Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Mengantar Dokumen



Wajah Vano memerah saat teringat kejadian di villa, dia sangat malu sekaligus marah karena Fay sudah mengerjainya habis-habisan. Seharusnya dia membiarkan saja wanita itu mencarinya sendiri, kalau tahu hal itu akan sangat memalukan baginya. Harga dirinya seperti diinjak-injak hanya demi menuruti keinginan Fay.


Tepukan di bahu Vano menyadarkan kembali kesadarannya yang tengah berkelana. Dia melihat sekeliling, yang benar saja, sekarang dia berada di ruang meeting untuk membahas rencana proyek pembangunan di lahan yang didapatkan di acara lelang.


"Bagaimana?" tanya Arlan setengah berbisik.


Vano memijat pangkal hidungnya, dia tidak mendengarkan penjekasan dari perwakilan perusahaan yang akan bekerjasama. Dia menatap Arlan cukup lama, sebelum dia menyetujui atau tidaknya proposal itu.


"Menurutmu?" Bukan menjawab, Vano justru bertanya pada sekretarisnya itu.


Dia pasti sudah tidak waras, raganya di sini, tapi jiwanya berkelana.


"Ada beberapa yang masih perlu direvisi, kita akan bahas di pertemuan selanjutnya," ucap Arlan tegas.


"Baiklah. Hari ini cukup sampai di sini, pertemuan selanjutnya kalian bisa bertanya pada sekretaris saya." Vano meninggalkan meeting room dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Andaikan ada adegan slow motion, dia sudah mirip model laki-laki yang melenggak-lenggok di atas karpet merah.


Setelan jas mahal berwarna hitam dipadukan dengan kemeja merah dan dasi hitam bergaris. Rambut ditata rapi, belahan pinggir dan tersisir ke sebelah kanan. Membuat banyak pasang mata tak mau berkedip menatapnya.


"Tuan, ada tamu yang menunggu Anda," ucap wanita yang duduk di meja depan ruangannya. Dia adalah Keke--sekretaris pengganti yang baru bekerja satu minggu ini. Menggantikan sekretaris sebelumnya.


"Di mana dia sekarang?"


"Di ruang tunggu, saya memintanya mengunggu Anda di sana," sahut Keke dengan nada dibuat sehalus mungkin. Kemayu.


"Apa kamu bilang? Kenapa tidak memintanya menunggu di ruanganku?" ucap Vano dengan suara meninggi.


Sebenarnya siapa wanita itu? Dia hanya wanita jelek yang ingin menggoda Tuan Presdir.


"Ma-maaf, Tuan ...."


"Sudahlah, saya akan menemuinya, kalau dia datang biarkan dia masuk ke ruanganku."


Wajah Vano berseri, dia sangat bersemangat, akhirnya akan segera bertemu Fay. Wanita yang akhir-akhir ini mengusiknya.


"Kenapa menunggu di sini? Nggak langsung ke ruanganku?" tanya Vano kepada wanita itu. Dia duduk membelakangi pintu, dari belakang postur tubuhnya sangat mirip dengan Fay. Dia sendiri yang memintanya datang untuk mengantar dokumen yang tertinggal.


"Aku takut kamu tidak mengizinkannya," sahut wanita itu.


Langkah Vano terhenti, suara yang familiar di indera pendengaran. Tubuh Vano menegang, siapa pemilik suara ini, apakah benar orang itu? Orang yang sudah lama pergi dari hidupnya.Tidak, pasti bukan orang itu yang kini berdiri di hadapannya.


Dia masih mematung di tempatnya, terlebih saat wanita itu menampilkan wajahnya, tersenyum hangat menyambut kedatangan Vano. Senyum yang dulu sangat dirindukan juga memuakkan.


"Kita bertemu lagi, El. Kau pasti kaget dengan kedatanganku, bukan? Aku kangen kamu," rengek wanita itu.


Laki-laki itu melangkah mundur, bukankah seharusnya dia senang bisa melihat wanita yang telah lama dicarinya? Mengapa reaksinya lain? Hati dan tubuhnya tidak berjalan satu arah. Hatinya masih sedikit berharap, tetapi tubuhnya tidak menginginkannya.


"Stop! Diam di sana," Vano mengangkat tangnnya, memberi isyarat untuknya berhenti. Namun wanita itu mengabaikan peringatan Vano.


"Ayolah. Aku tahu kamu juga masih merindukanku," ucap wanita itu dengan penuh percaya diri.


"Cukup, aku bilang berhenti, Sa." Vano tidak membiarkan wanita itu mendekat, dia terus berjalan mundur, hampir saja menabrak pintu yang dibuka dari luar.


"Aku tahu kamu tidak bisa melupakanku, El. Aku juga sama, aku nyesal karena menyia-nyiakan lelaki sebaik dirimu. Kita mulai dari awal lagi, ya." Wanita itu terus berbicara tanpa peduli Vano yang semakin muak mendengarnya.


"Kamu pergi! Aku bukan siapa-siapamu lagi. Hubungan kita sudah lama berakhir," sentak Vano.


"Oke, aku minta maaf. Semua itu memang salahku, tapi sekarang aku sadar kalau aku nggak bisa lupain kamu."


Brak!


Fay membanting pintu dengan kasar, dia sudah mendengar semua percakapan mereka berdua. Kedatangannya bersamaan dengan Vano memasuki ruangan, tetapi langkahnya tertahan saat dia mengetahui ada orang lain di dalam sana. Fay ingin tahu, siapa orang itu.


Kamu sudah menikah, tetapi masih menggoda wanita lain. Lihat saja apa yang bisa kulakukan. Kalian berdua meremehkan aku--Fadila Atsya Yuuna? Akan aku tunjukkan siapa wanita yang kalian hadapi ini.


"Sayang, siapa wanita ini?" ucap Fay dengan wajah sendu. Dokumen di tangannya terjatuh begitu saja.


Haha ... Aku akan menghancurkan hubungan kalian. Biar tahu rasa kamu laki-laki brankshake dan wanita ular.


"Kamu dari mana aja? Aku menunggumu sejak lama," ucap Vano lembut.


Seketika raut wajahnya berubah dalam hitungan detik. Vano mengira Fay cemburu dan tidak rela melihatnya bersama wanita lain. Dia mengikuti Fay bersandiwara.


"Lepas!" Fay menepis tangan Vano yang hendak meraih pinggangnya.


Dia pasti sengaja memanfaatkan momen ini untuk melecehkanku. Awas saja, akan aku buat hubungan kalian berantakan. Hahaha ...


"Jangan marah, dong! Dia itu bukan siapa-siapaku," bujuk Vano.


Wanita itu membulatkan matanya lebar-lebar, siapa sebenarnya wanita yang baru datang itu? Mengapa Vano memperlakukannya dengan lembut. Hanya dengan sekilas dia tahu wanita itu memiliki tempat di hati Vano. Tidak mungkin Vano yang bucin akut bisa melupakannya begitu saja.


"Hei, kamu wanita murahan. Perkenalkan, aku Salsa, calon istri pria ini."


"Apa kamu bilang? Calon istri?" Fay pura-pura terkejut, dia menutup mulutnya seolah tidak percaya.


"Iya, sekarang lebih baik kamu mundur aja. Jalan untukmu sudah tertutup, nggak akan ada tempat untuk wanita sepertimu di sisinya," ejek Salsa dengan tatapan meremehkan.


"Benarkah? Dia calon istrimu?" tanya Fay pelan, dia terlihat sangat menyedihkan, mulutnya mengerucut dengan tatapan nanar yang dibuat-buat.


Rasain kamu, aku pasti tidak akan memberi kesempatan untuk wanita lain mendapatkan Melviano, batin Salsa.


"Nggak, itu semua bohong!" elak Vano. Kedua tangannya mengibas di depan dada.


"Jadi ini tujuan kamu memintaku datang? Untuk menyaksikan perselingkuhanmu dengan wanita lain?" Fay memukuli dada bidang Vano dengan kuat.


"Sialan wanita ini ingin membunuhku, ya? Memukuliku dengan kekuatan super women." ucap Vano dalam hati.


"Apa, perselingkuhan? Maksud kamu?"


"Ya, aku istrinya. Kamu mau apa, hah?" Sudut bibir Fay tertarik, membentuk seringai. "Kamu bilang calon istrinya, kan? Kalau begitu perkenalkan, saya Fay--istri sah Tuan Melviano Ansell Syahreza dan satu-satunya." Tangannya terulur untuk memperkenalkan diri.


"Kamu pasti bohong. Dia pasti cuma bersandiwara untuk mengejutkan aku, kan? Aku tahu kamu masih cinta sama aku, El. Kamu nggak mungkin nikah sama wanita lain." Salsa masih belum percaya pada kenyataan yang baru saja terlontar dari mulut Fay.


"Dia memang istriku," ujar Vano. Dia mengikis jarak dengan Fay, memeluk istrinya mesra.


Siapa sebenarnya Salsa bagi Vano? Mengapa dia terdengar sangat akrab dengan memanggil Vano dengan panggilan masa kecilnya?


Bersambung ....