
"Tunggu, Al. Kau mau pergi ke mana?" panggil Arlan. Dia mempercepat langkahnya, bahkan setengah berlari untuk menyusul Aline diantara kerumunan orang-orang.
"Al ..., tunggu aku, Al ...." Teriakan Arlan rupanya tak dihiraukan oleh Aline. Dia harus segera menemukan sosok yang berhasil ditangkap oleh kornea jernihnya.
Mengabaikan teriakan demi teriakan Arlan, konsentrasinya hanya tertuju pada laki-laki bertubuh tegap yang mengenakan pakaian serba hitam, serta hodie yang menutup sebagian wajah laki-laki tersebut tak membuat Aline terkecoh.
"Gak mungkin salah, itu pasti dia," gumamnya pelan.
"Hei, tolong beri jalan!" Aline memaksakan diri diantara banyaknya turis di kota yang terkenal dengan menara Eifel-nya. Dia berpisah semakin jauh dari Arlan dan para pengawal. Mengabaikan keselamatan dirinya demi sosok yang teramat sangat dia rindukan.
"Kau, berhenti!" sentak Aline kemudian. Dia berhasil menangkap hodie laki-laki tersebut, tetapi raut wajahnya langsung berubah dalam sepersekian detik. Wanita berambut hitam panjang tersebut meminta maaf karena salah mengenali orang. Beruntung laki-laki tersebut tidak mempermasalahkan hal itu dan bergegas pergi.
Dadanya naik turun, seiring dengan napasnya yang mulai tersengal. Kecewa, karena harapannya tak terwujud. Tatapan matanya mulai nanar, punggung yang sama persis dengan milik seseorang yang sangat dirindukannya. Melviano, sang kakak yang telah pergi. Namun menyisakan berjuta kenangan yang tak mampu Aline hapuskan.
Pemilik bulu mata lentik itu terduduk lesu, mengabaikan tatapan orang-orang yang penuh selidik. Perlahan genangan itu menjadi bulir kristal yang tak mampu lagi Aline bendung. Punggungnya mulai bergetar, kedua lututnya ditekuk sebagai tumpuan untuk wajahnya.
Sentuhan lembut di bahu, membuat Aline menengadah. Tanpa berpikur panjang, Aline menghambur pada laki-laki itu. Bahkan kedua kaki laki-laki itu tak mampu menahan tubuh mereka berdua hingga terhuyung ke belakang. Siapa lagi kalau bukan Arlan?
"Al, untunglah kamu gak papa," bisik Arlan sembari menepuk lembut punggung wanita yang kini telah menjadi istrinya tersebut.
"Dia ada di sini," lirih Aline di tengah isaknya.
Kening Arlan berkerut dalam, siapa yang dimaksud oleh Aline? Bukankah hanya ada mereka dan pengawal tersembunyi yang diperintahkan oleh Arlan sendiri?
"Dia?" tanya Arlan ragu-ragu.
"Ya, tadi aku lihat dia ada di sini!" Aline melepas pelukannya, dia menunjuk arah laki-laki berhodie itu pergi.
"Gak mungkin, aku jelas-jelas lihat si Pengatur. Aku gak mungkin salah," sentak Aline. Butiran kristal kembali meleleh, dadanya semakin sesak.
"Bukankah kamu sudah memastikannya, hmm?" Arlan merapikan sulur rambut Aline yang berantakan. Sebagian menutupi wajahnya.
Aline terdiam, dia memang sudah memastikannya. Namun hatinya masih sangat berharap bahwa dia adalah orang yang selama ini ditunggunya.
"Huu ... huu ... hiks ...." Aline tak mengindahkan tatapan orang-orang yang berlalu lalang. Dia hanya ingin menangis saat ini.
Arlan dengan sabar menemani Aline, mengajaknya duduk di sebuah kursi panjang. Sesekali menyeka air mata yang tak pernah berhenti mengalir dari kedua kelopak mata Aline. Mata jernih itu mulai merah dan bengkak.
"Minumlah!" Arlan menyodorkan sebotol air mineral yang sempat dibelinya.
Aline dapat melihat dengan samar kesungguhan di wajah Arlan. Si Balok Es hari ini tidak menyebalkan, dia begitu baik padanya.
Arlan mengangguk, tangannya melirik botol air yang sudah dibukanya. "Ini tidak beracun, aku akan mencobanya."
"Tidak perlu!" Aline merebut botol tersebut dan menenggaknya hingga tersisa setengah bagian.
Sudut bibir Arlan tertarik sebagian, sangat samar sehingga tidak ada orang yang menyadarinya. Sebenarnya bukan hanya Aline, dia juga melihatnya. Namun, Arlan tidak ingin memperkeruh keadaan. Dia juga tidak ingin banyak berharap pada sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
Nah, kok habis, thor?
Sorry, lagi-lagi thor harus bikin kecewa. Rencananya lanjutan cerita ini akan ada di NEXT NOVEL.
Apa, sih? Penasaran, gak? Iyaps, ada di Sweet Enemy.