Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Pembelaan



"Dasar perempuan tidak tahu malu, masih berani kamu menampakkan diri?" ejek Ana yang entah dari mana datangnya, di susul Farah. Sepertinya mereka sudah membuntuti Fay sejak lama, dan merencanakan hal ini dengan matang.


"Iya, anak haram! Bikin malu aja," imbuh Farah.


"Aku nggak ngerti dengan apa yang kalian bicarakan," elak Fay. Dia sama sekali belum tahu mengenai pemberitaan yang menyangkut dirinya.


"Jangan sok polos, dasar munafik!" ejek Farah.


"Ada apa ini, Al?" tanya Fay pada Aline yang berdiri di sebelahnya.


"Biar aku kasih tahu kamu, kalian semua yang ada di sini, dengarkan baik-baik." Farah sudah bersiap, layaknya lomba pidato, dia sudah mempersiapkan naskah yang akan diucapkan di hadapan publik.


Di depan salon, para pengunjung mall mulai berkerumun, merasa penasaran, hal apa yang membuat mereka berkerumun? Mungkinkah ada diskon, atau perawatan gratis mungkin?


"Dia ini, anak haram yang sudah mencoreng nama baik keluarga. Berkeliaran di luar sana, menggoda banyak pria, menjadi pelampiasan nafsu laki-laki kesepian. Masih hamil di luar nikah dan menggoda laki-laki kaya untuk dikuras hartanya. Kalian harus hati-hati sama perempuan ini. Bisa saja suami atau keluarga kalian yang akan menjadi korban selanjutnya."


Farah berdiri di sebuah kursi deret, dia memproklamirkan Fay dengan segala tuduhan menyakitkan.


"Benar, kami sungguh kecewa denganmu," sambung Ana.


"Nggak, semua itu bohong," elak Fay.


"Mana ada maling yang mau ngaku, kami ini saksinya. Sudah ada bukti, kamu masih mau mengelak?"


Mereka mulai geram, berdesakan untuk melampiaskan amarah, memaki Fay dengan kata-kata kasar. Bahkan ada yang melemparkan makanan dan barang-barang.


"Hei, kalian berani melakukan ini? Tidak takut suaminya akan murka?" bela Aline. Dia yang sedari diam tidak boleh membiarkan Fay di serang.


"Jangan dengarkan dia, wanita macam dia tidak seharusnya muncul di sini." Ana kembali meneriaki massa. Mereka yang kebanyakan kaum hawa tentu saja sangat marah mengetahui hal itu.


Tidak ada jalan lain, Aline menyeret Fay masuk ke dalam salon, bersembunyi di ruangan khusus karyawan. Kebetulan dia mengenal manager salon tersebut.


"Jangan takut, aku bayar berapa pun. Cepat tutup pintunya," perintah Fay setengah mengancam.


"Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah, Al. Aku nggak takut, karena aku nggak salah."


Astaga, dia benar-benar wanita menyebalkan. Dia tidak takut, tapi Aline yang takut, jika sampai terjadi apa-apa pada Fay, maka dirinya akan menjadi orang pertama yang akan disalahkan.


"Kamu nggak lihat berapa banyak mereka? Kamu bisa aja nggak takut, tapi aku juga nggak mau ikut kena sasaran kemarahan mereka." Aline memutar bola matanya, dia harus segera mencari jalan keluar. Tidak mungkin mereka kan bersembunyi terus, dia harus membawa Fay pergi secepatnya.


"Al, ayo berpikir." Gadis itu terlihat mengetuk-ngetukkan jari di meja. Tidak ada jalan lain, dia harus meminta Vano datang, terserah mau dimarahi seperti apa. Yang terpenting mereka harys keluar hidup-hidup dari tempat ini.


"Tumben si bocah nakal ini menghubungiku duluan." Arlan mencebik saat nama Aline tertera di layar. "Pasti dia sedang membuat onar," lanjutnya.


Arlanmemilih mengabaikan panggilan tersebut, layar kembali padam. Namun nama tersebut kembali muncul di layar diiringi suara bergetar.


Di seberang sana, Aline sangat marah karena Arlan mengabaikannya. "Ish, awas saja. Aku akan mengadukanku pada kakakku," ujar Aline kesal.


Nomor Vano tidak dapat dihubungi, sedangkan Arlan berulang kali menjawab panggilan darinya. Tidak mungkin dia menelepon melalui telepon kantor. Hal ini menyangkut nama baik Fay--kakak iparnya.


"Buruan angkat, Ugent! Ini menyangkut hidup dan mati istri bosmu." Aline mengirim pesan teks supaya Arlan mau menjawab telepon darinya.


Arlan menautkan kedua alisnya, dia tidak tahu Aline sedang bersama Fay. Sejak kapan mereka akur? Namun itu bukanlah masalah penting, dia harus memastikan sendiri bahwa Fay ada bersama gadis pembuat onar itu.


"Kamu ini kemana aja, hah? Cepat bilang bosmu, kita ada di Mall XXX, lantai tiga."


"Terus?"


"Heh, kamu ini benar-benar, ya. Kamu nggak takut dipecat kalau sampai terjadi sesuatu pada kami, tidak maksudku pada istri bosmu?" sentak Aline. Wajahnya memerah menahan amarah. Memang tidak seharusnya dia meminta bantuan apada laki-laki menyebalkan itu.


"Nggak," sahut Arlan santai.


"Berikan padaku," ujar Fay, merebut ponsel milik Aline.


"Ini aku, cepat bilang bos kamu buat jemput kami," ujar Fay tanpa basa-basi. Dia terpaksa menceritakan kejadian yang mereka alami di mall. Sebenarnya Fay bukanlah orang yang suka mengadu, tetapi saat ini keadaannya lain. Dia tidak akan bisa menghadapi banyaknya orang yang ingin melampiaskan amarah padanya akibat pemberitaan itu. Terlebih Ana dan Farah sudah memprovokasi mereka, menambah bensin pada kobaran api.


Arlan tidak menunda waktu, dia segera menuju ruangan orang nomor satu di HS Group dengan langkah panjang. Membuka pintu kasar, mengabaikan etika dan sopan santun.


Tap ..., tap ..., tap ....


Derap langkah Arlan semakin mendekat, membuat seorang yang sedang sibuk memeriksa dokumen melayangkan tatapan menusuk. Dia melemparkan bolpoint edisi khusus miliknya. Dengan sigap Arlan menangkap dan menyimpannya.


"Arlaannnn ...."


Pemuda itu mengangkat sebelah tangannya, mengabaikan wajah Vano yang siap meledak. Mengapa hari ini begitu menyebalkan? Semua orang menguji kesabarannya, termasuk pekerjaan yang tiada habisnya.


"Marah-marahnya tolong ditunda dulu, ada hal yang lebih penting."


"Ck, memangnya ada hal apa yang lebih penting?"


"Gawat! Kamu harus lihat headline news," ucap Arlan seraya memberikan ipad di tangannya.


"Paling cuma berita nggak jelas."


"Lihat dulu." Arlan mendekatkan ipad ke wajah Vano.


Laki-laki itu mengulang kalimat yang tertera di sana, mencerna kata demi kata yang ada di berita tersebut. "Sebaiknya aku ulangi, pasti aku yang salah baca," gumam Vano meyakinkan diri.


Mengapa ada berita seperti itu muncul di media? Siapa gerangan yajg sedang menantang kesabaran seorang Melviano?


Di sana tertulis, "HUBUNGAN TERSEMBUNYI PRESDIR HS GROUP DENGAN WANITA YANG TIDAK DIKETAHUI ASAL-USULNYA."


Tidak berhenti di sana, ada juga pemberitaan yang mengatakan bahwa CEO HS Group menghamili seorang wanita di luar nikah. Artikel tersebut tentu saja membuat Vano meradang. Terlebih foto-fotonya bersama Fay di pertemuan pertama mereka, saat Fay masuk rumah sakit dan surat kehamilan palsu serta kejadian penculikan Fay tersebar luas.


"Di mana dia sekarang?"


"Mall XXX," sahut Arlan.


"Ke sana sekarang!"


Semua ini sudah direncanakan, pantas saja dia merasa ada yang janggal dengan penculikan Fay waktu itu. Ternyata inilah tujuan mereka yang sebenarnya. Mencemarkan nama baik Fay dan dirinya, yang akan berimbas pada banyak hal yang saling bersangkutan.


Maaf, yang minta cazy up belum bisa terpenuhi. Saat ini masih mengutamakan kegiatan di real life. Terima kasih yang sudah bersedia mengikuti sampai di bab ini. Terus dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan semoga berkenan kasih hadiah. Ditunggu, loh.


Bersambung ....