Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Jangan Berpura-pura



Melihat Vano, Fay berniat melampiaskan semua perasaan sedih dan kesal yang dirasakannya. Dia memukul Vano dengan sekuat tenaganya, tetapi orang itu masih saja diam dan tidak bergerak sama sekali. Fay semakin yakin bahwa apa yang dilihatnya bukanlah kenyataan.


"Kamu datang di saat yang tepat," ejek Fay. Dia kembali menghujani Vano dengan pukulan, bagaimana pun juga, Fay bisa sedikit ilmu bela diri. Semakin lama tinju Fay melemah, bersama butiran kristal yang kini membasahi wajahnya.


"Kenapa semua ini terjadi padaku? Kenapa? Dia meninggalkanku, membuat hidup kami berantakan. Sekarang Mama juga tidak berdaya, bagaimana aku harus menjalani hidupku? Bahkan kamu juga mengambil satu-satunya kemuliaanku, sekarang aku tidak berguna, aku hanya wanita lemah yang tidak memiliki apa-apa. Bahkan diriku hanyalah boneka tidak bernyawa sekarang. Huu ..., huu ...."


Vano membiarkan Fay meluapkan semua kekesalannya, mendengar teriakan wanita itu membuat relung hatinya seperti ditusuk ribuan pisau.


"Tidak perlu berpura-pura," bisik Vano.


Fay merengkuh tubuh tegap itu, mencari kenyamanan yang selama ini sangat dirindukan dadi sosok ayah. Vano tetap diam, membiarkan jas mahalnya dibanjiri luapan air kesedihan Fay. Ingin sekali Vano mengusap punggung rapuh yang bergetar hebat dalam dekapan. Namun ia segera mengurungkan niatnya.


Ck, dasar wanita, pura-pura tegar padahal sangat rapuh. Dan, apa ini? Kenapa pakai pakaian tipis begini, sengaja membiarkan orang lain melihatnya?


Hah, apa yang sudah kamu pikirkan? Dia pasti sengaja melakukannya? Yang ada pikirannya hanya uang, uang dan uang.


"Apa benar ini hanya mimpi?"


Kalau ini mimpi, mengapa dia bisa mendengar degup jantung yang terasa nyata? Tidak kalah cepat dengan jantungnya yang terus memompa.


"Aw, sakit." Fay mengusap pipinya yang terasa sakit karena ulah seseorang.


"Berarti kamu tidak sedang bermimpi, tidak juga berhalusinasi," cibir Vano kesal.


Kedua tangan Fay menangkup rahang kokoh Vano, dia menepuknya beberapa kali. Tidak hanya itu, Fay juga mencubit hidung pemuda itu hingga memerah. "Ini nyata?" gumamnya.


"Beraninya menyentuh wajahku." Ia mengibaskan tangan Fay dengan memijat pangkal hidungnya. "Untung saja tidak terlepas," gerutu Vano.


"Hei, Tuan. Kamu kira hidungmu tempelan bisa lepas? Lagian, siapa suruh datang ke sini?" lirih Fay. Dia mengerutkan bibir. Fay segera menjauhkan diri, mengusap kasar jejak air mata di wajahnya. Dia sangat malu karena semua yang dianggapnya mimpi ternyata kenyataan.


"Kau sudah mengotori pakaianku, membuatku menahan pukulanmu, bahkan wajahku menjadi korban kekerasan. Ganti rugi sekarang juga," ucap Vano melepaskan jas yang dipakai dan melemparkan ke pangkuan Fay. Wangi tubuh Vano masih melekat, mengingatkan Fay pada kejadian demi kejadian saat bersama CEO muda itu.


Sadarlah, Fay. Apa yang sudah kamu pikirkan?


"Ish, siapa juga yang memintamu datang," gerutu Fay tanpa memandang Vano. Dia sangat malu karena Vano melihatnya dalam keadaan kacau, tetapi sekarang perasaannya sudah lebih baik setelah melampiaskan emosinya.


"Siapa juga yang datang untukmu, saya hanya memastikan pekerjaan Adam, apa dia bisa bekerja dengan benar atau tidak seperti kepala rumah sakit sebelumnya. Tidak ada hubungannya denganmu," elak Vano. Kedua tangannya terlipat di atas perut, dua mencoba mengendalikan jantungnya agar memompa dengan normal dan tetap tenang.


Mungkin aku memang harus memeriksakan diri ke dokter, ada yang tidak beres dengan jantungku. Tiba-tiba saja bergetar tanpa sebab.


"Terserah." Fay menundukkan kepala, memainkan gadget dan hanya men-scroll ke atas dan bawah tanpa memperhatikan isinya. Dia hanya berharap Vano segera pergi dari sana. Berada dekat dengan Vano membuat napasnya terasa sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan itu semakin menipis.


"Kenapa lama banget, sih?" gerutu Fay tidak bisa berhenti bergerak. Duduk, berganti posisi, berdiri, dan berjalan mondar-mandir. Ketegangan yang sempat melebur kini kembali menghampiri.


"Hei, bisa tidak kamu duduk dan diam? Kau membuatku pusing," ketus Vano.


Fay hanya mengangkat alis dan bahunya bersamaan, tiga jam sudah berlalu seperti perkiraan yang Dokter Adam katakan, tetapi pintu ruangan masih saja tertutup.


"Hei, dengar tidak?"


"Tuan, kalau pusing ya tinggal pergi aja, gitu aja kok repot. Aku juga nggak minta ditemani." Fay memutar bola matanya, kehadiran Vano hanya membuatnya kesal.


"Kamu ngusir saya?"


"Ya."


Saat bersamaan, lampu indikator yang berwarna hijau itu padam. Suster Ningsih membukakan pintu untuk Dokter Adam dan timnya.


Dokter Adam menghirup udara dalam-dalam, melepaskan masker menutupi sebagian wajahnya. Sebelum berbicara, Dokter Adam yang menyadari kehadiran Vano saling bertukar lirikan mata.


"Dokter, cepat jawab! Bagaimana kondisi Mama?" desak Fay tidak sabaran.


"Mari bicara di ruangan saya," ujar Dokter Adam.


"Tidak, saya mau di sini saja." Dokter Adam meminta persetujuan Vano dan dijawab dengan anggukan.


"Masih di sini, kenapa tidak pergi?"


"Sudah kubilang, urusanku dengannya," tunjuk Vano dengan dagunya. Dia rela membuang waktu berharganya selama hampir dua jam untuk menunggu hasil operasi. Bahkan menunda jadwal untuk hari ini demi datang ke rumah sakit.


"Baiklah, operasi berjalan dengan lancar. Baik pendonor maupun pasien selamat, kami akan segera memindahkannya ke ruang pemantauan sebelum kembali ke ruang perawatan," jelas Dokter Adam.


"Terima kasih, Dok. Saya mau lihat keadaan Mama." Fay berusaha menerobos masuk, tidak sabar bertemu dengan ibunya.


"Mohon maaf, saat ini pasien masih dalam pengaruh obat dan belum sadarkan diri. Saya harap Anda bisa lebih bersabar untuk menunggunya."


"Baiklah," ucap Fay pelan. Akhirnya dia bisa bernapas lega, semoga saja setelah ini keadaan ibunya kembali pulih tanpa bergantung pada alat dan obat untuk menyambung hidupnya.


Tidak lama, Yuri dipindahkan ke ruang observasi untuk memantau keadaan pasca operasi, juga untuk mencegah segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Vano mengikuti Dokter Adam ke ruangannya, ada sesuatu hal yang ingin Vano tanyakan pada dokter muda itu.


Lama menunggu, Fay terpaksa meninggalkan sang ibu sebentar dan meninggalkannya bersama perawat yang menggantikannya. Menunggu di luar ruangan membuat tenggorokannya terasa kering, Fay ingin membeli minuman untuk melegakannya. Rasa cemas membuat Fay melupakan segalanya, termasuk dirinya yang ingin ke toilet.


"Suster, aku pergi sebentar. Tolong jaga Mama," ucapnya pada Suster Ningsih.


"Baik, Non."


Benar saja, Fay segera kembali setelah mendapatkan apa yang diinginkan, ia juga telah menyelesaikan hajat kecilnya.


"Iya, aku segera ke sana," ucap Fay saat mendengar kabar bahwa ibunya sudah membuka mata.


Bukkk!


Dua orang itu saling beradu karena tidak memperhatikan jalan, ponsel keduanya terlempar entah kemana. Begitu juga Fay yang hampir saja terjatuh, beruntung seseorang menahannya.


"Sorry, gue nggak lihat jalan," ujar seorang pemuda yang bertabrakan dengannya.


"Aku yang harus minta maaf," ucap Fay menjauhkan diri dari pemuda itu.


"Kamu ..., ups ...." Fay merapatkan bibirnya.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Pemuda itu mengerutkan keningnya, dia tak lain adalah Bryan, pembuat onar di klub yang pernah berhadapan dengannya.


"Ah, nggak. Kita baru bertemu hari ini, saya buru-buru, permisi." Fay memungut benda pipih miliknya dan bergegas pergi.


Hampir saja lupa, Bryan tidak akan mengenali dirinya dengan penampilannya sekarang. Yang Bryan tahu adalah dirinya dengan penampilan jelek.


"Ck, benar dugaanku, kamu wanita seperti itu, berpura-pura polos dan menyedihkan di depanku, tetapi masih menggoda laki-laki lain."


Vano melihat Fay sedang dipeluk pria lain, membuatnya terbakar amarah dan melampiaskan kepalan tangannya pada dinding yang tidak bersalah. Seandainya dinding itu bisa bicara, dia pasti akan berteriak dan memakinya. "Apa salahku?"


Bersambung ....