Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 41



Tidak ada yang lebih menyenangkan dari bangun tidur tanpa alarm bagi Jemima. Ia lalu menggeliat meregangkan tubuh setelah mengumpulkan nyawa beberapa detik. Jemima melirik jam dinding dan terkesima karena hari masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Padahal biasanya ia selalu bangun jam delapan atau jam sembilan. Itu pun harus dengan alarm.


"Wah. Kenapa aku bisa bangun pagi saat sedang libur begini," gumam Jemima.


Gadis itu kemudian bangkit dan berjalan gontai menuju kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin memperhatikan matanya yang bengkak. Ya, Jemima masih saja menangis setiap malam teringat akan kisah cintanya dengan Alezo yang begitu ironis. Di satu sisi ia merindukan Alezo, namun di sisi lain ia membenci kedua orangtua Alezo hingga rasanya aneh jika Jemima tetap bersamanya. Bagaimanapun Alezo adalah anak dari orang yang sudah menyakiti ibunya yang sangat ia benci dari dulu. Tak terduga semesta mempertemukan mereka, padahal Jemima tak pernah berniat mencari, hanya mengutuk dalam hati.


Jemima lalu meraih sabun muka dan mulai membasuh mukanya. Setelah membilas busa di wajahnya, ia mengambil sikat dan pasta gigi. Saat menyikat gigi, Jemima teringat akan sesuatu yang membuatnya meringis dan menepuk jidatnya.


"Jemima bodoh!" Umpatnya sambil mempercepat sikat giginya dan berkumur.


Ia lalu keluar dari kamar mandi dan menuju meja rias. Jemima menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan dan seketika otaknya memutar memori saat ia mabuk di club. Jemima sempat tidak mengingat apa yang terjadi dan percaya saat Najla mengatakan bahwa ia diantar pulang olehnya karena kebetulan ada di sana.


Setelah pulang dari apartemen sahabatnya itu perlahan Jemima teringat bahwa ia di hampiri oleh seorang pria asing dan membawanya ke dance floor. Jemima mengumpat ketika mengingat bahwa ia sempat disentuh oleh pria itu. Jemima bersumpah akan menghajar pria sialan itu jika mereka bertemu lagi.


Ingatan Jemima hanya sampai di situ. Ia belum bisa mengingat bagaimana Najla mengantarnya pulang. Sepertinya aku benar-benar mabuk berat, pikir Jemima saat itu. Ia pun tidak merasa curiga dan beraktivitas seperti biasa, hanya ia bersumpah tidak akan datang lagi ke club dan minum sendirian karena ia menjadi korban pelecehan.


Baru tadi malam saat akan tidur setelah menangis tiba-tiba ia teringat apa yang terjadi sesungguhnya. Jemima tidak diantar oleh Najla melainkan oleh Alezo. Yang lebih membuat darahnya berdesir adalah bagaimana ia mencumbu Alezo lebih dulu saat di mobil. Jemima menelan ludah membayangkan bagaimana ia begitu menggebu menikmati sentuhan Alezo. Sungguh ia seperti wanita murahan. Dan pagi ini kembali teringat dan sungguh membuatnya malu.


"Dasar tolol!" Rutuk Jemima pada dirinya sendiri.


***


Jemima mendengus kesal ketika membaca balasan para sahabatnya di grup chat. Najla, Brie dan Calla ternyata sama-sama ada pekerjaan di luar kota sehingga mereka tidak dapat menemani Jemima. Tidak punya teman ketikasedang free pastinya akan membosankan.


Jemima akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian. Sepertinya ide bagus untuk menghabiskan waktu daripada berdiam diri di apartemen. Jemima pun segera mandi dan bersiap-siap. Saat meraih kunci mobil, tiba-tiba ia merasa ragu karena sebenarnya Magnolia melarangnya mengendarai mobil sebagai antisipasi kecelakaan. Selama ini ia selalu bersama supir, sesekali Tita yang menyetir untuknya atau memesan taksi. Larangan menyetir sudah ia terima sejak masih menjadi trainee hingga saat ini meski ia tetap diperbolehkan belajar menyetir.


"Ah hanya sekali. Tidak akan jadi masalah," ujar Jemima menenangkan dirinya. Ia pun melenggang keluar dari apartemennya setelah mengenakan topi dan masker.


Jemima bersenandung ketika mobilnya perlahan merangkak perlahan meninggalkan parkiran apartemen. Ternyata rasanya begitu menyenangkan menyetir sendirian meskipun harus  berjibaku dengan jalanan yang padat.


"Sepertinya aku membutuhkan sesuatu yamg manis," gumam Jemima. Ia pun berhenti di sebuah toko kue.


Mata Jemima berbinar ketika memilih kue-kue lezat yang begitu menggiurkan. Ia memilih beberapa kue dengan suka cita. Saat membayar, kasir yang melayaninya tiba-tiba berbisik.


"Maaf...apa kau Jemima?" Tanya gadis petugas kasir berbisik.


Jemima terkejut. Bagaimana petugas kasir itu dapat mengenalinya meski mengenakan masker dan topi seperti ini?


"Oh...yes I am," jawab Jemima ramah sambil memberikan kartunya untuk membayar.


"Astag...sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku. Bolehkah kita berfoto bersama?"


Jemima menggeleng. Ia terikat dengan peraturan Magnolia yang tidak memperbolehkannya berfoto dengan penggemar kecuali pada saat fans meeting.


"Sayang sekali tidak bisa. Maafkan aku..." ujar Jemima sambil meraih tangan si petugas kasir saat mengembalikan kartunya.


"Ow...Oh Tuhan. Tanganmu lembut sekali. Tidak masalah, aku akan terus mengingat pertemuan denganmu hari ini di benakku,"


Jemima tersenyum. Bertemu dengan penggemar selalu menyenangkan baginya karena ia merasa dicintai. Ia pun berlalu setelah selesai dengan belanjaannya. Jemima kembali memacu mobilnya. Kali ini menuju Serenade Park yang terletak di pusat kota. Dari dulu ia penasaran mengunjungi taman tersebut karena begitu indah dan nyaman untuk sekedar bersantai.


Ternyata benar. Jemima langsung jatuh hati dengan Serenade Park. Ia lalu duduk di bangku taman yang bersebelahan dengan barisan bunga petunia yang indah. Jemima tersenyum senang karena cuaca yang bersahabat menjadikan udara menjadi hangat. Ia pun lalu mengeluarkan sepotong kue coklat dan menyuapkan ke mulutnya. Jemima begitu menikmati kuenya hingga ia menyadari ada banyak keluarga yang beraktivitas di sana. Interaksi keluarga yang terlihat manis entah kenapa membuat hati Jemima mencelos. Tawa riang anak-anak yang bermain bersama orangtua mereka membuat Jemima iri. Ia rindu akan hangatnya keluarga dimana ia merasa terlindungi dan disayangi. Hidup sebatang kara tidak pernah mudah. Hatinya akan selalu merindukan keluarga yang utuh meski ia memiliki banyak cinta dari sahabat dan penggemar.


Tanpa sadar air mata Jemima menetes. Ia menyeka air matanya dengan tangan sambil mengunyah kue yang terlanjur masuk ke mulutnya. Bagaimanapun dia adalah seorang anak yang sampai kapanpun akan merindukan orangtuanya.


"Aw!" Pekik Jemima ketika sebuah bola basket mengenai kepalanya.


Ia mengusap kepalanya yang terasa sakit karena benturan yang cukup keras. Sejurus kemudian seorang pria berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya.


"Permisi. Aku minta maaf. Keponakanku melempar bolanya terlalu kencang. Are you OK?" Ucap pria tersebut pada Jemima.


Jemima mengangkat kepalanya dan mendapati pria itu sedang memandangnya dengan tatapan menyesal.


"Oh...ya. Tidak masalah," jawab Jemima.


"Apa sakit sekali hingga kau menangis?"


Jemima terkesiap. Ia bergegas menghapus matanya yang basah. Sial, aku ketahuan menangis, pikir Jemima.


"Tidak...tidak. Aku kelilipan," dusta Jemima. Ia lalu berpura-pura mengipas matanya dengan tangan.


"Kau...Jemima?"


Oh Tuhan, bertemu penggemar saat suasana hati sedang tidak nyaman adalah hal yang paling dihindari oleh Jemima.


"Ya, benar," jawab Jemima sambil bersiap kembali mengenakan maskernya.


"Apa kau tidak mengenaliku?"


Jemima mendelik. Siapa pria ini, pikirnya. Ia pun sontak menjauh ketika pria itu duduk di sebelahnya.


"Aku Sean," tukas pria itu yang membuat Jemima menoleh.


Sean Fabiasta? Kapten tim nasional sepak bola yang dulu adalah teman SMP-nya?


"Kau..." ucap Jemima sambil menunjuk Sean.


"Teman sekelasmu saat SMP," potongnya cepat.


Jemima membulatkan mulutnya. Siapa sangka ia akan bertemu teman masa kecil yang kini menjadi atlet kebanggaan negara. Jemima sebenarnya tidak asing dengan Sean karena pria itu cukup sering muncul di televisi karena ketampanan dan prestasinya. Bahkan Sean beberapa kali menjadi cover majalah sejak tim nasional sepak bola menjuarai piala dunia. Siapa sangka mereka akan bertemu tanpa terencana.


"Kau sedang apa di sini?" Tanya Sean melanjutkan percakapan.


"Hanya meluangkan waktu," jawab Jemima.


Sean mengangguk. "Apa tidak masalah diva sepertimu di taman umum seperti ini? Bagaimana jika kau didatangi sekumpulan penggemar?"


Jemima tersenyum kikuk. "Daritadi aku berdoa untuk itu,"


Sean tertawa. "Untung penggemarmu yang datang cuma satu," ujarnya.


Jemima mengernyitkan dahi. Maksudnya Sean adalah penggemarnya, begitu?


"Apa boleh aku meminta tanda tanganmu? Akan ku pamerkan pada teman-temanku,"


Jemima tertawa. Sean masih sama seperti dulu, senang melucu. Saat SMP dulu Sean sering menggodanya hingga membuat Jemima kesal. Namun saat kejadian keluarganya terjadi, Sean berubah menjadi sosok teman yang melindungi dan menghiburnya. Mereka tidak pernah lagi bertemu sejak lulus karena Jemima pindah mengikuti bibinya.


Tawa mereka pun berderai. Ternyata rasanya menyenangkan bertemu teman lama dan sekedar mengobrol santai. Jemima menyadari suasana taman yang semakin ramai, sehingga ia khawatir kehadirannya akan memancing kehebohan.


"Sean, aku sepertinya harus pergi," ucap Jemima.


"Ah benar juga. Tidak aman bagimu jika ramai begini,"


Jemima mengangguk dengan wajah menyesal. Ia segera mengenakan masker dan topinya kembali lalu beranjak  setelah berpamitan pada Sean.


"Jemima," panggil Sean saat ia baru berjalan beberapa langkah.


"Ya?"


Sean tak langsung menjawab. Pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Apa kita bisa bertemu lagi seperti ini? Maksudku, aku sudah lama mencari cara agar dapat bertemu dengan teman kecilku. Dan hari ini bisa bertemu denganmu seperti keberuntungan bagiku," ujar Sean panjang lebar.


Jemima tertegun. Sesungguhnya ia pun masih ingin mengobrol dengan Sean. Pria itu membuatnya seolah kembali ke masa kecil dulu dan itu membuatnya nyaman.


"Itu...aku...hmm...tidak yakin," jawab Jemima jujur.


Raut wajah kecewa jelas tergambar di wajah Sean meski ia menutupinya dengan senyuman.


"Baiklah," tukas Sean sambil melambaikan tangan pada Jemima.


Jemima melanjutkan langkahnya setelah membalas lambaian tangan Sean. Dalam hati ia berharap semoga nanti ia dapat bertemu dengan Sean di lain kesempatan.


Jemima menyalakan mesin mobil dan segera tancap gas meninggalkan Serenade Park. Ia menyalakan radio dan tersenyum mendengarkan lagu miliknya di putar. Jemima bernyanyi kecil sampai ia menyadari ada yang tidak beres dengan rem mobilnya.


"Oh Tuhan kenapa ini?!" Seru Jemima panik.


Rem mobilnya tidak berfungsi sementara sebentar lagi ia harus berhenti karena lampu merah. Keringat dingin seketika mengucur deras karena ketakutan.


Brak!!!!


Jemima mau tidak mau membanting setir ke arah trotoar agar mobilnya berhenti daripada menabrak orang lain. Jemima merasa sesak saat airbag yang mengembang hampir menutupi wajahnya. Beruntung ia tidak sempat terbentur hingga tidak ada luka di tubuhnya.


"Matilah aku," ujar Jemima pasrah.


***


Jemima tak berkutik ketika ia disidang oleh para direksi Magnolia. Tak lama setelah kejadian ia menabrak trotoar,salah satu staff Magnolia datang menjemputnya. Di perjalanan ia berteriak karena Spill The Tea mengunggah fotonya dengan Sean saat di taman. Ia tertunduk lesu dengan jantung berdebar tak karuan. Rasanya ia benar-benar ingin di telan bumi detik ini juga daripada harus duduk di kursi panas ini.


"Aku yakin kau tidak lupa dengan peraturan tidak boleh menyetir sendiri. Kau membangkang," ketus Kalina dengan sorot mata tajam.


Jemima menelan ludah. Ia benar-benar tidak menyangka keisengannya menyetir berbuah kesialan. Padahal itu pertama kali ia lakukan sejak bernaung sebagai artis di Magnolia.


"Wow. Hampir semua media memberitakanmu dengan Sean yang tertangkap kamera berduaan di taman," timpal Mahen sinis, yang kini menjabat sebagai komisaris Magnolia. 


Mahen yang biasanya ramah kini berubah seperti macan yang siap menerkam Jemima yang terkena dua skandal sekaligus, berduaan dengan kapten timnas sepakbola dan kecelakaan. Spill The Tea sialan, umpat Jemima.


"Aku...menyesal. Aku minta maaf. Tapi dengarkan penjelasanku lebih dulu," ucap Jemima sejurus kemudian. Ia bergantian menatap Kalina dan Mahen dengan tatapan memohon.


"Sean adalah teman SMPku. Aku bersumpah kami tidak sengaja bertemu. Dan mobilku...aku tidak mengerti kenapa remnya blong...aku bukan dalam pengaruh minuman!" jelas Jemima tanpa berbohong sedikitpun.


Kalina tertawa sinis. "Persetan dengan hubunganmu dengan Sean. Harusnya kau paham bahwa kau tidak bisa sembarangan berada di tempat umum karena paparazzi selalu mengintaimu. Bagaimana kau melupakan itu?"


"Aku tidak mengira kau akan senekat itu melanggar aturan soal menyetir. Magnolia melarangmu bukan untuk mengekang, tapi untuk melindungimu," kali ini Mahen yang bersuara.


Jemima terdiam. Ia sungguh menyesal dan betapa inginnya memutar waktu. Tidak akan ada yang membelanya. Jemima harus menghadapi sanksinya sendiri.


"Skandal kencan dengan dua pria dalam waktu berdekatan dan kecelakaan. Mana yang menurutmu paling memalukan?" Sergah Kalina tanpa ampun yang benar-benar membungkam Jemima.


"Albummu ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan, dan tidak ada job baru hingga berita di luar sana mereda. Kau tahu sendiri bukan berita tentangmu tidak pernah sebentar?"


Jemima terkesiap. Ia tak sanggup bersuara karena akan percuma, tidak akan mengubah apapun. Ia pun menurut ketika Kalina menyuruhnya keluar. Jemima tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia pun menangis di koridor meratapi nasibnya. Kesialannya bertambah ketika tanpa sengaja ia berpapasan dengan Blossom di lobby. Empat gadis itu terang-terangan memandang sinis ke arahnya sambil berbisik satu sama lain.


"Menyebalkan!" Umpat Jemima dalam hati.


***


"Sudah ku katakan dia teman lamaku," ucap Sean gemas sambil menuang beer ke dalam gelas.


Sean tidak menyangka akan menjadi bulan-bulanan media karena fotonya berduaan dengan Jemima tersebar. Sampai-sampai temannya pun memaksa ingin bertemu di bar untuk mendengarkan penjelasannya.


"Tapi kau terlihat begitu akrab dengannya,"


Sean tertawa. "Kami memang akrab saat sekolah. Aku bersyukur bertemu lagi dengannya tapi tidak ku sangka akan menjadi berita. Aku khawatir apa dia baik-baik saja,"


"Kau mencemaskannya?"


Sean mengangguk. "Tentu. Apalagi mendengarnya tabrakan. Aku sampai memantau berita untuk mengetahui kabarnya. Aku senang dia tidak terluka," ucapnya penuh kelegaan.


"Apa kau menyukai Jemima?"


Sean terdiam. Pertanyaan yang sudah dari dulu ia punya jawabannya dan tetap sama. Haruskah ia menceritakan pada temannya bahwa ia menyukai Jemima sejak mereka bersekolah dulu?


"Dia...cinta pertamaku," jawab Sean dengan mata menerawang. "Aku kira itu hanya cinta monyet. Namu setelah dewasa ternyata perasaan itu tidak berubah meski aku hanya melihatnya dari layar kaca,"


"Sorry to say this but...kau harus melupakannya,"


Sean mendelik, tidak memahami ucapan temannya itu. Kenapa dia harus melupakan Jemima sementara harapannya kembali tumbuh karena mereka baru bertemu?


"Dia kekasihku,"


Sean terbelalak, tak percaya dengan kalimat yang dilontarkan temannya itu.


"What? Apa maksudmu, Alezo?" Tanya Sean.


"She's mine. Jelas?" Jawab Alezo dengan tatapan mengintimidasi pada Sean, yang menjadi teman akrabnya sejak mereka menjadi partner dalam sebuah kampanye olahraga dan beberapa kali mengisi sampul majalah bersama.


Sayangnya keakrabam mereka tidak melonggarkan Alezo ketika ia melihat foto Sean dan Jemima. Ia cemburu dan tak terima. Jemima masih miliknya dan tak boleh ada yang mendekati atau menyentuhnya menurut ego Alezo.


"Aku pergi," ucap Alezo sambil beranjak setelah menenggak habis beernya, meninggalkan Sean yang masih ternganga.