
"Bukannya Neil adalah mantan kekasihmu?" Tanya Najwa keheranan pada Zura saat Neil dan Najla berlalu.
Zura tak menjawab. Ia masih berdiri mematung dengan nafas memburu menahan kesal membayangkan Neil yang membela Najla, bahkan mengatakan akan menikahi sepupunya itu.
"Neil? Kenapa aku tidak menyadarinya," imbuh Salim, ayah Zura.
"Aku pulang," cetus Zura sambil meraih tasnya lalu meninggalkan ruang makan menuju pintu keluar.
Ia tak mengindahkan saat orangtuanya memanggilnya untuk kembali. Zura terbakar api cemburu dan emosi yang membuat hatinya terasa panas. Tidak bisa begini, batinnya. Zura masih menginginkan Neil, dan ia tak akan mengalah lagi. Dulu ia rela melepas Neil karena desakan Salim dan silau dengan pengusaha Dubai yang dijodohkan dengannya. Kali ini Zura tak mau lagi melakukan kebodohan dengan kembali merelakan Neil. Tidak akan kubiarkan, tekad Zura.
***
Neil meraih tangan Najla ketika pintu lift terbuka dan membimbing gadis itu keluar. Selama perjalanan mereka saling membisu, sibuk dengan gejolak perasaan masing-masing. Tiba-tiba Neil tersentak ketika Najla menarik tangannya dari genggaman Neil ketika mereka sedang berjalan di koridor menuju unit masing-masing. Neil berbalik dan mendapati Najla memandangnya dengan tatapan kesal.
"Ada apa?" Tanya Neil heran.
"Kenapa kau melakukannya?" Sentak Najla sengit.
Neil mengernyitkan dahi tanda ia tak mengerti maksud ucapan Najla.
"Kau justru semakin membuat keluargaku membenciku!"
Neil terdiam. Ternyata Najla malah tidak terima dengan apa yang ia lakukan.
"Najla..." ujar Neil sambil meraih bahu Najla. Sayangnya gadis itu menepis tangan Neil.
"Aku ingin kembali dengan keluargaku. Aku berusaha agar mereka mau menerimaku lagi dengan cara apapun. Tapi kau malah memperkeruh keadaan!" Seru Najla dengan nafas tersengal.
Neil terpaku ketika Najla berjalan cepat meninggalkannya. Ia hanya menatap nanar punggung gadis itu. Neil tiba-tiba tersadar dan segera berlari mengejar Najla. Ia berhasil meraih lengan Najla namun lagi-lagi gadis itu menarik tubuhnya kencang, seolah tak ingin di sentuh oleh Neil.
"Najla...aku minta maaf jika kau tidak berkenan dengan tindakanku. Namun...."
"Ya, aku menyesali kedatanganmu," potong Najla.
Ia kembali melanjutkan langkah tak ingin berlama-lama dengan Neil. Baru beberapa langkah, Najla berbalik menghadap Neil.
"Kau bilang akan menikahiku?" Najla tersenyum sinis. "It won't happen!"
Usai berkata demikian, Najla berlalu tanpa memikirkan Neil yang seketika merasa di hantam sebuah batu besar.
Nail merasakan tubuhnya membeku, tak menyangka Najla justru kecewa dengan apa yang ia lakukan untuk gadis itu. Saat Najla mengatakan ia akan ke rumah orangtuanya, perasaan Neil sudah tidak enak. Ia yang pernah mendengar secara langsung bagaimana keluarga Najla meneriaki dan mengusirnya saat di rumah sakit merasa was-was jika terjadi hal yang buruk padanya. Ia pun berniat untuk menyusul Najla. Sayang gadis itu tidak menjawab panggilan ponselnya beberapa kali. Beruntung Neil sempat menyimpan nomor ponsel supir Najla untuk berjaga-jaga. Ternyata berguna. Ia pun menelepon sang supir dan menanyakan alamat rumah orangtua Najla. Ia pun segera memacu mobilnya untuk menyusul. Beruntung jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
Benar saja. Ia langsung mendengar teriakan Sabri saat ia masih berada di depan pintu. Tanpa pikir panjang Neil segera masuk dan mendapati Najla yang tersungkur. Sungguh hatinya benar-benar hancur melihat Najla diperlakukan seperti itu oleh keluarganya sendiri. Bahkan Zura, sepupunya tidak membela Najla sama sekali. Padahal Zura mengatakan bahwa hubungan mereka dekat.
Neil melangkah gontai menuju unitnya dan menyesali ucapan spontannya yang mengatakan akan menikahi Najla. Sungguh ia pun terkejut ketika kata-kata itu terlontar dari bibirnya. Neil hanya berniat mempertegas bahwa ia tak akan membiarkan Najla diperlakukan semena-mena. Hatinya terluka menyaksikan bagaimana bisa orangtua menyakiti anak kandungnya sendiri. Logika dan perasaannya sungguh tidak bisa menerima. Lalu entah kenapa otaknya memikirkan ia akan menikahi Najla agar bisa menciptakan keluarga bahagia untuk gadis itu. Tentu terlalu dini memang mengingat mereka baru di tahap mengakui perasaan masing-masing. Ternyata Najla tidak terima karena hatinya masih menyimpan asa kembali bersama keluarganya. Sementara Neil harus menerima bahwa nyatanya ia hanya menempati secuil hati Najla, dan bahkan kini telah terusir.
***
Alezo menarik nafas dalam ketika untuk kesekian kalinya Jemima tidak mengangkat panggilan ponselnya. Pesan yang ia kirimpun tak kunjung di balas. Sungguh Alezo benar-benar tersiksa dengan menghilangnya Jemima dari kehidupannya. Apalagi saat melihat berita Jemima berduaan dengan Sean. Ia serta merta panas dan tidak ragu mengajak Sean bertemu dan menegaskan bahwa Jemima adalah miliknya, tidak peduli dengan hubungan baik mereka sebagai teman. Persetan dengan ucapan Sean yang mengatakan Jemima adalah cinta pertamanya. Selama Alezo masih hidup, ia akan terus berusaha agar Jemima kembali ke pelukannya.
"Apa aku nekat untuk datang ke apartemennya?" Gumam Alezo.
"Ah tidak. Ia akan semakin membenciku jika aku datang tiba-tiba,"
Alezo begitu gusar karena ia hampir gila karena merindukan Jemima. Bahkan ia beberapa kali ditegur sutradara saat syuting iklan karena ia tidak fokus. Biasanya Alezo akan sedikit terhibur dengan melihat unggahan foto atau video Jemima di media sosial. Namun sejak dua hari lalu Jemima tidak mengunggah apapun.
"Hey kenapa kau berbicara sendiri?"
Alezo tersentak karena tiba-tiba Albar menepuk punggungnya. Hampir saja ponselnya terjatuh sangking ia benar-benar terkejut.
"Albar!" Sentak Alezo kesal. Sementara sang adik hanya tertawa cekikikan.
"Kau seperti orang linglung," cetus Albar.
Alezo mendengus. Ia lalu menyadari bahwa Albar mengenakan pakaian formal.
"Kau mau kemana?" Tanya Alezo penasaran.
"Ehm...aku tidak bermaksud melukai hatimu yang sedang patah hati. But... I have a date tonight," jawab Albar tersenyum.
"Gadis mana lagi yang termakan gombalan mautmu?" Canda Alezo.
"Ehm...kali ini tanpa gombalan maut. Dia datang dengan sendirinya," ujar Albar dengan wajah usil.
"Kau ingin aku percaya?"
"Memang harus percaya karena ini fakta!" Seru Albar menggebu.
Alezo mengibaskan tangannya. "Ya ya ya. Pergilah. Tapi apa pakaianmu tidak terlalu formal untuk sebuah kencan?" Selidik Alezo karena Albar mengenakan jas.
"Ini bukan kencan biasa," jawab Albar yang tiba-tiba berbisik. "Aku akan bertemu kedua orangtuanya,"
Dahi Alezo berkerut. Sekalipun bertemu orangtua kekasihnya, kenapa ia berdandan seolah akan ke sebuah gala dinner?
"Aku harus rapi jika bertemu dengan Bramastio Wiyatmo," ucap Albar kemudian yang membuat mata Alezo terbelalak.
Bramastio Wiyatmo adalah pemilik stasiun televisi terbesar. Berarti Albar mengencani anak perempuannya? Bahkan setau Alezo, Bramastio hanya memiliki satu anak perempuan. Lalu adiknya mengencani sang putri mahkota yang juga CEO sebuah start up teknologi itu?
"Kau mengencani Louisa Wiyatmo?"
Albar mengangguk sambil menggatupkan bibirnya. "Exactly," jawabnya bangga.
"Awalnya dia adalah klienku. Karena sering bertemu dan bersama-sama...ehm...kami saling suka dan...ah...Louisa sayangku,"
Alezo mencubit lengan Albar. Rasanya gemas sekali melihat wajah Albar yang sumringah seperti remaja jatuh cinta.
"Pergilah!" Cetus Alezo, sementara Albar hanya tertawa.
Ia pun lalu berjalan menuju pintu untuk keluar. Sebelum menghilang ia berbalik dan menunjukkan kunci mobil pada kakakknya itu.
"Aku akan memakai Porschemu. Thankyou!"
Albarpun menghilang tanpa sempat di cegat oleh Alezo.
"Dasar anak nakal," omel Alezo gemas.
***
Alezo akhirnya memutuskan untuk pergi ke apartemen Jemima. Katakanlah ia tak tau diri. Tapi rindunya benar-benar tak terbendung. Ia perlu melihat Jemima secara langsung. Apalagi Tita manager Jemima sedang berlibur, sehingga ia sama sekali tidak ada akses untuk mengetahui kabar gadis itu.
Alezo baru saja akan turun setelah memarkirkan mobil ketika ia melihat mobil Jemima keluar. Mau kemana dia malam ini, pikir Alezo. Tanpa pikir panjang Alezo mengikuti mobil Jemima, membuntuti kemana gerangan gadis itu pergi.
Alezo membelokkan mobilnya ke sebuah restoran Jepang karena mobil Jemima berhenti di sana. Ia pun turun setelah melihat Jemima masuk ke restoran tersebut. Tak butuh waktu lama bagi Alezo menemukan Jemima yang duduk di sudut agar jauh dari keramaian pengunjung yang mungkin akan mengenalinya. Alezo memilih duduk agak jauh namun selurusan dengan Jemima agar ia dapat memperhatikan gadis itu. Sungguh jika ia tak tau malu, ia akan berlari menghampiri Jemima, duduk di hadapannya dan menggenggam erat tangannya.
"Permisi,"
Alezo tersadar ketika pelayan menghampiri dan memberinya buku menu. Alezo segera memesan agar ia tak terganggu lagi. Setelah memesan, Alezo memperhatikan Jemima yang termangu menghadap jendela. Apa yang sedang ia pikirkan, batin Alezo terenyuh.
Alezo dapat tenang setidaknya melihat Jemima yang makan dengan lahap. Jemima harus banyak makan agar tetap sehat. Justru Alezo yang kehilangan nafsu makan karena hatinya terasa mencelos hanya bisa memperhatikan Jemima dari jauh seperti ini seperti orang Padahal mereka saling menyangi dan pernah berbagi kehangatan
Alezo kemudian bergegas beranjak setelah memastikan Jemima sudah keluar dari restoran. Ia memanggil pelayan dan meninggalkan lima lembar uang seratus ribu untuk membayar makanan dan minumannya. Tak ada waktu untuk ke kasir atau ia akan kehilangan jejak Jemima.
Alezo kembali mengikuti Jemima yang entah kemana tujuannya. Sampai akhirnya mobil Jemima berhenti di Serenade Park yang sudah sepi tanpa pengunjung. Alezo melihat Jemima turun namun beberapa detik kemudian supirnya mengikuti Jemima. Dari gerak geriknya Alezo menangkap bahwa sang supir ingin menemani Jemima namun gadis itu menolak. Akhirnya Jemima pun melanjutkan langkah meninggalkan supirnya yang terlihat khawatir. Setelah gadis itu agak jauh, Alezo turun dan menghampiri supir Jemima.
"Jangan beri tau Jemina kalau aku di sini. Aku akan mengikuti dan menjaganya," ucap Alezo yang ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Pak Dudi, supir Jemima.
"Baik, Tuan,"
Alezo kemudian mengikuti Jemima yang terus berjalan menuju area danau. Jantungnya berdebar menebak-nebak apa gerangan yang akan dilakukan Jemima di tempat ini. Alezo memilih berdiri di sampinh sebuah pohon ketika Jemima menghentikan langkahnya di pinggir Danau. Tidak ada orang selain mereka berdua hingga terasa begitu sunyi. Terang lampu warna warni menghilangkan kesan menakutkan, berganti dengan susana yang menenangkan.
Alezo memperhatikan Jemima yang hanya berdiri berdiam diri dari jarak kurang lebih tiga meter agar tidak ketahuan dan berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Sangking sunyinya ia dapat mendengar tarikan nafas Jemima yang terasa berat. Alezo terkesiap ketika melihat Jemima yang menjatuhkan dirinya. Gadis itu berlutut dan seketika Alezo mendengar suara tangis yang memilukan. Hatinya tercabik-cabik melihat Jemima yang menangis kencang seolah meluapkan kesedihan yang begitu mendalam.
Perasaan Alezo begitu berkecamuk. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Sungguh ia ingin menghampiri gadis itu lalu memeluknya erat detik itu juga. Bahkan jika bisa biarkan ia yang menanggung semua beban yang menghimpit Jemima. Namun langkahnya terasa berat karena mengingat ia lah salah satu penyebab kesedihan Jemima.
Sejurus kemudian tiba-tiba pandangan Alezo menghitam setelah merasakan hantaman keras pada leher belakangnya dan sepersekian detik kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.
***