
POV : Alezo
Alezo menunggu Jemima yang belum kembali dari makam. Ia bertahan di dalam mobil karena ia tahu Jemima pasti terpukul dan membutuhkan sandaran untuk menenangkan diri. Para wartawan untungnya sudah pergi sehingga Alezo tidak khawatir untuk menemui Jemima.
"Come on..." ucap Alezo karena Jemima tak kunjung mengangkat teleponnya.
Alezo menyerah setelah keempat kalinya teleponnya tidak diangkat oleh Jemima. Ia tak punya pilihan selain pergi karena ia ada jadwal syuting iklan satu jam lagi. Alezo lalu menyalakan mobil dan begerak meninggalkan area pemakaman mewah itu sambil berharap Jemima akan menghubunginya kembali dan mereka dapat bertemu hari ini.
***
"It's wrap! Thankyou all. Thankyou for your great work!"
Alezo tersenyum dan menyambut uluran tangan Sandy untuk bersalaman setelah sang sutradara mengucapkan terimakasih. Ini kali pertama Alezo melakukan syuting untuk iklan supercar namun ia dapat mengeksekusinya dengan baik hingga menuai pujian dari para kru. Bahkan brand supercar asal Italia itu menjadikan Alezo salah satu global ambassadornya karena kepopuleran sang aktor.
"Sepertinya aku harus membeli satu mobil ini untuk ayahku. He will like it," ujar Alezo pada Rocky, perwakilan brand yang ikut mendampingi selama syuting.
"Really? Ayahmu penyuka supercar?" Respon Rocky tertarik.
Alezo mengangguk. "He's collector. Tapi sekarang tinggal satu karena ibuku kesal dia selalu mengurusi mobilnya,"
Mereka tertawa. Fakta bahwa seorang istri memegang peran atas mobil suami begitu menggelikan hati mereka.
"Katakan saja kapan kau berencana membelinya. I'll give my best to serve you," ucap Rocky sungguh-sungguh.
Alezo mengangguk. Mereka lalu berpisah dan Alezo berjalan menuju tempat duduk beristirahat sejenak. Ia menerima tumbler berisi iced americano dari Tara yang sudah selalu standby dengan kebutuhan Alezo saat syuting di luar ruangan. Tara tidak akan pernah lupa dengan iced americano, permen mint dan sebatang coklat kesukaan Alezo.
"Apa kau akan langsung pulang?" Tanya Tara pada Alezo yang kini sedang melipat lengan kemejanya.
"Jadwalku kosong, bukan? Sepertinya aku akan ke suatu tempat," jawab Alezo.
"Berkencan?" Goda Tara tersenyum jahil. Ia merasa puas dengan ekspresi wajah Alezo yang terkejut.
"What do you mean," ucap Alezo dingin, berusaha santai agar Tara tidak curiga.
Tara tertawa. Ia membetulkan kacamatanya yang kedodoran.
"Aku hanya mengira-ngira kapan kau akan mengatakan kau akan pergi berkencan sehingga aku tidak akan merecokimu dengan pesan dan telepon,"
Alezo mendengus. Tara memang selalu mengomporinya untuk berkencan. Bahkan ia selalu menjodohkan Alezo pada setiap aktris yang menjadi lawan mainnya. Kata Tara, ia gemas dengan Alezo yang tidak pernah menggandeng di dunia nyata. Sementara saat bermain film atau serial, ia begitu pro sebagai pasangan yang mencintai wanitanya. Bahkan tak jarang beradegan mesra?
"Apa kau tidak ingin melakukannya di dunia nyata dengan kekasih yang kau cintai?" Goda Tara saat itu.
Alezo lalu meninggalkan lokasi syuting setelah berpamitan dengan para kru. Ia segera masuk ke mobil dan menyalakan mesin. Kakinya baru saja akan menginjak gas ketika ponselnya berdering. Alezo merasakan letupan riang di dadanya ketika membaca nama Jemima tertera di layar.
"Hey," sapa Alezo begitu menjawab panggilan video Jemima. "Are you still crying?"
Alezo seketika panik melihat wajah Jemima dengan mata sembab dan basah Apa kekasihnya itu menangis dari tadi?
"Apa kau bisa ke sini?" Tanya Jemima dengan suara serak.
"Of course. Aku ke tempatmu sekarang. Kau ingin makan sesuatu?"
"Nope,"
"I'll be there in one hour. Aku baru saja selesai syuting. Semoga jalanan tidak macet," ucap Alezo.
Ia lalu memutus sambungan dan segera tancap gas. Alezo begitu tidak sabar ingin bertemu Jemima. Melihat kondisi Jemima membuatnya tidak tega. Dalam hati ia benar-benar berharap jangan sampai ada kemacetan agar dapat segera sampai.
"Oh, ****!"
Alezo mengumpat ketika akhirnya harapannya pupus. Ia terjebak macet dan mobilnya sama sekali tidak dapat bergerak. Jam pulang kantor memang selalu tidak ramah bagi pengendara. Alezo kembali mencoba menghubungi Jemima, namun tidak ada jawaban. Mungkin sedang mandi, pikirnya. Tidak lama kemudian kemacetan terurai dan Alezo memacu mobilnya lebih kencang. Butuh waktu lima belas menit untuk Alezo yang akhirnya tiba di apartemen Jemima. Ia baru saja memarkirkan mobil ketika Jemima menelepon.
"I'm arrived. Aku di parkiran," tukas Alezo cepat begitu wajah Jemima muncul di layar.
"Aku akan turun," balas Jemima.
"Oh...kau ingin kita pergi? Aku kira kita akan di apartemenmu,"
Jemima menggeleng. "Aku ingin mencari udara segar. Tunggu sebentar. Aku turun sekarang,"
Sambungan terputus usai Jemima berkata demikian. Alezo lalu menunggu Jemima sambil merapikan rambut dah menyemprotkan parfum agar aroma tubuhnya segar. Entah kenapa ia selalu merasa gugup setiap akan bertemu Jemima walaupun mereka sudah menjadi sepasang kekasih. Tak lama kemudian Alezo melihat Jemima yang mengenakan cardigan hitam dan celana jeans. Ia dapat mengenali Jemima dengan baik meski gadis itu memakai masker dan topi. Alezo menekan klakson untuk memberi kode pada Jemima yang celingukan mencarinya. Beruntung Jemima segera melihat dan berlari kecil menuju mobilnya.
"Hey, are you OK?" Tanya Alezo ketika Jemima sudah di dalam mobil.
"Hm...not too good," jawab Jemima lemah. Ia lalu membuka masker dan topinya.
Alezo dapat melihat wajah Jemima terlihat pucat dan kuyu. Ia yakin Jemima pasti belum makan.
"Kau pasti masih berduka atas kepergian Ibra," ucap Ibra prihatin sambil mengusap kepala Jemima.
Jemima mengangguk. "Rasanya seperti tidak nyata. Aku baru bertemu dengannya pagi, dan malamnya dia pergi..." Jemima kembali terisak mengingat momen harunya bersama Ibra. Siapa yang menyangka itu akan menjadi detik-detik terakhir mereka bertemu di dunia.
"Hey come here,"
Alezo meraih bahu Jemima lalu memeluknya. Ia menenangkan Jemima yang berurai air mata dalam dekapannya. Alezo tidak menyangka Jemima begitu terpukul atas kepergian Ibra selamanya. Ia kira hubungan mereka hanya sebatas atasan dan artis. Namun ternyata Jemima sebegitu sedihnya.
"Kau ingin kita ke mana?" Tanya Alezo usai Jemima melepaskan pelukannya.
"Entahlah. Aku hanya tidak ingin berada di apartemen. Mataku sudah terlalu bengkak. Kau ada ide?" Jemima balik bertanya sambil menguncir rambutnya. Ia tidak tau darah Alezo berdesir melihat leher jenjangnya yang terekspos .
"Hmm...Bagaimana kalau Atmosphere?" Tanya Alezo menyebut nama restoran mewah yang sangat privat. Setidaknya di sana mereka dapat terbebas dari intaian Spill The Tea.
Jemima mengangguk. Alezo yang sejak tadi menahan hasratnya tidak dapat menunggu.
"I miss you,"
Alezo kembali mendekap dan menghirup dalam aroma tubuh Jemima yang menjadi favoritnya. Ia lalu mencumbu cepat bibir pinkish Jemima yang terasa manis.
Jemima tersenyum. "Aku masih merasa bersamamu adalah mimpi,"
Alezo tertawa. Ia pun sama. Kalaupun ini memang mimpi, ia tidak ingin bangun. Biarlah ia tertidur asalkan terus bersama Jemima.
Mobil Alezo meluncur membelah jalanan yang padat menuju Atmosphere. Butuh waktu dua puluh menit untuk akhirnya mereka tiba. Alezo sudah siap mengenakan topi dan masker sebelum mereka turun. Sebenarnya sungguh ia risih jika harus seperti itu. Tapi terpaksa ia lakukan demi melindungi hubungannya dengan Jemima dari paparazi.
Saat diperjalanan Alezo sudah memesan tempat dan untungnya ada ruangan VVIP yang tersedia untuk mereka. Kini ia dan Jemima di antar oleh pelayan restoran yang curi-curi pandang, seolah ingin memastikan bahwa dua pelanggan yang sedang ia layani adalah artis idolanya.
"Silahkan, Tuan, Nona," ujar sang pelayan ramah.
Alezo dan Jemima kemudian duduk di kursi yang tersedia lalu membuka topi dan masker mereka.
"Aku selalu teringat masa-masa corona dulu jika mengenakan masker," cetus Jemima terkekeh.
"Ah, ya. Sialnya aku sempat mengalami hingga harus di opname," timpal Alezo.
"Benarkah? Aku juga kena namun hanya gejala ringan. Sungguh aku benci masa-masa pandemi itu," ucap Jemima.
Mereka tergelak mengenang masa-masa corona sepuluh tahun lalu. Saat ini terasa lucu, namun dulu begitu mencekam karena banyak korban berjatuhan. Tak lama kemudian makanan mereka satu persatu pun datang.
"Sebenarnya aku tidak berselera makan," ucap Jemima begitu pelayan mengantarkan menu terakhir yang membuat mata Alezo mendelik. Lalu siapa yang akan menghabiskan makanan ini, pekiknya dalam hati.
Alezo tersenyum memperhatikan Jemima yang menggemaskan. Ternyata di balik keanggunan Jemima selama ini tersimpan sifat riang. Ia terus memperhatikan Jemima yang terus menyuapkan makanan ke mulutnya yang kecil. Padahal tadi ia berkata tidak selera makan.
"Oh Tuhan aku kekenyangan," ucap Jemima seteleh meneguk air mineral menyudahi makannya. Ia mengelus perutnya yang tetap rata meski terisi penuh.
"Aku tidak menyangka makanmu cukup banyak," goda Alezo yang masih menikmati dessert.
"Ternyata aku kelaparan. Aku tidak makan apapun sejak pagi karena terlalu sedih," tukas Jemima dengan muka memelas.
Alezo menyuapkan potongan strawberry shortcake yang terakhir. Ia lalu mengelap mulutnya dan meneguk air mineral. Alezo merasa ini adalah makan malam ternikmat yang pernah ia rasakan. Sudah pasti karena ia makan bersama Jemima, kekasih hatinya.
Alezo melipat tangan di meja dan memperhatikan Jemima yang sedang mengecek ponselnya. Ia benar-benar memuaskan diri menatap wajah Jemima yang terukir sempurna. Apalagi bibir Jemima yang berbentuk love ketika ia tersenyum atau berbicara. Jika sebelummya ia hanya mencuri-curi pandang dengan waktu yang terbatas, kini ia bisa kapanpun menikmatinya.
Alezo tak bergeming saat Jemima tiba-tiba mengangkat kepalanya dan mata mereka bertemu. Gadis itu salah tingkah dan membuang pandangannya ke arah lain.
"Why you look at me like that?" Tanya Jemima tersipu malu.
"Cantik,"
Jemima menutup wajahnya. Ia merasa malu dengan pujian Alezo. "Kau berlebihan," ujarnya kemudian.
"Sepertinya semua pria akan patah hati jika mereka tahu bahwa aku kekasihmu," tukas Alezo percaya diri.
Mereka tertawa. Andai hubungan mereka dapat segera dipublikasikan, kebahagiaan mereka bertambah karena tidak lagi perlu khawatir akan hal yang sia-sia. Alezo tiba-tiba menangkap raut wajah Jemima yang mendadak sedih.
"Ada hal yang ingin kuceritakan padamu," ujarnya. "Tetapi rasanya aku belum mampu,"
Dahi Alezo berkerut. Heran dan penasaran dengan ucapan Jemima.
"Just tell me. Kau bisa cerita apapun,"
Jemima menggeleng, mengisyaratkan tak akan bercerita saat ini. "Nanti saja,"
"Well...baiklah. Aku akan mendengarkan kapanpun,"
Alezo tersentak ketika ponselnya berbunyi. Tak menunggu lama ia segera mengangkat panggilan Kamila, ibunya.
"Yes, Mam?" Jawab Alezo.
Sejurus kemudian air mukanya berubah panik ketika Kamila mengatakan bahwa Reno pingsan dan kini di rawat di rumah sakit. Ia lalu beranjak setelah panggilan terputus.
"Mima, aku harus ke rumah sakit karena ayahku di rawat. Apa kau tidak keberatan untuk ikut?"
"Ah...ya. Tentu,"
Jemima lalu menuruti langkah Alezo yang tergesa. Mereka segera menuju mobil setelah menyelesaikan pembayaran. Di perjalanan Alezo terlihat tegang bahkan tidak mengajak Jemima berbicara sama sekali. Ia sangat mengkhawatirkan Reno yang memang memiliki penyakit asma. Setibanya di rumah sakit ia segera turun dan tidak lupa menggandeng tangan Jemima untuk segera menuju ruangan presiden suite tempat Reno di rawat.
"Aku akan menunggu di sini," ucap Jemima ketika Alezo hampir membuka pintu. Ia melepaskan tangannya dari Alezo dan berjalan menuju kursi yang berada di depan pintu masuk lalu duduk di atasnya.
"Masuklah," lanjutnya..
Alezo menghela nafas. Ia mendekati Jemima dan meraih lengan gadis itu untuk berdiri.
"Kau masuk bersamaku. Aku ingin kau bertemu dengan orangtuaku," bujuk Alezo dengan mata memohon.
"Tapi....aku..."
Ucapan Jemima terpotong karena Alezo langsung merangkul dan mengajaknya masuk ke ruangan. Kedatangan Alezo tentu saja langsung menarik perhatian orangtuanya yang langsung menoleh ke arah pintu.
"Bagaimana keadaan papa?" Tanya Alezo begitu masuk dan langsung berjalan mendekati ranjang.
"Fine. Sudah tertangani dengan baik," jawab Reno santai dengan hidung yang terpasang selang oksigen.
"Syukurlah," jawab Alezo lega.
"Hai my dear. Kamu Jemima Tsamara?" Kamila lebih dulu menyapa Jemima yang masih berdiri kikuk.
"Ah...iya, tante. Saya Jemima," jawab Jemima gugup.
Alezo menoleh. Iya lalu mendekati Jemima dan berdiri di sampingnya.
"Mam, Pap. Ini Jemima," ucap Alezo memperkenalkan Jemima pada kedua orangtuanya.
Reno berdehem. "Tidak perlu kau kenalkan. Kami sangat mengenalnya. Yang harusnya kau beritahu, bagaimana gadis cantik ini kau bawa ke mari?"
Kamila tesenyum geli karena ia tahu maksud suaminya. Apalagi ekspresi kaku dua anak muda itu begitu ketara menyimpan sesuatu.
"Hmm...aku dan Jemima...maksudku...Jemima pacarku," jawab Alezo terbata. Ia melirik Jemima yang menunduk malu.
Kamila dan Reno saling berpandangan lalu tersenyum.
"Sepertinya aku sudah bisa pulang sekarang karena tiba-tiba merasa sangat sehat," ucap Reno riang yang disambut tawa sang istri.
Alezo dan Jemima ikut tertawa meski ragu-ragu. Mereka lalu mendekati ranjang Reno.
"Aku harap om segera pulih," ucap Jemima tulus.
"Ya. Doamu pasti segera dikabulkan,"
Kamila baru saja akan mempersilahkan mereka duduk di kursi ketika pintu kembali terbuka.
"Mam, Pap. Maafkan aku baru datang karena meeting dengan klien..." tiba-tiba Albar masuk dengam menenteng keranjang buah.
Langkahnyan terhenti karena mendapati salah seorang yang bukan anggota keluarganya, yakni Jemima.
"Oh my God...Nation sweetheart..." ucapnya sambil menutup mulutnya.
Alezo mendengus sementara Jemima tersenyum malu.
"Apa kau datang ke sini untuk bernyanyi?" Tanya Albar asal.
"Dia datang sebagai calon menantuku," jawab Kamila cerita.
"What?!" Kali ini Albar tidak dapat menahan keterkejutannya bahkan sampai menjatuhkan keranjang buah yang ia bawa. Kedua tangannya kini memegang kedua pipinya.
"Kau akan menjadi kakak iparku? Aku...aku akan jadi adik nation sweetheart?"
"Enough, Albar..." tegur Alezo yang geli dengan tingkah adiknya itu.
Albar menarik nafas panjang lalu berdehem.
"Aku Albar, adik kesayangan Alezo," ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Jemima.
Jemima menyambut uluran tangan Albar dengan tersenyum manis. "Jemima..."
Kamila lalu mempersilahkan anak-anaknya dan Jemima untuk duduk di sofa sementara Reno beristirahat. Alezo melirik ke arah Jemima yang mulai terlihat santai. Ia tersenyum lega karena sambutan hangat keluarganya pada Jemima.