Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Pemenang Lelang



"Tuan, ini sudah tanah ke empat, apakah kita membiarkannya di rebut oleh orang lain?" ucap sekretaris Riko mengingatkan. Sejak awal, dia sama sekali berniat untuk menawar tanah tersebut dan membiarkannya di dapatkan oleh orang asing yang duduk di ruang VVIP.


"Sudahlah, untuk apa buang-buang uang? Hanya lahan kosong tidak berharga. Lebih baik kita simpan uang ini untuk mendapatkan lahan utama," tuturnya dengan penuh percaya diri.


"Jangan sampai kita pulang dengan tangan kosong, Tuan."


"Kamu ini banyak bicara, saya bos di sini. Kau lihat orang yang mengaku kaya itu hanya mampu membeli lahan kecil di sekitar lahan utama lelang ini," ejek Riko.


Menurutnya, tanah kecil itu tidak ada harganya sama sekali. Tidak sebanding dengan Blok C yang memiliki luas tiga kali lipat dan berada di tengah. Di kelilingi lahan kecil yang sudah terjual sebelumnya.


Sama seperti yang lain, Riko mengincar lahan terluas yang menurutnya akan menjadi pusat keramaian. Selain itu, masih ada pertimbangan lain yang dipikirkan sebagian orang-orang tersebut.


Akhirnya waktu yang dinantikan tiba, dua Blok terakhir yang belum terjual. Blok E dan Blok C, semua peserta lelang merasa heran, mengapa Blok E menjadi barang lelang paling berharga kedua.


"Galih, lo harus menangin kedua lelang ini," ucap Bryan pada lelaki muda yang duduk di sebelahnya.


"Kalau tidak berhasil?"


"Kau juga tidak perlu menjadi sekretarisku lagi!" seru Bryan dengan rahang mengeras. Apa susahnya mengangkat tangan dan menawar harga tertinggi? Begitu pikir Bryan.


Galih memilih diam, tetapi dia tahu rencana Bryan untuk barang lelang hari ini. Dan tanah lelang tertinggi kedua adalah Blok C. Pertarungan sengit kembali terjadi, semua peserta berebut untuk mendapatkan lahan tersebut.


Sekarang Bryan tahu, Blok E memiliki tempat yang tidak kalah strategis, meski luasnya lebih kecil dibandingkan dengan Blok C. Namun lahan tersebut ada di depan pusat kota, tidak heran lahan tersebut menjadi rebutan.


"Lan, buat mereka menawarkan harga tertinggi. Buat semua uang mereka habis dalam lelang hari ini," bisik Vano pada Arlan yang duduk di sebelahnya.


"Baik."


"Tawar dengan harga tertinggi, setelah itu berikan padanya."


Peraturan lelang hari ini adalah, harga terakhir dari lelang sebelumnya akan menjadi harga pembuka barang lelang selanjutnya, begitu seterusnya. Vano sudah mendapatkan dua bidang tanah yang tepat bersebelahan dengan Blok E. Diantaranya ada Blok F dan Blok B.


"$100.000," Riko mengangkat tangan untuk pertama kalinya, dia tidak boleh terlambat lagi.


"Ada yang lebih tinggi?" tanya MC yang berdiri di ataa panggung.


"Ya, silakan nomor 8."


"$150.000," tawar Galih tidak ingin kalah.


Semuanya mengeluarkan harga terbaik, sampai akhirnya Arlan harus bertindak. Baik Galih maupun Arlan tidak ada yang berani mengeluarkan uang lebih dari $100.000.000. Arlan memberi isyarat lewat lirikan matanya. Dia berhasil memancing dengan harga tertinggi.


"Seratus juta satu kali," ucap MC diikuti ketukan palu satu kali.


"Dua ratus juta dua kali ....." Dia melakukan hal yang sama diikuti dua ketukan palu.


Bryan sendiri merasa heran, mengapa Vano tidak lagi menawarnya. Hingga ketukan ketiga, dia baru menyadari kesalahannya. Rupanya Vano sengaja ingin dia mengeluarkan uang seratus juta dolar. Itu artinya, perusahaan mereka tidak akan mampu lagi untuk mendapatkan urutan pertama dari lelang hari ini.


Vano menyeringai penuh kemenangan, dia bisa mendapatkan lahan Blok E tanpa banyak orang yang ingin berebut dengannya. Dia mendapat keuntungan ganda, tiga lahan menjadi miliknya.


Ketukan palu tiga kali, Vano adalah pemenangnya. "Selamat, tamu terhormat yang di atas sana."


Tepukan meriah dari seluruh peserta lelang, tidak dengan Riko yang meninggalkan tempat itu lebih awal dengan wajah kesal. Bukan hanya menjatuhkan Riko, dia juga kalah dari kesepakatannya bersama Vano.


Rencananya Vano akan membangun kereta api bawah tanah di Blok E, di sekitarnya dia bisa membuat hotel dan juga mall. Tidak hanya itu, stasiun tersebut merupakan jalur utama, dimana semua pemilik tanah lain harus melewati Blok E jika ingin keluar masuk tempat itu.


***


Di rumah sakit, Henry dan Adel datang mengunjungi Ibu Yuri. Mereka memperkenalkan diri secara langsung sebagai besan, juga meminta maaf marena acara pernikahan terkesan mendadak dan tidak melalui proses pada umumya.


"Kita ini sekarang keluarga, tidak perlu membahas hal itu lagi," ucap Yuri dengan sopan.


Henry bukanlah orang yang bodoh, dia sudah menyelidiki kejadian yang terjadi pada putra sulungnya dan Fay. Dia sangat menyayangkan karena baru tahu setelah keduanya resmi menikah.


"Tetap saja kami perlu meminta maaf." Adel menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyuman. Dia sangat bersyukur Vano bisa berjumpa dengan Fay dan bukan wanita lain.


Telepon genggam Henry bergetar, dia memeriksa nama yang tertera di layar dan meminta izin untuk menerima telepon di luar. "Sayang, tunggu aku sebentar. Kalian lanjutkan saja mengobrol," pamitnya.


Adel menganggukan kepala diiringi senyuman di wajahnya. Wanita yang mulai di tumbuhi guratan halus itu masih terlihat cantik, meski sudah memasuki usia kepala lima.


"Aku sudah mendengar tentang keluargamu, Ike. Aku tidak menyangka bahwa Riko akan melakukan hal itu," ujar Adel, sekarang hanya ada mereka berdua, tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Adel juga memanggil wanita itu dengan nama yang akrab sewaktu muda. Ike, yang merupakan nama lengkap Yurike. Wanita berdarah campuran Jepang dan Indonesia.


"Di sini akulah yang bodoh, sehingga membuat putriku menderita dan menanggung kesalahan yang kuperbuat," terang Yuri dengan wajah sendu. "Kau sangat beruntung bisa menikah dengan Henry, Adel."


"Ya, seperti yang kamu lihat. Dia selalu menjadi pendukung setiaku. Kamu juga tidak perlu risau, jika perlu apa pun katakan padaku. Jangan sungkan, seperti katamu, kita ini keluarga!"


Keduanya asyik mengobrol, Henry sengaja membiarkan kedua wanita itu meluapkan rasa rindunya. Yurike adalah rekan seperjuangan Adel sewaktu kuliah. Setelah menikah, Adel tidak pernah lagi berjumpa atau mendengar kabar Yuri.


Saatnya makan siang, Suster Ningsih membawa makan siang Ibu Yuri sebelum meminum obat. Sore ini dia juga ada jadwal check up dokter untuk melihat perkembangan pasca operasi.


"Kita makan siang bersama?" ajak Yuri.


"Tidak, aku masih belum lapar. Kamu makanlah dan jangan pedulikan aku."


"Nanti saja," tolak Yuri.


"Aku akan menyuapimu, kamu ingat saat kuliah dulu? Kamu yang selalu mengingatkanku makan, juga membawakan bekal untukku, terkadang kamu menyuapiku jika tugasku menumpuk," bujuk Adel. Dia teringat masa lalunya dengan Yuri di kampus.


Dengan bujukan Adel, akhirnya Yuri bersedia menikmati makan siangnya. Namun, baru beberapa suap Yuri sudah tidak mau lagi menerima suapan Adel untuknya. Yuri terbatuk, tidak hanya itu, ada noda merah pada tisu yang digunakan untuk mengelap mulutnya.


"Cukup, Adel. Uhukkk ..., uhukkk...."


Adel sangat panik, terlebih Yuri semakin kehilangan kesadarannya. Dia berteriak minta tolong, Henry yang sedang mengobrol di lorong bersama Dokter Adam segera berlari dan mendapati Adel sedang menangis ketakutan dengan tangan berdarah.


"Dokter, suster ..., tolong!"


"Apa yang terjadi?" tanya Dokter Adam, tetapi Adel hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Baiklah, tolong tunggu di luar. Kami akan menanganinya," ucap Dokter Adam kepada sepasang suami istri yang tidak kalah panik.


"Biarkan dokter bertindak, Sayang." Henry memapah istrinya ke luar ruangan.


"Dad, aku takut."


Apa yang terjadi pada Yuri? Akankah nyawanya bisa diselamatkan?


Bersambung ....