucapkan pada Najla.


"Apa Jemima masih menyimpan trauma?"


Najla kembali meraih dan meneguk beernya.


"Of course. Itu luka yang sangat dalam. Dia tidak pernah memperlihatkannya padaku tapi ia selalu menangis kencang jika kami membahas tentang keluarga," jawab Najla sesuai kenyataan.


Nyatanya memang Jemima tak lagi pernah mengungkit cerita tragis keluarganya. Namun tentu ada sisi hati yang akan selalu meronta ketika ia mengingatnya.


"Kenapa kau mempertanyakan ini padaku?" Tanya Najla tak dapat lagi menahan rasa penasarannya.


Alezo meremas tangan dan menggetarkan kedua kakinya, persis seperti orang ketakutan.


"Najla...aku harap kau tak bereaksi berlebihan. Aku baru saja menemukan bahwa..."


Najla mencondongkan tubuhnya ke arah Alezo untuk mendengarkannya lebih jelas.


"Sahabat ibu Jemima itu adalah...ibuku," jawab Alezo.


Najla terbelalak. Ia menghempas kaleng beernya di meja.


"What? Oh my God. Seriously? Bagaimana bisa?" Pekik Najla sambil berdiri.


"Wait. Berarti pria yang menjadi kekasih ibu Jemima saat itu adalah...ayahmu?" Selidik Najla dengan nafas memburu.


Alezo mengangguk lemah lalu mengusap wajahnya frustasi.


"Oh, ****! Kebetulan macam apa ini?!" Umpat Najla tak habis pikir.


Najla kemudian menghempaskan kembali tubuhnya ke sofa, mencoba menenangkan diri meski ia pun sama frustasinya dengan Alezo yang kini memijat kepalanya.


Najla tahu betul kebencian Jemima pada sahabat ibunya yang berkhianat. Tentu pria sang mantan kekasih ibunya itu juga menerima sumpah serapah Jemima. Sahabatnya itu bahkan pernah berkata bahwa ia mengutuk mereka sampai ia mati, dan tak akan pernah rela jika mereka hidup bahagia. Lalu ternyata kini memadu kasih dengan Alezo, yang notabenenya adalah anak dari orang yang merenggut kebahagiaan bahkan nyawa sang ibu meski tak secara langsung. Bagaimana bisa semesta mengaturnya seperti ini?


"Alezo...aku tidak akan berada di pihakmu," ucap Najla setelah hening beberapa saat.


"I know. Aku hanya frustasi dengan kenyataan ini. Aku tidak tahu harus bagaimana dengan Jemima. Aku...aku mencintainya. Tapi aku akan menyakitinya jika ia tahu siapa aku sebenarnya," ujar Alezo.


Najla menarik nafas. Ia pun kehabisan kata-kata untuk menanggapi Alezo.


"Jemima pun pasti mencintaimu. Tapi...aku sendiri tidak sanggup membayangkan jika suatu hari ia mengetahuinya,"


"Aku bahkan takut untuk bertemu dengan Jemima,"  sesal Alezo.


"Apa orangtuamu tahu tentang ini?"


Alezo menggeleng. "Entah bagaimana aku akan memberitahu pada mereka. Sementara ibuku sudah sangat menyayangi Jemima,"


Oh Tuhan, rumit sekali, batin Najla. Seketika ia terbayang wajah Jemima yang begitu polos dan tulus. Bagaimana kenangan tragisnya terus terbawa hingga ia dewasa. Bahkan tanpa perlu mencari ia sudah bertemu dengan orang yang paling ia benci di muka bumi.


"Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah merahasiakannya. Aku tidak mau kenyataan itu keluar dari mulutku sehingga Jemima akan tersakiti. She's my other half," ujar Najla.


"Aku bisa saja merahasiakannya seumur hidupku. Namun perasaan bersalah dalam diriku begitu hebat ketika melihat Jemima. Aku tidak bisa seperti ini," tukas Alezo.


"Aku tidak yakin, namun Jemima adalah orang paling tulus yang pernah ku kenal. Mungkin dengan kekuatan cinta kalian dia bisa menerimamu dan keluargamu,"


Najla mengutuk kalimat yang baru saja ia ucapkan karena seperti memberi Alezo harapan. Padahal ia tahu itu rasanya mustahil.


Alezo menghela nafas dan mengusap wajahnya.


"I hope so. Aku justru sangat ingin menjaga dan melindungi Jemima setelah apa yang ia lalui karena orangtuaku di masa lalu,"


"Aku lega mendengarnya. Kau pria baik untuk Jemima. l'll pray for you both because I can't do anything to solve this problem,"


Tak lama kemudian Alezo berpamitan setelah mengucapkan terimakasih pada Najla karena sudah mendengarkannya.


***


Najla memandang lurus ke arah jendela kamarnya yang menampilkan pemandangan lampu kota dari ketinggian. Pikirannya menerawang mereka ulang  percakapannya dengan Alezo tadi siang. Sungguh sebuah kenyataan yang mencengangkan.


Najla meraih ponselnya yang berbunyi. Sebuah pesan dari Neil. Neil mengirimkan pesan terusan yang ia kirim kembali. Pesan yang berisi laporan keadaan sang ibu di rumah sakit dan kemudian dijelaskan ulang oleh Neil dengan bahasa yang lebih mudah Najla mengerti. Pria itu benar-benar menepati janjinya untuk terus memberitahu kondisi sang ibu.


"Dia baik sekali," gumam Najla tanpa sadar tersenyum.


Ia bersyukur dipertemukan dengan Neil dan kini mereka berteman baik. Setidaknya Najla merasa memiliki seseorang yang dapat ia andalkan ketika ia kesulitan.


Tunggu, getaran aneh apa ini?


***