Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 59



Tipis tipis lagi yah ternyata aku positif covid huhu doakan segera membaik dan enakan biar nulisnya lancar lagi yađź’•


Hasil pemeriksaan dokter menyatakan Najla boleh pulang dan menjalani rawat jalan. Najla tentu bersorak dalam hati. Ia sudah sangat bosan berada di kamar rumah sakit. Dia bisa gila jika semakin lama di sana.


"Sudah beres," ucap Farel setelah membereskan barang-barang Najla di dalam koper.


"Yeeey. So happy akhirnya aku pulang!" Seru Najla tersenyum lebar.


"I know kau pasti sangat bosan. Tunggulah sebentar, aku akan menyelesaikan administrasi," tukas Farel sambil berjalan menuju pintu keluar.


Najla kemudian turun dari ranjangnya perlahan. Ia berjalan menuju cermin dan memperhatikan pantulan wajahnya. Najla menghela nafas karena wajahnya terlihat kuyu dan pucat.


"Astaga aku harus memakai lipstik," ujarnya sambil mengambil lipstik di saku celananya.


Najla hampir selesai mengoleskan lipstik ketika pintu kamar rawatnya terbuka sehingga ia refleks menoleh. Ia kira Farel yang sudah kembali, ternyata Neil.


"Sudah siap untuk pulang?" Tanya Neil sambil berjalan mendekati Najla.


"Ehm...ya. I'm so excited," jawab Najla.


Ia tiba-tiba gugup karena Neil semakin memangkas jarak di antara mereka lalu menyentuh pinggiran bibirnya dengan tangan kanan.


"Lipstikmu berantakan," ucap Neil sambil mengusap lipstik yang melewati garis bibir Najla.


"Ow...thankyou," ucap Najla menahan malu.


Neil kemudian meraih koper Najla dan mengajak gadis itu keluar.


"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Neil.


"Ah...aku bersama Farel," elak Najla.


"Aku sudah bertemu dengannya dan mengatakan kau pulang bersamaku,"


Najla menelan ludah. Ia tak ada alasan lagi. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menuruti ajakan Neil.


"Baiklah," ucap Najla kemudian.


Ia pun mengikuti langkah Neil yang mendorong kopernya. Saat berada di dalam lift, Neil memberikannya sebuah masker.


"Pakailah agar tidak ada yang mengenalimu,"


Najla tak menjawab namun tak urung meraih masker tersebut dan memakainya. 'Bagaimana dia bisa menyiapkan ini,' batin Najla.


Di perjalanan Najla yang canggung memilih untuk melemparkan pandangan ke arah jendela mobil. Sungguh ia tak bisa bersikap biasa saja pada Neil walaupun pria itu beberapa kali mengatakan mereka berteman baik karena ia tak mengingatnya sama sekali.


"Aku tinggal di sini?" Tanya Najla saat mereka tiba di apartemen.


"Ya. Kau tinggal di lantai 10," jawab Neil.


Najla menggaruk pipinya. 'Astaga tempat ini begitu asing,' batinnya. Ia pun menuruti langkah Neil menuju lift untuk ke lantai unitnya. Begitu sampai, Najla terdiam karena ia tentu tak ingat password kunci pintunya. Ia lalu menoleh pada Neil.


"Kau pasti tidak ingat, bukan?" Tanya Neil tersenyum.


Ia lalu menekan enam digit angka dan pintu terbuka.


"Aku meminta petugas mereset passwordnya dan menggantinya dengan tanggal lahirmu. Kau bisa menggantinya lagi nanti," jelas Neil.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam. Mata Najla menyapu seluruh ruangan, memperhatikan dengan seksama tempat tinggalnya yang terasa begitu asing meski memang ada beberapa fotonya yang terpajang.


Najla terus melihat-lihat hingga ke dapur sementara Neil memandang punggungnya dengan tatapan Nanar. Fakta Najla melupakannya sungguh menyakitkan.


"Kau bisa istirahat. Jika kau membutuhkan bantuan kau bisa menghubungiku," ujar Neil.


Najla menoleh lalu mengangguk, mengiyakan ucapan Neil.


"Ah, ya. Biasanya kau senang menyeduh hot chocolate. Kau menyimpan banyak beer di kulkas, tapi ku harap kau tidak meminumnya dulu. Kau juga sebaiknya tidak memakan mie instan dulu, sebaiknya kau..."


"Stop. Cukup. Kau terlalu banyak bicara!" Seru Najla tiba-tiba memotong kalimat Neil.


Tentu saja Neil terkejut karenanya, tak menyangka Najla akan menyentaknya.


"I don't remember who you are. Kau orang asing bagiku saat ini, Neil. I can't deal with this. Go. Leave me alone," tukas Najla dengan nafas terengah.


Sungguh ia tak berniat menyakiti Neil tapi ia benar-benar tak nyaman dengan perhatian pria itu.


Neil terdiam. Tak menunggu lama ia lalu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan Najla dengan hati yang berantakan.


***


Neil tak langsung beranjak setelah menutup pintu unit Najla. Ia berdiri beberapa saat mencoba menenangkan diri. Tak ada harapan bagi Neil karena Najla bahkan risih padanya. Neil mengacak-acak rambutnya gusar. Membayangkan ia kembali patah hati benar-benar membuatnya gila. Ia lalu berjalan lunglai menuju unitnya.


Neil merebahkan diri di tempat tidur sambil memijat kepalanya. Ia masih terus memikirkan Najla dan sesungguhnya ia menyimpan amarah besar pada orang yang mencelakai Najla. Dia lah penyebab Najla amnesia dan melupakan Neil. Andai Neil mengetahui pelakunya, ia berjanji akan menghajarnya hingga sekarat.


"Apa ini ada hubungannya dengan penculikan Jemima?" Gumamnya.


Neil seketika tersentak karena sebuah pemikiran terlintas di benaknya. Bukankah pertama kali yang mengungkap penculikan Jemima adalah Najla karena ia mencurigai supirnya? Jika saat itu Najla tidak mengintrogasi supir Pak Budi, ia dan Albar tidak akan bisa menemukan Jemima. Apa Najla sengaja dicelekai sebagai bentuk balas dendam para pelaku? 'Masuk akal,' pikir Neil.


Neil lalu bergegas menghubungi Alezo. Setelah menunggu beberapa detik akhirnya Alezo menjawab panggilannya.


"Yo, bro," jawab Alezo di ujung telepon.


"Kau dimana?"


"Aku...ehm...aku menuju apartemen Jemima. Ada apa?"


"Aku akan menyusulmu. Ada yang perlu kujelaskan tentang pelaku yang mencelekai Najla,"


Begitu sambungan terputus, Neil secepat kilat keluar dari unitnya. Ia masih sempat melirik ke arah unit Najla sebelum mempercepat langkah menuju lift.


***


"Jadi menurutmu pelakunya masih ada hubungan dengan para penculik?" Tanya Alezo saat mereka sudah tiba di lobby apartemen Jemima


Neil mengangguk. "Ini pemikiranku. Rasanya tidak mungkin jika Najla dicelakai tanpa tujuan. Apalagi waktunya berdekatan dengan kasus penculikan kalian,"


"Make sense. Pelakunya pasti saat ini masih berkeliaran, bukan?"


"Sekarang tinggal bagaimana kita bisa menangkapnya. Penculik sialan itu pasti tidak akan mengaku agar hukuman mereka tidak tambah berat," tukas Alezo lagi.


"Bagaimana jika memberitahu Mahen soal ini dan meminta bantuannya?" Tanya Neil.


Alezo mengangguk. "I think kita perlu bicara dulu pada Jemima,"


Mereka berdua lalu berjalan ke arah lift untuk menuju unit Jemima.


"Apa hubunganmu dengan Jemima membaik?" Tanya Neil hati-hati saat mereka berada di dalam lift.


Alezo menghela nafas. Tidak yakin untuk menjawab pertanyaam Neil yang lebih ingin dia aminkan.


"I'm not sure...Aku ke sini karena dia sama sekali tidak menjawab panggilan dan pesanku," jawabnya dengan mata menerawang.


Tak lama kemudian pintu lift terbuka dan mereka berdua langsung keluar. Saat hampir tiba di unit Jemima, mereka berpapasan dengan seorang pria yang mengenakan topi dan berjalan cepat. Mata Alezo kemudian menangkap sebuah kotak di depan unit Jemima.


"Hey, jangan lari!" Seru Alezo lalu mengejar pria yang mempercepat langkahnya mendengar teriakan Alezo.


Tepat saat pria misterius itu akan masuk lift, Alezo menyambarnya hingga mereka berdua tersungkur di lantai. Pria itu berusaha kabur namun tentu Alezo yang memegang sabuk hitam taekwondo. Ia memelintir tangan pria itu hingga ia berteriak kesakitan.


"Apa yang kau lakukan di unit Jemima, hah?!" Sergah Alezo dengan mata berapi-api.


Tak lama kemudian Neil datang dengan membawa kotak yang diletakkan di depan unit Jemima.


"What the hell is this. Siapa yang menyuruhmu meletakkan bangkai kucing ini?"


Alezo semakin kencang memelintir tangan pria itu hingga teriakannya semakin keras.


"Aaaaaargh lepaskan brengsek aku akan mati aaaarrgh!"


"Kau yang meneror Jemima selama ini, hah? Siapa yang menyuruhmu, bangsat?! Katakan, atau kau akan mematahkan tanganmu!" Ancam Alezo tak main-main.


Ia begitu marah karena pria itu mencoba meneror Jemima yang sedang tidak stabil perasaannya.


"Aaarghhh lepaskan. Aku akan memberitahu setelah kau melepaskanku aaarghh!"


"Katakan sekarang atau...." Alezo semakin mengeraskan cengkramannya.


"Arrrghhh Nona Tanaya arrrghhh. Tanaya yang menyuruhku!"


"Tanaya?"


"Ya, Tanaya. Nona Tanaya...Blossom...Argh...!"


Alezo dan Neil kemudian saling pandang. Mereka tentu hafal dengan Tanaya karena grup mereka sedang naik daun. Terlebih Alezo. Ia lalu bangkit dan menarik tubuh pria itu untuk berdiri namun tetap mencengkeram kedua tangannya agar tak bisa melarikan diri.


"Kenapa dia menyuruhmu melakukan ini, hah?" Tanya Alezo geram.


"Aku tidak pernah peduli dengan alasannya asalkan dia membayarku," jawab pria itu dengan nafas tersengal.


"Brengsek. Jika dia menyuruhmu mati kau juga akan mau meski di bayar?!" Sentak Alezo sengit.


Nyali pria itu menciut. Tubunya remuk redam karena dihajar Alezo dan tangan kanannya terasa begitu sakit. Ia tak sanggup melawan karena Alezo begitu kuat.


"Apa Magnolia mengetahui perbuatanmu dan Tanaya?" Tanya Alezo lagi.


Pria itu membisu sehingga memancing emosi Alezo hingga kemudian menghempas tubuh pria itu ke tembok hingga ia meringis kesakitan.


"Jawab, brengsek!" Sergah Alezo sambil menahan leher pria itu dengan lengannya.


"Argh...lepaskan aku, bodoh. Arrgh..." muka pria itu memerah karena tekanan Alezo semakin kencang.


"Alezo," Neil bahkan memberi kode pada Alezo agar tidak keterlaluan dan menahan emosinya namun diabaikan.


"Ya...Magnolia tau...Kalina tau...aargh..."


Alezo tercekat. Ternyata lagi-lagi Kalina berada di balik kejadian yang ingin mengacaukan Jemima. Artinya selama ini ia bekerjasama dengan Blossom untuk menjatuhka  Jemima?


"Tunggu. Jika kau berhubungan dengan Kalina, apa kau juga bekerja untuk mencelakai Najla?" Tiba-tiba Neil mendekat dan bertanya.


Pria itu mendelik lalu berusaha melepaskan diri dari cengkraman Alezo walaupun ia tau itu percuma.


"Jawab. Apa kau yang mencelakai Najla?" Ulang Neil  tak sabar.


"Itu...itu...ya...Nona Tanaya yang memintaku," jawab pria itu dengan suara bergetar.


"Brengsek!" Umpat Neil penuh kemarahan. Ia mendorong tubuh Alezo untuk menggantikannya menghajar pria itu.


"Neil, stop!" Alezo bersorak karena Neil begitu membabi buta meninju wajah pria itu hingga beberapa detik kemudian pria itu terkapar tak sadarkan diri dengan hidung penuh darah.


"Oh, ****. You kill him?" Tanya Alezo panik.


"He's still alive. Aku akan memanggil polisi," jawab Neil lalu menelepon Maura untuk menangkap pria itu.


***