
Mungkin cinta memang terlihat bodoh dan konyol, dengan mudah meluluhkan hatiku yang telah lama membeku, tetapi bagi orang yang telah lama menyendiri sepertiku, cinta bagaikan oase di gurun pasir. MELVIANO ANSELL SYAHREZA.
Bukan waktu yang cepat, juga bukan waktu yang lama bagi Vano dan Fay menegaskan pilihan untuk saling mengikat satu sama lain. Sikap dan tindakan Vano sudah membuktikan bahwa laki-laki itu tulus menerima seorang Fadila Atysa Yuuna menjadi pendamping hidupnya.
Tiga bulan sudah berlalu, kini hubungan keduanya semakin hangat, sehangat kuah baso. Eh, apaan, sih thor ini. (Tepuk Jidat)
Di tengah kesibukannya menjadi mahasiswa yang mendekati semester akhir, Fay masih menyempatkan diri untuk menyiapkan keperluan Vano. Hanya saja, akhir-akhir ini dia jarang memasak untuk sarapan.
"Hari ini pulang malam lagi?" tanya Fay setelah menyelesaikan sarapan paginya.
"Iya, Sayang. Kamu kan tahu sendiri seberapa banyak pekerjaanku." Vano mendesahkan napasnya, jika boleh memilih, Vano pasti ingin selalu menempel pada sang istri.
"Ish, sibuk mulu." Fay berdecak, sebal karena Vano jarang ada waktu untuk menemaninya. Akhir-akhir ini Fay selalu ingin bermanja dengan sang suami.
"Hei, lusa Arlan sudah mengosongkan jadwalku, kau mau ke mana? Akan ku turuti keinginan putri bawelku ini," bujuk Vano. Dia mencolek hidung sang istri, membuatnya kembali berdecak.
"Apaan, minggu kemarin juga bilang begitu, nyatanya cuma omong kosong belaka." Fay mendengus, sudah dua kali Vano mengagakan hal itu, tetapi sampai hari H, Vano selalu memiliki alasan untuk pergi.
"Hei, kau ini kenapa? Nggak biasanya ngambek nggak jelas." Vano terkekeh menghadapi sikap sang istri yang kekanakan, tetapi hal itulah yang membuatnya semakin rindu. Rasa lelahnya seketika menghilang saat mendengar celoteh Fay. Namun, akhir-akhir ini sikap Fay mudah sekali berubah. Sebentar marah, sedih, ceria dan manja.
"Fay, nggak boleh gitu, dong! Nak Vano bekerja untuk kamu juga," tegur Mama Yuri.
Mama Yuri sudah tinggal bersama mereka, Vano tidak merasa keberatan, dengan kehadiran ibu mertuanya, Vano tidak akan takut Fay merasa kesepian saat dirinya pergi keluar kota untuk mengurus bisnisnya. Namun, untuk urusan luaf negeri, dia masih belum bisa melakukannya, terpaksa Daddy Henry yang turun tangan jika memang mengharuskannya terjun ke lapangan.
Henry tahu betul alasan Vano, bagaimanapun juga dia pernah berada di posisi Vano. Bahkan, sangking sibuknya, mereka belum sempat bulan madu. Henry sudah berulang kali menyarankan putra dan menantunya, tetapi pekerjaan Vano seakan tidak ada habisnya, terlebih proyek pembangunan di lahan yang dimenangkan saat pelelangan sudah dimulai, membuat jadwal Vano lebih padat.
Dia tidak ingin menyerahkan kepada orang lain, karena tempat itu nantinya akan menjadi tempat paling spesial yang pernah dibangunnya.
"Tapi, Ma. Fay .... Ah, sudahlah!" Fay beranjak dari tempat duduknya, meraih tas dan paper bag berisi buku-buku yang sudah ditata sebelumnya. "Fay berangkat dulu, Ma. Bye."
Wanita itu mencium punggung tangannya untuk sang ibu. Mengabaikan Vano yang sudah mengulurkan tangan untuk berpamitan. Namun Fay segera pergi tanpa menunggu Vano.
"Ish, ngambek lagi." Vano menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Sabar, Nak. Mungki dia lagi banyak beban di kampusnya," ujar Mama Yuri menenangkan menantunya.
"Iya, Ma. Vano berangkat juga." Laki-laki itu melakukan hal yang sama dengan sang istri, mencium punggung tangan ibu mertuanya.
"Ada apa dengannya? Mengapa sikapnya semakin hari semakin menyebalkan?" batin Vano. Dia menyusul sang istri yang sudah menunggunya di mobil.
"Kenapa duduk di belakang?"
"Pengin," sahut Fay singkat.
Vano memijat pangkal hidungnya, dia tidak ingin memulai keributan di pagi ini, karena akan mempengaruhi mood-nya sepanjang hari. Vano mengalah, dia memutuskan tidak menyetir dan meminta sopir untuk mengantar mereka.
Jatum jam terus berputar, Arlan sudah menunggunya, sebaiknya dia mengalah dan bergegas jika tidak ingin terlambat. Mengalah dan bersabar dengan perubahan sikap Fay yang menyebalkan dan kekanakan. Lebih baik dia mendebatnya dengan hal-hal kecil yang tidak penting dari pada didiamkan seperti ini.
Itulah salah satu alasan Vano lebih memilih mengantar sang istri sendiri, karena tidak ingin orang lain melihat kebucinannya kepada sang istri. Namun saat ini keadaannya lain, dia tidak mengindahkan perubahan wajah terkejut sang sopir dan memilih membujuk sang istri.
Fay terus bergeser, sampai tubuhnya tidak bisa lagi bergerak karena terhimpit oleh Vano yang mengikutinya bergeser. Sementara dirinya sudah menempel di pintu mobil.
"Geser, sempit tau!" ketus Fay dengan tatapan menusuk.
"Jangan ngambek lagi, dong! Senyum dikit, biar tambah cantik," rengek Vano. Kedua jari telunjuknya berada di sudut bibir, menariknya supaya terlihat tersenyum.
"Jadi, selama ini aku nggak cantik? Kenapa nggak cari aja wanita yang lebih cantik dariku? Di luar sana banyak yang lebih cantik," tuduhnya.
Vano mendesahkan napasnya. Apa yang dia makan tadi pagi? Mengapa sikapnya harus semenyebalkan ini? Bukankah makanan yang mereka makan sama? Atau ada ramuan khusus yang membuatnya berubah?
"Bukan, kau wanita paling cantik."
"Bohong!" sentak Fay dengan mata mengembun. Sikap Fay semakin membuat Vano kelabakan.
"Nggak, Sayang. Kamu satu-satunya, nggak ada yang ...."
"Cukup, aku nggak mau dengar apa pun!" seru Fay, menutup kedua telinganya.
Sabar Vano, Sabar. Ini ujian, bukan pengumuman.
Keheningan tercipta di sepanjang jalan menuju ke kampus, beruntung masih satu arah dengan kantor Vano. Dia bisa mengantar sang istri ke kampus sekalian berngkat kerja.
Semenjak hubungan mereka dipublikasikan, Vano diam-diam menyuruh pengawal untuk mengawasi Fay. Dia ingin memastikan keselamatan Fay. Tidak hanya itu, sebuah chip GPS tertanam di cincin pernikahannya dengan Fay. Dengan begitu, Vano dapat dengan mudah menemukan keberadaan Fay.
"Sayang, sudah sampai."
"Iya, aku tau, nggak usah ngusir juga," sentak Fay pada Vano yang hendak membangunkannya. Padahal semalam Fay tidur lebih awal, tetapi sepagi ini sudah mengantuk.
"Apa kamu sakit?" lirih Vano, punggung tangannya menyentuh kening sang istri, tetapi segera ditepisnya dengan kasar. "Nggak demam."
"Ish, kamu ngeselin banget, sih. Doain aku demam segala."
Vano membelalak, cobaan apalagi ini Tuhan? Dia tidak sanggup jika harus menghadapi sikap Fay yang seperti ini.
"Bukan begitu, Sayang. Aku cuma memastikan."
"Memastikan apa? Memastikan aku sakit apa nggak, gitu? Punya suami satu aja keterlaluan banget, ya ampun!" gerutu Fay sambil melangkah keluar dari pintu yang sudah dibukakan oleh Vano.
Tidak seperti biasanya, Fay melenggang begitu saja, tidak ada salam perpisahan, tidak ada acara gombal menggombal. Membuat semangat Vano di level terendah.
Bersambung ....