Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Tertukar



"Kalian di mana?" tanya Wulan dengan suara meninggi. Dia merasa cemas karena hari sudah mulai petang tetapi Arlan tidak kunjung membawa Aline pulang.


Entah sudah berapa kali Wulan menghubunginya, ke ponsel Aline pun sama. Namun baru sekarang di jawab, membuat Wulan dan keluarganya cemas. Mereka takut terjadi sesuatu pada keduanya.


"Ar, kalian di mana?" tanya Wulan sekali lagi.


"Di rumah sakit," lirih Arlan.


"Kenapa nggak jawab telepon Mama?"


"Maaf, Ma. Tadi lagi nyetir," elak Arlan. "Ar buru-buru soalnya Aline pingsan, jadi Ar bawa ke rumah sakit," jelas Arlan.


Wulan masih mengira mereka ke rumah sakit untuk menjenguk Fay, tidak memyangka mereka ke rumah sakit karena Aline tak sadarkan diri.


"Apa, rumah sakit mana, bagaimana keadaannya sekarang?" cecar Wulan.


Teriakan Wulan membuat sang suami menghampiri, dia tak kalah terkejut dengan apa yang didengarnya. "Berikan padaku, biar aku yang bicara." Arga meminta ponsel tersebut dan berbicara pada Arlan.


"Katakan, apa yang terjadi dengan Aline?" ucap Arga.


Arlan akhirnya menceritakan kejadian di makam setelah semua orang pergi. Dia juga tidak menyangka, Aline yang selama ini selalu berdebat dengan Vano dan selalu acuh ternyata sangat menyayangi kakaknya itu.


Ada sisi lain dari Aline yang belum Arlan ketahui, terlebih sejak kembali dari kuliahnya bersama kedua orang tuanya di London.


Panggilan berakhir, Arlan menatap gadis yang tengah terbaring lemah dengan jarum infus di tangan. Wajahnya masih pucat, membuatnya merasa iba. Pakaiannya sudah digantikan dengan baju pasien oleh perawat. Arlan merapikan selimut Aline. Begitu dalam rasa sayangnya untuk Vano, membuat Aline begitu kehilangan.


Ya, gadis yang selama ini selalu bersikap ketus dan berbuat onar sekarang terlihat tenang. "Kalau diam begini kamu lucu juga," bisik Arlan. Namun, sesaat kemudian ia menyadari ada yang salah dengan ucapannya.


*Apa yang kamu bilang, Ar? Dia itu cewek nyebelin yang selalu berbuat onar. Mana ada lucu, yang ada kepalamu mau pecah kalau dia berula*h.


Wajahnya kembali datar, dia baru tersadar akan kenyataan. Bagaimana dia akan menghadapi Aline selanjutnya? Bukankah seharusnya dia senang karena tidak ada lagi yang menyuruhnya menangani Aline? Mengapa hatinya terasa tercubit, Vano telah tiada, lalu bagaimana dengan seluruh tanggung jawabnya?


Arlan menyingkap horden, di balik jendela, rintik hujan masih membasahi bumi. Tatapannya menerawang jauh pada gemerlapnya cahaya di malam hari yang terlihat remang, terhalang air hujan. Kedua tangannya tersimpan di saku celananya, hawa dingin ruangan mulai menusuk. Terlebih sebagian pakaiannya masih basah.


Begitu singkat kebersamaan mereka, meski selalu menjadi korban kejahilan Vano, tetapi dialah yang sudah membimbingnya menjadi seperti sekarang ini.


"Kenapa kamu pergi begitu cepat? Tidakkah kau memikirkan perasaan kami? Kamu kejam, sungguh kejam!" gumam Arlan.


"Nggak, kamu nggak boleh lemah, Ar. Masih banyak hal yang menunggu untuk kamu selesaikan," batin Arlan.


Tanpa Arlan sadari, Aline melihat semuanya. Dia sudah terbangun sejak Arlan beranjak dan berjalan gontai menuju ke jendela kaca yang tertutup. Meski hanya melihat punggungnya, Aline tahu Arlan merasakan kehilangan yang sama dengannya.


Al, ngapain kamu mikirin orang itu. Dia cuma ngerecokin hidupmu dengan embel-embel tuan mudanya. Sekarang dia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk mengatur hidupmu.


Aline melakukan hal yang sama, dadanya naik turun seiring isak tangisnya. 'Nggak akan ada alasan untuk mengatur hidupmu.' Dia tidak rela, lebih baik Vano mengatur hidupnya, memarahinya, dan selalu memerintahkan Arlan sebagai CCTV berjalan untuknya. Tidak seperti sekarang ini, sebagian hidupnya terasa hampa.


Namun, Aline kembali terpejam, dia tidak ingin Arlan tahu bahwa dirinya sudah melihat sisi lain dari laki-laki menyebalkan itu.


"Al, aku pergi sebentar. Ara masih di jalan, dia yang akan menemanimu," pamit Arlan dengan suara berbisik, tetapi Aline masih bisa mendengarnya.


Benar saja, Ara memasuki ruangan menenteng paper bag berisi pakaian ganti, satu untuknya dan yang lainnya untuk Aline.


"Kak, ganti dulu bajumu, kalau sakit kita juga yang repot!" Ara memberikan paper bag berisi pakaian Arlan.


"Aku pergi dulu." Arlan menggunakan kamar mandi yang ada di ruangan itu.


Ara hanya menjawab dengan anggukan kecil, dengan senyum yang dipaksakan. Dia tidak menyangka semua ini akan terjadi pada hidup keluarganya.


Namun, sesaat kemudian Arlan berteriak, dia keluar hanya mengenakan celana boxer, menenteng paper bag yang diberikan Ara dan mengembalikannya. "Araaa ...."


"Sstt ..., jangan teriak-teriak! Ada apa, nanti Kak Aline bangun?" tegurnya.


"Ada apa, ada apa, kamu lihat sendiri!" sentak Arlan. Dia menukarkan bungkusan tersebut, tetapi Ara mencegahnya.


"Itu pakaian Kak Aline, jangan sembarangan pakai."


Arlan sangat kesal karena Ara salah memberikan paper bag padanya. Bukan hanya itu, dia juga menghalanginya menukarkan pakaian yang benar.


"Makanya lihat dulu isinya." Arlan menjentikkan jarinya di kening Ara, membuatnya gadis itu mencebik. Namun, wajahnya seketika berubah saat melihat isi di dalamnya.


"Hehe ..., sorry. Ara nggak sengaja," ujar Ara, memperlihatkan deretan giginya.


Arlan tak mengindahkan permintaan maaf sang adik, dia bergegas untuk mengganti pakaiannya.