Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Hampir Saja



Hai, Melviano dan Fadila menyapa readers, nih. Semoga sehat selalu, bahagia, dan rejeki yang berlimpah. Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai di bab sekarang. Ke- 70, ya.


Semoga thor bisa selalu memberikan bacaan yang menghibur dan bisa menyelipkan pelajaran berharga setiap kata dan kalimatnya. Sekian. Semangat untuk kita semua.


Di tunggu kiriman vote dan bunganya, loh. Dih, maksa. Jangan bosan-bosan, ya. Papaeyyy ....


***


"Suster, dari kemarin saya nggak dibolehin lihat berita, bahkan ponsel juga nggak di kasih. Sebenarnya ada berita apa sampai saya tidak diperbolehkan mengetahuinya?" tanya Yuri.


Wanita paruh baya itu mencium gelagat tidak mengenakkan yang sengaja disembunyikan darinya. Pasalnya, sejak kemarin televisi di ruangannya hanya di batasi acara tertentu, dia juga tidak diperbolehkan melihat berita. Perasannya semakin gundah, rasa rindu yang membuncah pada putri semata wayangnya tidak tersampaikan.


Tidak biasanya Fay mengacuhkannya, bahkan hampir dua hari, dia sama sekali tidak mendengar suaranya. Panggilan tidak di jawab, pesan juga tidak dibalas. Apakah ada sesuatu hal yanb buruk menimpa putrinya?


"Maafkan saya, tetapi saya hanya menjalankan perintah," ujar Suster Ningsih. Semenjak keracunan, penjagaan semakin diperketat, semua orang yang keluar masuk ruangan itu harus diperiksa terlebih dahulu. Tak terkecuali dokter dan suster sekali pun. Mereka harus membuka penutup wajah sehingga mudah dikenali.


"Ish, kamu nggak ada jawaban lain, Sus?" sindir Yuri.


"Tugas saya sudah selesai, selamat beristirahat." Suster Ningsih memaksakan senyum, dia tidak ingin berlama-lama di ruangan itu kalau tidak ingin dicecar lebih banyak pertanyaan.


"Aku bosan, temani jalan-jalan ke luar sebentar," pinta Yuri.


"Tapi, saya tidak berani," potong Suster Ningsih.


"Tidak akan lama, hanya ke taman, sebentar saja. Setelahnya kita bisa kembali, ya." Wanita itu terus memohon agar Suster Ningsih membawanya ke taman. Memang sudah beberapa hari ini Yuri lebih memilih tinggal di kamar, itulah sebabnya dia akan menggunakan alasan tersebut untuk mengetahui berita dari luar.


"Baiklah, saya akan meminta izin sama Dokter Adam." Suster Ningsih menghela napas panjang, sebelum akhirnya menyetujui keinginan wanita itu. Bagaimanapun, berada di ruangan sepanjang hari juga tidak akan baik untuk kesembuahnnya.


Ya, semenjak hari itu, izin pulang Yuri di perpanjang, dia harus tinggal lebih lama di rumah sakit karena masih sering merasa nyeri pasca keracunan setelah operasi. Beruntung nyawanya masih bisa di selamatkan, tentu saja dengan pengawasan ketat dan pola makan sehat sesuai anjuran dokter.


"Terserah kau saja." Yuri mendecak, hanya ingin ke taman saja harus meminta izin. Hal itu semakin memperkuat dugaannya, ada sesuatu yang berusaha mereka tutupi darinya.


Suster Ningsih kembali membawa kursi roda, menandakan bahwa dia diizinkan membawanya ke taman. Sudut bibirnya tertarik ke atas, semoga usahanya tidak akan sia-sia.


"Dokter hanya mengizinkan Anda menikmati kehangatan mentari pagi selama tiga puluh menit. Kita harus segera kembali setelahnya," jelas Suster Ningsih sambil membantunya duduk di kursi roda.


Sebenarnya Yuri tidak suka dimanjakan dengan kursi roda, tetapi jika tidak menurut, dia tidak akan diperbolehkan keluar dari kamar.


"Lebay banget, sih." Yuri hanya bisa membatin, dia tidak mungkin membantah atau dirinya akan terus berada di dalam kamar untuk waktu yang lebih lama.


"Nggak papa, waktu segitu lebih dari cukup, yang penting bisa keluar." Yuri memaksakan senyum.


Cahaya kuning kemerahan pagi ini cukup menyengat kulit, sepertinya cuaca hari cukup baik untuk berjemur. Terutama bagi penghuni tetap seperti Yuri, taman adalah tempat yang bisa menyegarkan hati dan pikirannya. Bertemu dengan orang-orang yang berjuang melawan penyakit, bahkan lebih darinya. Membuat wanita itu senantiasa bersyukur masih diberi kesempatan setelah berulang kali berperang dengan maut.


"Aduh, ponselku tertinggal di atas. Boleh pinjam punyamu sebentar, Sus?" celetuk Yuri, sesaat setelah mereka sampai di taman.


"Untuk apa?"


"Baiklah, tapi janji cuma telepon."


"Iya," sahut Yuri dengan wajah berseri.


"Ini." Suster Ningsih memberikan benda pipih persegi panjang tersebut setelah membuka sandi.


Panggilan berdering, tetapi belum ada jawaban. Suster Ningsih melihat ke kiri dan kanan, dia tidak bisa menahannya lagi.


"Saya ke toilet sebentar, Anda tunggu di sini dan jangan kemana-mana," pinta Suster Ningsih.


Yuri hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Tiga kali berdering, masih sama, tidak ada jawaban. "Mungkin dia sedang sibuk, pagi-pagi begini pasti sedang mempersiapkan sarapan untuk suaminya," gumam Yuri, dia tetap berpikir positif, melawan perasaan ingin tahunya.


Untuk mengusir rasa bosan, lebih baik dia menonton drama kesukaannya. Pasti telepon Suster Ningsih ada channel khusus. Belum sempat dia mencari aplikasi yang diinginkannya, sekilas pemberitahuan di layar ponsel menarik perhatian Yuri. Dia tidak sengaja menggeser ikon tersebut.


Topik hangat tentang Fay belum juga reda, pernyataan Vano masih menjadi pencatian teratas di berbagai sosial media. Tidak terkecuali headline news koran online langganan Suster Ningsih.


Dahi Yuri berkerut sangat dalam, judul tautan tersebut membuat rasa ingin tahunya semakin meningkat.


"Bagaimana? Apa sudah selesai?" tanya Suster Ningsih dengan langkah cepat.


Perhatian Yuri teralihkan, tangannya tanpa sengaja menggeser layar, kembali ke layar utama ponsel. "Kau sudah selesai?" Yuri menjawab pertanyaan Suster Ningsih dengan pertanyaan.


"Sudah, tapi nggak dijawab," ucap Yuri sendu.


"Mungkin dia sedang sibuk, nanti aku akan mengirim pesan untuknya, supaya menghubungi Anda," bujuk Suster Ningsih.


"Baiklah."


"Hampir kecolongan." Dia berdecak, jika saja tidak datang tepat waktu, tidak tahu apa yang akan terjadi pada Yuri sekarang.


Dari kejauhan, dua pasang mata sedang mengawasinya. Dua orang laki-laki yang berpakaian serba hitam dengan tampang sangar mirip algojo. Diam-diam mengikuti dua wanita tersebut tanpa sepengetahuan mereka.


"Ma, sedang apa di sini?" Suara itu, sangat familiar di indera pendengarannya. Ya, Fay sengaja tidak menjawab panggilan itu karena ingin memberikan kejutan untuk sang ibu.


"Fay, hampir saja membuat Mama mati terkejut," tukas Yuri. Dia sangat senang bisa melihat Fay baik-baik saja.


"Kau berjalan terburu-turu sampai melupakan semuanya," cibir Vano di belakangnya. Mulutnya mencebik, dia begitu repot dengan paper bag dan bucket bunga di tangannya.


"Hehe ..., sesekali bolehlah manfaatin suami sendiri." Fay memperlihatkan barisan giginya. "Lagian ada pengawal, ngapain nggak minta mereka aja?"


"Fay, nggak boleh begitu sama suami," tegur Yuri.


Dia sangat senang melihat putri dan mentunya datang berkunjung, mereka baik-baik saja. Ternyata hanya perasaannya saja yang bermasalah.


Bersambung ....