
"Siapa kalian berani menghalangiku masuk?" ucap Ferdi dengan suara meninggi.
"Maaf, Tuan. Kami hanya menjalankan perintah," sahut pengawal yang berjaga, dia tidak berani bersitatap dengan Ferdi--bos barunya.
"Perintah siapa, hah? Aku bosnya di sini, hanya aku yang boleh memerintahkan kalian!" Ferdi murka karena tidak diizinkan masuk ke area proyek.
"..."
"Gak bisa jawab, kan? Kalian ini hanya rakyat kecil, tidak pantas menantangku!" makinya.
Ferdi tetap memaksa masuk, tetapi para pengawal semakin bertambah, merapatkan diri membentuk barisan untuk menghalangi Ferdi.
"Sekali lagi maafkan kami, Tuan." Dia adalah Bimbim, kepala pengawal yang ditugaskan untuk mengamankan lokasi proyek pembangunan milik Vano.
"Kalian sudah bosan hidup? Mau dipecat?" teriak Ferdi pada Bimbim. "Kenapa kalian nggak bergerak? Cepat singkirkan mereka!" Dia memerintahkan anak buah di belakangnya untuk menyingkirkan Bimbim dan kawan-kawannya.
Empat orang yang ada di belakang Ferdi saling melirik. Jumlah mereka tidak sebanding, terlebih tatapan Bimbin yang seolah ingin menelan mereka hidup-hidup.
"Gimana, nih?" bisik orang yang berdiri paling jauh dari Ferdi.
"Gue nggak mau jadi menu sarapan mereka," sahut orang di sebelahnya.
"Iya, mendingan kita kabur aja," usul yang lain.
Namun, mereka juga tak ingin kehilangan harga diri sebagai seorang pengawal. Menyerah sama saja dengan kehilangan wajah.
"Tunggu apalagi, cepat maju!" Ferdi mengayunkan tangan ke depan, sehingga keributan tak bisa dihindari. Lawan mereka tidak imbang, dalam sekejap anak buah Ferdi berhasil dikalahkan.
"Satu, dua, tiga, mundur alon-alon."
"Hei, kalian sudah tidak menginginkan bonus lagi?" maki Ferdi.
"Ck, kalian tunggu saja, aku akan mengingat penghinaan ini!" Ferdi memilih mundur dan berjanji akan membalas Bimbim dan bawahannya.
"Aku sudah berhasil mengambil alih HS Group, mengapa semut-semut itu tidak tunduk padaku?" gerutu Ferdi.
Dia memukul setir sampai bunyi klakson panjang yang memekakan telinga, dia berpikir dengan mendapatkan posisi Vano semuanya akan berjalan mulus sesuai rencanya. Kenyataannya, masih banyak orang-orang yang membangkang perintahnya.
"Kalian semua, perketat penjagaan!" Bimbim menginstruksikan kepada semua pengawal, kejadian hari ini pasti akan terus berulang. Sesuai prediksi Vano sebelum kecelakaan itu terjadi.
Bagaimanapun, proyek ini sudah berhasil menarik banyak orang, tentu hasilnya akan melebihi target yang direncanakan. Semakin banyak orang yang berminat, semakin banyak pula yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Ditambah kondisi Vano yang vegetatif, pasti orang-orang itu sudah tidak sabar untuk bertindak. Ferdi salah satunya.
"Tuan, semuanya berjalan sesuai rencana." Seseorang di seberang sana melaporkan hasil kerjanya.
"Hmm ..., jangan sampai mereka mencurigaimu." Ferdi melebarkan senyumnya, meski gagal masuk ke area proyek, tetapi masih ada hal yang lebih penting. "Kita bertemu di tempat biasa," lanjutnya.
"Baik, Tuan."
Panggilan berakhir, Ferdi tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas untuknya. Musuh dari musuh adalah rekan, begitulah yang sedang Ferdi rencanakan.
Flash Back On
Lagi dan lagi, rencana yang sudah Ferdi susun dengan matang dapat digagalkan oleh Vano dengan mudah. Tidak hanya tidak berhasil, Ferdi harus menerima akibat yang lebih buruk lagi. Rekening miliknya dibekukan oleh Tuan Abimanyu, semua fasilitasnya dicabut, semua itu akibat ulah Vano.
"Ck, dasar nggak berguna!" Ferdi meninju udara, sekarang dia tidak dapat berfoya-foya dan bersenang-senang tanpa semua itu.
"Kamu memang tidak berguna," ejek seseorang yang entah datang dari mana.
"Hei, kamu siapa, beraninya mangataiku?" sungut Ferdi.
"Nggak penting siapa diriku, yang pasti kita memiliki tujuan yang sama," tutur orang itu.
Kening Ferdi berkerut, apakah tujuan yang dimaksud orang itu? Dia memperhatikan penampilan orang itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dilihat dari penampilannya saja tidak meyakinkan, dia hanya gembel yang tidak pantas bekerjasama dengannya.
"Heh, keuntungan apa yang aku dapat jika bekerjasama denganmu?" cibir Ferdi bersmrik. "Dasar gembel!"
"Hahaha ...." Tawa orang itu membuat bulu roman Ferdi berdiri, lebih baik tidak berurusan dengan orang gila sepertinya. "Bukankah kita tidak ada bedanya? Lihat dirimu sekarang, tidak memiliki apa-apa bukankah sama dengan gembel?" ejeknya.
Semua ini gara-gara kamu anak brankshake. Aku pasti tidak akan membiarkanmu hidup tenang! batin Ferdi.
"Kau boleh memutuskan setelah mendengar rencanaku. Setelah itu, terserah padamu akan setuju atau tidak," ujar orang itu meyakinkan.
"Baiklah. Kau punya lima menit."
"Jangan buru-buru, kita masih memiliki banyak waktu. Sebaiknya bicara di sana," tunjuk laki-laki berhodie hitam ke sebuah kedai kopi di seberang jalan sana.
Ferdi terpaksa mengikuti orang itu, dia juga penasaran dengan rencana yang dikatakannya. Mengapa dia bisa sepercaya diri itu? Ah, tidak penting apa rencananya, asalkan bisa membuat Vano dan keluarganya menderita itu sudah cukup baginya.
"Mau pesan apa?" tanya orang itu setelah mendapatkan tempat duduk di sudut ruangan.
"Nggak usah basa-basi, cepat katakan!" desak Ferdi, tidak ingin membuang waktu untuk hal tidak penting.
"Santai, Bro! Jangan terburu-buru, kita bicara pelan-pelan saja," ujarnya sembari mengeluarkan sebatang sigaret.
"Sudahlah! Aku nggak tertarik." Ferdi beranjak dari tempatnya, tetapi laki-laki itu kembali menahannya.
"Oke, langsung ke intinya saja."
Hello, dari tadi siapa yang muter-muter kek kipas angin?
"Kalau kau ingin membalas dendam, aku ada seseorang di dalam yang bisa kau gunakan."
"Maksudmu?" Ferdi mendaratkan tubuhnya kembali di kursi, sepertinya pembicaraan mereka sedikit menarik.
"Masa hal kecil begini aja nggak tau maksudnya," orang itu berdecak, pantas saja dia selalu dikalahkan.
"Kalau kau tidak berhasil menemukan kelemahannya, maka langsung ke target utama." Dia menghisap sigaret, sehingga asap mengepul dari mulut dan hidungnya. "Serang dia, jangan biarkan dia lolos."
Ferdi mulai tertarik, dia menautkan kedua tangannya di atas meja. "Lalu?"
"Kau pasti mengenalnya, bukan?" Orang itu memperlihatkan foto seseorang yang tidak asing bagi Ferdi. Direktur pelaksana, benar, orang iru adalah direktur pelaksana HS group.
"Dia hanya orang kecil, apa aku bisa mempercayainya?" Ferdi tampak berpikir, untuk apa dia setuju dengan orang yang baru dikenalnya? Begitu pikirnya.
"Eits, jangan meremehkan hal kecil. Justru berawal dari hal kecil akan membentuk sesuatu yang besar."
"Cepat katakan apa rencanamu?" ketus Ferdi, merasa geram karena laki-laki itu terus saja bertele-tele.
"Kau ini tidak sabaran sekali." Dia mendekat, membuat Ferdi beringsut.
"Mau apa?" Ferdi sudah bersiap, jika saja laki-laki itu akan berbalik menyerangnya.
"Sepertinya kau tidak serius."
Laki-laki itu kembali mendekat dan membisikkan sesuatu, Ferdi manggut-manggut. Dia tahu kemana arah tujuan laki-laki itu. Benar yang dia katakan, untuk merobohkan sebuah pobon besar harus merapuhkan akarnya.
"Oke. Kapan kita akan mulai?" tanya Ferdi bersemangat. Dia sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba.
"Harus ada rencana yang matang, langkah selanjutnya menjadi tugasmu, bujuk pemegang saham supaya memihak padamu."
"Caranya?"
"Kalau kau masih bertanya, lebih baik kerja sama kita batal," geram orang itu.
"Baiklah. Aku akan lakukan bagianku."
Flash Back Off
Siapakah laki-laki itu?
Bersambung ....