Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 36



POV : Najla


Najla menggaruk kepala melihat akun Spill The Tea yang mengunggah foto candidnya dengan Zega di sebuah coffe shop. Sudah kuduga, batinnya. Faktanya ia hanya kebetulan bertemu dengan Zega saat sedang sendirian menikmati waktunya. Mereka saling mengenali meski sama-sama mengenakan masker dan topi, dan rasanya tidak mungkin tidak saling menyapa setelah tanpa sengaja beradu pandang.


"Sebaiknya kau tidak duduk di sini atau akan ada rumor tentang kita," ujar Najla memperingati Zega yang dengan santai bergabung di mejanya.


"Tinggal di bantah," sahut Zega santai yang membuat Najla mendesis.


Zega adalah penyanyi solo, lebih tepatnya rapper sepertinya. Netizen banyak yang mengatakan ia dan Zega seperti satu karakter dengan versi yang berbeda. Mereka cukup sering bertemu saat perform di sebuah acara sehingga mereka pun berteman baik.


Dan benar saja. Spill The Tea menangkap foto mereka berdua. Najla begidik membaca komentar netizen yang hampir semua mengatakan ia dan Zega cocok jika berpacaran.


"Pasangan swag. Aku harap mereka benar berkencan,"


"Astaga baby Najla sepertinya mulai mendapat restu Magnolia untuk berkencan. Dia sudah besar!"


"Aku hanya berharap mereka collabs. Tapi kalau berpacaran tentu lebih membahagiakan!"


"Whaaat Najla si anak TK berkencan???"


Najla menarik nafas membaca komentar yang seolah-olah ia adalah anak kecil.


"Sampai kapan aku jadi anak kecil di mata mereka," gumam Najla yang memang kerap dijuluki bayi oleh penggemar karena wajahnya yang imut.


Najla terus membaca komentar selama perjalanan menuju apartemen sepulang dari menginap di rumah sakit karena menemani Jemima. Ia sebenarnya belum ingin pulang tapi sahabatnya itu memaksa karena tidak ingin merepotkannya. Bukan Jemima namanya jika ia tak berhasil membuat Najla pulang meski menggerutu. Najla pura-pura terkejut saat Jemima menceritakan apa yang terjadi, padahal ia sudah tahu lebih dulu dari Alezo. Sudah ia duga, tentu fakta itu akan menyakiti Jemima.


Najla turun dari taksi dan bergegas menuju unitnya. Ia harus bersiap-siap ketika Kalina sang CEO menelepon untuk membahas fotonya bersama Zega. Habislah aku di damprat, pikir Najla.


Najla melewati unit Neil dan mendapati pintunya tidak tertutup rapat. Ia menggelengkan kepala dan berinisiatif untuk masuk dan mengejutkan tetangganya itu.


"Hey Neil kenapa kau tidak menutup pintu? Bagimana jika ada maling?!" Pekiknya.


Sayangnya ia seketika terkesiap mendapai Neil sedang berciuman dengan seorang wanita. Mereka berdua pun terkejut dengan kedatangan Najla. Mata Najla seketika terbelalak mengetahui wanita yang bersama Neil adalah Zuraya Salim, sepupunya.


"Oh..maafkan aku mengganggu kalian. Aku...aku tidak sengaja masuk ke sini," ujar Najla tergagap.


Ia lalu berbali dan bergegas menuju unitnya. Najla terpaku setelah masuk ke dalam unitnya. Ternyata Neil berpacaran dengan Zura. Tentu ia tidak tahu karena ia sudah lama tidak berhubungan dengan keluarganya. Yang Najla ingat, mereka berdua dulu cukup dekat sebelum ia memilih pergi meninggalkan rumah. Najla pikir Zura lebih menganggapnya dibandingkan kedua kakaknya. Ternyata Zura pun turut menjauh darinya. Sepupunya itu tak pernah menghubunginya begitu pun saat Najla sudah terkenal.


Najla menyandarkan tubuhnya di pintu. Ia merasakan perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya. Kenapa ia merasa marah? Kenapa ia berharap Neil datang dan meminta maaf?


"Tidak mungkin," cetus Najla ketika batinnya membisikkan ia cemburu.


Ia dan Neil belum lama kenal, mustahil ia cemburu melihat pria itu bermesraan dengan wanita lain. Lalu perasaan aneh apa ini?


Najla terperanjat dan hampir mengumpat ketika tiba-tiba bell berbunyi. Apa itu Neil, pikirnya. Ia serta merta membuka pintu dan terkesiap mendapati Zura yang berdiri menghadapnya.


"Zura..." gumam Najla.


"Boleh aku masuk?" Tanya Zura.


Najla mengangguk. Ia lalu melebarkan pintu untuk mempersilahkan Zura masuk. Setelah mengunci pintu, ia pun bergabung dengan Zura yang duduk di sofa.


"Ternyata kau tinggal di sini," ujar Zura membuka percakapan. "Sudah terlalu lama kita tidak bertemu," lanjutnya.


Najla tersenyum kaku. Lama  tidak berjumpa ternyata mampu mengikis keakraban dua manusia.


Zura memperhatikan sekeliling interior apartemen Najla. "Wah. Kau memiliki selera yang bagus," pujinya.


"Not me. Aku mempercayakan sepenuhnya pada desainer interior," sahut Najla yang masih belum mengerti tujuan Zura mendatanginya. Sudah tentu Neil yang memberitahu nomor unitnya. Tapi untuk apa?


"Aku penasaran bagaimana seorang idola sepertimu bisa berteman baik dengan seorang dokter pendiam seperti Neil,"


Najla menelan ludah. Apa Zura penasaran akan hal itu? Zura bahkan tak menanyai kabarnya lebih dulu.


"Kami bertetangga as you see," jawab Najla setenang mungkin. Ia tak mungkin menceritakan Zura cerita pertemuannya dengan Neil.


Zura tersenyum. "Begitukah? Namun...kenapa Neil begitu gelisah ketika kau memergoki kami berciuman?"


Najla terdiam. Sungguh ia tidak dapat menjawab pertanyaan Zura yang seperti mengintrogasinya.


"Apa kau sendiri tidak gelisah atau malu ketika ketahuan bermesraan oleh tetanggamu?" Tanya Najla balik. "Kalau aku berada di posisi Neil juga pasti merasa begitu,"


Zura tertawa kecil. "Entahlah tapi aku tersinggung dengan sikap Neil yang berubah ketika kau datang," cetusnya dingin.


"Kau tidak berpikir menyalahkanku, bukan? Jangan konyol," Tantang Najla  gerah dengan sikap Zura yang seolah mengintimidasinya.


Zura melipat tangannya di dada dan menatap Najla tajam. "Pantas orangtuamu begitu kesal pada anak angkuh ini. Merasa hebat, huh?


Najla tak merespon. Zura lalu beranjak untuk keluar dari apartemen Najla. Ia sudah hampir membuka pintu namun tiba-tiba kembali berbalik.


"Tidak satupun keluarga kita yang bangga denganmu. Kau masih Najla yang dulu di mata kami. So, go love your self,"


Zura lalu menghilang di balik pintu usai berkata demikian, meninggalkan Najla yang menahan amarahnya. Ia tidak pernah merasa mengganggu Zura selama ini. Lalu kenapa tiba-tiba Zura seolah menabuhkan genderang perang padanya?


***


Najla membuka kaleng beer ketiganya. Ia sedang berada di rooftop apartemen seorang diri. Beruntung hanya ada beberapa orang yang berada di sana hingga ia bisa menenangkan diri sambil menikmati pemandangan lampu kota kesukaannya. Najla memandang lurus ke depan dengan pikiran menerawang. Ia menenggak beernya sambil mereka ulang pertemuan dan percakapannya dengan Zura. Sungguh kemunculan Zura benar-benar mengusik kalbunya. Ia tidak akan terlalu overthinking jika Zura hanya datang padanya. Namun sepupunya itu ternyata berhubungan dengan Neil.


"Kenapa dunia begitu sempit?" Gumam Najla tersenyum kecut.


Satu persatu orang-orang yang berada di rooftop mulai pergi, meninggalkan Najla yang masih menikmati waktu sendiri. Angin malam yang mulai kencang menerpa wajahnya tak membuat Najla berniat untuk segera turun. Toh ia sama-sama tetap sendiri di kamarnya. Najla baru akan meraih kaleng beer yang keempat ketika seseorang lebih dulu mengambilnya sehingga sontak membuatnya menoleh.


"Apa kau selalu minum sebanyak ini?"


"Neil..." ucap Najla ketika melihat Neil yang entah sajak kapan sudah berdiri di belakangnya.


Najla refleks bergeser ketika Neil duduk di sampingnya.


"Ini untukku," ucap Neil sambil membuka kaleng beer dan menenggaknya.


Najla memalingkan wajah. Sungguh ia tidak bisa membuang bayangan melihat Neil berciuman.


"Kenapa kau di sini?" Tanya Neil sejurus kemudian.


"Hanya bosan," jawab Najla. "Aku bosan sendirian di unitku. Setidaknya di sini suasananya berbeda,"


"Apa kau selalu kesepian?"


"Ya," jawab Najla tanpa menoleh pada Neil.


"Ah ya, maafkan aku soal tadi siang. Aku menginterupsi aktivitasmu dengan Zura. Kebetulan dia adalah sepupuku," lanjutnya Najla yang membuat Neil tersedak dan terbatuk beberapa kali.


"Tidak perlu malu padaku. Aku akan melupakannya," tukas Najla sambil tersenyum pada Neil.


"Itu tidak seperti yang kau bayangkan. Zura bukan kekasihku," ucap Neil setelah batuknya reda.


"Lalu? Friend with benefit? Come on, Doctor!" Goda Najla menahan perasaan aneh yang kembali menguasai dirinya.


"Dia mantan kekasihku. Kami sudah berpisah beberapa tahun lalu," ucap Neil tanpa ditanya.


Najla terdiam. Sejujurnya ia ingin bertanya lebih jauh namun ia menahannya.


"She kissed me first,"


Kenapa Neil seperti mengklarifikasi, pikir Najla. Ia pun bingung harus menanggapi seperti apa.


"Anyway, selamat atas kencanmu," ucap Neil tiba-tiba seolah bergantian mengejutkan Najla.


"Ow...ah...pasti kau melihat Spill The Tea. Kau orang kesekian yang menyelamatiku," tukas Najla terkekeh.


"Tapi kau pasti belum melihat klarifikasi Magnolia. Agensiku sudah merilis bahwa aku dan Zega hanya berteman dan tak sengaja bertemu di sana," lanjutnya lagi.


Ia memang sudah di semprot oleh Kalina yang menanyainya soal fotonya tersebut tadi siang dan tidak menunggu lama untuk merilis klarifikasi.


"Benarkah? Lega sekali," ucap Neil tiba-tiba yang membuat Najla menoleh padanya.


Najla menatap heran pada Neil yang seketika menenggak habis beernya.


"Wow. Aku kira aku masih butuh beer," ujar Neil. Najla bersumpah ia melihat Neil tersenyum sekilas.


"Aku masih punya jika kau mau," timpal Najla mengulurkan kaleng beer terakhirnya.


"Thanks," ucap Neil sambil meraihnya dari tangan Najla.


Sayang kaleng beer tersebut tergelincir dan jatuh ke lantai. Najla dan Neil refleks ingin menunduk untuk mengambilnya namun wajah mereka justru bertemu hampir tak berjarak.


Najla tiba-tiba merasa lehernya kaku dan tak mampu bergerak ketika Neil semakin memangkas jarak mereka sehingga bibir mereka bertemu. Beberapa detik kemudian Najla tersadar dan menarik wajahnya cepat.


"I'm sorry. Aku benar-benar minta maaf," ucap Neil gugup sambil membetulkan letak kacamatanya.


"Sebaiknya kita turun," ucap Neil lagi.


Najla menurut. Ia mengikuti langkah Neil setelah membuang kaleng beer kosongnya ke tong sampah. Mereka saling diam membisu di dalam lift dengan posisi Najla di belakang Neil. Mereka berdua lalu keluar dari lift begitu tiba di lantai unit mereka.


"Neil..." panggil Najla ketika mereka tiba di depan unit Najla.


Neil berbalik dan menatap Najla yang masih mematung.


"Mau kah kau menemaniku?" Tanya Najla gugup. "Aku tidak ingin kesepian malam ini,"


Neil tidak menjawab. Pria lalu itu berjalan mendekati Najla.


"Buka pintunya," ucap Neil.


Najla pun lalu membuka pintu dan mempersilahkan Neil masuk. Ia lalu berjalan menuju kulkas untuk mengambilkan Neil minuman.


"Kau masih mau beer?" Tanya Najla sambil berbalik. Ia terkejut ketika Neil sudah berdiri di belakangnya dengan menatapnya dalam.


Neil menggeleng. Ia justru mengangkat tubuh Najla dan mendudukkannya di meja pantry. Sejurus kemudian tangan Najla sudah melingkari leher Neil dan menerima cumbuan pria itu di bibirnya. Ciuman Neil terasa mendesak dan memaksa namun Najla menikmatinya. Ia pun tak menolak ketika Neil memindahkannya ke sofa lalu mengurung Najla dengan tubuh kekarnya.


"Kau tidak boleh pulang," ujar Najla di sela-sela ciuman mereka.


"Aku tidak akan pulang," sahut Neil.


***