Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Kejutan



"Mama sakit?" tanya Fay dengan kening berkerut.


Saat ini di ruang tamu sudah ada Dokter Adam dan satu orang wanita cantik berjas putih, sama seperti yang dikenakan Dokter Adam. Mereka sedang berbincang dengan Mama Yuri, entah hal apa yang mereka bicarakan sehingga tidak menyadari kehadiran Fay.


"Mungkin sudah waktunya Mama check up," pikir Fay. Tunggu, bukankah baru seminggu sejak pemeriksaan terakhir? Apakah terjadi masalah dengan kesehatan sang ibu?


"Fay, kemarilah! Duduk di sini," pinta Mama Yuri, dia menepuk tempat kosong di sebelahnya.


"Mama ada keluhan?" tanya Fay sekali lagi.


"Bukan Mama, tapi kamu." Yuri mengulas senyum, hangat, lembut, dan meneduhkan.


"Aku?" Fay menunjuk dirinya sendiri, alisnya saling bertaut, hampir menyatu.


"Ya." Yuri mengangguk antusias.


"Kenapa aku?" Fay masih tidak mengerti arah pembicaraan sang ibu.


"Sayang, apa kamu nggak merasa ada yang aneh dengan dirimu akhir-akhir ini?" Yuri menjawab pertanyaan Fay dengan pertanyaan.


"Aku nggak papa, kok."


"Dokter, sebaiknya Anda yang menjelaskan padanya," pinta Yuri kepada wanita cantik yang duduk di sebelah Dokter Adam, Dokter Gina namanya.


Awalnya Fay menolak, tetapi Mama Yuri berhasil membujuknya. Dia mendampingi putrinya ke ruangan lain, sedangkan Dokter Gina mengekor di belakangnya.


"Ma, ada apa, sih?" Fay semakin penasaran, dia merasa baik-baik saja. Mengapa harus memnaggil dokter untuk memeriksanya? Terlebih dokter yang hendak memeriksanya belum pernah ditemuinya.


Yuri memang sengaja meminta Dokter Adam untuk membawa dokter wanita, demi kenyamanan bersama. Terlebih Dokter Gina sudah ahli di bidangnya.


"Kapan terakhir haid terakhir?" tanya Dokter Gina setelah melakukan pemeriksaan.


"Hah, maksud dokter?"


"Udah jawab aja," celetuh Mama Yuri.


Dokter Gina akhirnya menjelaskan tentang hasil pemeriksaan, Fay dalam kondisi baik-baik saja. Untuk itu, dia harus memastikan dugaannya.


Fay menanti dengan harap-harap cemas, dia sendiri lupa akan hal itu. Awalnya Fay hanya mengira karena kelelahan saja, sehingga tidak tepat seperti hari biasanya. Hanya saja, ia merasakan perubahan di beberapa bagian tubuhnya. Namun hal itu tetap ditampiknya, Fay beranggapan dirinya memang bahagia menjalani kehidupan bersama Vano sehingga berat badannya mengikuti.


Setelah menunggu beberapa saat, Fay membuka perlahan kelopak matanya. Dia tidak tahu harus bagaimana mengatakannya, yang pasti, sebuah kejutan yang teramat sangat berarti dalam hidupnya.


Tidak hanya satu kali, dia mengulang sampai tiga kali. Memastikan dirinya memang tidak salah lihat. Dua garis merah, sesuai petunjuk yang Dokter Gina jelaskan, hasilnya positif.


"Terima kasih, Tuhan." Fay tak mampu menahan haru, tidak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata.


Ketukan pintu mengembalikan kesadaran Fay yang tengah berkhayal. Dia segera menghapus jejak air mata di wajahnya dan segera menemui sang ibu yang menunggunya di luar.


"Bagaimana? Apa hasilnya? Apa yang ibu katakan benar? Dugaan Dokter Gina benar atau salah?" Yuri mencecar putrinya dengan pertanyaan, tetapi Fay tetap menatap ke bawah, tidak berani menatap sang ibu.


"Ma ...." lirih Fay. "Kayaknya Fay harus mengecewakan Mama," lanjutnya dengan wajah sendu.


Senyum di wajah Yuri mulai memudar, ternyata dugaannya salah. Ah, mungkin dia yang terlalu berharap, tetapi sekarang dia juga yang harus kecewa.


"Sudahlah. Mungkin belum rezeki," hibur Mama Yuri memeluk putrinya.


"Boleh saya melihat hasilnya?" pinta Dokter Gina.


"Selamat, Nyonya." Fay membalas uluran tangan Dokter Gina, wajahnya seketika berbinar.


"Eh, kenapa malah selamat?" potong Mama Yuri.


"Selamat juga, Anda akan menjadi seorang nenek." Dokter Gina beralih menyalami Mama Yuri, membuatnya kembali mencerna perkataan sang dokter.


"Maksud dokter?"


"Ya, putri ibu sedang mengandung dan untuk memastikan usia kehamilan, sebaiknya kita lanjutkan pemeriksaan di rumah sakit," terang Dokter Gina seraya menunjukkan alat penguji kehamilan dengan hasil yang sama.


Sama seperti Fay sebelumnya, dia tidak dapat mengungkapkan kebahagiaannya. Namun semua orang tahu bahwa wanita itu sedang dalam suasana hati yang baik. Wajahnya terus berseri semangat untuk hidup akan semakin bertambah. Dia harus bertahan dan bertemu calon cucunya kelak.


"Kita ke rumah sakit sekarang?" desak Mama Yufi dia tidak sabar melihat perkembangan calon janin di rahim putrinya.


"Tunggu suamiku pulang, Ma."


"Baiklah."


Mama Yuri harus menghargai keputusan Fay, bagaimanapun juga, Vano adalah ayah dari bayi tersebut. Wajar saja jika Fay ingin memberitahunya secara langsung saat dia pulang nanti.


Dokter Adam juga sudah selesai berkonsultasi dengan Yuri, keduanya pamit dan kembali ke rumah sakit nanti, setelah Vano kembali.


"Bagaimana caranya memberi kejutan untuknya, ya?" gumam Fay manggut-manggut. Dia harus memikirkan cara unik untuk memberitahu sang suami. Pasti dia juga akan sangat bahagia mendengar berita baik ini.


Fay meraih ponselnya, terdapat beberapa panggilan dan pesan dari orang yang sama, yaitu Vano. Tiba-tiba terlitas, Fay memiliki ide untuk memberitahu Vano. Dia akan mengabaikan pesan dan panggilan dari Vano, dengan begitu dia akan mengira dirinya masih marah. Saat itulah Fay kaan memberitahu berita tersebut.


Sore harinya, Fay merasa cemas, dia memikirkan Vano yang tidak juga pulang atau pun memberinya kabar. Kejutannya sudah dipersiapkan dengan baik, berharap Vano akan menyukai kejutan yang sudah dia persiapkan.


"Angkat nggak, ya." Fay hanya melihat sekilas benda pipihnya menyala, tetapi dia masih membiarkannya hingga panggilan berakhir. Begitu sampai beberapa kali. "Maaf, ya. Aku harus mengabaikanmu sebentar," ucap Fay dalam hati.


Mentari sudah mulai lelah, sinarnya mulai redup dan berganti gelapnya malam. Namun, seseorang yang ditunggunya tidak kunjung menampakkan diri. "Kemana dia pergi, sih? Jangan bilang dia menginap lagi!" Fay menghentak kaki, tetapi sesaat kemudian dia berlari ke arah balkon.


Deru mesin mobil terparkir di halam luas mansion mewah tersebut. Fay sudah bersiap menyambut sang suami.


"Non, tolong buka pintunya. Ada Tuan Arlan, beliau bilang ingin mengatakan sesuatu yang penting." Mbak Rum kembali mengetuk pintu kamar majikannya.


"Mbak Rum? Dia bilang Arlan, lalu di mana Laki-laki menyebalkan itu bersembunyi?" Fay berdecak, mengira sang suami sedang mempermainkannya.


"Ada apa?" ketus Fay pada sekretaris pribadi suaminya.


"Anda harus ikut saya ke rumah sakit. Sekarang juga," tegas Arlan.


"Hari ini kenapa, sih? Semua orang menginginkan aku pergi ke rumah sakit?" Fay mencebik, untk pa Arlan membujuknya? Apakah dia sudah mengetahui tentang kejutannya? Pikir Fay.


"Tuan mengalami kecelakaan, saat ini sedang di tangani di Rumah Sakit XYZ."


Fay mengulum saliva yang terasa pahit, dia pasto salah dengar, Vano hanya ingin mengerjainya saja.


"Bohong!" Mulut Fay mulai bergetar.


"Benar, saya tidak pernah bicara omong kosong."


Bersambung ...