Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Kamu Hanya Orang Luar



Tamu undangan yang hadir saling berbisik, banyak yang memuji pasangan itu, tetapi tidak sedikit yang mencibir.


"Kau takut?" bisik Vano.


Ini pertama kali bagi Fay menajdi pusat perhatian, tentu saja dia merasa tidak nyaman dengan pandangan orang-orang itu terhadapnya. Namun, apalah artinya semua itu, yang dilakukannya hanya sebuah sandiwara.


"Tidak ada yang perlu ditakutkan selama ada kamu," sahut Fay dengan memalsukan senyum.


"Ya, kau benar. Memang pantas menjadi wanitaku." Vano menyeringai.


Apa, wanitanya? jangan lupa kita disini hanya untuk bersandiwara, Tuan.


"Selamat malam semuanya," sapa Vano pada seluruh keluarganya.


"Gue kira lo lupa." Aline memutar bola matanya, pantas saja Vano datang terlambat, ia pasti menunggu gadis yang berdiri di sampingnya. Sebagai seorang wanita, Aline dibuat terkesan dengan penampilan Fay. Dia tidak mengenali Fay, penampilannya jauh berbeda dengan wanita yang ditemuinya di kantor Vano hari itu.


"Saya sudah menepati janji, kau puas sekarang?" cibir Vano setelah mereka berhadapan dengan Aline.


"Biasa aja," ketus Aline.


"Siapa gadis cantik ini? Kau tidak berniat mengenalkannya pada kami?" ucap Arga.


"Ah, hampir lupa. Dia calon istriku," ungkap Vano melingkarkan tangan di bahu Fay. "Iya, kan, Sayang?" Fay menyipitkan mata, tapi kemudian mengangguk.


Hei, kau tahu aku tidak akan mengelak di hadaoan banyak orang. Untuk itu, sengaja memanfaatkan aku.


Pernyataan Vano membuat seluruh keluarganya terkesiap, bagaimana tidak? Vano yang selama ini tidak pernah dekat dengan siapa pun, sekarang membawa seorang wanita yang diakuinya sebagai calon istri. Semua wanita yang dijodohkan dengannya tidak ada yang berhasil memikatnya. Siapa sebenarnya wanita cantik ini?


"Kau yakin?" tanya Wulan dengan kening berkerut.


"Ya."


"Baiklah, siapa namanu, Cantik?" goda Arga.


"Saya Fadila, bisa dipanggil Fay."


"Papa, genit banget. Masih ada wanita paling cantik yang menunggu, loh." Ara sengaja mengompori Arga dan Wulan.


"Biarin aja, Ra. Sepertinya dia sudah rindu ingin tidur di luar," celetuk Wulan pura-pura kesal. Semakin hari tingkah Arga semakin menyebalkan, bahkan terang-terangan menggoda calon istri Vano di depannya.


"Ayolah. Aku hanya bercanda, Sayang." Seketika ketegangan terpecahkan dengan tingkah keluarga absurd mereka.


"Calon istri? Sejak kapan kau tertarik dengan seorang wanita?" ejek Ferdi.


"Bukan urusanmu!" seru Vano.


"Hei, tamu tak diundang, lebih baik diam!" imbuh Aline.


Ferdi terlihat cuek, tetapi sesekali ekor matanya memperhatikan wanita cantik yang dibawa Vano. Dia merasa tidak asing dengan wajah Fay, tetapi dimana ia menemukannya?


"Sudahlah, sekarang hari bahagia Aline. Bagaimana kalau kita mulai acarany?" ucap Arlan menengahi.


"Kau benar," sahut Vano.


Tanpa sadar tatapannya tertuju pada wanita paruh baya yang ada di sebelah Wulan. Begitu pula Adel, tatapan keduanya bertemu, mata sayu yang telah mengembun sejak kedatangan Vano. Hampir saja melupakan hal penting, sekarang hari ulang tahun Aline, tentu saja wanita itu akan datang. Vano hanya ingin memperkenalkan Fay, melupakan fakta bahwa ia juga akan bertemu wanita itu.


Tubuh Vano menegang, tatapan sayu penuh kerinduan dari seorang ibu pada anaknya. Tubuh wanita itu terlihat kurus, guratan halus di wajah semakin bertambah. Rasa sesak begitu menusuk relung hati pemuda itu. Lidahnya kelu, ia tidak dapat menyampaikan susunan kalimat yang ada di kepalanya.


El, Mami rindu. Biarkan Mami melihatmu sebentar saja untuk mengobati rasa rindu yang membuncah.


"Daddy...." Aline teriak kegirangan saat melihat siluet laki-laki yang berjalan ke arahnya. Kedatangan Adel sudah berhasil memporak-porandakan hati Vano. Ditambah Henry, membuatnya semakin kesulitan bernapas.


"Hei, Al. Sorry, Daddy harus menyelesaikan sesuatu."


"It's OK, Dad. Al pikir Daddy tersesat," kekehnya. Ia sengaja ingin memecahkan ketegangan yang terjadi.


"Sudahlah, yang lenting Daddy udah ada di sini."


Acara dimulai, Henry tahu bahwa istrinya sedang tidak baik-baik saja. Tangannya terus menggenggam jemari Adel tanpa ingin melepaskannya walau hanya untuk sesaat. Menyalurkan kehangatan untuk menguatkan hati Adel.


"I'm sorry, Mam," lirih Henry.


"Bukan salahmu, Dad." Adel memaksakan senyumnya.


Selama pesta berlangsung, baik Vano maupun Fay tidak banyak bicara. Fay memperhatikan perubahan di wajah Vano, ia tahu ada banyak rahasia yang Vano sembunyikan tentang keluarganya. Fay sendiri tidak mengerti dengan urusan kehidupan para sultan yang rumit. Mereka terlihat baik-baik saja, tetapi Fay yakin ada sesuatu yang tidak boleh diketahuinya.


Kebersamaan keluarga Vano mengingatkannya pada acara ulang tahun terakhirnya dengan sang ayah. Sungguh menyakitkan jika diingat kembali. Butiran kristal lolos begitu saja dari kedua sudut matanya, Fay memilih meninggalkan acara lebih awal. Kehadirannya tidak dibutuhkan lagi, bukan?


Vano menyusul Fay, tetapi langkahnya terhenti di sebuah taman kecil yang menyimpan banyak kenangan masa kecilnya. Bayangan dirinya yang masih kecil, bersama Daddy Henry dan Mami Adel ada di setiap sudut taman hijau.


Suasana hati Vano semakin buruk. Melupakan niatnya untuk menyusul Fay, Vano berdiri membelakangi ballroom, ditengah keramaian ini, Vano masih merasa kesepian dan hampa.


"El...," panggil wanita itu. Suara yang sangat dikenalnya, dirindunya, tetapi juga tidak ingin didengarnya. Vano terpaku di tempatnya, syaraf tubuhnya benar-benar menegang. Dadanya naik turun seirimg napasnya yang tidak beraturan.


Jangan kemari, kumohon jangan mendekat.


Vano mengumpulkan keberanian untuk membalikkan badan. Dia harus menghadapinya, kalau perlu akan dibuatnya wanita itu semakin membencinya.


"Sudah kubilang jangan pernah menyebut nama itu lagi!" sentak Vano pada Mami Adel.


Air mata Adel kembali menganak sungai, tetapi dia segera mengusapnya kasar dengan punggung tangan. Mengapa Vano masih juga membencinya?


"Tidak, bagiku kamu adalah El, dulu atau sekarang kamu masih tetap orang yang sama. El anak Mami," ucap Adel dengan suara serak karena terlalu banyak menangis.


"Sebaiknya Anda dengar baik-baik, El yang kau sebutkan itu sudah mati. Sudah tidak ada lagi, yang sekarang berdiri di hadapanmu adalah Vano. Jadi, aku ingatkan sekali lagi, namaku Melviano. Bukan El, seperti yang kau katakan."


"Huu... huu..., hiks.... Ini Mami, El. Tolong jangan membenciku," isak Adel dengan hati hancur. Dia mengira Vano sudah berubah, tetapi nyatanya malah semakin membencinya.


Sudah cukup Vano mendiamkannya, bahkan tidak lagi ingin dipanggil dengan nama kecilnya. Adel hanya mampu menumpahkan air matanya, suaranya tercekat ditenggorokkan mendengar makian yang dilontarkan pemuda tampan itu.


"Jadi begitu cara kamu memperlakukan seorang wanita? Apalagi dia itu ibu kamu!" maki Fay yang entah sejak kapan berada di sana.


"Diam, kamu hanya orang luar. Tidak perlu ikut campur!"


"Nyonya, Anda tidak perlu menangisi kepala batu seperti dia. Karena hatinya mungkin juga sudah membantu seperti isi kepalanya." Fay memapah Adel duduk di sebuah kursi panjang di taman.


Bersambung....