
Sepanjang perjalanan, Fay banyak diam. Tatapannya fokus pada pepohonan yang berkejaran di pinggir jalan, juga lalu lintas siang ini yang terlihat lengang.
Ternyata seperti ini kehidupan orang kaya? Salah paham sedikit masuk trending topik.
Jika saja Fay boleh menyesal, dia sama sekali tidak tertarik dengan kehidupan orang kaya yang begitu merepotkan. Seandainya saja bisa, dia pasti tidak akan setuju untuk menikah dengan Vano. Namun, sekarang sudah tidak ada jalan untuk kembali.
Ma, apa yang harus Fay lakukan?
Sesekali Vano mencuri pandang pada wanita yang duduk di sebelahnya. Dia tahu Fay pasti sangat terkejut dengan berita itu, tetapi Vano sudah meminta team IT untuk menanganinya.
"Huh, ternyata masih lebih baik menjadi orang biasa," gumam Fay seraya membuang napasnya melalui mulut, tetapi masih terdengar di telinga Vano.
"Kamu menyesal?" tanya Vano dengan mata menyipit.
"Tidak, menyesal pun aku nggak akan bisa kembali," lirih Fay dengan wajah menunduk.
Vano tidak menjawab, dia memilih fokus pada benda pipih di tangannya. Sebagai wanita yang ada di sisi Vano, Fay harus mulai terbiasa dengan keadaan dan semua kajadian mengejutkan. Ini baru permulaan, dia yakin cepat atau lambat ini akan terjadi.
Yang membuat Vano geram, selama ini dia selalu menutup diri dari media masaa. Berita apa pun pasti bisa di redam sebelun mencuat ke hadapan publik. Apakah sebenarnya tujuan mereka menyebarkan berita itu? Siapa sasaran orang itu? Fay? Atau keluarganya?
Mereka berdua sibuk berperang dengan pemikiran masing-masing, tanpa ada yang berniat memulai percakapan.
Arah Mall XXX berlawan dengan jalan menuju rumah sakit, mereka harus memutar dan mengindari titik macet karena ada pwrbaikan jalan. Aish, sungguh menyebalkan.
"Ada apa ini? Mengapa rumah sakit tiba-tiba ramai?" lirih Fay. Dari kejauhan dia melihat ada yang tidak beres dengan pengunjung rumah sakit yang membludak.
"Tunggu, jangan bilang mereka ...." Perkataan Fay menggantung, dia membulatkan matanya lebar-lebar saat menyadari situasi yang akan dihadapinya.
"Dari mana mereka tahu bahwa Fay akan datang ke rumah sakit?" ucap Fay dalam hati.
"Jalan terus, jangan sampai masuk ke sana." Vano menginstruksikan kepada sang sopir untuk mengurungkan niatnya mengunjungi rumah sakit.
Banyak orang berkerumun di depan rumah sakut dan memaksa untuk masuk. Hal itu tentu saja mengganggu kepentingan umum.
"Eh, kenapa nggak masuk?" protes Fay saat menyadari mobil yang mereka tumpangi berjalan lurus.
"Kamu mau menjadi santapan mereka?" ujar Vano dengan wajah datar.
Benar yang Vano katakan, jika dia memaksa masuk sekarang, pasti tidak akan lepas oleh kerumunan itu. Namun, bagaimanapun juga Fay tetaplah seorang anak yang mengkhawatirkan ibunya.
"Turunkan aku di sini, aku akan masuk sendiri."
"Hei, kau sudah gila, hah?" Vano mencekal lengan tangan Fay yang hendak membuka sabuk pengaman.
"Mama masih di dalam, aku nggak mau terjadi sesuatu sama Mama." Wajah Fay memerah, netranya mengembun, dia tetap bersikeras masuk.
"Kau tenang saja, ada pengawal yang berjaga, semuanya pasti akan baik-baik saja," ujar Vano menenangkan.
"Kamu bisa berkata seperti itu, nggak tahu bagaimana di posisiku," sentak Fay. Dia bersikeras ingin bertemu wanita yang telah mengandung dan melakhirkannya.
"Hei, dengarkan saya. kita tidak boleh bertindak tanpa perencanaan."
"Kau benar."
"Mereka datang dan berkumpul di rumah sakit ini sudah pasti memiliki rencana." Vano meyakinkan Fah sekali lagi.
"Kita adakan rapat darurat sekarang juga." Vano memijat pangkal hidungnya. Kepalanya terasa pening, sekarang dia tahu apa tujuan berita itu. Selain menghancurkan reputasinya, hal itu juga berimbas pada harga saham dan posisinya sebagai CEO sedang dipertaruhkan.
"Kita ke kantor," ujar Vano setelah terdiam cukup lama.
"Kamu mau kembali? Lebih baik aku turun di sini."
"Jangan melawan, sudah saya katakan, di sini akan baik-baik saja. Banyak pengawal dan keamanan yang berjaga. Ada hal yang lebih oenting yang harus saya tangani."
"Apa hal itu lebih penting dari Mama?"
"Ya. Saya ada rapat darurat dengan dewan direksi dan pemegang saham. Posisi saya sedang dipertaruhkan," jelas Vano.
"Kamu egois, yang ada di otak kamu hanya pekerjaan dan kekuasaan! Aku ragu kamu sebenarnya punya hati nggak, sih?" teriak Fay. Di dalam mobil, mereka saling menuduh, membuat sang sopir tidak tahu harus menuruti siapa.
"Ini semua demi kamu. Bukankah kamu yang menginginkan menjadi Nyonya CEO? Kalau saya diberhentikan, apakah kamu masih mau bersama denganku? Bukankah di matamu hanya posisi itu yang penting?"
Awalnya, Vano memang tidak tertarik dengan pekerjaan kantor, terlebih menjadi seorang CEO. Namun dia melakukan semua itu setelah mengetahui Fay menginginkan berada di sampingnya sebagai Nyonya CEO. Dia mengatakan suka uang dan kekuasaan. Hal itulah yang membuat Vano akhirnya bertahan.
"Itu dulu, sekarang tidak."
"Kau sudah terlambat, sudah melangkah sejauh ini, dan kamu sendiri yang mengatakan tidak ada jalan untuk kembali. Satu-satunya cara adalah kamu tetap berdiri di sisiku," ucap Vano dengan suara meninggi.
"Jangan lupakan hutangmu padaku, atau kau memang ingin pengobatan ibumu dihentikan saya tidak masalah," lanjut Vano mengingatkan.
Benar, Fay melakukan semua itu untuk sang ibu, apakah usahanya akan berhenti di tengah jalan? Jika dia menyerah, maka hanya caci maki yang aka dia dapatkan tanpa ada yang melindunginya. Setidaknya, dengan menetap di ssisi Vano, dia perlahan bisa membalikkan keadaan.
Tidak boleh, dia tidak boleh kembali dan selalu diinjak-injak, terlebih kesehatan sang ibu yang belum sepenuhnya pulih. Fay tidak ingin ibunya kembali menderita.
"Baiklah. Kembali ke perusahaan," ujar Fay mengalah.
Vano tidak lagi menanggapi Fay, dia sibuk dengan benda pipih miliknya. Dia tahu sekarang, bahwa menjadi orang kaya tisak semudah bayangan. Salah sedikit saja akan berimbas pada berbagai masalah yang saling berkaitan.
"Iya, baik." Vano menyimpan kembali benda pipih miliknya. Kepalanya bersandar di headrest, matanya terpejam, seolah menanggung beban yang sangat berat.
Melihat keadaan Vano, kemarahan Fay perlahan memudar, berganti menjadi iba. Bagaimanapun juga, semua ini karena dirinya. Jika saja Vano tidak menikah dengannya, pasti tidak terjadi masalah sebesar ini yang imbasnya kemana-mana.
"Apa kau pernah menyesal menikah denganku?" tanya Fay hati-hati, dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya."
"Mengapa tidak melepaskanku?"
Vano membuka matanya, dia dalam posisi duduk dan sedikit miring. Kedua tangannya meraih bahu Fay dan menatapnya dalam.
"Dengarkan baik-baik, dengan atau tanpa kamu, masalah di perusahaan pasti akan terjadi."
"Terus, katanya menyesal menikahiku?"
"Saya belum selesai bicara!" Vano mendesahkan napasnya. "Saya menyesal menikah denganmu, mengapa baru sekarang, mengapa tidak dari dulu Tuhan mempertemukan kita," ucap Vano tegas, tidak ingin dibantah.
Fay mencari kesungguhan di kedua netra indah Vano, dia tidak menemukan keraguan, seolah perkataan itu memang dari lubuk hati Vano yang paling dalam.
Bersambung ....