
Suasana hati Fay sedang baik, dia sudah bisa berjalan meski sedikit pincang. Bosan di dalam kamar, Fay memutuskan untuk memporakporandakan isi dapur. Mungkin saja kalau dia bersikap baik, Vano akan mengizinkannya keluar.
"Kamu memang cerdas, Fay." Wanita itu memuji dirinya sendiri. Dia sengaja mengunakan alasan ini supaya bisa keluar dari mansion.
Tidak hanya itu, laki-laki itu juga pernah mengatakan padanya untuk melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda. Ini kesempatan yang baik untuk membujuknya, selain bisa kembali ke kampus, Fay juga bisa menghirup udara luar.
"Masak apa, ya?" Fay mengetukan jarinya di meja dapur.
"Ada yang Anda butuhkan, Nyonya?" sapa seorang asisten rumah tangga, Rumi namanya. Dia adalah kepala pelayan yang bertanggung jawab untuk melayani semua keperluan Fay, terutama saat kakinya belum sembuh.
"Mbak Rum, aku mau masak," ucap Fay dengan tatapan mengarah ke lemari pendingin. Wanita itu sibuk mencari bahan-bahan untuk masakan yang akan diolahnya. Dia akan memasak untuk sang ibu, dan Vano--suaminya.
"Nyonya, Anda bisa saja mengatakan apa yang Anda ingin makan, koki rumah pasti akan membuatkannya segera. Anda hanya cukup duduk dan melihat saja," ujar Mbak Rum meminta Fay untuk duduk di bar mini dapur.
"Mbak, sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil nyonya! Umur kita tidak berbeda jauh," tegur Fay.
"Saya ini cuma pembantu di rumah ini, tidak pantas melakukannya. Bagaimanapun juga, Anda adalah istri Tuan Melviano. Sudah menjadi tugas kami melayani Anda."
"Aku bisa sendiri, Mbak."
"Tolong jangan persulit saya, Nyonya. Saya tidak ingin dipecat, sudah nyaman berkerja di sini," ucap Mbak Rum memohon.
"Ayolah! Aku cuma mau masak, nggak akan kabur juga. Jangan takut, aku tidak akan membakar dapur." Fay semakin kesal, meski sudah satu minggu lebih dia tinggal di mansion mewah itu. Rasanya masih tidak nyaman, menjadi Nyonya CEO memang keinginannya, tetapi bukan berarti dia tidak boleh melakukan apa-apa.
"Kamu selalu memanggilku nyonya, tapi perkataanku saja masih dibantah. Apa sebaiknya aku katakan saja pada tuanmu, kalau kamu tidak mau menuruti permintaanku?"
Deg!
Mbak Rum terperangah, dia tidak tahu harus menuruti siapa di rumah ini. Fakta bahwa Fay adalah nyonya rumah, tetapi dia juga harus menuruti perintah Vano.
Nyonya, jangan membuatku dalam pilihan yang sulit. Kalian adalah tuan dan nyonya di rumah inj. Bagaimana mungkin saya bisa menolak keduanya. Huuu ... huuu ....
"Bagaimana? Biarkan aku memasak atau kamu dipecat karena menghalangi nyonya rumah menyiapkan makanan untuk suamiku?" lanjut Fay dengan tangan terlipat di ataa perut.
Dua orang pelayan yang lain hanya bisa menundukkan wajah, tidak tahu bagaimana menjawab Fay. Satu sisi mereka tidak mau melanggar perintah Vano, di sisi lain, mereka tidak boleh mengabaikan keinginan Fay.
Sebaiknya kuturuti saja kemauannya, sekarang ini Tuan Melviano juga tidak ada di rumah. Dia pasti tidak akan pulang dalam waktu dekat.
"Baiklah, tapi biarkan kami membantu Anda, Nyonya."
"Satu lagi, jangan panggil nyonya!"
"Kalau yang satu ini saya minta maaf, tidak bisa mengabulkan keinginan Anda, Nyonya."
Fay memutar bola matanya dengan bibir berkerut, tapi bukanlah masalah yang besar selama mereka tidak melarangnya memasak.
"Hmm ..., tererah kalian saja."
Fay terpaksa menggunakan nama Vano untuk membuat Mbak Rum dan pelayan lain membiarkannya pergi ke dapur. Selai mengusir rasa bosan, dia juga bertekad ingin merebut hati Vano. Dia ingi Vano menyetujui keinginannya keluar dari sangkar emas ini.
"Apakah saya perlu memanggil Chef Juna?" tanya Rumi.
"Chef Juna? Yang ada di acara masak itu?" Fay menyipitkan matanya, benarkan dia bekerja di mansion ini? Mengapa dia tidak pernah tahu hal itu?
"Bukan, namanya Chef Juna, tapi bukan orang yang itu," jelas Mbak Rum.
"Haish, kau ini mengagetkanku saja. Kalau begitu tidak perlu memanggilnya, aku bisa sendiri."
"Pakai status apa aku ke sana?" gumam Fay memikirkan alasan yang tepat untuk mengantar makan siang Vano. "Ah, pikir nanti saja, sebaiknya aku selesaikan masaknya dulu."
"Mbak, tolong ambilkan paprika!"
"Warna apa, Nyonya?"
Haish, sungguh merepotkan menjadi orang kaya, hidupnya penuh dengan aturan. Cuma masak doang harus pakai aturan segala.
"Bawa semua, masing-masing satu."
Fay sendiri heran, dari mana datangnya semua itu? Mansion ini meskipun terpencil, tetapi memiliki persediaan yang lengkap.
Kesibukan di dapur sudah hampir selesai, tersisa menyiapkan makanan itu dalam kotak bekal. Fay berencana kembali ke kamar dan menghubungi Arlan, dia berhasil menyalin nomornya diam-diam saat Arlan menghubungi Vano. Kebetulan saat itu Vano sedang ada di kamar mandi.
"Mbak, aku ke kamar dulu. Nanti pindahkan makanan yang sudah aku siapkan, letakkan di kotak bekal. Pisahkan masing-masing makanan ya, Mbak."
"Baik, Nyonya."
Aroma wangi dari dapur membuat Vano menghentikan langkahnya, penghuni perutnya merasa terusik, sekarang memang waktunya jam makan siang.
"Apa dia sengaja masak untukku?" batin Vano.
Sudut mulutnya terangkat saat menangkap siluet Fay yang baru saja pergi dari arah dapur. Hasil olahan tangan Fay lebih bersahabat dengan lidahnya dibandingkan dengan masakan Chef Juna.
Vano segera menyusul Fay ke kamar. Di sana, dia melihat Fay sedang memilih pakaian, berganti pakaian dan merias diri. Wanita itu tidak menyadari kehadiran orang lain di dalam kamar yang tidak terkunci. Degub jantungnya meningkat, bagaimaapun dia laki-laki normal yang disuguhi pemandangan indah seorang wanita. Terlebih wanita itu sudah menjadi haknya.
Kau memang harus dihukum, wanita cerewet? Untung saja aku yang masuk, kalau ada orang lain yang berani aku pasti tidak akan memaafkannya.
"Kau sengaja berhias untuk menyambutku?"
Fay mencari suara bariton yang begitu dikenalnya, dia melihat dari cermin besar di meja rias. Vano sedang duduk di sofa dan tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau! Sejak kapan ada di sana?" Dengan susah payah Fay menelan saliva yang terasa pahit, mengapa dia tidak menyadari kehadiran laki-laki itu?
"Menurutmu?" Sebelah alis Vano terangkat, seringai muncul di wajahnya.
"Dasar mesum," Fay melempar pewarna bibir yang baru saja dia gunakan.
"Kau menyalahkanku? Siapa yang membiarkan pintu tidak terkunci?" cibir Vano dengan wajah kesal. Bukan salahnya jika dia melihat semuanya, Fay sendiri yang tidak hati-hati.
Namun, keseruan mereka harus tertudanda saat telepon genggam keduanya berdering bersamaan.
"Kita belum selesai, aku akan mengangkat telepon dulu. Setelah itu aku pasti akan menbuat perhitungan denganmu!"
"Ya, aku akan menantikan hal itu."
"Dengan Nona Fadila?" ucap orang di seberang sana setelah panggilan terhubung.
"Ya, saya sendiri," sahut Fay dengan wajah berbinar. "Ada kabar baik apa tentang Mama?" lanjutnya.
Terdengar tarikan napas panjang sebelum orang itu menjawab pertanyaan Fay.
"Ibu Anda kritis, sekarang dalam penanganan dokter."
Bersambung ....