
Ferdi tengah menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih gading, kepalanya bersandar pada kedua tangan yang dilipat di sandaran kursi. Aroma cairan hitam pekat dengan asap yang masih mengepul. Ah, nikmat sekali menjalani hidup seperti ini.
Dua bulan sudah dia menduduki kursi kebesaran yang selama ini diperebutkan. Tidak buruk, dia hanya duduk dan menunggu. Semua urusan sudah ada yang menyelesaikannya, tidak sesibuk yang dia bayangkan tentunya. Mudah, bukan?
Terlebih Vano sudah diterbangkan ke Negeri Paman Sam untuk menjalani pengobatan lebih lanjut. Sejak dinyatakan koma, keponakannya itu sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar. Bahkan kesempatan hidupnya semakin menipis, tetapi Ferdi tidak peduli akan hal itu.
Tok tok tok
Ketukan pintu membuat Ferdi berdecak, "siapa yang berani mengganggu waktuku?" gerutunya.
"Tuan, ini adalah dokumen yang memerlukan tanda tangan Anda. Silakan diperiksa terlebih dahulu," ucap sang sekretaris mengingatkan.
"Bawa masuk, taruh saja di sini." Ferdi menggeser cangkir yang tersisa setengah isinya.
"Kalau begitu saya harus kembali, masih ada pekerjaan lain," pamit wanita bertubuh tinggi semampai tersebut.
"Eits, kenapa harus buru-buru? Temani aku sebentar," cegah Ferdi. Dia mencekal lengan sekretaris tersebut, tanpa permisi mengusapnya.
"Maaf, Tuan. Pekerjaan saya masih banyak." Wanita itu menepis tangan Ferdi yang mulai tidak terkondisikan. Sangat berbeda dengan Vano, laki-laki ini adalah komodo berdarah dingin.
"Berani membantah? Aku bosnya di sini, semua yang keluar dari mulutku adalah perintah."
"Sekali lagi saya tegaskan, silakan cari orang lain!"
"Kamu nggak takut dipecat?"
"Saya ...." Keke bungkam, dia tidak boleh keluar dari pekerjaan secepat ini. Masih ada seorang adik yang terbaring di rumah sakit menunggunya.
Kamu nggak bisa mengelak, Ke. Apalah artinya dirimu jika hidup tanpanya.
Keke menggigit bibir bawahnya. Kalau ada pilihan lain, dia pasti tidak akan bertahan di HS Group. Gaji yang diterima tidak sebanding resikonya, tetapi dia sudah bertekad untuk mengambil resiko tersebut.
"Menurutlah! Aku akan lembut," rayu Ferdi. Tangannya mengusap bagian belakang Keke.
Wanita itu hanya mampu menahan agar air matanya tidak lolos begitu saja. Gemuruh di dada membuat paru-parunya terasa mengecil, sesak. Urat syarafnya menegang saat tangan nakal itu semakin intens.
Ketukan pintu tidak mampu mengurungkan niat Ferdi, dia sudah lama mengincar Keke. Saat ini adalah kesempatan yang baik, tidak mungkin baginya menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Siapa, sih? Ganggu orang aja!" seru Ferdi denga wajah kesal. Belum juga memulai, tetapi sudah ada yang mengusik kesenangannya.
"Biarkan saya membukanya, Tuan." Keke beringsut, dia harus kabur secepatnya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi?" Ferdi memicing matanya.
"Maaf atas ketidaksopanan saya, Tuan. Ada hal penting yang harus saya sampaikan." Orang tersebut menerobos masuk ke ruangan CEO. Hal yang akan dia laporkan sangat penting dan genting.
Tuhan, terima kasih masih memberiku kesempatan. Aku harus pergi sebelum terlambat.
"Kau sudah bosan bekerja, hah?" murka Ferdi. Dia melemparkan vas bunga, beruntung orang tersebut berhasil mengelak, alhasil vas yang terbuat dari bahan keramik itu hancur berkeping-keping.
Keke memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi, tidak ingin Ferdi kembali berbuat hal tidak senonoh lagi padanya. Bukan hanya sekali, tetapi dewi keberuntungan masih berpihak padanya. Dia berhasil melarikan diri sama seperti sebelumnya.
"Ampun, Tuan. Sebelum Anda memecat saya, sebaiknya dengarkan baik-baik perkataan saya," ujar orang itu memohon.
"Kau sedang mengajariku?" Ferdi mendengkus, tidak suka dengan sikap orang tersebut.
"Tidak, Tuan. Saya tidak berani."
"Siapa yang mengirimmu?" Ferdi mengapit wajah laki-laki itu dengan jari tangannya. Beraninya seorang pengawal mengganggu kesenangannya.
"Saya ..., tidak ..., sebenarnya ada hal penting yang ...." Suara pengawal itu bergetar karena ketakutan. Semua informasi yang hendak dia beritahukan mendadak hilang dari memory-nya.
"Hal penting apa? Cepat katakan!" sentak Ferdi.
"Biar saya yang mengatakannya." Laki-laki itu berjalan mendekat.
"Kau, siapa yang menyuruhmu datang?"
Ferdi semakin murka saat melihat laki-laki yabg baru saja datang.
Siapakah orang itu?
Bersambung ...