
Ana menerobos masuk, dia membawa sesuatu di tangannya. Sesuatu yang ingin dia tunjukkan kepada Yuri. Tak hanya Yuri, Riko juga dibuat terkejut oleh kedatangannya.
"Hei, wanita ******, perempuan tidak tahu malu. Masih berani kamu menggoda suamiku?" maki Ana. Dia sangat kesal saat tahu Riko diam-diam menemui Yuri.
Perasaan Yuri sangat marah, bukankah dia yang seharusnya mengatakan hal itu? Wanita yang sudah merebut semua perhatian suaminya bahkan tidak membiarkan Riko mengetahui keberadaannya.
"Kau sedang membicarakan dirimu sendiri?" sahut Yuri dengan penuh keberanian. Kali ini, dia tidak akan membiarkan Ana menindasnya lagi. Sudah cukup selama ini diam dan membiarkan Ana berbuat sesuka hati.
"Jaga mulut kamu! Dasar wanita penggoda!" Ana mulai terpancing emosi.
"Cukup, Ana. Aku nggak mau lagi mendengar kamu berkata hal buruk tentang Yuri. Jangan kira diamku selama ini membenarkan semua tindakanmu itu. Aku sudah tahu semuanya," sentak Riko. Dia menyeret lengan Ana untuk menjauhi ranjang pasien.
"Kalian tidak perlu berpura-pura di depanku, pergi dari hadapanku sekarang juga. Aku muak melihat wajah kalian berdua," usir Yuri pada sepasang anak manusia yang sudah mengganggu waktu istirahatnya.
Hal yang lebih mengejutkan saat seorang pemuda tampan berdiri di belakang Ana.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Vano.
"Nak, kamu datang?" gumam Yuri pelan.
"Tuan," lirih Ana. Dia menoleh ke belakang, wajahnya langsung pucat pasi saat mengetahui kedatangan Vano.
"Kenapa dia bisa datang ke sini?" batin Riko.
Vano tidak bisa tinggal diam saat mengetahui keributan di kamar ibu mertuanya. Tidak seharusnya staff keamanan membiarkan dua pembuat onar itu datang.
"Ma, apa mereka menyakitimu?" Vano berjalan mendekat, dilihatnya map yang berusaha Ana sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Tidak, hanya saja kedatangan mereka tidak tepat," cibir Yuri. Dia membicarakan dua orang itu, ekor matanya tak henti menatap mereka.
"Hmm ..., jika hal itu sampai terjadi, jangan sungkan untuk mengatakanannya," tegas Vano.
Sebenarnya Yuri merasa malu, tetapi apa yang bisa dia lakukan sekarang? Wanita itu juga tidak bisa terus berdiam diri tanpa melakukan apa-apa.
"Tidak, kau bisa bertanya sendiri padanya." Ana beralasan.
Kedatangan Vano untuk menggagalkan rencana Ana yang hendak menyakiti Yuri. Dia tidak tahu apa yang akan terkadi jika dirinya terlambat sedikit saja, maka semuanya akan berantakan. Beruntung hal itu masih sempat dicegahnya.
"Baguslah kalau kau ada di sini," cibir Ana. Dia tidak gencar, demi tujuannya yang belum tercapai. "Kebetulan ada hal penting yang ingin aku katakan tentang putrimu! Kamu harus lihat sendiri, seperti apa anak haram yang selama ini kamu banggakan. Kamu juga, Mas! Kamu harus tahu kalau dia sama saja seperti ibunya." Ana melemparkan map yang di bawanya tepat di hadapan Yuri.
"Apa yang kau lakukan? Dimana sopan santunmu?" ucap Vano dengan suara meninggi.
"Aku tidak perlu izin dari siapa pun untuk melakukan hal yang benar. Apa kamu takut, jika kebenarannya akan segera terungkap?"
Vano membulatkan matanya lebar-lebar. Apa yang sebenarnya Ana inginkan? Dia terpaksa mengikuti semua permainan wanita licik itu.
"Pengawal, bawa mereka pergi! Saya tidak mau kedatangan mereka mempengaruhi kesehatan ibu mertua saya!" Vano meminta para pengawal yang berjaga untuk membawa Ana pergi. Namun dia juga tidak bisa mencegah Ana membocorkan informasi penting itu.
"Tidak perlu, saya sendiri yang akan membawanya pergi, Nak."
Panggilan ini membuatku mual, sejak kapan kita sedekat itu?
Dia membawa tes laporan kehamilan Fay, juga beberapa foto tentangnya bersama laki-laki asing di sebuah bar.
Yuri perlahan membuka map tersebut, dia mengintip perlahan apa yang ada di dalamnya. Tidak dipungkiri, degub jantungnya berpacu semakin cepat padahal dia belum sempat mengetahui isi di dalamnya.
Sudahlah. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi, kamu harus percaya pada putrimu. Bukan wanita jahat itu.
Vano menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin berita di dalamnya akan membuat Yuri syock dan mempengaruhi kesehatannya. Sedangkan ia sudah berusaha menutupi semua kejadian yang menimpa Fay. Vano merahasiakan semua itu bukan tanpa alasan, hanya tidak ingin Yuri semakin terbebani dengan berita yang belum jelas kebenarannya.
"Kenapa? Kamu takut semuanya akan segera terbongkar?" cibir Ana.
"Saya tidak takut, karena memang tidak ada yang perlu ditakutkan," tantang Vano.
Yuri semakin yakin ada yang tidak beres, dia memberanikan diri membukanya. Dan apa yang ditakutkan benar-benar terjadi. Di dalamnya terdapat semua rincian biaya operasi dan perawatannya selama di rumah sakit. Jumlahnya sungguh membuat orang terpana.
"Tidak, ini tidak mungkin." Yuri kembali menutup map tersebut setelah mengetahui nominal akhirnya.
"Sekarang kau percaya, bukan?" ucap Ana bangga. Dia berpikir sudah berhasil membuat Yuri tahu tentang kehamilan Fay.
"Nak, maafkan Mama sudah membuatmu mengeluarkan uang sebanyak ini," ucap Yuri sendu.
Haha .... Ana bersorak kegirangan. Dia bisa mengibarkan kemarahan Yuri, tapi tunggu dulu, uang? Uang apa yang Yuri maksud.
Riko juga ingin tahu, hal penting apa yang Ana katakan. Dia merebut map tersebut dari tangan Yuri dan membacanya dengan teliti tanpa ada yang terlewat satu pun. Dia sama terkejutnya dengan Yuri.
Pantas saja mereka membencinya, Bagaimana bisa dia membiarkan Yuri berjuang seorang diri di luar sana? Dimanakah dirinya yang mengaku sebagai suami dan ayah? Dia sama sekali tidak ada di saat mereka membutuhkannya. Wajar saja bila Yuri sangat marah dan membencinya. Sekarang di tahu alasan mengapa mereka tidak menginginkannya.
"Maaf, Yuri. Aku memang tidak pantas menyebut diriku sebagai seorang suami, apalagi ayah." Riko menundukkan wajahnya, merasa malu pada dirinya sendiri.
"Jangan perlihatkan wajah seperti itu lagi. Aku tetap tidak akan kembali, meski kau berlutut sekali pun." Yuri memutar bola matanya, siapa yang bersikeras memintanya kembali? Sekarang dia menggunakan wajah bersalahnya itu untuk membuatnya iba? Tidak, Yuri tidak akan luluh.
Ana semakin terkejut, mengapa Riko tidak memarahi Yuri? Dia malah bertindak tidak sesuai harapannya. Netranya memindai huruf dan angka yang tercetak di sana tanpa ada yang terlewat.
"Ini, catatan apa ini?" Ana tidak kalah terkejut dengan Riko dan Yuri. "Ini tidak benar, pasti ada yang sengaja menukarnya," teriaknya histeris.
"Pintu keluar ada di sana, Tuan dan Nyonya. Atau perlu pengawal mengantar kalian?" ejek Vano dengan sudut bibir tertarik ke atas.
Kemenangan mutlak mililnya, siapa yang berani melawannya akan berakhir menyedihkan. Seperti mereka berdua contohnya. Dokter yang memeriksa Fay merasa bersalah dan mengatakan semua kebenaran tentang kehamilan itu. Namun Vano juga meminta dokter itu untuk menjalankan sesuai keinginan Ana.
"Ini baru permulaan, perlahan aku akan membuat kalian merasakan penderitaan akibat perbuatan kalian sendiri," ucap Vano dalam hati.
"Nak, tidak seharusnya kau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk wanita tua renta ini," ujar Yuri setelah Riko dan Ana pergi.
"Itu bukan masalah besar, sudah seharusnya saya melakukannya. Ini hadiah dari kebaikan Fay, juga berkat doa ibu untuk putrinya," jawab Vano dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Sekali lagi Mama berterima kasih." Yuri menatap Vano nanar.
"Berterima kasihlah pada putrimu, dia sudah berbuat banyak untuk hal ini."
Bersambung ....