Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 44



"Bagaimana, deal?" Ucap seorang pria dengan stelan jas sambil melipat tangannya di dada penuh percaya diri.


Di hadapannnya terpampang tumpukan uang di dalam sebuah koper yang ia arahkan pada seseorang yang duduk di depannya.


"Satu milyar. Ku beri bonus lima ratus gram emas batangan," lanjutnya tersenyum penuh percaya diri.


Seseorang di hadapannya tertawa lepas. Ialu meraih cangkir berisi teh dengan asap yang masih mengepul lalu menyeruputnya pelan.


"Teh chamomile tidak pernah mengecewakanku," ujarnya. "Hangat, manis, dan menenangkan,"


Pria itu menaikkan alisnya, pertanda mempersilahkan seseorang itu melanjutkan kalimatnya.


"Sama seperti uang dan emas ini. Hangat dan manis. Tapi sayangnya belum membuatku tenang," tukasnya lagi.


"Apa ada lagi yang kau butuhkan?"


Seseorang itu lalu berdehem.


"Jaminan bahwa hidupku akan tenang tanpa was-was memikirkan akan terbongkar," tegasnya kali ini dengan sorot mata tajam yang mengintimidasi.


Pria itu menarik nafas dalam lalu membuangnya kencang. Merasa terusik dengan kalimat seseorang tersebut.


"Kau tau bukan sedang berurusan dengan siapa? Singkirkan keraguanmu. Itu menyinggungku,"


"Aku hanya memastikan tak akan ada hal buruk yang menantiku setelah menerima ini,"


Pria itu lalu menyalakan sebatang rokok dan menyesapnya.


"Kau bahkan tak akan membutuhkan teh chamomilemu itu untuk menenangkan diri," tukas pria itu sambil beranjak pergi.


Sepeningglnya, seseorang itu tersenyum puas. Ia megelus tumpukan uang dan emas yang begitu berkilau di matanya.


***


Jemima terbangun dan membuka mata dari tidurnya. Ia menarik nafas dan mengerjapkan matanya beberakali untuk mengumpulkan nyawa. Kepalanya terasa berat seperti dihimpit sebuah batu. Jemima yang ingin memijit kepalanya tiba-tiba tersentak karena mendapati kedua tangannya terikat di sisi tempat tidur. Ia lalu tersadar bahwa ia tidak berada di kamarnya, namun di sebuah ruangan kumuh, seperti sebuah gudang. Sorot lampu yang redup semakin menambah kesan mencekam. Ruangan itu begitu pengap dan lembab. Tempat tidur yang ia tempati pun sudah reot dan hanya beralaskan kasur tipis. Jemima seketika merasakan disergap ketakutan.


"Tolong! Tolong! Apa ada orang di sini? Lepaskan aku!" Teriak Jemima sambil menangis. Dengan susah payah ia mencoba untuk bangkit dan duduk meski dengan tangan terikat.


Jemima memperhatikan pakaiannya yang masih lengkap bahkan ia masih mengenakan sepatunya. Setidaknya tidak dilecehkan meski keadannya saat ini pun buruk. Jemima berpikir keras bagaimana ia bisa berada di sini. Seingatnya tadi malam ia berada di Serenade Park sendirian. Jemima hanya terbayang saat ia menangis di pinggir danau. Ia tidak dapat mengingat saat seseorang menyergapnya dari belakang dan menyumpal mulut Jemima dengan kain yang sudah diberikan obat bius.


Apa saat ini ia sedang diculik, batin Jemima. Siapa yang melakukannya? Bagaimana kalau ia dibunuh atau disiksa?Ā  Sungguh tubuh Jemima menggigil sangking ia ketakutan.


"Tolong! Lepaskan aku! Aku takut...Oh Tuhan...tolong..." Jemima kembali berteriak mencoba meminta pertolongan meski ia pun tak yakin.


Jemima tersentak karena tiba-tiba mendengar suara pria yang terbatuk. Matanya sontak mencari sumber suara dan ia terperanjat ketika mendapati Alezo yang duduk di lantai dengan tubuh terikat di tiang penyangga.


"Alezo...." lirih Jemima. Tubuhnya merinding melihat Alezo dengan darah mengalir dipelipisnya.


Pria itu masih terbatuk dan terlihat seperti baru sadar. Jemima menunggu Alezo mengangat kepala dan melihatnya.


"Mima..." ucap Alezo sambil menatapnya.


Jemima seketika menangis. Bagaimana bisa ia dan Alezo berada di tempat ini bersama? Siapa yang tega melakukan ini pada mereka berdua? Dan darah di wajah Alezo, apa dia di hajar oleh orang yang membawa mereka ke sini?


"Alezo...apa yang terjadi?" Tanya Jemima.


Alezo menggeleng, pertanda pun tidak mengetahui apapun. Ia sama-sama korban seperti Jemima.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Alezo balik. "Apa tanganmu sakit? Kepalamu pusing?"


Jemima tak menjawab karena terenyuh mendengar Alezo yang justru mempedulikan keadaannya padahal ia sendiri terluka.


"Aku takut...." lirih Jemima.


Tak lama setelah berkata demikian, tiba-tiba pintu terbuka, bersamaan dengan masuknya satu orang pria bertubuh tinggi yang mengenakan masker dan topi hitam. Jemima merasakan darahnya berdesir karena meliha pria itu menenteng sebuah pistol.


"Sudah terjaga, huh?" Tanya pria itu bergantian menatap Jemima dan Alezo.


"Kalian berdua terbiasa dengan kehidupan glamor, bukan? Sesekali nikmatilah kehidupan seperti ini," tukas pria itu sambil terkekeh meledek dua sanderanya.


"Setidak datang dengan membawa air minum dan makanan untuk gadis itu, bodoh," sela Alezo.


Pria itu lalu berjalan mendekati Alezo. Jemima sontak teriak ketika pria itu menendang Alezo berkali-kali.


"Hentikan!!!" Pekiknya setelah melihat hidung Alezo mengeluarkan darah.


"Berani-beraninya yang mengataiku bodoh, brengsek! Apa kau merasa pintar, hah?!" Sergahnya sambil meninju wajah Alezo.


Pukulannya terhenti saat satu lagi pria dengan pakaian serba hitam masuk.


"Hey apa yang kau lakukan?!" Sentak pria kedua sambil menghentikan temannya yang membati-buta menghajar Alezo.


"Apa masalahmu dengannya?!" Bentak pria kedua setelah temannya berhenti.


Pria bertopi tak menjawab. Nafasnya naik turun dengan cepat pertanda ia menahan emosi yang kuat. Jemima tak berkutik ketika dua pria yang menculiknya sedang berdebat. Otaknya segera menangkap bahwa sepertinya pria kedua adalah atasan si pria bertopi karna ia menurut ketika disuruh keluar.


Pria kedua lalu memandang ke arah Jemima dan Alezo.


"Bersikap baiklah jika kalian tidak ingin terluka," ancamnya. Suara baritonnya semakin membuat ucapannya begitu mengerikan.


Usai berkata demikian, pria itu keluar tanla mengindahkan Alezo yang terluka dan Jemima yang terus menangis. Hati Jemima teriris melihat Alezo yang menengadahkan kepalanya berusaha menhentikan darah yang masih mengalir dari hidungnya.


Sampai kapan meraka akan di sini, batin Jemima gusar. Apakah ada yang akan menolong mereka, atau apakah justru mereka akan mati di sini. Sungguh Jemima tak dapat berpikir tenang. Ia dan Alezo sama-sama tak berdaya hingga mustahil untuk bisa saling menyelamatkan.


***


"Ah sebaiknya aku menghubungi Albar," gumam Neil. Untung ia sempat bertukar nomor ponsel ketika mereka bertemu saat merayakan kepulangan Albar dari Amerika beberapa bulan lalu.


"Yo, Neil," jawab Albar tak lama Neil menekan nomor ponselnya.


"Hey, Albar. Bagaimana kabarmu?" Tanya Neil basa-basi.


"I'm fine," jawab Albar. "Ada apa?


"Apa Alezo bekerja hari ini? Ah, apa kau di rumah bersama Alezo?" Tanya Neil langsung pada intinya.


"Justru aku pun tidak bisa menghubunginya. Ia tidak pulang sejak tadi malam. Aku kira dia bersamamu atau teman-temannya yang lain,"


Neil terdiam. Jawaban Albar membuatnya bertanya-tanya kemana perginya Alezo.


"Mungkin dia bersama teman-teman artisnya," balas Neil menduga-duga.


"Hmm ya bisa jadi," jawab Albar.


"Baiklah. Maaf mengganggu waktumu. Kau pasti sedang sibuk di dapur, bukan?"


"Dapur?" Tanya Albar dengan nada bingung.


"Koki handal sepertimu pasti sibuk memasak makanan lezat. Beri tahu dimana hotel atau restoranmu. Aku akan datang," tukas Neil berniat memuji.


"Ehm...Neil...tapi aku...arsitek..."


"What?!" Neil tersentak. "Bukankah kau sekolah untuk menjadi chef di Amerika?"


Terdengar tawa Albar di ujung sana. "Apa Alezo yang memberitahumu begitu?"


Neil menelan ludah. Alezo memang pernah menceritakan Albar yang kuliah di Amerika dan menyebutkan kampus dan jurusannya. Sayangnya ia tidak mengingatnya sama sekali. Neil jutru mengingat Albar ahli memasak, hingga ia mengira Albar menempuh pendidikan untuk menjadi chef.


"Ah tidak-tidak. Well, thans for your time. See you," tutup Neil lalu meletakkan ponselnya di meja.


Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ternyata ia dan Alezo sama-sama salah dalam mengingat adik satu sama lain.


***


Najla mendengus setelah mengetahui bahwa Blossom akan mengadakan konser. Ia menyeka keringatnya yang mengalir setelah latihan dance di stuio sambil memperhtikan ponselnya. Girl grup juniornya di Magnolia itu benar-benar sedang di atas angin. Lagu mereka berada di peringkat pertama di semua chart, menggeser lagu miliknya dan Jemima serta para penyanyi lainnya.


Najla tidak akan kesal jika Blossom benar-benar bekerja keras seperti yang ia lakukan dan penyanyi lain di Magnolia. Nyatanya Blossom diperlakukan khusus Oleh Magnolia. Masa promosi mereka lebih panjang dengan lagu yang berturut-turut di keluarkan. Jauh berbeda dengan Magnolia memperlakukan Najla dan penyanyi lainnya.


Najla tak dapat menutupi kecurigaannya. Ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan Magnolia dan Blossom, namun tentu ia tak dapat melakukan apapun meski Najla sangat ingin mengetahui sesuatu.


"Hey Najla,"


Najla menoleh ketika ada yang menyapanya. Ia menelan ludah ketika yang memanggilnya adalah Tanaya, leader Blossom yang dengan santai langsung duduk di sebelahnya. Najla cepat-cepat mematikan layar ponselnya agar tidak ketahuan ia sedang melihat peringkat tangga lagu.


"Kau tahu kami akan konser, bukan? Kami akan mengcover salah satu lagumu," ujar Tanaya.


"Ow...oke. Good. It's a honor for me," jawab Najla sekenanya.


"Ya, kami juga akan membawakan koreografinya. Dancemu mudah sekali hingga kami dalam sekejap bisa menghafalnya,"


Najla terdiam. Ia terkenal akan dancenya yang enerjik dan sulit hingga tak mudah untuk diikuti. Ailee, koregarafer utama Magnolia yang menciptakan gerakannya pun mengatakan ia sengaja membuat tarian sulit. Bahkan Najla membutuhkan waktu dua bulan untuk mempelajari hingga mahir untuk satu koreografi yang dibuat untuknya. Lalu dengan entengnya Tanaya mengatakan tariannya mudah.


"Good luck then," ujar Najla sambil beranjak ingin meninggalkan Tanaya.


"Ah, ya. Jangan salahkan kami jika cover versi Blossom akan menjadi lebih trending, seperti lagu-lagu lain yang kami cover," ucap Tanaya yang lebih terasa meledek daripada meminta izin.


Najla menghentikan langkahnya. Ia lalu berbalik dan menantang Tanaya.


"Just do it, arrogant newbie," sinis Najla. Ia merasa puas melihat perubahan wajah Tanaya setelah mendengar ucapannya.


"Aku harus menceritakan ini pada Jemima!"


Najla lalu meminta supirnya untuk mengantarkan ke apartemen Jemima meski ponsel sahabatnya itu tidak dapat dia hubungi. Najla yakin Jemima ada di apartemen dan menduga Jemima sengaja mematikan ponselnya untuk menenangkan diri.


Sayangnya Najla menunggu lama di depan pintu unit Jemima kareja sahabatnya itu tak kunjung membuka pintu padahal ia sudah menekan bel berkali-kali. Apa dia sedang keluar, pikir Najla. Tapi rasanya tidak mungkin mengingat Jemima yang sedang down. Ia pasti tak akan berselera untuk keluar.


Najla mencoba menekat kata sandi pintu apartemen Jemima dan seketika terbuka, padahal Najla hanya asal menekan tanggal lahirnya.


"Ternyata dia masih menjadikan tanggal lahirku untuk password," gumam Najla.


Ia lalu masuk dan berteriak memanggil Jemima, namun tak kunjung ada jawaban. Ia pun tak menemukan Jemima di manapun. Najla tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar, apalagi nomor ponsel Jemima tak kunjung aktif.


Mata Najla lalu menangkap sebuah buku dan foto yang tergeletak di meja makan. Ia mengerutkan dahi saat mengetahui itu adalah foto masa kecil Jemima dan ibunya. Najla lalu meraih buku yang tertera tulisan Jemima yang seketika membuat bulu kuduknya berdiri.


"Ibu...aku rindu...Andai malam ini kita bisa bertemu, aku akan begitu bahagia berada di pelukanmu,"


Najla ternganga. Ia tidak dapat menahan pikiran buruknya tentang apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Oh Tuhan, Jemima!!" Pekik Najla sambil berlari keluar dan berpikir untuk mencari bantuan untuk mencari Jemima.


Namun pada siapa?


***


Dear pembaca tersayang. Jangan lupa support untuk like, beri komen dan jadikan Why Can't I Hold you sebagai favorit, ya. TerimakasihšŸ¤