Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Menikmati Peran



Fay yang tidak dalam keadaan siap begitu terkesiap, jarak mereka begitu dekat bahkan ia dapat merasakan hembusan hangat napas Vano yang menyapu wajahnya.


"Kamu apa-apaan, sih?" Fay berusaha untuk melepaskan diri. Namun Vano tidak membiarkannya.


"Diam sebentar," bisik Vano. Dia mengeratkan pelukannya. "Kamu yang mulai duluan, kita harus menyelesaikannya bersama," lanjutnya.


"Ish," Fay memutar bola matanya, kemudian menengadah, tatapannya saling bertemu dengan lelaki yang bergelar suaminya.


Satu detik, dua detik, sepuluh detik berlalu. Mereka masih dalam posisi yang sama, membuat dunia serasa milik mereka berdua. Mereka mengabaikan kehadiran Salsa yang berwajah masam, sangat kesal dibuatnya.


"Kalian mau sampai kapan pamer kemesraan, huh?" Salsa bersungut, dia teringat bagaimana perlakuan Vano padanya saat masa awal pertemuan mereka.


"Ehm," Vano berdehem, mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Begitu juga Fay, dia menunduk dengan wajah bersemu.


Ah, mereka hanya ber-acting. Untuk apa aku marah, aku tahu Vano masih sangat mencintaiku. Buktinya dia tidak pernah dekat dengan wanita mana pun setelah berpisah denganku.


Salsa sudah menyelidiki Vano, dari informasi yang didapatkan, Vano memang tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Kedekatannya dengan banyak wanita yang diberitakan hanyalah rumor, semua itu gosip belaka.


Jadi, wanita itu dengan kepercayaan diri penuh ingin kembali pada Vano, berbekal informasi tersebut, dia berpikir dapat dengan mudah meluluhkan hati lelaki pujaan hatinya. Hanya dia satu-satunya orang yang dapat diandalkan.


"Aku nggak akan tertipu, kamu sengaja ingin membuatku cemburu, kan? Aku Salsa tidak akan termakan acting buruk kalian," ujar Salsa mencebik.


"Dasar wanita nggak tahu malu, kau bisa saja tidak percaya. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan. Setelah ini, apa kau masih tidak percaya?" bagin Fay.


Fay berjinjit, dia hanya mengenakan sepatu hak rendah, tentu saja tidak sebanding dengan Vano yang memiliki tinggi badan dua puluh centi di atasnya. Dan ....


Cup!


Bibirnya mengecup pipi Vano, tidak hanya satu melainkan keduanya. Tentu saja Salsa membuka mulutnya lebar-lebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja Fay lakukan. Menurut sepengetahuannya, Vano paling tidak suka disentuh sembarang orang, apalagi sampai menciumnya.


Vano menelan saliva dengan susah payah, jantungnya berdebar semakin kencang, dia tidak menyangka Fay akan melakukan hal itu padanya. Sungguh diluar dugaan, Fay berinisiatif menciumnya. Vano tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dia membalas kecupan sang istri. Bukan hanya pipi, melainkan .... (jawab sendiri ya)


Fay terbelalak, kedua matanya seperti hendak keliar dari tempatnya. Dia refleks mendorong Vano, tetapi percuma saja, laki-laki tidak akan melepaskannya. Keduanya hampir saja terhanyut dengan suasana.


"Emmpppttt ...." Fay tidak memiliki pilihan lain, Vano semakin nakal, dia harus segera mengakhirinya.


"Aww ..., kenapa kau menggigitku, Sayang?" Vano mengaduh, mengusap bibirnya yang terasa perih.


Rasain! Siapa suruh memanfaatkan kebaikanku!


"Kau ini, jangan lanjutkan di sini. Aku malu masih ada orang lain." Fay mengisyaratkan Salsa dengan dagunya.


"Ah, sorry, saya terbawa suasana dan tidak bisa menahan diri." Vano terkekeh, mengabaikan rasa perih yang menjalar.


"Dasar pasangan tidak tahu malu," ejek Salsa dengan wajah mendung.


"Kenapa harus malu? Kita pasangan halal, nggak kayak seseorang, bukan siapa-siapa masih ngaku-ngaku. Kalau aku jadi dia, udah bawa karung buat nutupin muka," sindir Fay dengan senyum tertahan.


"Kau, wanita rendahan! Beraninya mengataiku!" Salsa tidak dapat menahan kesabarannya, dia mendekati Fay yang berdiri tidak jauh darinya. Tangannya menyentak Fay, terangkat ke udara, mengarahkan ke wajah.


"Kau mengusirku dan memilih wanita ini? Kejam sekali kamu, El." Salsa masih tidak menyerah, apa pun caranya dia harus mendapatkan Vano kembali.


"Wanita apa, hah? Apa perlu saya ulangi sekali lagi? Perkataanku yang sebelumnya masih kurang jelas?" Vano berbicara tanpa menatap Salsa, dia tidak bisa melepaskan matanya pada sang istri.


Sial, aku hanya mengikuti trik kecilnya. Mengapa aku sendiri yang terjebak? Rasa wanita begitu manis dan segar. Hmm .... Juicy.


"Aku nggak akan menyerah, kalian tunggu saja!" Wanita bergaun merah itu menghentak kaki, meninggalkan ruangan yang serasa neraka baginya.


Hampir saja aku terbuai, Fay apa yang sudah kamu pikirkan? Mengapa kamu bisa memainkan trik wanita murahan padanya? Dia pasti semakin besar kepala. Aaaa ..., aku harus bagaimana sekarang?


Fay menggigit bibir bawahnya, tetapi hal itu membut Vano berpikir Fay sedang menggodanya.


"Apa kamu masih memikirkannya? Masih belum cukup kita melakukannya? Apa kita harus mengulanginya lagi?" Vano mencecarnya dengan pertanyaan, dia sengaja menggoda sang istri. Matanya mengerling penuh maksud, tentu saja Fay tidak akan membjatkan Vano kembali mencari kesempatan untuk memindasnya.


"Tidak tahu malu, sudah mengambil begitu banyak keuntungan dariku, sekarang trik apalagi yang kamu mainkan?" Fay mencebik, menjauhkan diri dari Vano agar dia tidak lagi dipermainkan.


Vano tak gencar, satu langkah Fay menjauh, dua langkah dirinya mendekat. Mereka bermain permainan tarik ulur. "Mengambil keuntungan? Bukankah kau yang memulainya? Tidak lihat ini?" Vano menunjuk wajahnya yang berstempel lipstik, bahkan hangatnya kecupan itu masih sangat terasa.


"I-itu, cuma ..., itu cuma acting." Fay merasa wajahnya semakin memanas, tidak menyadari bahwa kini wajahnya semerah cabai merah. Dia memalingkan wajah ke sembarang arah.


Niat hati ingin bermain api, tetapi malah dirinya yang terkena percikan api itu sendiri.


"Tapi, saya merasa ...."


"Sudah bicaranya? Lagi pula wanita itu sudah pergi, tidak perlu lagi bermain peran di sini." Fay memotong kalimat Vano yang belum selesai diucapkan. Dia tidak ingin lagi berdebat dengan Vano, hal itu hanya buang-buang energi.


"Bukankah kau sangat menikmati peran yang kau mainkan?"


Pintu ruangan di ketuk, Keke datang tidak di saat yang tepat. Namun, suatu berkah bagi Fay, dia bisa mengelak dari perdebatan sengit yang tidak berujung.


"Aish, kenapa juga kamu harus datang? Tidak lihat aku sedang mendiskusikan hal penting?" maki Vano pada wanita dengan pakaian yang kekecilan itu.


"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin mengingatkan, jadwal pertemuan Anda dengan klien dari Jepang sepuluh menit lagi," ucap Keke dengan wajah menatap lantai.


"Hmm, kamu boleh pergi sekarang." Tangan Vano mengibas, mengusir sekretaris barunya.


"Di mana dokumen yang aku minta?" tanya Vano, dia baru ingat tujuan Fay datang ke sini.


Ah, hampir saja melupakan tujuannya datang ke tempat ini. Ternyata dokumen yang sempat dibacanya memang urgent.


"Kamu sibuk sana, tugasku jadi kurir sudah selesai," ketus Fay. Dia melemparkan dokumen yang dibawanya ke hadapan Vano, dengan sigap laki-laki itu menangkapnya. "Enak banget, ya. Tiap hari ada pemandangan gratis," lajutnya.


"Kamu cemburu?" Sudut bibir Vano berkerut, dia sangat suka melihat Fay posesif padanya.


Bersambung ....