
Cuti yang ia kira akan indah ternyata berbanding terbalik bagi Neil. Ia yang berniat menghabiskan waktu dengan tidur nyatanya tidak bisa memejamkan mata karena teringat akan Alezo dan Jemima yang menghilang. Pikiran buruk selalu menghampiri setiap matanya akan terpejam hingga mengusir rasa kantuknya.
Neil baru saja selesai mandi ketika ponselnya berbunyi. Ia masih bertelanjang dada dengan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnnya. Ternyata buah panggilan video dari Maura. Tak menunggu lama ia segera menekan tombol hijau.
"Hai Neil...Arghh kenapa kau tidak memakai baju? Apa kau tidur dengan pacarmu?" Pekik Maura ketia wajah Neil muncul di layar ponselnya.
"Ssshh aku baru selesai mandi! Apa kau kira aku pria mesum?!" Omel Neil sambil berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian.
Maura tertawa. Ia selalu puas setiap membuat Neil kesal.
"Ada hal penting yang harus aku sampaikan. Dengarkan baik-baik," ujar Maura.
"Ada apa?" Tanya Neil penasaran. Kini ia sudah mengenakan kaus oblong untuk menutupi tubuhnya.
"Kasus menghilangnya Jemima ditangani oleh satuanku. Tapi...entah kenapa mereka seperti tidak serius,"
Neil mengerutkan dahi pertanda tak mengerti. "Maksudmu?"
"Ini seharusnya kasus besar, bukan? Seorang Jemima menghilang dan ada ancaman pada agensinya. Aku kira satuanku akan membentuk tim khusus namun ternyata tidak sama sekali," lanjut Maura.
"Bahkan....aku tidak sengaja mendengar mereka mengatakan tidak perlu bersusah payah toh Jemima akan kembali dengan sendirinya. Sungguh aku tidak mengerti apa maksudnya,"
"What?" Neil terkesiap mendengar penjelasan Maura.
Ia kira polisi benar-benar mencari Jemima. Mereka bahkan mengadakan konferensi pers dan berjanji akan mengerahkan personil secara maksimal untuk menemukan Jemima. Tentu ia heran setelah mengetahui mereka justru menyepelekan kasus Jemima.
“Dan kenapa berita hanya mengabarkan Jemima tanpa Alezo? Bukankah mereka bersama? Lokasi terakhir mereka saat aku lacak berada di tempat yang sama,”
“Akan ku jelaskan nanti. Saat ini artinya aku tidak bisa berharap pada polisi. Aku akan mencari cara untuk menemukan mereka,”
"Aku akan membantu sebisaku. Kau bisa menghubungiku jika membutuhkan sesuatu,"
Neil memutuskan sambungan ketika percakapan mereka berakhir. Penjelasan Maura benar-benar membuatnya bingung. Kenapa polisi tidak serius dalam menemukan Jemima, padahal pemberitaan hilangnya sang diva menjadi berita nasional utama. Neil tersentak ketika mendengar bel berbunyi. Ia bergegas menuju pinti dan mengintip di doorview.
"Albar?" Gumamnya ketika mendapati adik Alezo itu di depan pintu.
"Hai," sapa Albar ketika Neil membuka pintu.
"Aku kebetulan usai meeting dengan klien di restoran sebrang. Jadi aku berpikir untuk mampir," ujar Albar setelah Neil mempersilahkannya untuk masuk dan duduk.
Neil mengangguk. "Kau pasti memiliki maksud datang ke sini," ucapnya.
"Ehm...ya. Aku sudah tidak bisa menghadapi orangtuaku yang terus-terusan bertanya tentang Alezo yang tidak bisa dihubungi," jelas Albar.
"Dan aku pun khawatir akan kondisi kakakku,"
Neil menghela nafas. Ia pun sama khawatirnya.
"Ada yang mengganjal pikiranku. Media hanya memberitakan Jemima tanpa Alezo. I mean...berarti sebenarnya yang diculik secara sengaja adalah Jemima, bukan Alezo," tukas Albar.
"Ya. Aku juga tak habis pikir soal itu," timpal Neil.
"I don't know but...Do you feel weird karena pemberitaan tentang Jemima begitu sporadis?"
"I don't got it. Jelaskan padaku pikiranmu,"
"Berita hangat apa yang terakhir kau dengar?" Tanya Albar.
Neil berpikir sejenak, mencoba mengingat berita besar apa yang baru terjadi.
"Sepertinya kasus korupsi Kementerian Wilayah Pebatasan,"
Albar menjetikkan jarinya. "Benar. Itu kasus korupsi pertama sejak lima tahun terakhir negara kita bebas dari korupsi. Apa kau menyadari bahwa tidak ada lagi media yang memberitakannya? Padahal itu kasus luar biasa," ujar Albar sambil menatap Neil.
Neil membalas tatapan Albar. Otaknya seketika mencerna ucapan Albar dan menghasilkan sebuah kesimpulan yang membuatnya merinding.
"Penculikan Jemima hanya pengalihan isu?"
"Exactly. Itu yang kupikirkan," balas Albar.
Neil terdiam. Ia menyambungkan percakapannya dengan Albar dengan informasi yang Maura sampaikan padanya melalui telepon. Ada benang merah di sana. Dugaannya bisa menjadi sebuah fakta mengingat polisi pun tak serius mencari Jemima.
"Kita harus temukan sendiri mereka," cetus Neil.
***
Najla, Calla dan Brie berdiri bersama berhadapan dengan Pak Dudi, supir Jemima. Pria paruh baya itu jelas terlihat kikuk dan Najla bersumpah melihat tangannya gemetar.
"Sungguh, Nona. Saya langsung pulang ketika Tuan Alezo datang dan mengatakan akan menemani Nona Jemima," jelasnya saat Najla menghujaninya dengan pertanyaan tentang malam sebelum Jemima menghilang.
"Lalu Anda kemana setelah menyimpan mobil Jemima?" Desak Brie.
"Saya pulang kampung, Non. Sudah izin pada Nona Jemima saat itu dan beliau mengizinkannya,"
"Anda harusnya melihat berita Jemima, bukan? Lalu kenapa tidak melakuka sesuatu?" Kali ini Calla yang bersuara.
"Saya melihatnya, Nona. Makanya saya kembali ke sini. Namun tidak tahu harus melakukan apa. Nona Tita juga masih di luar kota," jelas Pak Dudi dengan wajah memelas.
Najla, Brie dan Calla saling berpandangan. Pak Dudi sepertinya benar-benar tidak tahu apapun. Lagipula ia hanya seorang pria baruh baya yang menurut Jemima tidak banyak bicara karena terlalu merasa rendah diri.
Mereka bertiga pun kemudian pergi setelah tak ada lagi informasi yang bisa diberikan oleh Pak Dudi yang masih berdiri terpaku sepeninggal mereka.
***
Jemima menyuapkan makanan ke mulutnya dengan terpaksa. Para penculik itu memaksanya makan. Ia sudah menolak berkali-kali namun ia tak dapat berkutik ketika penculik itu mengancam akan menghajar Alezo yang kembali terikat. Tentu Jemima tidak tega melihat Alezo yang sudah babak belur.
Sungguh ia benar-benar tidak bisa menelan makanan dengan kondisi seperti saat ini. Pria itu kemudian merampas wadah di tangan Jemima dan meletakkannya asal di atas meja. Ia lalu mengikat kembali tangan Jemima dan keluar setelah selesai. Sepeninggal pria itu, Jemima mencoba memanggil Alezo yang terpejam dan tak berdaya.
"Alezo...Alezo...Apa kau mendengarku?" Panggilnya.
Tak ada jawaban.
"Alezo..." ulang Jemima.
Tak lama kemudian Alezo merespon. Ia mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Jemima.
"Apa kau kesakitan?" Tanya Jemima khawatir.
Bagaimana tidak. Ada bekas darah mengering di pelipisnya dan lebam di pipinya. Jemima menatap Alezo yang terdiam beberapa detik.
"Maafkan aku gagal membawamu keluar dari sini," ujar Alezo lirih.
Jeima menggeleng cepat. "Tidak. Jangan meminta maaf untuk itu,"
Ia begidik ngeri bagaimana Alezo dihajar kemarin malam hingga tak sadarkan diri. Sungguh ia tak mau lagi itu terjadi. Rasanya Jemima memilih pasrah daripada mereka berusaha kabur lalu kembali ketahuan.
Jemima termenung mengira-ngira kepada siapa penculik akan meminta tebusan atas dirinya. Apakah pada Magnolia, pikirnya. Kalau benar sungguh ia sudah begitu merepotkan agensinya. Jemima langsung terbayang wajah Kalina yang pasti akan memandangnya sinis penuh kebencian. Ia pasti akan dikira tidak bisa menjaga diri sendiri dan nama baik agensi.
Jemima kemudian terbelalak ketika Alezo menggerak-gerakkan tubuhnya, berusaha untuk melepaskan tali yang membelit. Sejurus kemudian Alezo benar-benar terlepas. Astaga dia kembali nekat, pikir Jemima gusar.
"Alezo...kita dalam bahaya jika kau ketauan," bisik Jemima panik.
Alezo tak menjawab. Ia lalu berdiri dan meraih sebuah belati yang tergeletak di lantai. Jemima tak melepaskan pandangannya dari gerakan Alezo yang membuat jantungnya berdebar. Jemima terperanjat ketika Alezo yang berdiri di depan pintu berteriak memanggil para penculik. Oh Tuhan apalagi yang akan dia lakukan, gumam Jemima.
"Aaaaaaa!!!" Jemima berteriak ketika penculik itu pun datang yang serta merta dihantam oleh Alezo dengan belati ditangannya.
Penculik itu seketika ambruk. Alezo menyeret tubuh pria itu lalu mengikatnya seperti yang merela lakukan pada Alezo. Setelah selesai Alezo bergegas melepaskan ikatan tangan Jemima.
"Alezo...aku takut..." lirih Jemima.
"Aku janji kali ini kita akan berhasi pergi dari sini. Mereka hanya berdua. Satu sudah ku tangani. Melawan satu orang lagi tidak akan sulit," ujar Alezo.
Jemima tak mampu melawan ketika Alezo menarik tangannya untuk keluar. Mereka berjalan cepat untuk segera menuju pintu keluar. Sialnya saat membuka pintu mereka mendapati pria kedua berdiri di sana.
"Bangsat!" Teriak pria itu sambil menyerang Alezo.
Jemima kembali berteriak karena Alezo dan pria itu bertarung saling menjatuhkan satu sama lain. Berkali-kali Alezo melepaskan pukulan dan tendangan, namun berkali-kali pula ia menerima serangan. Darah mulai menetes di lantai, entah milik siapa. Yang jelas itu membuat Jemima sesak nafas. Jemima mengigil melihat Alezo yang terdesak terjatuh ke lantai dan sekuat tenaga menahan serangan pria penculik yang berusaha meninjunya berkali-kali. Mata Jemima menangkap sebuah kursi kayu di dekatnya. Tak ayal Jemima mengangkat kursi itu dan menghempaskannya tepat ke kepala pria penculik yang seketika ambruk menimpa tubuh Alezo.
Nafas Jemima terengah-engah memperhatikan Alezo yang menepis tubuh pria itu. Ia tak menyangka mampu melakukan hal barusan.
"Alezo..." lirih Jemima dengan tubub gemetar. Ia lalu berlutut mendekati Alezo yang masih terhuyung.
"Hey. Terimakasih," ucap Alezo dengan suara serak.
"Ayo kita cepat pergi..." ujar Jemima lagi.
Alezo justru menggeleng. "Aku harus mengikat pria ini untuk memastikan kita aman,"
Jemima hanya diam memperhatikan Alezo yang menyeret pria itu lalu mengikat tangan dan kakinya. Setelah selesai Alezo meraba saku celana pria itu untuk mencari ponsel. Sayangnya tidak ada.
"****," umpatnya.
Jemima beranjak lalu menarik tangan Alezo agar mereka segera meninggalkan tempat itu. Baru saja mereka akan melangkah, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki yang berjalan mendekat. Seketika darah Jemima berdesir. Oh Tuhan, lagi-lagi gagal, batin Jemima.
Tarikan tangan Alezo seketika membuyarkan pikiran Jemima. Mereka lalu bersembunyi di balik tumpuka meja dan lemari kayu usang yang tersusun rapat. Jemima tidak dapat menahan tubuhnya yang gemetar. Tangannya pun terasa dingin. Ia pun tak menolak ketika Alezo memeluknya untuk mengurangi rasa takut.
"Brengsek! Ekskutor bodoh! Cari mereka sampai dapat!"
Suara teriakan pria terdengar begitu menggelegar.
"Kita akan mati jika dia menghilang. Perjanjiannya hanya lima hari dan kita harus mengembalikannya pada Kalina!"
Jemima mendelik. Kalina? Apa nama yang dimaksud adalah CEOnya? Jemima melirik Alezo yang juga ternyata memandangnya.
"Hey. Kenapa kau harus takut? Toh tidak ada perjanjian akan keselamatan gadis itu. CEO itu juga tidak akan berani berbicara setelah kau menyumpal mulutnya dengan uang," sahut pria lainnya.
Glek. Jemima menelan ludah. Telinganya mendengar dengan jelas ucapan mereka. Apa penculikaannya adalah sebuah rencana dan Kalina terlibat di dalamnya?
"Bahkan jika gadis itu muncul, pasti media akan gencar memberitakannya. Otomatis kasus Menteri Wilayah Perbatasan semakin tak akan tersorot dan tenggelam. Itu target utama kita, bukan?"
Jemima seketika lemas. Ternyata ia hanya dijadikan pion untuk pengalihan isu pemerintah. Dan yang membuatnya sesak ternyata Kalina menjadi salah satu dari mereka yang menyerahkannya untuk disekap. Tepukan lembut Alezo di punggungnya sama sekali tidak membantu menenangkan hati Jemima. Ia ingin menangis berteriak sekencang-kencangnya.
"Mereka pergi," bisik Alezo setelah terdengar suara langkah kaki yang menjauh.
"Ayo keluar. Kau pasti sesak," ajak Alezo sambil menuntun tangan Jemima.
Mereka lalu keluar dan terkejut marena mendapati pria yang menculik mereka masih tergeletak terikat tak sadarkan diri. Kenapa rekannya yang tadi datang tidak menolongnya, batin Jemima.
"Kenapa....kenapa mereka tega kepadaku..." lirih Jemima di tengah-tengah isak tangisnya.
Alezo tak menjawab. Ia pun sama terkejutnya mengetahui fakta penculikan mereka.
"Mima...aku tau suasana hatimu sedang buruk. Namun saat ini yang harus kita lakukan adalah pergi dari sini sebelum mereka sadar dan ada lagi yang datang," ucap Alezo sejurus kemudian.
Jemima menurut meski ia benar-benar lemas. Ia memaksakan diri untuk tetap kuat berjalan dengan dirangkul oleh Alezo. Mereka hampir tiba di lapangan saat sebuah mobil merangkak masuk. Jemima pasrah. Ia tak lagi kuasa untuk melawan dan pasrah dengan apapun yang terjadi.
"Itu mobil Neil!"
***