Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Sorry



"Tolong tunggu di luar." Dokter Alvin dan beberapa orang berpakaian sama berbondong-bondong masuk.


Hal itu membuat Adel dan Henry yang sedang menunggu di luar panik, terutama Adel. Wanita itu merengkuh menantunya dan membawanya keluar ruangan.


"Aku mau mendampingi suamiku, nggak mau keluar," rengek Fay saat Adel membawanya semakin menjauh.


"Dengarkan Mami, biarkan dokter bekerja. Kita tunggu di luar, oke."


Tidak hanya Fay, Adel sama hancurnya melihat Vano kembali kritis. Henry hanya terdiam, dia pernah berada di posisi sekarang. Di mana saat Metta melahirkan Vano. Kali ini dia harus kembali menyaksikan Vano bertarung melawan maut di dalam sana. Akankah hal itu terulang lagi?


Mengapa aku dihadapkan pada situasi macam ini? Metta, jangan bawa dia pergi! Aku mohon padamu, bujuk dia agar tetap tinggal.


Butiran keringat sebesar biji jangung memenuhi sebagian wajah Henry, tangannya sangat dingin. Dengan mata terpejam, Henry memijat pangkal hidungnya. Kepalanya sangat pening, rasa takut kehilangan yang sudah berhasil dia singkirkan harus kembali dialaminya.


"El, Daddy mohon berjuanglah! Jika kau tidak ingin melakukannya untuk kami, setidaknya demi calon bayi kalian yang belum sempat melihat bagaimana indahnya dunia ini," ucap Henry dalam hati.


Sementara Adel fokus menenangkan menantunya, dia tidak memperhatikan kondisi Henry yang memprihatinkan. Bagaimanapun juga, Henry menutup dengan rapat traumanya saat berada di depan Adel. Dia tidak ingin sang istri tahu kelemahannya, bahkan saat Adel melahirkan Aline.


"Mam, aku nggak mau sendirian, jangan biarkan dia pergi!" lirih Fay di tengah suara isak tangis yang begitu menyayat hati.


"Mami tahu Vano anak yang kuat, dia pasti tidak akan meninggalkan kamu, dan calon bayi kalian." Wanita itu mengusap punggung Fay yang terus bergetar. Saat ini hanya mereka yang ada di sana. Mama Yuri tinggal di rumah dengan alasan kesehatan.


"Huu ..., huu ...." Hanya air mata yang mewakili semua kesedihan dua wanita beda usia itu.


Di dalam ruangan, Dokter Alvin berusaha keras untuk menyelamatkan Vano. Dia terpaksa menggunakan pemacu jantung karena detak jantung pasien semakin melemah.


Memang sudah diprediksi sebelumnya, dampak dari operasi Vano, salah satunya akan membuatnya kejang tiba-tiba. Terlebih, Vano terlalu memaksakan diri sehingga membuat saraf yang baru pada otaknya mengalami masalah.


"Tambah tegangan lebih tinggi!" perintah Dokter Alvin. Sekali lagi alat itu ditempelkan, seperti orang terkejut, tubuh Vano tersentak.


"Dokter." Mereka saling melempar pandangan, kedua kaki terasa lemas, seolah tidak memiliki tenaga untuk menopang tubuh.


Dokter Alvin dan Dokter Adam menggeleng lemah, pasrah dengan keadaan. Perasaan sedih, lemah, dan bersalah karena tidak dspat menyelamatkan nyawa seseorang adalah pukulan terbesar bagi seorang dokter.


"Kita sudah berusaha," gumam Dokter Adam.


Dialah yang menjadi salah satu saksi mata Vano lahir kedunia ini, tidak mungkin dia juga yang harus menyaksikan kepergiannya.


"Dad, jangan seperti ini!" teriak Dokter Adam.


"Ini salahku, semua ini karena aku yang tidak berguna." Dokter Alvin menyalahkan dirinya sendiri, Suara tangisnya sampai terdengar di depan pintu. Henry yang setia menunggu di depan pintu ruangan, tubuhnya lemas seperti jeli. Terpuruk di lantai dengan kepala bersandar di pintu.


Usaha yang mereka lakukan sia-sia, layar monitor telah bergaris lurus dengan suara nyaring yang paling dibenci oleh para dokter. Mereka gagal menyelamatkan pewaris HS Group.


"Sorry," gumam Dokter Alvin.


Semuanya tertunduk lesu, kedua tangan Dokter Alvin terkepal erat hingga buku jarinya terlihat memutih. Bagaimana dia harus mengatakannya kepada pihak keluarga, terutama Henry. Tangis keluarga pecah saat Dokter Alvin menyatakan kondisi Vano.


"Nggak, dokter pasti bohong! Dia tidak mungkin meninggal!" sanggah Fay.


Dia masih tidak percaya Vano akan meninggalkannya. Bagaimana mungkin dia pergi secepat itu? Terlebih setelah kabar kehamilan Fay yang belum sempat diketahuinya.


Kepergian Vano tentu saja membuat pukulan yang teramat sangat bagi keluarganya, terutama Fay.


"Nggak mungkin, kalian pasti bohong!" murka Fay, sebelum akhirnya tubuhnya limbung dan pandangannya mulai mengabur. Dia hanya mendengar sekilas ibu mertuanya memanggil namanya dengan mengguncang pelan tubuhnya.


"Fay, bangunlah!" Adel menggoyangkan bahu Fay beberapa kali, tetapi tidak juga mendapatkan respons sehingga wanita itu harus mengulangnya beberapa kali.


"Tidakkk ....!"


Beberapa saat kemudian, Fay terbangun dan berusaha mengingat kebelakang. Hal apa yang membuatnya tak sadarkan diri? Air matanya kembali menderas, dipandanginya wajah ibu mertuanya yang terlihat sembab, sama sepertinya.


"Mam, aku ...."


"Ssttt ..., jangan banyak bicara," pinta Adel meletakkan jari telunjuknya di bibir. Dia memerintahkah Fay agar tidak banyak bertanya.


Bersambung ....