
"Siapa yang menyuruhmu datang, Kakek Tua?" Ferdi berdecak, ternyata hanya seorang lelaki tua yang jalan saja harus dibantu tongkat untuk menumpu tubuhnya.
"Tentu saja keinginanku sendiri, HS Group adalah hasil kerja keras di dua pertiga sisa hidupku. Tidak akan ada yang berhak melarang dan memerintahku di tempatku sendiri," jelas lelaki tua itu.
Dia melewati Ferdi yang hampir mati karena kesal, mengusap singgasana tempatnya memulai karier sampai di detik ini, hingga terbentuklah HS Group, tempat bernaung ribuan orang menggantungkan hidupnya.
"Lebih baik Anda gunakan sisa umurmu untuk banyak bertaubat atas semua dosa-dosamu, Tua Bangka." Ferdi tidak terima ada yang menekannya, terlebih dia adalah laki-laki yang sudah menghancurkan hidup keluarganya.
"Jadi inilah balasan yang kau berikan atas semua yang kuberikan?" Tuan Abimanyu membetulkan posisi kacamatanya. Rasa bersalah justru membuatnya harus menerima hukuman yang tidak ringan, retaknya keharmonisan keluarga.
"Ini belum seberapa, aku akan membalaskan semua penderitaaan yang Anda berikan untuk ibuku!" Bibirnya terkatup, tangannya terkepal erat hingga buku jarinya memutih.
Masih tercetak dengan jelas bagaimana saat terakhir sang ibu sebelum menghembuskan napas terakhirnya. Dan semua penderitaan itu Tuan Abimanyu-lah penyebabnya.
"Jangan melewati batas, semua itu salah ibumu sendiri."
"Anda masih bisa menyalahkannya setelah merampas semua kebahagiaannya? Bahkan saat terakhir hidupnya, dimana Anda, hah? Tidakkah Anda tahu bagaimana seorang anak hidup sebatang kara, mencari sosok ayah yang selama sangat dia rindukan hanya berbekal alamat dan satu benda terakhir darinya?"
"Ini semua hanya kesalahpahaman," elak Tuan Abimanyu.
"Salah paham? Dan setelah aku menemukan dia, pernahkah Anda menganggapku? Tidak pernah, kan? Anda dan keluarga hanya melihatku seperti sampah yang menjijikan. Aku hanyalah anak haram, ibuku kalian anggap sebagai perusak rumah tangga orang, dan semua keluargamu melihatku seperti kotoran," cecar Ferdi.
"Katakan di mana salahku? Aku tidak bisa memilih dari wanita mana diriku dilahirkan, tetapi aku bisa memilih jalan mana untuk melanjutkan hidupku!" lanjutnya.
Tuan Abimanyu jatuh terduduk, jika saja pada malam itu .... Ah, semuanya sudah berlalu. Dua puluh delapan tahun lalu. Kejadian itu hanyalah sebuah kesalahan bersama.
"Cukup! Kau boleh memilikinya, tetapi kau harus menanggung semua resiko yang ada," ujar Tuan Abimanyu mengingatkan.
"Haha ..., Kau tenang saja, semua aman di bawah kendaliku," sahut Ferdi dengan bangganya.
"Aman kamu bilang? Bagaimana bisa tender kita bocor ke pihak lawan kalau bukan karena kebodohan!" maki Tuan Abimanyu, dia sangat marah mendengar berita itu.
Jika membiarkan hal ini terus terjadi, HS Group tidak akan bertahan lebih lama lagi. Dia akan digeserkan oleh para pesaing dari dunia bisnis yang sangat kejam dan tanpa mengenal ampun.
"Salahkan saja cucu kesayanganmu itu, bukanlah tender berada ditangannya sebelum kecelakaan itu terjadi?" cibir Ferdi.
Dia hanya bisa mengkambinghitamkan Vano atas kesalahan yang tertuju padanya.
"Lalu, bagaimana kau akan menjelaskan laporan ini, hah?" sentak Tuan Abimanyu, dia hanya membaca sekilas, tetapi bisa tahu bahwa perusahaan dalam keadaan genting.
Sudah sejak lama dia tidak pernah dipusingkan dengan masalah perusahaan. Namun hari ini dia benar-benar kecewa, ternyata Ferdi telah memanfaatkan semua kebaikannya untuk memenuhi hasrat dalam dirinya, balas dendam.
"Kalaupun iya, Anda bisa apa? Kalian tidak akan menemukan bukti-buktinya," tantang Ferdi. Dia sudah bertekad untuk mengahcurkan semua yang berhubungan denganTuan Abimanyu. Semua inderanya telah dibutakan amarah dan dendam.
"Bagaimana kalau saya membawa semua bukti itu?" ucap seseorang dengan lantang. Dia berjalan diikuti sekretaris pribadinya dengan membawa dokumen sesuai keinginan Ferdi.
Dua prajurit berseragam turut mengikutinya, juga dua orang lain yang memakai jaket kulit hitam dengan senjata api tersembunyi. Mereka sudah melakukan persiapan sebelumnya sehingga Ferdi tidak dapat mengelak lagi.
"Tangkap dia, Pak!" perintah laki-laki itu.
Sial, kemana perginya semua pengawalku? Mengapa tidak satu pun dari mereka terlihat batang hidungnya?
Ferdi hanya berharap bahwa semua ini hanya mimpi, tetapi semua harapan hanyalah tinggal harapan. Kenyataannya, sekarang Ferdi tersudutkan dengan banyaknya anggota.
Ah, hampir lupa. Laki-laki tua bangka itu masih berguna, tercetus sebuah ide gila dari Ferdi untuk menggunakan Tuan Abimanyu agar terlepas dari bahaya.
"Stop! Satu langkah lagi kalian maju, pisau ini akan menembus kulit Tua Bangka ini!" ancam Ferdi dengan pisau lipat miliknya berada di leher Tuan Abimanyu.
"Kau gila, hah?" maki Henry. Dia tidak bisa membiarkan lelaki tua itu terjadi apa-apa padanya. Dia memang bersalah, tetapi bukan berarti dia harus membencinya karena semua sudah digariskan Tuhan untuk keluarganya.
"Aku memang gila!" aku Ferdi dengan wajah tanpa dosa. "Cepat mundur dan letakkan senjata kalian!" lanjutnya.
Henry tidak ingin mencelakai ayahnya, tetapi tidak boleh membiarkan Ferdi kabur begitu saja. Dia sudah memperhitungkan dengan matang. Namun semua itu sunggih di luar dugaan.
"Sepertinya kalian sudah tak memhinginkan nayawanya lagi! Kalau begitu aku ...."
"Kalian semua mundur!" Henry memberi isyarat kepada dua lelaki berseragam untuk menjauh.
"Jangan pedulikan saya, cepat tangkap dia!" ucap Tuan Abimanyu dengan suara meninggi.
"Dad, kau sudah tidak menyayangi nyawamu sendiri?" Henry mendengkus. Mengapa laki-laki masih saja keras kepala?
"Ini semua salahku, karena aku juga Mommy pergi, sudah saatnya Daddy menyusulnya untuk menebis semua kesalahan yang audah pernah kulakukan padanya," lirih Tuan Abimanyu.
"Ck, drama keluarga yang begitu mengharukan, sayang sekali dia memang harus dikirim ke beraka untuk menemani istrinya," Ferdi menyeringai penuh kemenangan. Dia sangat puas melihat semua orang panik.
"Drama apa yang kau maksudkan?" Lelaki tua itu tiba-tiba menyela diantara para pengawal. Membuat semua orang terkejut bukan main.
"Kau, mengapa ada dua?" Ferdi menatap laki-laki itu dan orang yang disanderanya bergantian. Apa mungkin efek mabuk semalam belum hilang? Sampai terbawa pada halusinasi?
"Saya yang asli," ucap orang yang berdiri di samping Henry.
"Bukan, aku yang asli. Dia palsu." Kini kakek tua yang disanderanya juga berkata hal yang sama. Mereka memperebutkan identitas Tuan Abimanyu yang asli.
"Bohong! Dia bohong padamu! Kau harusnya ingat ini." Kakek tua di seberang sana menunjukkan liontin giok milik mendiang istrinya--Amel.
"Itu pasti hanya benda palsu!"
Kedua orang itu tetap kekeh, tidak ada yang mau mengalah. Membuat semua orang pusimg dibuatnya.
"Cukup! Kalian jangan coba-coba mempermainkanku! Siapa pun diantara kalian yang asli, cepat beritahu padaku!" Ferdi geram dan merasa dipermainkan.
Siapakah yang asli? Yang sedang di sandera atau justru yang berdiri di samping Henry? Nantikan jawabannya di next part, yaw!
Bersambung ....