
"Tuan, Anda harus melihat headline news," ujar Galih tergopoh.
"Lo nggak lihat gue lagi ngapain?" sahut Bryan dengan wajah kesal. Dia hanya melirik Galih sekilas, setelahnya, kembali fokus dengan tumpukan kertas yang menggunung di atas mejanya.
Akhir-akhir ini, suasana hatinya sedang tidak bersahabat. Pekerjaan kantor yang memusingkan, ditambah Farah yang tak henti membuat ulah. Semakin hari membuatnya semakin malas berhubungan lagi dengannya. Wanita itu hanya ingin memanfaatkannya dan keluarga Brahmana.
"Kali ini pasti tidak akan mengecewakan, ini berhubungan dengan gadis penyelamat Anda," jelas Galih.
Bryan menghentikan kegiatannya menandatangani dokumen, wajahnya terangkat, rasa ingin tahu mengenai gadis penyelamat yang Galih bicarakan begitu menarik perhatiannya.
"Ulangi, bicara apa tadi?" Bryan meletakkan pena warna hitamnya di atas tumpukan kertas.
"Headline news?"
"Bukan, setelahnya."
Kedua alis Galih saling bertaut, tetapi sesaat kemudian dia mengerti maksudnya. "Gadis itu?" ucap Galih kemudian. Dia tahu bahwa Bryan tidak akan mungkin melewatkan berita menarik tentangnya.
"Ya." Gadis yang sudah mencuri perhatiannya, dia yang berhasil di selidiki identitasnya setelah sekian lama. Hari ini Galih membahasnya, tentu saja Bryan harus memasang panca indera baik-baik untuk mendengarnya.
Galih memberikan benda pipih persegi di tangannya, keningnya berkerut dalam, hanya berita mengenai skandal yang tidak penting, pikirnya.
"Anda harus melihatnya sampai selesai," pinta Galih.
Bryan terpaksa mendengarkan sekretarisnya, dia juga penasaran, apa hubungannya gadis itu dengan skandal yang sedang diberitakan? Namun, baru setengah video berdurasi lima belas menit tersebut di putar, rasa penasaran Bryan mulai terjawab, apakah mungkin gadis macam Fay dapat melakukan hal buruk seperti yang diberitakan?
"Ini, nggak mungkin. Pasti hanya orang bodoh yang menulisnya," elak Bryan dengan wajah memerah.
Dia sudah menyelidiki latar belakang gadis itu, hingga terungkap fakta bahwa dia adalah putri terbuang dari keluarga Adijaya. Tidak lain dan tidak bukan adalah saudara tiri Farah--tunangannya--yang tidak tahu malu itu.
Bryan baru mengetahui fakta tersebut dua hari yang lalu, dan masih berusaha mencari keberadaan Fay sampai saat ini. Gadis itu menghilang dari pencariannya semenjak pertemuan pertamanya, seolah ada orang besar yang tidak menginginkan kehidupan Fay terusik. Sekarang terjawab sudah, Fay berada dalam genggaman Vano, orang yang paling tidak disukainya.
"Kita lihat, gue pastikan lo akan kehilangan segalanya, semua yang lo miliki gue pasti dapetin. Satu per satu, gue akan ambil semuanya. Hahaha ...." Tertawa Bryan membuat Galih bergidik ngeri, pasti bosnya ini sudah gila.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Tuan?"
"Gue puas dengan kinerjamu kali ini," ujar Bryan dengan senyum tak memudar. Dia berharap dengan berita tersebut, hubungan Fay dan Vano akan merenggang. Selain Vano yang mendapatkan reputasi buruk, dia dapat dengan mudah merebut Fay. Berperan sebagai malaikat penyelamat dan mendapatkan Fay tanpa perlu bersusah payah. "Lo kira Fay mau, Bry?" said Author.
Baru selangkah Galih melangkahkan kaki dari ruangan Bryan, dia harus menghentikan langkahnya dan berbalik kembali ke ruangan yang lebih mirip suasana kandang harimau. Mencekam, iuh, ngeri.
Tangannya sedang men-scroll berita tentang Fay, saat terdapat kabar mengejutkan lain tentangnya. Terlebih, acara live tersebut disaksikan jutaan pasang mata, terlihat begitu banyak orang yang berkomentar. Banyak yang mendukung, banyak pula yang menyudutkan mereka. Apalagi posisi Vano yang sangat menonjol dan menjadi pusat perhatian.
"Apalagi?" sentak Bryan. Sekretarisnya satu ini memang selalu membuatnya kesal, membuyarkan mimpi indah yang baru saja hendak di mulai.
"Lihatlah sendiri!"
"Aku pasti salah dengar," gumam Bryan. Dia memutar ulang siaran tersebut sampai tiga kali. Kemudian meminta Galih untuk berkomentar, "dengarkan baik-baik, gue pasti salah dengar."
"Anda tidak salah dengar, itulah faktanya." Kalimat Galih begitu menusuk, tetapi segera menyadarkan Bryan dari angan dan mimpinya. Mengapa dia harus merasakannya? Mimpi yang belum sempat dimulai sudah harus berakhir, sungguh tragis.
"Saya peringatkan, kalian yang mencemarkan reputasi istri saya, pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal. Tidak dalam mimpi sekali pun. Jangan pernah berharap, apalagi bertindak!" Vano menarik sang istri dan merapatkan diri. "Siapa pun yang berniat melakukan hal tersebut, akan berhadapan langsung dengan saya, Melviano. Saya tidak akan membiarkan barang milik saya diganggu oleh orang lain."
Lah, Fay itu bukan barang, ngaco. Dia itu istri kamu, mutiara berharga yang hanya ada di laut terdalam.
Para pemburu berita tidak ada yang berani membantah, ucapan Vano secara tidak langsung mengecam semua orang agar tidak melakukan trik untuk menjatuhkannya dan seluruh keluarganya.
"Kalian semua paham?"
Fay memperhatikan rahang kokoh yang mulai mengeras, alis tebalnya hampir menyatu, menambah karisma seorang Melviano yang selama ini tidak pernah terlihat di matanya. Laki-laki yang hanya tahu berdebat dan mengancamnya, tapi hari ini, di hadapan semua orang, dia memplokamirkan diri sebagai suaminya.
Vano tak segan mengecup puncak kepala dang istri, kehangatan yang menjalar sampai tempat terdingin yang telah dibangun tembok penggalang. Nyatanya, Vano mampu membuat tembok tersebut hancur perlahan.
Sungguh, tidak pernah terbayang bagi Fay akan datangnya hari ini. Laki-laki tegas yang tengah merengkuhnya dan menempatkannya menjadi salah satu orang terpenting dalam hidupnya. Fay hanya bisa bermimpi datangnya hari itu dan hari ini, Vano telah mewujudkan mimpinya.
Di tengah keheningan, salah satu wartawan tidak gentar melakukan aksinya. "Kalian jangan percaya, orang kaya sepertinya hanya bisa menggunakan cara kotor untuk membersihkan namanya," ucap laki-laki tersebut dengan lantang.
"Benar, jangan biarkan yang di atas menindas orang lemah. Kalian jangan mau kalah dan berdiam diri, mereka akan semakin menginjak kita yang orang biasa ini," teriak wanita yang berdiri tidak jauh darinya.
Sebagian ada yang membenarkan, tetapi ada pula yang memanfaatkan hal itu untuk merekamnya.
Suasana menjadi tidak terkendali, para pengawal menghalangi semua pemburu berita tersebut berbuat lebih nekat.
"Lindungi Tuan dan Nyonya Syahreza," teriak kepala keamanan melalui pengeras suara di tangannya. "Tangkap para pembuat onar, jangan biarkan satu orang pun lolos!" lanjutnya.
Konferensi pers tersebut bukan hanya mengejutkan Bryan, tetapi juga Henry dan keluarganya. Dia sangat menyayangkan tindakan Vano yang tidak mendiskusikannya terlebih dahulu. Mengumumkan hubungannya dengan Fay akan memancing musuh untuk berbuat nekat.
Mereka pasti tidak akan melewatkan hal itu, menemukan kelemahan Vano adalah hal yang paling ditunggu-tunggu.
"Apa yang dia pikirkan? Ingin menjadikan istri sendiri sebagai umpan, dasar bocah tengik!" maki Henry dengan wajah memerah.
Sebagai seorang yang sudah menelan lebih banyak garam, dia tentu saja tahu permainan licik di dunia bisnis. Bukan hal yang mudah untuknya mempertahankan HS Group sampai di titik ini. Akankah Vano menghancurkannya begitu saja? Tidak, dia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.
"Dad, tunggulah sebentar! Kita harus bertemu langsung dan menanyakan alasannya melakukan hal ini. Dia pasti sudah melakukan persiapan sebelumnya," bujuk Adel. Hanya wanita itu yang mampu menjinakkan amarah Henry, meredam api amarah dengan air kesabaran.
Apakah yang Vano rencanakan? Dia pasti tidak akan setega itu memanfaatkan Fay untuk memancing para musuh, bukan? Nantikan di part selanjutnya, ya. Jangan lupa dukung Fay supaya tegar dan mampu menjinakkan Vano seperti yang Mami Adel lakukan.
Bersambung ....