
"Nggak usah ngadi-ngadi, deh. Kamu pikir aku mau pakai baju kayak gini?" Fay mengira di rumah ini tidak ada orang lain selain mereka, villa terlihat sepi dan tidak ada jejak manusia.
"Terus kenapa nggak ganti?"
"Ganti pakai apa? Bukankah semua pakaian yang ada di sini bentuknya sama? Aku juga nggak nyaman pakai baju seperti ini, lebih baik nggak sekalian?"
Benar juga, di villa yang jarang ditempati ini hanya ada beberapa potong pakaian Vano yang sengaja ditinggalkan. Tidak ada wanita yang pernah menginap di villa pribadinya itu, jadi wajar bila tidak ada peralatan wanita di sana.
"Eh ...." Fay mengutuki kebodohannya. "Aduh, kenapa kesleo segala ini lidah?" gumamnya dengan tangan membekap mulut.
"Ya, itu lebih baik. Dengan senang hati, saya nantikan hal itu."
"Jangan harap!" Fay melempar bantal dan guling, tetapi laki-laki itu berhasil menghindar. Bukannya marah dia justru terkekeh. Hal itu membuat Fay terheran-heran, ternyata dia bisa juga tertawa seperti orang normal.
"Tidak ada salahnya berharap, lagian juga saya sudah melihat semuanya tadi malam. Di sini hanya ada kita berdua, jadi kamu tidak perlu menutupinya," ucap Vano santai.
Kedua tangan Fay ingin sekali mencakar wajah Vano yang menyebalkan, terutama mulutnya itu.
"Mama kamu ngidam cabe satu ton, ya? Kalau ngomong itu pedes banget," cibir Fay.
Wajah Vano yang menyebalkan tiba-tiba saja berubah. Lagit cerah tiba-tiba mendung. Vano menatap Fay tajam, seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Kamu lebih baik diam, tidak usah kemana-mana."
Blam!
Pintu ditutup dengan paksa, menimbulkan suara berdebam yang sangat kencang. Fay sampai mengusap dada karena ulah Vano.
"Dasar orang aneh, sebentar bilang ini, terus ganti itu. Aaaa ..., bisa gila lama-lama aku ini kalau terus berdekatan dengannya." Fay tak henti mengomel, membuat kebisingan di pagi hari.
Namun, teringat wajah Vano yang mengerikan membuatnya bergidik ngeri, tapi dia tidak ingin mempermasalahkan hal itu.
Suara nyanyian cacing di perut membuatnya terusik, tapi dengan keadaannya yang sekarang Fay malas keluar dari kamar. "Ini semua karena pria menyebalkan itu, siapa juga yang memintamu melucuti pakaianku?"
Fay sendiri merasa tidak nyaman, dia memutuskan untuk membersihkan diri. Namun dia lupa, di tempat ini bagaimana dia bisa menemukan roti tawar bersayap untuknya? Ah, cobaan apalagi ini? Tidak mungkin juga dia tidak memakai benda itu.
"Berpikir, Fay. Cepat berpikir."
Ponsel tidak ada, uang apalagi. Selain itu, jarak villa yang ditempatinya cukup jauh dengan bangunan yang lain. Apalagi untuk menemukan mini market atau toko serba ada. Sungguh kesialan yang bertubi-tubi.
"Aku nggak punya uang, bukan berarti nggak ada jalan. Aku bisa manfaatin laki-laki menyebalkan itu." Fay menjentikkan jari, sebuah ide brilian tercetus. Mengapa dia tidak memanfaatkan Vano? Bukan hal yang sulit baginya untuk mendapatkan benda yang dibutuhkannya, meski di hutan belantara sekali pun. Hahaha ....
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Vano datang bersamaan dengan dirinya keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan piyama mandi dan satu kain berbulu yang dililitkan di atas kepala.
"Tuan, kebetulan Anda di sini," ucap Fay to the point.
"Tidak usah basa-basi, cepat pakai pakaianmu. Saya tunggu di bawah."
Vano melemparkan papper bag berisi satu set pakaian wanita, lengkap. Sampai yang paling privasi sekali pun. Dan semuanya pas sesuai ukuran yang biasa Fay kenakan.
"Emm, kalau boleh saya minta sesuatu ...." Fay menundukkan padangam dia tidak tahu harus bagaimana mengatakannya.
"Minta apa? Cepat katakan!" desak Vano sudah tidak sabar.
"Pinjam ponsel," lirih Fay.
"Kamu bicara apa kumur-kumur? Saya tidak bisa mendengarnya," cibir Vano.
"Pinjam ponsel."
Kening Vano berkerut, untuk apa Fay meminta ponselnya? Jangan-jangan dia mau memeriksa isi ponselnya, pinjam hanya sebuah alasan.
Kenapa aku terlihat seperti tersangka yang ketahuan mencuri?
"Ini?" Vano menunjukkan benda pipih persegi panjang yang tengah digenggamnya. Fay mengangguk cepat, benar benda itu yang dia inginkan.
"Ish, banyak tanya, boleh nggak?"
"Jawab dulu pertanyaanku."
"Nyari warung."
"Hah?" Vano terbelalak tak percaya, wanita itu pasti bercanda. Di tengah perkebunan teh seperti ini mana ada warung? "Kamu nggak usah bercanda, deh."
"Ish, ya udah kalau nggak boleh."
"Kamu berniat kabur? Atau mau meminta bantuan orang lain?" tanya Vano dengan penuh selidik.
"Nggak, aku cuma mau pinjam akun rekber punyamu." Sungguh, Fay tidak memikirkan untuk kabur dari sana. Dia hanya berpikir bagaiamana dengan keadaannya saat ini.
Vano melempar benda pipih tersebut, dengan sigap Fay menangkapnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman.
"Apalagi?" tanya Vano. Kesal, karena Fay masih diam dan memandang benda tersebut dan dirinya bergantian.
"Sandinya apa?" Ponsel kembali berpindah tangan, layar utama tidak ada apa pun, kosong, dengan background berwarna putih polos.
"Sudah."
Fay menjelajah, dia juga penasaran dengan file yang tersimpan di dalamnya. Berulang kalu dia men-scroll, tetapi tidak juga menemukan sesuatu yang dicarinya. Ponsel ini mirip bawaan pabrik, hanya fitur bawaan.
"Kok bisa nggak ada?"
"Memangnya kamu berharap menemukan apa?" ketus Vano. "Kamu sebenarnya mau apa?"
"Roti tawar," ucap Fay pelan.
"Di dapur ada."
"Bukan, bukan roti yang itu, tapi ...."
"Tapi apa?"
"Aku butuh roti tawar bersayap yang khusus untuk wanita, dia dibutuhkan setiap bulan oleh wanita dewasa. Kamu harus mendapatkannya untukku, terserah dengan cara apa pun. Kamu harus menemukannya dan membawakan untukku, secepatnya, " ucap Fay dalam sekali tarikan napas. Dia membuang ponsel Vano, meraih paper bag yang diberikan Vano dan kembali ke kamar mandi.
"Dasar wanita, nggak jelas!"
Vano menuju ke dapur, di sana dia bertemu dengan penjaga villa yang baru saja datang. Tidak hanya itu, dia datang bersama istrinya. Vano segera memanggil mereka berdua dan bertanya tentang pesanan Fay.
"Kamu tahu roti apa yang biasa di makan wanita? Dia bilang roti itu bersayap, kalian tahu dimana bisa mendapatkannya?" tanya Vano dengan wajah polos.
Pasangan suami istri itu saling menatap satu sama lain dan menggeleng bersamaan.
"Memangnya ada roti yang seperti itu, Tuan?" tanya istri penjaga villa.
"Kamu wanita, kan? Harusnya saya yang tanya sama kamu."
"Saya baru mendengarnya ada roti seperti itu."
Vano menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, mengapa wanita begitu ribet dan membingungkan? Mengapa juga harus berbelit-belit, dan tidak mengatakan yang sebenarnya dia inginkan?
"Dia bilang roti itu hanya untuk wanita dewasa setiap bulannya."
"Apa, Bu? Kamu tahu nggak?" Penjaga villa itu ikut bertanya pada sang istri yang terlihat sedang berpikir keras. Mereka seperti sedang bermain sebuah teka-teki.
"Oh, roti yang itu?"
"Saya ada stok di rumah, saya akan membawanya kemari."
Bersambung ....