
Cathlyne POV
Saat ini sudah jam set 6 dan gue baru sampe di Basecamp. Gue langsung aja masuk ke basecamp yang sudah ada banyak anak-anak DeadScorpio.
"Mana Bara?" Tanya gue ke Dylan yang lagi mabar sama anak yang lain.
"Di gudang, lagi adu bacot ama Axel" kata Dylan.
Gue yang denger itu langsung aja pergi ke gudang dan ternyata emang bener kalo Bara lagi adu bacot ama Axel.
Gue langsung aja ke dapur dan ngambil piso lalu setelah itu gue masuk ke gudang.
"Cara lo murahan *****!" Bentak Bara
"Suka-suka gu- Cathlyne" kata Axel yang ngeliat gue masuk
"Apa? Lanjutin bacotan lo" kata gue sambil ngambil kursi dan duduk didepan Axel yang di iket dan duduk dilantai.
"Cath, lo harusnya bantuin gue dong. Gue kan dah bantuin lo!" Kata Axel
"Bantuin dalam hal apa?" Tanya gue
"Ya bantuin lo ngungkap kejahatan Rey" kata nya enteng
"Bukannya lo bantuin gue ngungkap kejahatan lo sendiri?" Tanya gue dengan senyum remeh
"Mak-maksud lo?"
"Udah lah Cath, ni bocah emang gak bisa dilembutin" celetuk Bara
"Bener sih. Yaudah lah, karna gue baik jadi gue bakalan ngasih lo hadiah" kata gue sambil ngelempar pisau ke Bara
"Sayat!" Suruh gue dan dengan cepat Bara menangkap pisau itu.
"L-lo mo ngapain Cath?" Tanya Axel gugup yang melihat Bara mendekat dengan pisau nya.
"Seperti yang gue bilang tadi. Gue rasa lo gak terlalu bodoh buat ngerti ucapan gue" kata gue
"Apanya duluan nih Cath?" Tanya Bara
"Kaki" kata gue yang langsung dilaksanakan oleh Bara
"Akhhhh" seru Axel pas di sayat.
"Jan ngedesah dong!" Kata gue dengan senyum miring andalan gue
"Cath, please stop" katanya
"Okok, Bar stop" kata gue yang bikin Bara berhenti nyayat kaki Axel
"Sekarang gue mau lo ngaku kejahatannya lo" kata gue.
"Maksudnya?!"
"Jangan pura-pura bodoh. Gue mau lo ngakuin kelakuan bejat lo yang hampir ngebunuh Leo dan berniat ngefitnah Rey" kata gue
"Cih, ngapain?! Lagian Leo dah mati juga kan" katanya yang bikin gue emosi.
Bukhhhh
Bughhhh
Plakkkkk
Gue langsung berdiri dari kursi gue dan jongkok lalu Gue mukul Axel dengan kuat sampe bibirnya keluar darah.
"Ngomong apa Lo barusan?!" Kata gue datar
"Leo. Udah. Mati." Katanya dengan smirk disaat bibirnya usah berdarah yang bikin gue terkekeh.
"Piso Bar" kata gue yang bikin Bara ngasih pisonya ke gue.
"Awalnya gue cuma pen nyayat kaki sama tangan lo, tapi karna lo betingkah gue jadi terpikir untuk nyayat muka lo habis itu nusuk jantung lo" kata gue dengan smirk.
"Gue lebih baik mati dati pada ngaku" kata Axel
"Pilihan yang sangat bodoh mantan ku" kata gue. Setelah itu gue langsung nyanyat mukanya dibeberapa tempat yang bikin dia meringis.
"Bar, ambilin garam" kata gue yang bikin Bara langsung berdiri dan ngambil garam
"Lo mau mati sekarang atau besok pagi?" Tanya gue sembari menunggu Bara
"Gue tau lo gak senekat itu Cath" kata Axel PD
"Lo inget kan zodiak gue gemini dan asal lo tau Gemini adalah zodiak yang paling tinggi berpotensi untuk menjadi psycopath. Jadi kelakuan Lo ini bikin gue bukan mau ngeluarin badCathlyne lagi tapi PsycoCath." Kata gue sambil terus nyayat tangan Axel
"Lo beneran bukan psyco kan?! Ishhh"
"Kalo sudah begini menurut lo gimana?" Tanya gue sambil menggores pipi Axel
"Nih garemnya" kata Bara yang bikin gue berdiri dna kembali duduk di kursi gue.
"Taburin ke semua luka sayat nya" kata gue. Biarin dia rasa perih sama lukanya.
"Siap" kata Bara yang langsung naburin garam di semua luka sayat nya dan gue juga liat Bara yang sengaja nekan luka nya yang bikin suara ringisan Axel bergema di ruangan ini.
Sudah 10 menit Bara menyiksa Axel dengan garam. Dan gue belum ngerasa puas, masa cuma ini yang bisa dia bayar buat kematian Leo? Hell no!
"Stop Bar. Cabut" kata gue yang langsung berdiri dari kursi gue.
"Loh, sudah Cath?" Tanya Bara yang gue rasa masih belum puas juga.
"Belum lah, cuma kasian dia. Biarin dia tenang dulu" kata gue sambil keluar dan nyamperin anak-anak DeadScorpio yang lain.
"Gimana bos? Lo apain dia?" Tanya Rian sambil ngemil.
"Baru di sayat" kata gue sambil rokok Rico yang dimeja lalu membakarnya.
"*****. Lo udah ngabisin berjam-jam cuma buat nyayat tuh manusia ****" kata Rico
"Gakpapa, yang penting puas. Ya ga Bar?" Tanya gue ke Bara yang baru aja duduk di sofa.
"Yoi. Abis ini mau lo apain?" Tanya Bara
"Eum, gue rasa kita bakar boleh lah ya?" Tanya gue
"Mati cepet dong" kata Darren
"Ya enggak, maksud gue kita bakar pake lilin. Biar dia rasain rasanya luka bakar" kata gue.
"Cath, lo beneran bukan psyco kan?" Tanya Dylan
"Gak tau dah. Eh Ric, bantuin gue bakar tuh orang ya" kata gue
"Aman aja. Lo suruh gue jait tuh orang juga gakpapa" kata Rico
"Wah boleh tuh, gue bagian ngejait dah" kata Rian
"Yakin lo? Entar lo duluan pingsan lagi" kata Dylan yang bikin kita ketawa.
"Tapi menurut kalian, gue keterlaluan gak sih?" Tanya gue
"Keterlaluan sih iya, cuma dia harus ngerasain apa yang Leo rasain pas dia kecelakaan" kata Bara
"Yaudah deh, kalian aja ya. Gue mah cuma kestau doang" kata gue.
"Yeu, labil lo" celetuk Dylan
"Ngomong ngomong ini jamber?" Tanya gue.
"Baru jam 12 malam" kata Rico
" Bagus lah" kata gue.
"Yaudah mending lo bakar tuh bocah" kata Bara
"Cuma gue bingung nanti mo diapain tuh bocah. Masa iya gue ngebunuh orang? Yakali" kata gue.
"Ya lo aduin kepolisi aja lah" kata Rian
"Dengan kondisi abis kita siksa begini?" Tanya gue
"Aha, gue tau. Gimana klo kita bawa ke dokter trus aduin ke polisi. Nah pasti polisi ngira kita baik, jadi kita gak kena. Bilang aja dia abis disiksa sama musuh gengnya" Kata Rico
"Nahh, Boleh tuh. Wah hebat lo Rico sang cerdikiawan" kata Rian
"Sabi tuh Cath, jadi lo gak perlu repot-repot ngebunuh tuh anak" kata Darren
"Iya sih. Yaudah lah, skuy kita bakar dia. Yok Ric" kata gue yang diangguki oleh Rico.
Gue ama Rico pun kembali ke gudang dengan lilin dan korek api. Pas gue buka pintu ternyata Axel lagi tidur, jujur gue gak tega cuma apa boleh buat.
Gue langsung aja ngambil air digelas trus nyiram Axel yabg bikin dia kebangun.
"Bangun" kata gue datar
"Lo mo ngapain lagi sih?! Gak puas sama semua sayatan ini?" Tanyanya yang bikin gue mingkem.
"Gue gak tega, tapi gue harus Xel" batin gue
"Bakar deh Ric" kata gue sambil duduk dikursi gue yang tadi.
Rico pun ngebakar lilin dan setelah nyala, dia langsung nempelin apinya ke telapak kaki Axel yang bikin Axel ngejerit.
"Stop, please akhh stop ishhh" teriak Axel pas Rico ngebakar lengannya.
Rico terus-terusan ngebakar tubuhnya sampe Axel bener-bener kesakitan.
"Cath, please" kata Axel yang sudah mulai melemah
"Stop Ric" kata gue sambil jalan ke Axel
"Huft, karna gue baik sama lo, gue bakalan bawa lo ke rumah sakit sampai semua luka lo bisa sembuh. Awalnya gue berniat bikin lo tambah sakit, cuma.....cuma gue sadar kalo lo pernah bikin gue bahagia dulu.
Dan awalnya gue mau laporin kepolisi dan lo akan di penjara atas kasus pemerkosaan dan pencemaran nama baik, dan dengan kekuasaan gue lo bisa aja di penjara seumur hidup tapi gue gak bakalan lakuin itu. Lo bebas, tapi gue harap lo jangan pernah sekali-kali muncul dihadapan gue kalo enggak..... Gue pastiin lo ngerasin rasa sakit yang lebih dari ini" kata gue
"Thanks" katanya yang bener-bener sudah lemah
"Ric, bukain tali nya" kata gue
"Lo yakin? Ini gak sesuai rencana tadi" kata Rico
"Gue masih ada rasa manusiawi" kata gue trus keluar ninggalin Rico yang lagi ngelepas ikatan Axel.
"Loh Cath, kok cepet banget bru setengah jam" kata Bara yang gue kacangin
"Lah?! Belum juag dijait tu bocah" kata Rian
"Lo yang bakalan gue jait" kata gue
"E-eh jangan dungs. Yaudah gue siapin mobil" kata Rian trus pergi.
"Cath" panggil Bara
"Hm?"
"Jan bilang kalo lo mau ngebebasin Axel?" Tanya Bara
"Emang iya gue bakalan bebasin Axel" kata gue
"Wah emang gak bakat jadi Psyco lo boss" kata Darren
"Klo gue pscyo, lo duluan yang gue bunuh" kata gue tegas yang bikin Darren mingkem.
"Lo yakin?" Tanya Dylan
"Yakin lah, gue kasian liat tuh bocah lemah banget" Kata gue
"Ck, gue kira lo kuat ternyata....." Kata Dylan gantung dengan muka sok nya.
"Serah dah." Kata gue
Setelah beberapa menit gue liat Rico lagi ngebopong Axel yang udah ada bekas sayat, luka bakar dan mukanya yang udah bonyok.
"Bawa deh" kata gue yang diangguki oleh Rico.
Gue sama anggota inti pun langsung ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit, gue suruh Darren, Rian dan Rico buat ngurus administrasi nya yang pastinya pake duit gue. Sedangkan gue, Bara ama Dylan lagi bawa Axel ke dokter.
Dokter pun membawa Axel masuk kedalam UGD untuk diperiksa dan kita disuruh untuk nunggu diluar.
"Lo serius gak ngaduin dia ke polisi?" Tanya Bara
"Hm" jawab gue
"Ck, berarti percuma lo siksa dia. Ujung-ujungnya klo dia sembuh paling bikin ulah lagi" kata Dylan
"Kalo itu beneran terjdi gue gak bakalan toleransi lagi." Kata gue
"Cih, lemah" celetuk Dylan lalu memainkan hpnya
"Lagian gue gak mau anak gue cacat gegara bunuh orang" kata gue sewot
"Udah punya planning bikin anak lo?!" Tanya Bara
"Y-ya enggak, cuma kan suatu saat nanti gue bakalan punya anak dugong" kata gue yang bikin Bara nganguk-nganguk sedangkan Dylan masih setia main hp dengan gaya kul-kul taik ayamnya.
Gak lama setelah itu Darren dkk dateng trus ikut duduk di kursi pengunjung di situ.
"Mana kartu gue?" Tanya gue ke Rico
"Neh" kata Rico sambil ngasih kartu kredit gue.
"Lo mau banget biayain guh manusia, lo gak berniat CLBK kan?!" Tanya Rico
"Ya enggak lah. Sinting lo" kata gue ngegas
"Lagian lo Cath, tumben sok baik kek gini. Dulu aja anak orang lo injek-injek di paret ampe patah tulang trus koma" kata Darren
"Kan dulu. Sekarang gue mah tobat" kata gue.
"Gayaa. Bilang aja lo gagal move on" kata Rian
"Ngaco, au ah." Kata gue dan tak beberapa lama dokter pun keluar.
"Kalian siapanya?" Tanya dokter ke kita
"Bukan siapa-siapa. Gak kenal" kata gue dingin.
"Trus kok bisa kalian bawa dia kesini?" Tanya dokter.
"Nemu dijalan" kata gue.
"Owh seperti itu, terus kalian sudah hubungi keluarga nya?" Tanya dokter
"Belum" kata gue
"Terus kal-"
"Mending dokter kasih gau keadaannya daripada nanya mulu" kata Bara yang ada benernya.
"Maaf, ok keadaan pasien sejauh ini tidak terlalu parah hanya saja luka-lukanya harus diobati dengan teratur karna luka bakar tak jauh dari luka sayatannya serta memar diseluruh tubuhnya." Kata dokter.
"Kalo gitu saya mau dia dirawat disini sampe sembuh total" kata gue
"Baik. Kalau begitu saya permisi dulu" kata dokter lalu pergi.
"Masuk yok. Mo liat gue" kata Darren yang kita angguki. Kita ber-6 oun masuk ke ruangan Axel.
"Ihhh, kasian bet nih bocah. Ngeri gue liatnya" kata Darren
"Itu mah gak seberapa" kata Bara
"Untung kita gak jait ni bocah" kata Rian
"Andai Cathlyne gak ada, pasti ni bocah dah mati ditangan gue" kata Bara
"Yayaya. Mending lo pada diem deh" kata gue.
"Habis ini lo mo apain dia?" Tanya Rico
"Setelan gue pikir-pikir, kayaknya gue bakalan beliin dia tiket ke Jerman tempat keluarganya." Kata gue
"HAH?!" Tanya mereka kompak
"Anjing, mending lo bayarin gue ke Prancis aja tempat emak gue daripada lo bayarin nih bocah" kata Bara
"Ntau nih, wah lo gilak Cath" kata Dylan
"Baik lo kelewatan" kata Darren
"Lagian ini juga supaya gue gak liat mukanya lagi" kata gue
"Tapi harus banget ke luar negeri?" Tanya Rian
"Ya harus lah" kata gue
"Kenapa gak lo buang dia ke antartika aja" kata Darren
"Lo aja yang gue buang ke sana" kata gue
"Anjing, gue lagi gue lagi. Sadis lo ama temen sendiri" kata Darren.
Sudah satu jam kita nunggu dan duduk di sofa yang ada diruangan Axel sambil mabar PUBG tanpa Dylan. Sampe akhirnya........
"Eughhh"
"Bangun tuh so bocah" kata Dylan yang mendengar lenguhan si Axel
"Ka-kalian?" Tanya Axel yang baru sadar
"Kenapa? Takut?" Celetuk Bara
"Udah deh Bar, baru aja sadar dia" kata gue yabg langsung ngasih hp gue ke Dylan supaya dia mainin PUBG gue.
"Yayaya." Kata Bara. Gue pun langsung berdiri dan jalan kearah hospital bed Axel.
"Jan bilang lo mau nyayat gue lagi?!" Kata Axel dengan nada ciut.
"Kalo lo mau, gue bakalan kabulin itu" kata gue
"Lo psyco" kata Axel
"Serah, gue disini cuma mau ngasih tau lo kalo lo sembuh, lo harus packing barang-barang lo karna lo harus pergi" kata gue
"Pergi? Kemana?" Tanyanya
"Jerman" kata gue
"Hah? Jerman?"
"Iya, keknya sudah waktunya lo bahagiain nyokap lo sebelum lo jadi mayat disini" kata gue datar
"Kalo gue gak mau?" Tanya nya
"Gue pastiin lo beneran jadi mayat disini" kata gue
"Huft, okay gue mau" kata Axel
" Bagus, gue yang bakalan beliin tiket lo" kata gue
"Gue masih sanggup beli tiket" katanya
"Lo mending diam, anggap aja hadiah perpisahan kita. Tapi semua ini gak gratis, gue bakalan nagih biaya semua, mulai dari bensin, rumah sakit dan tiket pesawat. Dan jangan anggap gue peduli ama lo" kata gue.
Gue pun langsung ngambil hp gue dari Dylan trus jalan keluar.
"Mo kemana lo?" Tanya Dylan
"Mo balik, ini udah jam setengah 4. Kalo kalian masih mau nemenin Axel disini silakan" kata gue
"Ogah"
"Puging"
"Pain"
"Dih"
"Males"
"Yaudah, ayok balik" kata gue yang bikin mereka berdiri dna nyusul gue kedepan pintu.
"Gue tau lo masih peduli sama gue, Dan gue hargai itu. Gue gak bakalan muncul didepan lo kecuali lo yang mau" akta Axel
"Seharusnya dari dulu gue nyayat lo" kata gue trus keluar dari ruangan itu dan pulang kerumah dianter sama Bara karna mobil gue masih di Basecamp dan gue kerumah sakit pake mobil Rian.
Saat ini gue sudah ada dikamar, gue pun langsung aja mandi. Setelah itu gue memutuskan untuk tidur.