
Sentuhan terakhir pada rambut Fay sudah selesai, ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan wajah masam. Bagaimana tidak? Pengawal Vano membawa paksa dirinya, itukah sebabnya dia berada di tempat ini sekarang. Bisa saja Fay melawan, tetapi Vano terlalu licik, dia menggunakan nama ibunya untuk mengancam.
Apa yang dia inginkan? Membuatku harus menghabiskan banyak waktu di tempat ini.
"Nona, Anda sangat cantik. Apalagi kalau tersenyum," puji sang penata rias.
"Hehe...." Wanita itu menarik sudut bibirnya dengan paksa.
"Baiklah, saya sudah siapkan gaun di ruang ganti. Silakan."
Fay mendesahkan napas berat, dia sendiri tidak tahu apa yang Vano rencanakan dengan menculiknya. Namun, dia juga tidak dapat membantah jika laki-laki itu menggunakan ibunya.
Vano sudah rapi dengan setelan tuxedo berwarna cream dengan dasi kupu-kupu yang melilit leher. Dia terlihat sangat tampan, terlebih tatanan rambutnya yang baru, membuatnya semakin berkharisma.
"Kalian tidak memiliki gaun yang lain? Ini terlalu terbuka." Fay berdecak, gaun yang ia kenakan terlalu terbuka di bagian belakang. Apalagi sekarang sudah hampir malam, ia pasti tidak akan kuat menahan angin malam dengan gaun kurang bahan seperti yang disebutkan.
"Tapi, Nona. Gaun ini sudah dipilih langsung oleh Tuan Melviano."
Fay membelalak, dia berpikir bahwa Vano akan membawanya ke tempat hiburan, sehingga membiarkannya memakai gaun sundel bolong.
"Lama benget, sih?" Vano mulai kesal, acara akan segera di mulai, tetapi Fay masih belum siap.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" ucap Fay dengan suara meninggi.
"Kenapa pakaianmu begitu? Tidak takut masuk angin?"
"Heh, bukankah kau sengaja?" maki Fay dengan wajah merah padam.
Benar juga, Vano yang memilih gaun itu karena warnanya terlihat cocok dengan setelan tuxedo yang dia kenakan, tanpa melihat detail gaun itu.
"Ganti," ucap Vano singkat. Dia harus kembali menunggu Fay berganti pakaian.
"Kalau yang ini?" Fay memperlihatkan gaun warna hijau tosca yang menutupi kaki jenjangnya.
"Terlihat seperti ibu-ibu arisan, ganti yang lain."
Fay menghentak kaki kembali ke ruang ganti, kali ini gaun warna maroon selutut tanpa lengan dengan payet-payet di bagian depan.
"Sekarang?"
Vano menelan saliva dengan susah payah, melihat oenampilan Fay membuat imajinasinya liar. Membayangkan malam panas itu.
Apa yang sudah kau pikirkan?
Dia memijat pangkal hidung, mengapa ia berpikiran yang tidak-tidak hanya dengan melihat Fay mengenakan pakaian yang terbuka. "Baju macam apa ini?" ejeknya.
"Ini salah, itu bukan. Kamu aja sendiri yang pakai gaun," teriak Fay. Dia sudah kesal berganti pakaian, tetapi Vano hanya bermodal mulut saja mengatakan ganti, ganti, dan ganti.
"Kau mau membantah?"
"Sekarang pilih sendiri gaun mana yang cocok denganku?"
Fay menarik paksa Vano mengikutinya ke ruang penyimpanan gaun. Netranya memindai seisi ruangan, tatapannya teehenti pada sebuah gaun berwarna peach.
"Kamu coba yang ini." Vano meminta pelayan untuk membantu Fay berganti pakaian.
"Awas aja, kalau masih tidak cocok juga, aku akan memintanya untuk memakai gaun pilihannya itu," lirih Fay.
Sepuluh menit sudah berlalu, tetapi Fay masih belum juga selesai, ia terpaksa kembali ke ruang rias. Seorang wanita dengan rambut disanggul sederhana, beberapa helai dibiarkan bebas menghalangi wajahnya dengan jepit rambut bunga mawar pink yang mempercantik tampilannya.
Penata rias harus menyesuaikan make up dan tatanan rambut sesuai dengan gaun yang dipakainya. Gaun berwarna peach berlengan pendek dengan kerah tinggi dan panjan menutupi lutut, sangat cocok dengan warna kulit Fay. Polesan natural namun berkelas yang menampilkan kecantikan wanita itu membuat Vano menatapnya tanpa berkedip. Fay sangat cantik hari ini melebihi saat dirinya datang ke kantor untuk merayunya.
"Tuan, bagaiman hasil kerja keras saya?" tanya penata rias dengan senyum mengembang. Dari tatapannya, tampak kekaguman di wajah CEO muda itu.
"Ehm..., tidak buruk, sebaiknya kita bergegas, atau kita akan terlambat."
Oh tidak, sepertinya aku sudah lama tidak melakukan check up. Degub jantungku tidak bisa dikendalikan.
Dalam perjalanan, ekor mata Vano tidak lepas dari wanita cantik yang duduk di sebelahnya. Dia semakin tidak sabar untuk menghalalkannya, tetapi jika mengingat bahwa wanita itu hanya menginginkan uang dan kedudukan, relung hatinya terasa sangat nyeri.
Banyak pertanyaan yang bermunculan, tetapi Fay lebih memilih diam. Duduk berdampingan dengannya membuat Fay merasa pasokan oksigen di sekitarnya semakin menipis.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah bangunan mewah yang sudah ramai tamu undangan.
"Di sini?"
"Ya, cepatlah!"
Vano memperlakukannya dengan sangat lembut, Fay sendiri dibuat heran pada perubahan Vano akhir-akhir ini.
Di dalam ball room, seluruh tamu undangan sudah datang, tetapi acara tidak juga dimulai.
"Al, kau masih menunggunya?" tanya Tuan Abimanyu pada cucu perempuan satu-satunya.
"Sepertinya dia tidak akan datang, Opa. Bikin kesal aja."
"Kita tunggu sebentar lagi, Mami kamu juga belum datang," bujuk Tuan Abimanyu.
"Yah, aku harap juga begitu."
Tatapan Aline tertuju pada pjntu masuk ballroom. Namun, mereka yang ditunggunya tidak juga menampakkan diri. Membuatnya semakin kesal, ditengah keramaian ia masih terasa sepi.
"Dasar pembohong!" maki Aline saat telepon Vano tersambung tali tidak diangkat.
"Sayang, maafkan Mami datang terlambat," ucap seorang wanita paruhbaya yang begitu dirindukan. Dia adalah Mami Adel--ibu kandungnya--wanita yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk menjadikannya ada di dunia ini.
"Al nggak akan maafin Mami," ketus Aline memonyongkan bibir.
"Yang penting sekarang Mami sudah ada di sini, kau tidak suka Mami datang?"
"Siapa bilang? Al bahagia, sangat bahagia Mami datang." Mereka berdua saling mendekap, meluapkan rindu yang sudah lama tertahan. Ada sesuatu hal yang membuat Adel datang terlambat.
"Kak Al, happy birth day to you," ucap gadis cantik yang ada di belakang Adel.
"Ara, kau sengaja datang terlambat?" dengus Aline.
"Sorry bestie, Ara harus jemput Mami dulu."
"Baiklah, karena Mami kamu sudah datang, kita mulai saja pestanya," ucap Wulan.
"Atau masih menunggu orang spesial yang masih belum datang?" ledek Arga.
"Lebay, dasar anak kecil," ejek Ferdi. Mai tidak mau, dia hatus menghadiri acara ulang tahun Alime karena desakan Tuan Abimanyu.
"Tentu saja, kami memiliki hubungan yang baik, tidak seperti seseorang yang bisanya mengjancurkan kebahagiaan orang lain, terutama...." Aline manggantungkan kalimatnya.
"Al, ini hari bahagiamu, jangan menghancurkannya dengan meladeni laki-laki tidak penting sepertinya," tegur Arga. Tuan Abimanyu tidak ada di sana, ia memilih beristirahat di ruangan khusus yang sudah disiapkan. Usianya sudah tidak muda lagi, itulah sebabnya kondisi tubuhnya tidak sebaik yang lain.
"Ck, aku juga malas. Di sini bukan tempatku," kesal Ferdi. Dia lebih baik menenangkan diri daripada meladeni mulut nyinyir Aline dan keluarga besarnya.
"Ah, sudahlah! Papa benar, tapi orang yang kutunggu, dia tidak mungkin datang seperti tahun sebelumnya," lirih Aline. Tampak kekecewaan di wajahnya.
Namun, kehadiran sepasang anak manusia berhasil mencuri perhatian banyak pasang mata tamu yang hadir. Tidak terkecuali Aline dan seluruh keluarganya.
"Bintang utama sudah hadir," ucap Ara dengan antusias. Dia sangat mengidolakan Vano si manusia kutub, sangat berbeda dengan Al yang selalu berselisih paham dengannya.
"Gue bintangnya, Al. Jangan lupakan itu." Aline tidak terima, sekarang adalah hari ulang tahunnya. Sudah pasti dia bintang utama acara malam hari ini.
Apa dia datang bersama gadis itu? Bukan, dia pasti wanita berkelas yang lain. Dari penampilan dan wajahnya saja sangat berbeda dengan wanita yang kutemui waktu itu.
Adel berkaca-kaca, setelah sekian lama ia bisa melihat Vano yang tumbuh menjadi seorang pria tampan dan berwibawa.
"Sebaiknya Mami pergi." Adel hendak meningvalkan tempat itu, namun Wulan tidak mengizinkannya.
"Tetap di sini. Jangan lagi menghindar, kita hadapi bersama. Ada aku di sini," ujar Wulan meyakinkan.
"Ada Ara juga, Papa, Kak Arlan dan Kak Aline. Kita semua di sini, Mam."
Adel menggenggam tangan Wulan erat, dia benar. Jika terus menghindar, maka kesalah pahaman mereka tidak akan berakhir.
Bagaimana reaksi keluarga besar Vano yang datang bersama wanita cantik?
Bersambung....