Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 33



POV : Jemima


Jemima mengusap nisan bertuliskan nama ibunya, Dinar Saria setelah menaburkan bunga. Hari ini adalah ulang tahun sang ibu, dan sudah menjadi kebiasaan Jemima untuk datang ke makam. Ia selalu membawa satu buket bunga mawar kesukaan Dinar semasa hidup.


"Ibu, selamat ulang tahun. Pasti menyenangkan merayakan ulang tahun di surga. Apa ibu melihatku dari sana? Tunggu hingga aku datang, ya. Aku ingin bergabung dengan ibu dan para bidadari," ucap Jemima menahan air mata.


Jemima berjanji tidak akan menangis jika mengunjungi makam saat Dinar ulang tahun. Ia ingin berbahagia memperingati hari kelahiran sang ibu meski mereka tak lagi di dunia yang sama.


"Ibu, apa kau tau kalau aku memiliki kekasih?" Ujar Jemima tersenyum. "Dia pria tampan yang baik hati. Kami saling menyayangi. Rasanya duniaku baik-baik saja sejak ada dirinya,"


"Andai ibu masih ada, aku yakin ibu akan menyukainya jika kalian bertemu. Aku berjanji suatu hari akan mengajaknya ke sini," lanjutnya.


Usai puas bercerita, Jemima lalu berdiri setelah meletakkan buket bunga bunga di sisi nisan. Jemima kemudian perlahan melangkah meninggalkan makam. Saat hampir tiba di gerbang, Jemima menoleh ke belakang. Tiba-tiba ia teringat akan makam ayahnya yang tak pernah ia kunjungi, bahkan ketahui. Jemima tak berniat mencari tahu keberadaan makam ayahnya. Hatinya belum bisa memaafkan perbuatan sang ayah yang menyiksa ibunya dan meneriaki Jemima anak haram. Meski Jemima akui, sekelumit memori indah bersama sang ayah kerap membuat batinnya bergejolak. Ayahnya begitu memanjakan Jemima sebelum ia mendapati foto mantan kekasih ibunya. Namun semuanya sirna teramakan amarahnya yang membabi buta, sehingga meninggalkan dendam bagi Jemima.


Jemima kemudian melanjutkan langkahnya. Ia segera masuk ke mobil begitu tiba di parkiran. Tita yang setia menunggu langsung meyambut Jemima.


"Are you OK?" Tanya Tita yang paham betul suasana hati Jemima selalu muram setelah mengunjungi makam.


"I'm fine," jawab Jemima tersenyum, mencoba menutupi kegundahannya.


Hari ini ia sebenarnya tidak ada jadwal pekerjaan, namun Tita bersikukuh ingin menemaninya ke makam meski Jemima hanya mengizinkannya menunggu di mobil.


"Kau mau kemana setelah ini?" Tanya Tita lagi.


Jemima mengangkat bahu. Ia belum memiliki rencana untuk hari ini. Sejujurnya ia ingin bertemu dengan Alezo, namun sang kekasih beberapa kali idak menjawab panggilan videonya. Mungkin ia sedang pemotretan atau syuting, batin Jemima.


"Aku ingin berbelanja di mall," cetus Jemima setelah berpikir lama.


"Oke,"


"Tanpamu," ujar Jemima sambil menoleh ke arah Tita yang langsung memasang wajah masam.


Ia pun bersorak ketika Tita mengizinkannya pergi sendiri. Mobil mereka pun melaju membelah jalanan menuju mall. Beruntung jalanan tidak macet hingga dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai.


Jemima turun dari mobil dengan mengenakan masker dan kacamata. Sungguh ia benci harus menyamarkan jati dirinya setiap mengunjungi tempat umum. Seandainya ia bisa seperti orang biasa pasti akan sangat menyenangkan tanpa ada gangguan.


Jemima terhenyak ketika melewati sebuah butik brand Kierra, dimana ia menjadi brand ambassadornya. Fotonya tak lagi terpampang di sana, melainkan berganti dengan Tayana, leader girl group Blossom.


"Bagaimana bisa?!" Umpat Jemima kesal.


Kontraknya dengan Kierra memang hampir selesai, namun dua minggu lalu brand tersebut mengatakan akan memperpanjang kontrak mereka karena Jemima penjualan mereka yang meningkat drastis berkat Jemima. Lalu sekarang kenyataannya ia di depak dan lagi-lagi karena Blossom. Sudah pasti ini ulah Kalina, pikir Jemima. Siapa lagi yang bisa memutuskan kontrak selain sang CEO? Sungguh Jemima tak habis pikir kenapa Kalina seperti benar-benar ingin menyingkirkannya?


Jemima baru saja mengeluarkan ponsel ketika sesorang menabraknya dari belakang sehingga ponselnya terjatuh.


"Oh tidak, ponselku!" Seru Jemima yang langsung membungkuk meraih ponselnya.


"Astaga. Aku sungguh minta maaf," ujar seseorang yang menabrak Jemima.


Jemima menoleh dan terkesiap ketika mengetahui yang menabraknya adalah Kamila, ibu Alezo.


"Tante..." ucap Jemima.


Kamila mengernyitkan dahi, bingung karena tak mengenali Jemima dengan wajah tertutup. Jemima lalu menarik maskernya agar wajahnya terlihat.


"Jemima!" Seru Kamila riang.


Jemima sontak meletakkan telunjuk di bibirnya sebagai isyarat agar Kamila memelankan suaranya.


"Kebetulan sekali kita bertemu. Apa kau sendirian?" Tanya Kamila.


Jemima mengangguk kikuk.


"Ah senangnya. Tante juga sendirian. Sepertinya ini pertanda agar kita menghabiskan waktu bersama," ujar Kamila riang.


"Tapi...maafkan aku tidak bisa membuka maskerku," ujar Jemima.


Kamila mengibaskan tangannya lalu merogoh sesuatu dari tasnya.


"Kalau begitu tante yang akan menurutimu," ucap Kamila sambil memakai masker.


Jemima pasrah ketika Kamila menggandeng tangannya untuk berjalan bersama. Ia menuruti langkah ibu sang kekasih. Ia kemudian kembali menoleh ke butik Kierra yang tak lagi memajang fotonya itu. Aku harus bicara pada Kalina, batinnya dalam hati.


Jemima menenteng beberapa papper bag berisi belanjaannya, begitupun Kamila. Ternyata ia dan Kamila memiliki selera yang sama sehingga begitu menyenangkan saat berbelanja bersama. Jemima berkali-kali menolak saat Kamila ingin membayar belanjaannya.


"Tidak perlu tante, aku baru gajian," elak Jemima berulang-ulang.


Ia bahkan harus menjelaskan pada Kamila bahwa ia memang di bayar per bulan oleh Magnolia karena wanita paruh baya itu terheran-heran Jemima menggunakan istilah gajian. Akumulasi bayaran pekerjaannya akan dihitung dan dibagi dengan Magnolia. Meski dengan rasio 50:50, angka yang masuk ke rekening Jemima masih terbilang fantastis.


Jemima tertawa lepas mendengar cerita Kamila tentang masa kecil Alezo. Obrolan hangat terus mengalir dari bibir mereka sambil menikmati makan siang bersama.


"Tante benar-benar berharap kau kelak menjadi bagian keluarga kami," ujar Kamila setelah menyeruput teh chamomile hangat favoritnya.


Jemima tersipu. Wajahnya memerah membayangkan ia akan menikah dengan Alezo di masa depan. Bukankah itu sebuah akhir cerita yang indah?


"Tante dan papa Alezo sudah semakin tua. Rasanya ingin sekali merasakan berada di pesta pernikahan anak sebelum kami tiada," lanjut Kamila lagi.


Jemima tersenyum simpul. Ia tidak tahu harus merespon apa atas ucapan Kamila. Di satu sisi ia bahagia, namun di satu sisi ia nelangsa. Kamila tidak tahu cerita keluarganya. Apa restu itu akan tetap ia terima jika Kamila tahu bagaimana cerita keluarganya? Tidakkah Kamila akan begidik ngeri menatapnya? Relakah Kamila Alezo menikahi seorang anak...pembunuh? Oh Tuhan, Jemima bahkan merinding menyadari kenyataan itu.


"Bagaimana kalau kita pulang ke rumah Alezo? Dia pasti terkejut melihat kita berdua," ajak Kamila.


Jemima mengangguk. Mereka pun beranjak setelah menghabiskan makanan. Kali ini Jemima tak dapat mengelak ketika Kamila membayar di kasir. Setidaknya tidak puluhan juta seperti belanjaanku, batin Jemima.


***


"Alezo!" Panggil Kamila. "Ah apa anak itu ada di rumah?"


Jemima menuruti langkah Kamila. Ia lalu terkesiap ketika tiba-tiba Alezo muncul dengan kaos hitam dan celana jeans.


"Surprise!" Sorak Kamila saat Alezo tiba.


Sungguh Jemima dapat melihat dengan jelas betapa terkejutnya Alezo melihat mereka berdua.


"Mama...Jemima...Bagaimana bisa..." ucap Alezo keheranan.


Jemima tersenyum sambil melambaikankan tangan, menyimpan pertanyaan kenapa kekasihnya itu tidak menjawab panggilan dan pesannya padahal ia sedang di rumah.


"Tentu bisa. Kami berdua bertemu di mall tanpa sengaja. Sepertinya ini pertanda," jawab Kamila menggoda Alezo.


Kamila pun meninggalkan mereka berdua menuju kamarnya di lantai dua untuk beristirahat. Sepeninggal Kamila, Jemima berjalan mendekati Alezo yang masih terpaku menatapnya.


"Hey. Apa kau benar-benar sekaget itu?" Tanya Jemima tersenyum geli melihat wajah kekasihnya itu.


"Oh...ya. Aku tidak menyangka kalian bersama," jawab Alezo tergagap sambil menggaruk telinga.


Jemima tersenyum. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari otot dada Alezo yang tercetak jelas di balik kaosnya.


"Aku akan mengambilkan minum untukmu," ujar Alezo kemudian berjalan menuju dapur.


Jemima diam-diam mengikuti langkah Alezo lalu memeluk sang kekasih dari belakang. Katakan ia nekat, tetapi Jemima merindukan Alezo. Sepertinya ia benar-benar tergila-gila pada kekasihnya itu. Jemima pasrah saat Alezo berbalik dan menatapnya.


"I miss you," ucap Jemima kemudian.


Ia meraih tangan Alezo dan menggengganya erat. Sungguh Jemima menginginkan sentuhan Alezo. Ia tak akan menolak jika Alezo memeluk atau menciumnya saat ini. Rindunya perlu pelampiasan.


Jemima dengan sukacita menerima bibir Alezo yang mendarat di bibirnya. Ia kecewa ternyata Alezo hanya memberinya kecupan. Jemima ingin lebih. Ia berjinjit mencoba meraih kembali bibir Alezo namun sang kekasih menahan tubuhnya sehingga membuat Jemima cemberut.


"Pergilah ke kamarku," bisik Alezo.


Jemima tersenyum menggigit bibirnya. Tak menunggu lama ia segera berbalik dan berjalan menuju kamar Alezo. Entah apa yang merasukinya, namun pikiran nakal Jemima membayangkan apa yang akan mereka lakukan. Jemima membuka pintu kamar Alezo dan masuk ke dalamnya. Ia sudah beberapa kali berada di sana namun tidak pernah memperhatikan isinya. Jemima begitu mengagumi kamar Alezo yang tertata rapi dan wangi. Rasanya akan menyenangkan jika mereka merebahkan diri di kasur bersama lalu saling mencumbu.


"Astaga pikiranku," gumam Jenima malu sambil menepuk jidatnya


Mata Jemima kemudian tertumbuk pada album foto lama yang tergeletak di atas meja. Ia lalu meraih dan membuka album tersebut. Bibirnya tersenyum memandang foto masa kecil Alezo yang begitu menggemaskan. Ternyata ia sudah tampan sejak kecil, pikir Jemima.


Jemima tiba-tiba terkesiap ketika matanya menangkap sebuah foto yang terasa familiar. Ia mendekatkan foto tersebut ke matanya lalu serta merta melempar album tersebut ke lantai. Dada Jemima tiba-tiba terasa sesak dan nafasnya memburu.


"Tidak...tidak mungkin...." ucapnya terbata.


Kenapa foto mantan kekasih ibu yang direbut oleh sahabatnya ada di album keluarga Alezo?


Jemima mendelik ketika pintu kamar terbuka dan sosok Alezo muncul dibaliknya dengan memegang cangkir. Pria itu pun keheranan melihat Jemima berdiri degan tubuh gemetar.


"Mima...ada apa?" Tanya Alezo panik.


Tanpa menunggu Jemima menjawab Alezo seketika terkesiap melihat album foto yang tergeletak di lantai.


"Kau..." ujar Jemima. Ia lalu memungut album itu dan membawanya pada Alezo.


"Katakan padaku kenapa foto orang ini ada di sini?" Todong Jemima dengan suara bergetar.


Jemima menatap nanar pada Alezo yang tak kunjung menjawab.


"Ini ayahmu?" Tanya Jemima lagi yang sebenarnya ia sudah bisa menebak jawabannya.


"Lalu...berarti...ibumu adalah sahabat ibuku yang berkhianat?"


Alezo membisu. Ia hanya mampu menatap nanar Jemima tanpa mengatakan apa-apa.


"Jawab!" Pekik Jemima yang membuat Alezo tersentak.


"Mima...please..." ujar Alezo.


Jemima menepis tangan Alezo yang ingin meraih bahunya. Batinnya terasa tercabik-cabik mengetahui bahwa Alezo kekasihnya adalah anak dari sahabat jahat sang ibu.


"Brengsek," umpat Jemima dengan air mata yang mengalir deras tak terbendung.


Jemima mendorong tubuh Alezo yang masih berusaha mendekatinya.


"Ternyata kau anak si pengkhianat, hah? Kau anak dari orang yang membuat ibuku tersiksa sampai akhir hayatnya, hah?!" Pekik Jemima tak kuasa menahan amarah.


"Jadi wanita tadi yang menghancurkan hidup ibuku? Wanita tadi yang merenggut kebahagiaan dan nyawa ibuku, hah?!'


Jemima merasakan tubuhnya bergetar hebat. Kepalanya terasa sangat sakit karena menghadapi kenyataan yang begitu pahit. Fakta ternyata Alezo adalah anak dari sahabat ibunya yang berkhianat benar-benar menghujam kalbu Jemima.


"*******!" ketus Jemima. "Kalian hidup bahagia setelah orangtuamu menyakiti ibuku sampai akhirnya dia mati dengan tragis dan hidupku menderita. Damn you all!"


Tangis Jemima pecah. Kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya sehingga ia terduduk di lantai. Ia menepis tangan Alezo yang ingin meraihnya berkali-kali.


"Jangan menyentuhku, brengsek!"


Sampai akhirnya Jemima merasakan kepalanya berputar dan tubuhnya melunglai tak sadarkan diri.


***