
"Mari ikut saya untuk membuktikannya." Suara dingin dan tegas khas seorang Arlan.
"Nggak mungkin, tadi sore dia masih sempat menghubungiku, pasti dia menyuruhmu untuk berbohong padaku. Jawab aku!" Fay memaki Arlan, mengira Arlan sedang mempermainkannya.
"Kita harus memastikan sendiri, hal itu benar atau tidak." Mama Yuri mendekap putrinya yang terkulai dengan tatapan kosong. Butiran kristal bening terus menderas, membanjiri wajah pucat sang putri.
Fay sangat shock, lidahnya terasa kelu untuk kembali berbicara. Hanya air mata yang mewakili semua perasaannya saat ini. Baru saja menerima kabar bahagia beberapa jam yang lalu, sekarang dia harus terhempas dengan kenyataan memilukan yang menimpa sang suami.
Arlan sudah memprediksi hal ini akan terjadi, untuk itulah dia sengaja datang sendiri memberitahu Fay. Di rumah sakit sudah ada Papa Arga yang menemani Vano di rumah sakit. Semua keluarga sudah diberitahu perihal kecelakaan yang dialami Vano.
Ternyata benar firasat Arlan untuk mengirimkan pengawal mengikuti Vano, tetapi dia sungguh terlambat dan tidak cekatan. Seharusnya dia tidak membiarkan Vano mengendarai mobil tersebut jika tahu hal ini akan terjadi.
"Fay, bangun, Sayang!" teriak Yuri histeris. Fay terkulai dengan mata terpejam dalam dekapannya.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Nyonya." Arlan dengan sigap menggendong Fay ke dalam mobil dan bergegas ke rumah sakit.
"Paman Bejo, bergegaslah!" perintahnya pada orang kepercayaan Henry, dia adalah orang yang sudah mengabdikan hampir separuh hidupnya di keluarga Syahreza. Bahkan sebelum dia terlahir ke dunia ini. Usianya sudah menginjak kepala lima, tetapi masih terlihat gagah.
Bukan saatnya Arlan menyalahkan dirinya sendiri, sekarang ia hanya bisa menuruti perintah sang ayah. Arlan tidak dapat mempercayai semua orang bahkan pengawal sekali pun. Dia terpaksa memggunakan orang lama di sisi Arga untuk menjalankan tugas.
"Fay, bangun." Yuri tidak berhenti mengecupi wajah Fay yang terbaring di pangkuannya. Terlebih dengan kondisi Fay saat ini, pasti bukan hal yang mudah untuk dilalui. Wanita itu tidak dapat berbuat banyak, hanya terus berada di samping putrinya.
"Cepat sedikit, Paman." Arlan sudah tidak tahan lagi, mereka harus segera sampai di rumah sakit.
"Iya, Den. Ini sudah maksimal," sahut Bejo dengan tatapan fokus ke arah jalanan.
Jarak mansion dengan rumah sakit sekitar tiga puluh menit, selama itu juga Fay masih betah memejamkan matanya.
Sesampainya di rumah sakit, Fay segera ditangani, Keluarga Syahreza sudah berkumpul di deoan ruang ICU. Kondisi Vano sangat memprihatinkan, luka di bagian kepala dan patah tulang di beberapa bagian. Terlebih, dia kehilangan banyak darah.
"Dad, anak kita." Adel begitu sedih melihat Vano terbaring tidak sadarkan diri dengan luka hampir di sekujur tubuhnya.
"Iya, Sayang. Kau harus banyak berdoa, ya." Henry mengecup puncak kepala sang istri seraya mendekapnya.
Tidak lama, Aline berlari ke arah mereka, dia tidak menyangka bahwa sang kakak akan mengalami hari ini.
"Dad, Mam." Mereka betiga saling memeluk, berbagi energi untuk menguatkan satu smaa lain.
Tidak lama dokter keluar diikuti seorang perawat di belakangnya.
"Tuan, Nyonya. Ada hal buruk yang harus saya sampaikan dan meminta persetujuan pihak keluarga."
"Ya Tuhan, El." Adel histeris dan tidak sadarkan diri. Henry mendengarkan penjelasan Dokter Alvin seraya menopang tubub sang istri.
"Ambil darahku, berapa pun itu." Saat ini, hanya dia yang memiliki golongan darah yang sama dengan Vano.
"Dok, pasien kejang," teriak Dokter Adam.
"Kau ikutlah dengannya, kita tidak memiliki banyak waktu," ujar Dokter Alvin, dia menepuk bahu Henry sebelum akhirnya pintu kembali tertutup.
"Al, ikut mereka. Jaga Mami kamu, Daddy harus pergi!" Henry menyerahkan Adel kepada perawat dan dokter lain. Vano tidak bisa lagi menunggu, di dalam sana, Vano sedang bertarung dengan kematian.
Luka luar sudah dibersihkan, hanya ada luka memar di wajah akibat membentur setir. Ruangan operasi yang dimaksud sudah dipersiapkan, menunggu kantong transfusi darah.
Di ruangan lain, Fay mengerjap, aroma obat-obatan yang menusuk di indera penciuman membuatnya terusik. Dia mengingat kembali kejadian sebelum dirinya tak sadarkan diri.
"Fay, kamu sudah sadar?" tanya Mama Yuri lega, melihat putrinya sudah terbangun.
"Di mana dia, Ma? Fay mau ketemu sama laki-laki itu. Fay mau marahin dia, bercandanya sudah sangat keterlaluan." Fay meraung, meminta dilepaskan saat sang ibu berusaha menahannya.
"Fay, jangan seperti ini. Please, dengarin Mama."
"Nggak, Ma. Aku mau suamiku. Huu ... huu ...." Fay menepis tangan Yuri dengan kasar, berlari ke luar ruangan. Berharap bisa bertemu dengan Vano.
Takdir pasti sudah mempermainkannya. Tuhan sudah mengambil laki-laki yang menjadi cinta pertamanya untuk wanita lain. Sekarang, dia tidak boleh kehilangan Vano. Laki-laki menyebalkan yang telah mencairkan bongkahan hatinya yang telah lama membeku.
Lampu ruang operasi padam, membutuhkan waktu hingga empat jam untuk melakukan operasi tahap pertama. Masih ada tahapan selanjutnya, dua atau tiga kali lagi di tulang selangka, lengan dan kaki. Namun itu dilakukan secara bertahap, yang terpenting Vano sudah melewati masa kritisnya.
Fay bersikeras menemui sang suami, tetapi dokter melarangnya. Barulah beberapa jam setelahnya dia dipersilakan melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan, berbagai selang terpasang di tubuhnya untuk menyambung hidupnya.
"Hei, bangunlah, jangan membuatku takut!"
Hatinya begitu hancur, laki-laki menyebalkan itu tidak lagi merespon dirinya. Ah, semangat hidupnya seakan tiada lagi. Andaikan saja dia tidak mara-marah hanya karena hal sepele. Andaikan saja dia tidak mengabaikan sang suami dan menjawab telepon serta membalas pesan darinya. Mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.
Bermacam andai kata dalam benak Fay, dia sangat menyesal sudah bersikap kekanakan kepada Vano. Namun di sisi lain, ada harapan lain yang harus dia perjuangkan. Nyawa kecil yang kini bersemanyam di dalam rahimnya.
"Kau harus tahu, di sini, ada buah cinta kita," Fay menggenggam tangan Vano, menempelkannya pada perutnya yang masih rata.
"Kau harus bangun dan melihatnya tumbuh, aku nggak mau sendirian. Please, kumohon!" Fay kembali terisak, kenyataan begitu cepat berbalik. Bukan dia yang memberikan kejutan untuk Vano, melainkan dirinya yang dibuat terkejut dengan kecelakaan yang Vano alami.
Cairan bening mengalir dari sudut mata Vano tanpa Fay sadari, baru enam jam sejak operasi berakhir. Respon yang Vano berikan akankah pertanda yang baik, atau malah sebaliknya?
"Jangan tinggalkan aku, kau tega membiarkanku sendiri merawat anak ini?"
Bersambung ....