
GUYS PAKE KEBAYA YA KITA KE KONDANGAN NIH! Gausah bawa amplop Alezo udah kebanyakan duit 🙏🏻
Alezo berdiri di ujung altar dengan gemetar. Tangannya terasa dingin dan jantungnya berdebar karuan. Sekuat tenaga ia berusaha untuk tetap tenang meski rasanya seperti akan meledak. Alezo tak mengira menanti pengantin perempuan datang akan membuatnya gemetar seperti sekarang. Sungguh, bisa kah ia mempercepat waktu karena rasanya Alezo tak akan mampu bertahan lebih lama lagi menahan dirinya.
Kegelisahan Alezo kemudian terhenti begitu pintu ballroom terbuka. Di ujung sana Jemima berdiri dengan gaun pengantin dan veil yang menjuntai. Perlahan sang pengantin wanita berjalan di atas altar menuju Alezo dengan memegang bunga. Alezo seketika membeku. Ia begitu terpana memandang Jemima yang berjalan anggun dengan senyum manisnya. Ia bersumpah melihat cahaya yang berpendar di sekeliling pengantin wanitanya. Jarak yang semakin dekat membuat rasa haru semakin kuat. Desakan air mata tak mampu Alezo bendung, hingga akhirnya mengalir keluar. Ya, Alezo menangis di hari pernikahannya karena teramat bahagia. Alezo bahkan harus menyeka matanya beberapa kali karena air mata yang bak sungai, mengalir tanpa bisa ditahan.
Jemima terus melangkah sambil terus menatap Alezo di ujung sana. Dadanya bergemuruh ketika menyadari Alezo berurai air mata. Andai Jemima tak menahan diri, ia pun kini mungkin bersimbah air mata karena rasa haru dan bahagia yang menjadi satu. Sekelabat bayangan perjalanan cinta mereka melintas di benak Jemima. Ada tangis dan tawa, bahagia juga gulana. Dan cerita mereka berlabuh pada sumpah sehidup semati di depan Tuhan.
“Mima…” lirih Alezo hampir tak terdengar begitu Jemima berada tepat di hadapannya.
‘Tuhan, apa Jemima salah satu malaikat Mu?’ teriak Alezo dalam hati.
“You’re so beautiful…”
Gadis itu hanya tersenyum, namun Alezo tau sang kekasih sedang menahan gejolak yang sama dengannya.
Mereka berdua lalu mengucapkan sumpah pernikahan meski dengan suara bergetar, Hingga akhirnya Alezo dipersilahkan untuk mencium Jemima. Padahal ia sudah menikmatibibir ranum Jemima. Namun saat ini bagaikan untuk kali pertama.
“You can kiss your wife now,” ulang pastor yang memberkati mereka karena Alezo tak kunjung mencium Jemima.
Perlahan Alezo meraih tangan Jemima lalu mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka bertemu. Alezo merasakan bibir Jemima bergetar, pertanda sang pengantin wanita punmerasakan debaran seperti dirinya. Ciuman pertama mereka sebagai suami istri sungguh berbeda. Hangat, syahdu, dan haru.
***
“Alezo…ini berlebihan!” Seru Jemima sambil menghentakkan kakinya.
“No, it’s not. Aku memang sudah mempersiapkannya untukmu, untuk kita,” jawab Alezo santai.
Jemima berdecih. Ia menatap nanar rumah mewah yang Alezo beli untuk tempat tinggal mereka. Padahal rumah Alezo yang sekarang mereka tempati sejak menikah seminggu lalu sudah cukup besar dan mewah menurut Jemima. ‘Sepuluh milyar, yang benar saja!’ gerutu Jemima dalam hati.
“Kita akan pindah ke sini besok,” tukas Alezo sambil mengamit lengan Jemima untuk masuk ke dalam rumah baru itu.
“What? Hey, tapi kita perlu beres-beres dulu…”
Ucapan Jemima terhenti saat Alezo membuka pintu. Ia terpana melihat furnitur yang sudah tertata rapi. Ternyata Alezo sudah mempersiapkannya dengan sempurna.
“Kita hanya cukup membawa baju-baju,” lanjut Alezo santai.
Jemima mendelik. Ia lalu memposisikan dirinya di hadapan Alezo lalu berkacak pinggang.
“Honey, my husband. Aku sangat senang kau memberiku tempat tinggal semewah ini. Thankyou very very very much…” ucap Jemima yang direspon anggukan kepala oleh Alezo.
“But…berjanjilah padaku ini terakhir kalinya kau mengeluarkan uang yang begitu banyak tanpa izin dariku,” lanjut Jemima dengan penekanan, seolah mengancam Alezo.
“Ow…ehm…toh ini buatmu, honey. Buat kita,”
Jemima menggeleng, tak setuju dengan ucapan Alezo.
“Aku berbicara untuk selanjutnya!“ sergah Jemima yang berusaha galak namun Alezo malah tertawa melihat ekspresi wajahnya.
“Ini terlalu mahal. Dan juga terlalu besar untuk…” ucapan Jemima terpotong karena Alezo membungkam bibirnya.
Jemima yang terkejut mau tak mau menerima cumbuan Alezo yang mendesak dan memaksa. Bahkan kini Alezo mendorongnya hingga tubuhnya bersandar di tembok. Jemima tak berdaya saat Alezo mengangkat kedua tangannya lalu menguncinya.
“Alezo…hmph…stop…”
Tanpa ampun Alezo tak mendengarkan ucapan Jemima. Hingga akhirnya sang suami berhenti, Jemima menarik nafas panjang karena merasa kehabisan udara.
“Kau membuatku berantakan!” gerutu Jemima sambil merapikan kemeja yang ia kenakan.
Jemima kemudian menghujani suaminya itu dengan cubitan andalannya hingga Alezo berteriak minta ampun.
“Bagaimana dengan rumahmu yang sekarang?” Tanya Jemima setelah ‘pertengkaran’ mereka berakhir.
“Albar berencana membelinya,”
Jemima mengangguk sambil mengelus perutnya. Sejak hamil hal itu menjadi kebiasaan.Meski perutnya masih rata, Jemima selalu ingat bahwa ia membawa dua bayi di dalam perutnya. Buah cintanya yang sangat berharga dengan suami yang begitu ia cintai.
“Aku tidak sabar ingin melihat perutmu buncit,” ucap Alezo yang kini turut mengelus perut sang istri.
“Aku pasti akan gendut sekali saat itu,”
“Aku yakin kau akan terlihat hot. Hot mama,”
Alezo lalu mendekatkan wajahnya di perut Jemima lalu mengusap dan mengecupnya pelan.
“Tumbuhlah sehat di dalam sana, twins. Kami akan menjagamu hingga kalian hadir di dunia,” ucap Alezo.
Jemima tersenyum. Ia lalu mengelus rambut Alezo yang kini berbaring dipangkuannya. Hatinya terasa hangat melihat Alezo yang tampak begitu menyayangi calon anak mereka. Ia yakin Alezo akan menjadi ayah yang luar biasa.
“Daddy,” ucap Jemima yang sontak membuat Alezo mengangkat kepalanya dari pangkuan Jemima.
“Daddy Alezo,” ulang Jemima menggoda suaminya.
“Mommy Jemima?”
Tawa mereka pun berderai, merasa lucu dengan panggilan masing-masing. Rasanya seperti mimpi dalam beberapa bulan lagi akan ada dua bayi yang melengkapi hidup mereka.
“Aku ingin memiliki banyak anak!” seru Jemima yang membuat Alezo mendelik.
“Are you sure?”
Jemima mengangguk cepat. Ia selama ini kesepian, tanpa keluarga. Dan saat ini ia ingin memiliki beberapa anak agar hidupnya berwarna. Jemima ingin memiliki banyak cinta yang dulu hanya sekejap ia rasakan.
“We can make it now,” cetus Alezo sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Not today, Alezo!” Protes Jemima.
Ia sudah kehabisan tenaga karena Alezo mencumbunya sepanjang malam. Sungguh kali ini ia tak sanggup jika harus menghadapi stamina Alezo yang selalu membuatnya berteriak lemas.
Jemima kemudian mengajak Alezo untuk pulang karena merasa lelah. Rasanya ia ingin segera berganti pakaian lalu merebahkan diri di tempat tidur. Baru saja Jemima akan membuka pintu tiba-tiba ia terhenyak.
“Alezo…”
“Ya?”
“Alezo…aku…hueeekk….huekk…”
Jemima tiba-tiba mengeluarkan isi perutnya. Tubuhnya terasa lunglai dan tak mampu meopang dirinya sendiri. Sepertinya perjalanan kehamilan Jemima sudah di mulai.
***