
Plak!
Vano tidak menghindar saat tangan Henry mendarat di wajahnya, dia hanya diam dan menundukkan kepala, tidak ingin memandang wajah Adel yang menyedihkan.
"Sudah, Dad. Yang dia katakan benar, tidak seharusnya aku datang ke sini dan mengacaukan rencananya," ucap Adel dengan suara serak.
Wanita itu tidak membiarkan Henry kembali memukul putranya. Terlebih saat ini Yuri baru saja melewati masa kritisnya, tidak seharusnya mereka membuat keributan. Terlebih Fay juga ada di sana, dia lebih membutuhkan support dari orang-orang terdekatnya, terutama Vano.
"Dia sudah keterlaluan, Sayang. Kau tidak perlu membelanya, tidakkah kau ingat berapa kali dia menyakitimu?" sahut Henry kesal.
Suasana semakin tegang, tidak ada yang berani melerai perdebatan ayah dan anak tersebut.
"Tolong jangan membuat keributan, ini rumah sakit!" Fay tidak tahan lagi melihat keluarga suaminya itu. Dia tidak peduli siapa yang membuat ibunya kembali kritis, yang dia pedulikan adalah sang ibu. "Dok, biarkan aku masuk, aku harus menemani Mama," desak Fay.
Dokter Adam akhirnya mengizinkan Fay menemaninya di dalam bangsal perawatan.
"Kita perlu bicara." Henry menautkan jemarinya pada tangan sang istri yang terasa sangat dingin. "Tunggu apalagi?" ketusnya, saat tahu Vano masih mematung di tempatnya.
Vano terpaksa mengekori sepasang suami istri yang berjalan ke sebuah ruangan kosong. Dia juga tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut, apalagi terus menyakiti Mami Adel.
"Mam," rengek Vano, dia sudah tidak tahan lagi dengan semua penderitaan yang selalu menambah goresan luka untuk mereka.
"Hei, jaga sikapmu! Bagaimana kalau ada orang yang masuk?" ketus Henry. Dia mendekap sang itri lebih erat, tidak membiarkan Vano merebutnya.
"Ayolah! Kau ini sudah tidak pantas lagi cemburu dengan anak sendiri," ujar Adel mendorong sang suami.
"Sayang, dia bukan anak kecil lagi, dia juga punya istri untuk bermanja. Tidakkah dia malu masih merengek di ketiakmu? Apa yang akan orang katakan kalau tahu CEO HS Group ternyata anak mami? Mau ditaruh dimana muka aku ini?" cibir Henry dengan bibir berkerut.
Adel terkekeh, bukankah dia melakukan hal yang sama? Bayi besar satu ini memang tidak akan membiarkan dia dekat dengan anak-anaknya.
"Dad, aku saja tidak malu. Untuk apa kamu malu?" ketus Vano.
"Hei, aku malu punya keturunan sepertimu!" Henry memelintir telinga Vano, membuatnya mengaduh.
"Haha ..., kalian ini. Nggak bisa akur sebentar saja," tegur Adel.
"Si tua itu, Mam." Vano mengadu.
"El, kau mau istrimu tahu bagaimana tingkah konyol suaminya?" ancam Henry. Dia merekam adegan Vano dengan wajah memelas tanpa sepengetahuannya.
Vano mencebik, dia kecolongan. Mengapa laki-laki tua itu semakin hari semakin menyebalkan saja, pikirnya. "Bapak tua yang tidak ada akhlak, beraninya mengancam," ejek Vano.
"Haha ..., apa bedanya denganmu? Kau sudah setua ini tapi masih tidak bisa memberiku cucu." Henry tidak mau kalah, ada saja hal untuk diperdebatkan.
"Dad, ada hal yang lebih serius sekarang," ucap Adel memperingatkan sang suami.
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja, Mam."
Jangan menyerah semudah itu, kamu pasti bisa.
Vano tidak menyerah, tidak dipungkiri dia sangat merindukan Mami Adel dan bermanja seperti dulu. Namun apalah daya, di luar dia adalah CEO sebuah perusahaan besar. Bisa turun image-nya sebagai CEO dingin di mata anak buahnya nanti.
"Hei, dia milikku," Henry menepis Vano yang hendak menyentuh istrinya.
"Dasar pelit."
"Biarin."
"Kalian ini, apa nggak capek berdebat terus?"
"Nggak," sahut keduanya bersamaan.
"Memang anak dan ayah, kalian sama-sama kepala batu. Kalau begitu biar Mami yang pergi."
"Jangan!" mereka berdua kembali menyahut diikuti gelengan kepala.
"Aku nggak bisa terus diam, Dad. Kau tidak tahu hatiku sangat tersiksa dengan ini semua. Terlebih saat melihat Mami bersedih, di sini sakit, Dad." Vano memukul dadanya. "Sakitnya tuh di sini."
"Nggak usah nyanyi."
"Dad ...." Adel menatapnya nyalang.
"Kita tidak mempunyai pilihan lain, El."
"Pasti ada, Mam. Aku akan mencari banyak cara untuk membalasnya, tanpa harus mengorbankan perasaan Mami, perasaanku, juga perasaan keluarga kita. Mereka pasti akan senang melihat keluarga kita benar-bemar hancur," jelas Vano, rahangnya mengetat jika mengingat dia harus memperlakukan Adel dengan kejam.
"Kau jangan gegabah, pasti akan ada cahaya setelah gulita," bujuk Henry.
"Lalu, apakah kau mengenal orang itu?" Henry menggeleng, dia sama sekali tidak mengenal suster yang mengantarkan makanan untuk Yuri. Wajahnya disembunyikan dengan baik, dia juga sepertinya sudah sangat hafal dengan ruangan di sana. Terbukti dirinya mampu menghindari wajahnya dari sorotan CCTV.
"Bagaimana dengan penanggung jawab dapur rumah sakit? Atau koki rumah sakit misalnya?"
"Dia orang baru, sepertinya ada yang sengaja dimanfaatkan untuk menjebak Mami kamu," celetuk Henry.
Mereka sudah melakukan sandiwara ini begitu lama, jangan sampai hanya karena Vano menyerah semuanya jadi berantakan. Terlebih, orang itu masih memegang kartu as mereka.
"Apa aku harus diam saja melihat dia tertawa riang? Apa aku harus diam saja melihat orang lain menginjak-injak harga diri keluarga kita?" Vano meluapkan amarahnya, sudah cukup dia berkorban selama ini. Sekarang sudah saatnya pembalasan.
"Benar kata Daddy, El. Biarkan dia merasa senang sebentar, tetapi setelah itu dia akan mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan," terang Adel.
"Sampai kapan, Mam? Sampai wajah tampanku ini berubah bentuk karena ulah laki-laki tua ini? Dia suka banget mukul orang." Vano memutar bola matanya jengah dengan sikap Henry yang selalu melampiaskan amarahnya dengan pukulan.
"Sampai mereka merasa puas dan menunjukkan kelemahan," jawab Henry.
"Kau juga puas, bukan? Nggak perlu pakai kekerasan bisa nggak, sih?" protes Vano.
"Itu namanya totalitas, biar nggak setengah-setengah sandiwaranya." Henry menyeringai, kapan lagi bisa mengerjai putra sulungnya itu? Haha ....
"Sudahlah, yang terpenting kita harus membuat mereka percaya kalau tujuan mereka berhasil. Setelah itu kita bisa dengan mudah membalikkan keadaan."
"Aku sudah tidak sabar untuk menanti hari itu tiba, Dad."
"Kau harus ingat, jangan sampai istrimu menjadi kelemahanmu. Kalau perlu Daddy akan bawa dia ke England, sama Mami dan Oma."
Oma? Jadi Oma masih hidup? Aku harus segera menemuinya.
"Tunggu, maksudmu Oma masih hidup?" Henry menonyor kepala putranya. "Dasar cucu durhaka, kau menyumpahi Oma tiada, hah?"
"Aduh, Dad. Jangan main kepala lagi, bagaimana kalau aku bodoh?"
"Itu tidak akan terjadi, cuma bergeser sedikit letaknya."
"Mereka berdua mulai lagi," gumam Adel.
Adel sangat kesal jika mereka berdua bertemu lasti tidak akan membiarkannya tenang. Dia berniat untuk menemani menantunya daripada terus mendengar perdebatan mereka berdua.
Adel senang Vano begitu memikirkan perasaannya. Begitu juga dirinya, sangat ingin keluarganya berkumpul kembali dan akur seperti dulu dalam kedamaian tanpa ada yang mengusik kebersamaan mereka.
"Kapan kalian akan kembali?" tanya Vano.
"Secepatnya, tetapi Daddy harus memastikan kalau istri kamu dan keluarganya aman. Kau harus hat-hati dengan ayah dari wanita yang kau nikahi," ucap Henry mengingatkan.
"Aku tidak sebodoh itu, Dad. Aku pasti akan segera menemukan bukti untuk menjatuhkan mereka."
Henry menepuk bahu Vano beberapa kali, dia sangat bangga, dibalik sikap manjanya pada sang istri--Mami Adel, dia sudah banyak berubah dan benar-benar siap menggantikannya.
Bersambung ....