Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Sweet Enemy



Hai, thor hadir menyapa, nih. Terima kasih untuk kakak-kakak yang setia mengikuti tulisan halu saya. Mulai dari awal sampai di detik ini. Jangan kapok, yah. Tetap nantikan dan ikuti terus kehaluan thor ini. Terima kasih.


Sambil nunggu, saya kasih bocorannya dikit. 🥰


Stay tune.


Ini bukan cerita CEO dingin yang dipaksa menikahi wanita tak dikenal, juga bukan perjodohan karena hutang, tapi ini cerita tentang si gadis pembuat onar dan balok es dari kutub utara.


Dalam kamus hidupku, nggak ada yang boleh memaksaku untuk melakukan hal yang tidak aku suka. Namun, sekali ini saja. Aku harus menanggalkan sejenak prinsip hidupku demi seorang balita yang begitu menggemasakan. Dia adalah anugerah terindah Tuhan yang pernah diberikan dalam hidup ini.


Hai, Namaku Micelle Ashalina Syahreza, kalian cukup kenal aku Aline. Singkat, jelas, padat, dan merayap. Eh, yang pasti itulah satu-satunya warisan orang tua yang aku sukai. Bagaimana dengan harta? Jawabannya, No! Kemewahan? Big No!


Baiklah. Aku nggak mau menjelaskan lebih panjang lagi tentang siapa diriku, kalian pasti sudah mengenalku di dua cerita sebelumnya. "Ibu Untuk Tuan Muda" dan sebagian kisah tragis keluargaku "Sweetest Mistake With CEO".


Siapa bilang jadi anak sultan itu enak? Kalian pasti harus mencobanya. Aku hanya menginginkan hidup sederhana yang penuh kasih sayang, hidup biasa saja, tanpa banyak aturan yang mengikat. Dan ..., orang-orang di sekeliling yang tulus mendekatimu.


Saat ini, Tuhan sedang mengabulkan doaku. Daddy memintaku menikah dengan CCTV berjalan yang selama ini selalu mengawasiku. Laki-laki tua itu berkata semua ini demi Kay. Oh, ayolah! Aku ini sebenarnya anak kandungnya atau bukan? Kay itu masih bayi, mana ngerti dia punya Daddy sungguhan atau bohong. Sudah ada kami, apa masih belum cukup?


Ah, dia lagi. Si balok es yang berwajah aspal, datar!


Kenapa dia tidak menolak perjodohan ini? Atau, dia memiliki rencana lain pada keluargaku? Nggak, aku--Ashaline--nggak akan pernah membiarkannya mengacau hidupku, tapi sebaliknya. Dia sudah menerima perjodohan ini. Aku pasti tidak akan menyiakan kesempatan ini untuk menindasnya. Seperti motto awal hidupku "Nggak ada yang boleh memaksaku". Haha .... Akan kubuat kau menyembahku, akulah si Ratu Aline.


Jangan lupa pencet love untuk berlangganan, rate bintang lima, like di tiap bab, komen, dan vote.


Happy Reading ....


"Al, masih ada kelas, nggak?" tanya suara berat yang sudah sangat aku hafal. Dia adalah cinta pertamaku, siapa lagi kalau bukan Daddy Henry yang paling tampan seantero rumah. Hehe ....


Aku memutuskan untuk melanjutkan S2-ku di dalam negeri, selain alasan membantu Daddy di kantor, aku juga memiliki kesibukan lain yang tak kalah menyita waktu. Mau tahu?


Ya, dia. Balita lucu yang sedang aktif-aktifnya belajar berjalan. Namanya Baby Kay, nggak usah aku sebut nama panjangnya. Karena nggak akan muat diketik. Kayyyyyyyyyyyy ....


"Al, kamu masih di sana?" tanya daddy sekali lagi.


"Hmm."


Aku hanya menjawabnya dengan bergumam, tidak biasanya dia meneleponku, sebelumnya hanya mengirim pesan singkat saja sudah cukup. Apa mungkin terjadi masalah di kantor?


"Kalau kamu nggak ada kelas, pulanglah segera!"


"Kay rewel?" Aku balik bertanya.


"Bukan, dia sangat penurut hari ini."


"Terus ...." Keningku berkerut, kalau bukan masalah kantor dan Kay, hal apa yang begitu mendesak sampai memintaku pulang lebih awal?


"Makanya pulang, nanti juga tahu. Arlan sudah menunggumu." Telepon dimatikan sepihak, tanpa menjelaskan alasan yang jelas memintaku pulang lebih awal. Haish, untung aja dia adalah Daddy-ku.


Kedua bahuku terangkat bersamaan, dengan bibir berkomat-kamit, tak henti mengoceh.


Kalau dilihat dari jauh, dia lumayan juga. Ck, cuma lumayan doang, Al. Nggak usah ngadi-ngadi, deh. Kalau dari dekat dia itu kek aspal jalan tol, lurus. Bebas hambatan, mungkin.


"Ngapain berdiri di situ? Cepat naik!" pinta pemuda bertubuh tegap yang bersandar di pintu mobil. Semenjak hari itu, aku selalu diawasi. Ke setiap tempat pasti ada pengawal, baik yang mengikutiku secara langsung, maupun yang diam-diam mengintai. Ish, menyebalkan! Hidupku tak memiliki kekebasan.


Aku tahu, hal itu mereka lakukan untuk melindungiku, tapi aku juga ingin memiliki privasi. Semua teman-temanku menjauh, seolah jijik melihatku. Terlebih mereka yang bersikap segan hanya karena statusku sebagai ahli waris HS Group.


"Kamu menghalangi jalanku!" ucapku tak ramah. Bola mataku berputar, melirik ke arah lain. Berharap menemukan sosok yang aku rindukan selama satu bulan terakhir. Dia adalah kekasihku, next akan aku perkenalkan dia pada kalian semua. Ditunggu, loh! Makanya terus ikutin.


"Silakan."


Layaknya seorang putri raja, dia membukakan pintu mobil untukku. Sedikit membungkuk untuk memberi rasa hormat. Sudah berulang kali aku menegurnya, dia tidak perlu bersikap sopan dan formal padaku di luar rumah atau perusahaan. Namun, dia seolah tuli. Tak pernah mengindahkan setiap ucapanku. Kesal!


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, menabrak polisi yang tidak memiliki pekerjaan, siapa lagi kalau bukan si polisi tukang tidur? Gawaiku hampir saja terlempar jika aku tidak memegangnya dengan baik.


"Pelan-pelan, dong!" makiku.


Benar saja, dia menurunkan kecepatan mobilnya, sangat drastis. Sampai aku merasa sedang menaiki siput berjalan. Aaa ..., aku nggak tahan lagi.


"Kamu ini, bisa nyetir nggak, sih?" Mobil kembali melaju, meninggalkan bangunan bertingkat empat yang menjadi tempatku menimba ilmu. Namun dia seolah sengaja membuatku kesal, kecepatan berkendaranya hanya 40 km/jam.


Dia ini pasti sengaja ingin membuatku mati menahan emosi. Aku heran, apa yang mereka lihat dari kamu, sampai Daddy begitu percaya padamu?


Tanpa aba-aba, kecepatan kembali bertambah, signifikan. Membuatku yang tidak dalam keadaan siap mencium sandaran kursi. Terlebih sabuk pengaman yang sengaja aku tanggalkan. ****! Dia benar-benar menguji kesabaranku!


"Arlaaannn ..., kamu sengaja mau membunuhku, hah?" Suaraku meninggi. Kayak abis makan toa masjid! Terserah kalian mau ngomong apa.


Dia hanya melirik sekilas, tatapannya kembali fokus pada hamparan aspal di hadapannya. Apa maksudnya itu? Dia sedang menantangku?


Kuraih daun telingannya, aku putar sampai dia mengaduh kesakitan. Rasain!


"Al, bahaya. Aku lagi nyetir, kalau sampai nabrak orang gimana?" Dia mulai membuka mulutnya, kalimatnya cukup panjang dari biasanya. Sebelumnya, dia hanya menanggapiku dengan kalimat singkat. Hmm, iya, silakan. Katanya lulusan Oxford University, tapi belajar merangkai kalimat saja masih kesulitan.


"Stop! Biarkan aku yang nyetir."


"Nggak! Kalau ketahuan Tuan Besar, aku bisa dipecat!"


"Bagus itu, aku nggak perlu lagi diikuti CCTV berjalan sepertimu!" tegasku.


"Itu sudah menjadi tugasku."


"Tugas apa? Kau ini bisanya cuma mengadu, aku ini manusia, perlu kebebasan. Hidup itu untuk dinikmati, bukan diatur sana sini. Dasar pengatur!"


Seperti biasa, dia hanya diam saat aku mulai mengoceh. Ya, begitulah sikapnya saat menghadapiku. Lebih banyak diam dan membiarkanku berbuat seenaknya.


Kualihkan perhatianku pada banyaknya pohon di pinggir jalan yang terlihat berkejaran. Aku kembali menekuni benda pipih persegi di tanganku. Kecepatan mobil sudah di batas aman, membuatku merasa lega.