Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 45



"Aduh...sakit..." keluh Jemima ketika kembali diikat oleh pria yang menculiknya setelah ia ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Pria itu benar-benar tidak ada belas kasihan pada Jemima. Meski mengenakan masker, Jemima dapat membayangkan betapa menyeramkannya wajah pria itu. Kilatan di kedua matanya begitu menyiratkan keberingasan.


Jemima bernafas lega saat pria itu pergi setelah selesai mengikatnya. Sungguh Jemima tidak pernah membayangkan ia akan mengalami penculikan yang biasanya hanya ia lihat di film.  Kini ia mengalami sendiri bagaimana rasanya ketakutan dan putus asa saat menjadi korban penculikan. Entah siapa yang melakukannya yang jelas Jemima sudah melontarkan sumpah serapah dalam hatinya.


"Apa tangannmu sakit?" Tanya Alezo.


Jemima menoleh. Ia meringis melihat kondisi Alezo yang duduk di lantai dengan tali yang melilit tubuhnya. Pasti rasanya tidak nyaman namun pria itu malah mengkhawatirkannya.


"Tidak terlalu," jawab Jemima sambil melihat ke arah tali yang melingkari kedua tangannya.


"Alezo...bagaimana kita bisa ada di sini?"


"Aku mengikutimu ke Serenade Park," jawab Alezo yang membuat Jemima terperangah.


Jemima baru saja akan bertanya kenapa namun Alezo dengan cepat melanjutkan ucapannya.


"Aku memperhatikanmu dari kejauhan saat kau di pinggir danau. Lalu tiba-tiba aku diserang dari belakang dan tidak sadarkan diri. Aku sempat tersadar saat di bawa ke ruangan ini. Dan salah satu dari mereka kembali menghajarku," jelas Alezo panjang lebar


Jemima menelan ludah mendengar cerita Alezo. Terjawab sudah darimana luka di pelipis pria itu berasal.


"Aku terkejut melihatmu ada di sini saat terbangun," lanjut Alezo lagi. "Artinya kita dibawa ke sini bersamaan,"


Aku pun terkejut melihatmu, batin Jemima.


"Apa mereka sengaja menculik kita berdua?" Tanya Jemima lirih.


Alezo menggeleng. "Entahlah,"


"Lalu....kenapa kau mengikuti ke Serenade Park?"


Alezo menatap Jemima. Seperti biasa Jemima tidak pernah kuat menatap mata Alezo yang begitu teduh.


"Aku merindukanmu," jawab Alezo datar.


Jemima seketika terhenyak mendengar pengakuan Alezo. Ia mengalihkan pandangan mengusir keresahan.


"Akal sehatku menolak untuk mengabaikanmu. Aku harap kau tidak membenciku karena aku mengikutimu dari apartemen, ke restoran Jepang yang kau datangi. Aku butuh melihat sosokmu untuk memastikan kau baik-baik saja;"


Jemima terperangah. Ucapan Alezo serta merta memicu jantungnya berdebar lebih kencang. Ternyata Alezo sama tersiksanya dengan Jemima saat ia memutuskan hubungan mereka. Pria itu bahkan mengakui jika ia merindukan Jemima.


"Entah kenapa ada perasaan lega meski keadaan kita sedang buruk seperti ini. Setidaknya aku dapat melihatmu dan tidak berandai-andai memikirkan kau sedang apa..." tukas Alezo.


Jemima menarik nafas dalam, mencoba sekuat tenaga menenangkan debar jantungnya dan menepis rindu yang menjalar. Sejujurnya dalam keadaan ketakutan seperti ini, terbersit keyakinan ia akan baik-baik saja karena ada Alezo. Atau, sekalipun terjadi sesuatu, setidaknya ia mengalaminya bersama Alezo. Tentu Jemima tak akan mengungkapkan apa yang ia pikirkan itu pada Alezo.


"Tetap saja kita dalam bahaya meski saling melihat satu sama lain," ujar Jemima setelah berhasil menahan gejolak batinnya.


"Aku akan menyelanatkanmu," ucap Alezo.


Jemime mengernyitkan dahi. Bagaimana Alezo bisa menyelamatkannya sementara ia sendiri terikat tak berdaya.


"Apa kau lapar? Kau butuh minum? Aku akan memanggil penjahat itu agar membawakan makanan dan minuman untukmu," ujar Alezo.


Sejurus kemudian Alezo berteriak mencoba memanggil para penculik itu.


"Hey! Kalian! Kemarilah!" Alea berteriak berkali-kali hingga Jemima menghentikannya.


"Cukup, Alezo!" Sentak Jemima yang seketika membuat Alezo terdiam.


"Berhenti mengkhawatirkanku! Pikirkan dirimu sendiri. Tidak ada yang bisa kau lakukan dengan keadaan seperti itu!"


Nafas Jemima memburu. Ia mengalihkan pandangannya dari Alezo yang menatapnya nanar. Jemima kesal karena Alezo terus mencemaskannya padahal kondisinya lebih menggenaskan. Lukanya masih berdarah dan tubuhya pasti masih sakit karena dihajar oleh si penculik. Apa yang bisa Alezo lakukan untuk menyelamatkan diri mereka?


***


"So, yeah. Proyek ini dihentikan sementara waktu," ujar Albar pada seluruh staffnya saat sedang meeting.


Tidak ada yang bersuara setelah Albar berkata demikian. Semua orang hanya saling memandang satu sama lain.


"Apakah mereka memberitahu sampai kapan," tanya Hyuri, direktur operasional perusahaan.


Albar menggeleng dengan wajah lesu. "Mereka hanya mengatakan tidak dapat melanjutkan selama Pak Menteri menjalani pemeriksaan,"


Terdengar helaan nafas dari beberapa orang yang kecewa. Albar pun tentu merasakan hal yang sama. Proyek renovasi gedung Kementerian Wilayah Perbatasan yang susah payah ia dapatkan harus berhenti karena sang menteri terlibat kasus korupsi. Padahal Albar bahkan berseteru dengan perusahaan arsitektur lain yang menjadi saingannya karena mereka ketahuan mencoba mensabotase proyek tersebut dengan menyogok salah satu arsitek yang bekerja di perusahaan Albar. Tanpa ampun Albar langsung memecatnya meski sang karyawan memohon ampun bersujud di kakinya. Tuntutan pun telah Albar layangkan pada pesaingnya itu. Lalu setelah semua yang Albar alami, proyek tersebut justru terhenti.


"Bangsat!" Umpar Albar ketika seluruh staffnya meninggalkan ruangan.


Ia lalu melangkah gontai menuju ruangannya dan berlagak seolah ia tenang-tenang saja di depan para staff padahal perasaannya tak menentu. Kesal, marah, kecewa dan merasa bersalah.


Albar lalu menekan tombol telepon yang tersambung dengan sekretarisnya.


"Aku sedang tidak ingin diganggu. Tolak semua orang atau telepon yang menghubungiku," cetus Albar gusar.


***


Neil menyeruput kopi instan yang baru ia seduh.  Ia lalu membawa cangkir kopinya menuju sofa. Rasanya sudah lama ia tidak menikmat secangkir kopi tanpa terburu-buru. Biasanya ia langsung menenggak habis kopinya yang sudah dingin karena harus segera ke rumah sakit. Karena sedang cuti, ia akhirnya bisa menikmati kopi seperti orang lain.


Neil menyalakan televisi setelah siap dengan sekantong pop corn yang ia beli di minimarket apartemen.


"Sudah lama sekali aku tidak menonton televisi. Kira-kira berita apa yang sedang hangat," ujar Neil sambil menekan tombol remot di tangannya.


Neil sibuk memilih channel lalu tiba-tiba ia terhenti ketika berita menayangkan kasus korupsi oleh Menteri  Wilayah Perbatasan.


"Astaga, aku pernah mengoperasinya!" Seru Neil yang masih mengingat saat ia mengoperasi jantung sang menteri saat awal-awal menjadi dokter spesialis mendampingi dokter utama.


Sang menteri bahkan berniat mengenalkan Neil pada anak perempuannya namun Neil berhasil menghindar dan kabur karena sungkan.


Neil menggelengkan kepala ketika mengetahui sang menteri mengkorupsi dana pembelian senjata dan alat tempur sebesar dua ratus milyar. Padahal pulau Samelo, wilayah perbatasan sedang berkonflik dengan negara tetangga yang mengklaim bahwa pulau itu adalah milik mereka.


"Bagaimana biasa ada manusia serakah sepertinya!" Umpat Neil geram.


Ia kembali menggangi saluran televisi namum semuanya memeberitakan tentang hal yang sama.


"Pasti Alezo," gumamnya. Neil begitu yakin karena sahabatnya tau ia sedang cuti dan tidak kemana-mana.


Neil secepat kilat membuka pintu namun tiba-tiba terkesiap ketika mendapati sosok Najla yang berdiri menghadapnya.


"Najla..." ucap Neil tak sadar bahwa ia hanya mengenakan kaos oblong dan celana rumahan bergambar sponge bob.


"Maaf mengganggumu. Tapi...apa kau bisa menghubingi Alezo?" Tanya Najla. Nada bicaranya terdengar begitu tergesa.


Neil memberi isyarat agar gadis itu masuk.


"Ada apa menanyakan Alezo?" Tanya Nei saat Najla sudah berada di dalam.


"Begini. Aku tidak bisa menghubungi Jemima karena ponselnya tidak aktif. Aku juga tidak menyimpan nomor ponsel managernya. Aku kira ia bersama Alezo namun aku juga tidak memiliki nomor ponselnya. Apa Alezo mengabarimu dan mengatakan ia bersama Jemima?" Jelas Najla panjang lebar.


Neil terhenyak. Ia sendiri pun tidak bisa menghubungi Alezo sejak tadi. Neil tak langsung menjawab. Ia lalu meraih ponselnya dan menekan nomor Alezo. Masih sama, nomor sang sahabat tak kunjung aktif.


"Nomor ponsel Alezo tidak aktif, bahkan sejak tadi pagi," ujar Neil.


Pikiran negatif serta-merta menyelimuti otaknya. Alezo dan Jemima sama-sama tidak bisa dihubungi. Apa hanya kebetulan atau mereka sedang bersama-sama?


Neil lalu meraih buku yang diulurkan oleh Najla.


"Aku menemukan itu di apartemen Jemima. Sungguh aku takut jika terjadi sesuatu..."


Ibu...aku rindu...Andai malam ini kita bisa bertemu, aku akan begitu bahagia berada di pelukanmu


Neil membawa untaian kalimat yang ditulis oleh Jemima. Ia menelan ludah lalu menoleh ke arah Najla yang memandangnya dengan wajah panik. Tulisan Jemima seolah menyirat sesuatu, yang membuat mereka tenggelam dalam pikiran buruk dan tak berani mengungapkannya.


"Bagaimana kita bisa menemukan mereka?" Tanya Najla putus asa, berharap Neil akan menjawab pertanyaannya.


"Apa agensimu sudah tahu?" Neil balik bertanya.


Najla menggeleng. "CEO kami barusan meneleponku menanyakan Jemima karena tidak bisa dihubungi,"


"Apa kita harus lapor polisi?"


"Tidak, tidak perlu. Berita skandalnya dengan Sean belum reda. Aku khawatir bagaimama reasi orang-orang jika mendengar Jemima menghilang," cegah Najla.


Neil menggangguk. Alezo dan Jemima adalah artis terkenal. Jika publik tau mereka menghilang pasti akan menimbulkan kehebohan. Apalagi jika mereka memang sedang bersama. Tentu nama Alezo dan Jemima akan dihujani hujatan.


"Kita akan mencari mereka," tukas Neil, meski ia pun sebenarnya tak yakin.


Ia lalu menoleh ke arah Najla yang menatapnya penuh harap. Neil bertanya-tanya apa gadis itu masih marah padanya atau tidak.


"Lalu...darimana kita akan memulai mencari mereka?" Tanya Najla kemudian.


"Adikku polisi. Aku akan meminta bantuannya untuk melacak ponsel mereka," jawab Neil.


"Baiklah. Kabari aku setelahnya," ujar Najla.


Gadis itu lalu beranjak dan berjalan ke arah pintu. Saat Najla sudah berada di ambang pintu, Neil berdiri dan memanggilnya.


"Najla...aku...aku minta maaf untuk yang terjadi kemarin," ucap Neil terbata. Entah kenapa lidahnyan terasa berat untuk digerakkan.


Najla berhenti sejenak. Neil menunggu gadis itu berbalik. Sayangnya beberapa detik kemudian Najla melanjutkan langkahnya tanpa menoleh sedikitpun pada Neil.


***


Najla menenggak habis segelas air putih dingin setelah ia kembali dari unit Neil. Ia lalu mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangan. Perasaannya sungguh tak menentu. Sesungguhnya ia masih enggan bertemu Neil, namun ia tidak punya pilihan lain karena ia butuh bantuan untuk menemukan Jemima. Yang mengejutkan ternyata Neil pun tidak dapat menghubungi Alezo yang ia kira bersama Jemima.


Najla berjalan ke arah sofa dan menghempaskan tubuhnya. Otaknya tidak dapat berpikir menebak dimana Jemima berada. Tidak ada satu tempat pun yang terbayang olehnya.


"Jemima kau dimana?" Gumam Najla sambil mengusap wajahnya.


Di tengah kekalutan memikirkan Jemima, ternyata ia tak dapat mengelak untuk memikirkan Neil. Najla mengira ia marah besar pada pria itu karena lancang menantang keluarganya. Lalu kenapa saat bertemu Neil justru yang terasa adalah rindu yang menggebu? Najla hampir saja menghambur ke pelukannya saat Neil membuka pintu.  Untung akal sehatnya masih berfungsi hingga itu tak terjadi. Kemana rasa kesal yang kemarin seolah membakarnya?


Najla menyalakan televisi untuk mengusir kesunyian. Ia terbelalak dan sontak bangkir dari duduknya ketika layar televisi menampilkan Kalina yang sedang mengadakan konferensi pers.


"Kantor kami menerima surat kaleng anonim yang mengancam bahwa salah satu artis kami akan dicelakai. Saya sebagai CEO telah melakukan pengecekan seluruh artis kami dan semuanya masih aman kecuali...." Kalina menghela nafas sejenak.


"Kami tidak dapat menhubungi Jemima sejak kemarin malam,"


Ucapan Kalina sontak memancing keriuhan para media. Tentunnya kabar itu akan menjadi berita besar. Jemima Tsamara, sang diva menghilang setelah agensinya menerima ancaman surat kaleng.


"Kami tidak mengerti motif di balik itu. Kami sangat memohon bantuan dari kepolisian untuk dapat menemukan Jemima,"


Darah Najla berdesir mendengar ucapan Kalina tentang surat kaleng. Bagaimana jika Jemima benar-benar akan celaka, atau bahkan saat sini sudah terjadi sesuatu yang buruk padanya? Oh Tuhan, lindungi sahabatku, batib Najla.


Najla mendengus melihat Kalina yang meninggalkan lokasi konferensi pers dengan gestur mengusap matanya. Apa benar ia merasa panik akan Jemima, pikir Najla. Lagi pula terlalu cepat rasanya Kalina mengumumkan kabar tentang Jemima.


Najla tersentak ketika belnya berbunyi. Ia lekas membuka pintu setelah mengintin dari door view dan mendapati Neil berdiri menghadapnya.


"Kau sudah meliha berita?" Tanya Neil.


Najla mengangguk. "Baru saja,"


"Adikku sudah melacak ponsel mereka berdua. Terakhir mereka berada di Serenade Park tadi malam pukul delapan malam," jelas Neil.


"Mereka ternyata bersama?" Ulang Najla.


Neil mengangguk. "Kita harus pergi. Mungkin ada petunjuk di sana,"


Najla menurut. Ia mengambil hoodienya ke dalam terlebih dahulu lalu kembali untuk pergi bersama Neil.


***


HAIIIII


Mohon support untuk like dan favorit yah readers tersayang. I love you all.