
Satu minggu sudah semenjak hari itu, Fay masih belum bisa memaafkan sikap Vano yang sengaja menindasnya. Menggunakan alasan hukuman untuk menyiksanya lagi dan lagi. Namun, sudah dua hari Vano tidak mengunjunginya. Sementara akses keluar begitu sulit ditempuh.
Tidak hentinya Fay mencoba kabur, para pengawal bukanlah masalh besar baginya, tetapi di sana tidak ada satu pun kendaraan yang bisa digunakan untuk pergi selain mobil yang mengantar jemput Vano.
Terakhir kali Fay mencoba kabur dengan menyusuri tempat itu seorang diri. Bukannya pergi dengan selamat, melainkan kakinya yang harus terkilir karena tidak berjalan dengan hati-hati. Dia tidak kehabisan akal, berbagai cara digunakan untuk merayu Vano agar dirinya bisa pergi dari penjara itu. Namun, bukan Vano namanya jika mudah dibujuk.
"Sshhh ..., sakit." Fay mendesis, kakinya terasa ngilu saat menyentuh lantai.
Beruntung tadi malam Vano menemukannya, dia tidak tahu lagi akan seperti apa nasibnya jika laki-laki itu tidak datang di waktu yang tepat.
"Masih mau kabur?" cibir Vano yang baru saja selesai mandi. Dia hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang, membuat wajah Fay bersemu.
"Tidak tahu malu, cepat pakai pakaianmu!" ucap Fay dengan wajah berpaling.
"Istriku belum menyiapkan pakaian untukku, atau dia lebih menyukaiku tanpa pakaian?" Vano mengedipkan sebelah matanya, sengaja menggoda Fay yang tidak berani memandang ke arahnya.
"Kau ini sudah bukan anak kecil lagi, kenapa harus aku yang siapin?"
"Karena kamu istriku!" jawab Vano singkat.
Fay hendak berdiri dan melakukan keinginan Vano, tetapi kakinya benar-benar sakit dan terlihat semakin memar. Biru keunguan di bagian mata kaki dan lututnya. Fay hendak terjatuh, dia berusaha meraih apa pun yang ada di sekitarnya untuk berpegangan.
Yang ada hanyalah Vano yang berdiri di depannya, tanpa disadari tangan Fay menarik lilitan kain berbulu di pinggang Vano hingga terlepas. Pemilik tubuh tegap itu tidak sempat menyelamatkan handuknya, tangannya refleks menahan Fay agar tidak jatuh ke lantai. Keduanya jatuh ke atas ranjang dengan posisi sulit diartikan.
Tatapan keduanya saling mengunci. Satu detik, dua detik, hingga sepuluh detik berlalu. Vano memalingkan wajahnya ke sembarang arah, dia tidak dapat mengendalikan degub jantungnya yang tidak beraturan. Tidak berbeda dengan Fay, dia merasakan hal yang sama. Terlebih posisi mereka sangatlah dekat.
"Kau begitu menyukai tubuhku?" ucap Vano dengan sudut bibir berkerut.
Fay mendorong Vano, wajahnya memanas, ia yakin wajahnya sudah semerah tomat. "Ma-maaf," ucap Fay pelan.
"Kau mengambil handukku, lebih suka melihatku seperti ini?"
"Aaa ..., dasar mesum." Fay melempar handuk yang masih digenggamnya tepat di wajah Vano. "Cepat pakai bajumu!
Laki-laki tidak dapat menghentikan tawanya, dia berhasil menggoda Fay. Tubuhnya tidak benar-benar polos, dia sudah mengenakan boxer dibalik handuk. Namun Fay tidak menyadari hal itu dia dalam posisi tengkurap dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Kehadiran Fay dalam hidup Vano benar-benar memberi warna tersendiri, menjahili Fay sudah menjadi candu baginya. Wanita itu bisa mengembalikan suasana hatinya yang hampa menjadi lebih bermakna.
***
Di tempat lain.
Ferdi melempar map coklat di tangannya, dia tidak menyangka orang yang menyerangnya di club waktu itu ternyata seorang wanita yang dikenalnya.
"Ada dendam apa dia samaku? Pasti si brank shanke itu yang memintanya. Ck, beraninya bersembunyi di belakang wanita." Ferdi menyapu seisi meja hingga berserak di lantai. Dia sangat marah setelah mendapat laporan dari orang kepercayaannya bahwa Vano diam-diam sudah menikah. Terlebih wanita yang menikah dengannya adalah orang yang hampir saja menghancurkan masa depannya.
"Kalian jangan harap bisa lari, aku pasti akan menemukannya meski di lubang semut sekali pun," maki Ferdi. "Kamu sudah menemukan persembunyian mereka?" lanjutnya.
"Untuk apa aku memperkerjakan kamu? Kamu sudah tidak menginginkan posisimu?" sentak Ferdi. "Dasar tidak beguna, mereka pasti sangat hati-hati. Bukan mereka yang tidak memberi celah, kamu harus mencari cara supaya bisa tahu di mana celah itu berada!"
Dia ini, bisanya nyuruh orang. Nggak lihat dirinya seperti apa?
"Tapi, saya memiliki ide lain. Kita memang tidak dapat menemukan mereka, tetapi wanita itu masih memiliki ibu."
Ferdi cukup tertarik dengan pembahasan kali ini benar yang dia katakan, ibunya pasti berguna dalam rencananya. Dia tidak bisa tinggal diam dan membiarkan Vano merebut kursi CEO untuk kedua kalinya. Terlebih dia sudah memiliki saham terbesar di HS Group, jika ingin mengalahkannya, maka harus dimulai dari orang-orang di sekitarnya. Dengan begitu Vano tidak akan bisa berbuat banyak dan menyerah demi melindungi keluarganya seperti waktu itu.
"Katakan, apa rencanamu?"
"Menurut informasi, besok Tuan Henry dan akan mengunjungi besannya di rumah sakit. Kita bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menjatuhkan keduanya. Sekali tepuk, dua lalat mati," terangnya.
"Lalu?"
"Kita bisa menyalahkan semua ini padanya, Anda ingat bagaimana Tuan Melviano begitu membenci wanita itu? Hubungan mereka tidak baik-baik saja sampai saat ini."
"Kau yakin? Rumah sakit pasti banyak penjaga, jangan lupakan kamera CCTV. Mereka pasti curiga jika kita melakukan serangan yang sama."
Laki-laki itu berbicara setengah berbisik, mengatakan rencana kedua yang akan mereka lakukan jika rencana awal gagal.
"Baiklah. Aku serahkan padamu. Jangan sampai gagal."
"Tentu saja, tapi untuk melakukan rencana ini saya memerlukan...."
Ferdi seolah tahu maksudnya, tidak lain orang itu pasti menginginkan uang. Sebenarnya dia tahu bahwa orang itu hanya menginginkan uangnya, tetapi jika orang itu berhasil melakukan rencananya, dia tidak perlu mengotori tangannya untuk menyingkirkan Vano dan semua yang menghalangi rencananya.
Drttt!
Telepon laki-laki bergetar, sebuah notifikasi yang memberitahukan sejumlah uang yang masuk ke rekeningnya.
"Sisanya akan kuberikan setelah kau berhasil."
"Baik, Tuan. Terima kasih." Laki-laki meninggalkan ruangan Ferdi dengan senyum tak memudar di wajahnya.
Seringai di wajah Ferdi, dia tidak akan membiarkan Vano dan keluarganya hidup dengan tenang. "Ma, aku pasti akan membuat mereka membayar perlakuannya pada kita. Mereka pasti akan merasakan sakit yang sama seperti yang kita rasakan. Kalau perlu lebih menderita, aku ingin mereka memohon padaku."
Ferdi merasa Tuan Abimanyu tidak adil padanya, mengapa Henry bisa mendapatkan segalanya? Sedangkan dia hanya bisa mengelola kantor cabang yang masih di bawah pengawasan HS Group.
"Aku tidak akan membiarkan anak kecil itu merebut semuanya. Akan kubiarkan kalian menikmati kebahagiaan yang sementara ini, sebelum semuanya berakhir."
Ferdi memeluk pigura foto dan menyimpan potret wanita yang sudah melahirkannya itu ke dalam laci.
Bersambung ....