Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Fay Melupakan Sesuatu



"Bagaimana, apa semua berjalan lancar? Kamu nggak buat masalah, kan?" Yuri menyambut putrinya yang berjalan lesu ke arahnya. Entah apa yang sudah terjadi, sehingga Fay terlihat tidak bersemangat, atau dia sudah melakukan kesalahan sampai membuat calon menantunya marah?


"Fay, ada apa denganmu?" Wanita paruh baya itu meneliti wajah putrinya yang berubah murung. "Fay," panggilnya sekali lagi.


"Ah, ya, Ma."


"Kamu ini, mikirin apa, sih? Mulut Mama ngomel dari tadi nggak didengar," kesal Yuri pada sang putri yang mengaduk-aduk minumannya.


"Nggak papa, Ma. Fay baik-baik aja." Dia memalsukan senyum.


"Benar? Terus, apa kata Nak Vano soal makanan yang kamu bawa?"


"Dia ..., katanya enak, Ma."


Fay terpaksa harus menyembunyikan kebenarannya karena tidak ingin membuat sang ibu mencemaskannya. Padahal dalam hatinya masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Vano. Terlebih perubahan wajah laki-laki itu yang tiba-tiba, apakah ada yang salah dengan makanannya?


*Aku masak seperti biasa, bumbu dan bahan juga tidak ada perubahan. Jangan-jangan dia keracunan makanan, terus menyalahkanku karena makanan yang kubawa. Aduh, bagaimana ini?


Fay, ayo berpikir. Jika dia menuntut kamu, terus kamu dijebloskan ke penjara, bagaimana nasib Mama? Gawat, ini gawat banget! Bukanya dapat uang tapi malah semakin sengsara hidupmu*!


"Apa sebaiknya aku telepon dia? Nggak, nanti dia bisa besar kepala, tapi kalau sampai dia kenapa-napa pasti urusannya akan lebih panjang," gumam Fay pelan. Dia merapatkan bibirnya, ia beralih menatap sang ibu yang menatapnya keheranan.


"Kamu ngomong apa? Mama nggak dengar, coba lebih keras sedikit," gerutu Yuri. Dia justru semakin penasaran dengan tingkah Fay yang mencurigakan. Apa benar dugaannya, terjadi sesuatu yang buruk?


"Ma, tunggu sebentar. Fay melupakan sesuatu." Perempuan itu beranjak dari tempatnya, kembali meninggalkan Yuri seorang diri.


*Aku harus pastikan sendiri, jangan sampai terjadi sesuatu pada Vano. Jika tidak, maka semuanya akan hancur berantakan. Hanya dia satu-satunya harapan agar bisa menyembuhkan Mama dan membalas semua penghinaan dari keluarga wanita penyihir yang sudah membuat kami menderita.


Jangan sampai dia kenapa-napa, Tuhan. ATM berjalanku, kamu harus baik-baik saja*.


Fay seolah tahu pertanyaan yang akan diajukan resepsionis itu padanya. Dia segera mendekat dengan bibir melengkung ke atas, membentuk sebuah senyuman.


"Mbak, ada sesuatu yang terlupakan."


"Mari saya antar," ucap wanita itu.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri," tolak Fay sopan.


"Baiklah." Wanita itu hanya mengantar sampai di lift, ia menekan tombol lift dan mempersilakan Fay masuk, menunggunya sampai pintu tertutup dan kembali ke tempatnya bekerja.


Ting!


Fay sudah sampai di tempat tujuan dalam waktu singkat, di sana terlihat sepi, tidak dijumpainya sekretaris yang tadi mengantarnya.


"Apa sebaiknya aku ke sana?" tanya Fay pada dirinya sendiri. Dia melenggang menuju ruang CEO seorang diri, mengetuk pintu tetapi tidak kunjung di jawab. Sekarang masih jam istirahat, tapi Vano sudah makan siang. Kemana dia?


Pintu kaca itu terbuka, membuat Fay terperanjat, begitu pula lelaki berkacamata yang datang dari dalam.


"Huffttt ..., Anda membuatku kaget, Nona."


"Yah, kau juga."


"Ada perlu apa mencari Pak Melviano?" tanya Arlan, ia memang baru sekali ini bertemu dengan Fay secara langsung.


"Em, ada sesuatu yang tertinggal di dalam."


Sesuatuyang tertinggal? Berarti wanita ini sudah datang sebelumnya, itu artinya dia adalah Fay. Wanita yang membuat bosnya menggila dan melupakan semua kebiasaannya.


"Apa itu?" Fay terdiam, dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa karena memang tidak ada yang tertinggal.


Kedua mata Arlan menyipit, dia menatap Fay intens, tak melewatkan seinci pun detail wanita itu. Dalam hatinya berkata, "jadi seperti ini wanita yang menyebabkan dia kelabakan?"


"Tuan, boleh saya masuk?" tanya Fay dengan bulu mata mengibar.


"Anda belum menjawab pertanyaan saya," ketus Arlan. Entah mengapa ia merasa bahwa Fay akan membuat banyak masalah jika bersama Vano. Bagimana jika dia benar-benar menjadi Nyonya CEO nanti? Pasti dia akan menambah kerepotan baginya. Lebih baik dari sekarang dia memperlakukan Fay dengan tidak bersahabat.


"Itu, termos makanan. Ya, tempat makananku tertinggal," ucap Fay beralasan.


Arlan melirik meja, termos makanan sudah dibersihkan dan tidak ada lagi di tempatnya.


"Lan, sepertinya aku harus pulang sekarang," ucap seseorang yang tak asing di telinga Fay.


Syukurlah, dia baik-baik saja.


Secara bersamaan, Vano keluar dari kamar pribadinya. Dia tidak bisa beristirahat dengan baik, lebih baik pukang lebih awal hari ini.


"Kau, masih di sini? Bukankah saya memintamu pergi?" kesal Vano.


"Nona ini ingin mengambil termos makanan miliknya, benar begitu?" Fay menjawabnya dengan anggukan.


"Tapi, masih ada lagi."


"Katakan, lima menit. Kamu punya waktu lima menit."


Ada apa dengan orang ini? Sebentar baik, sebentar menyebalkan. Sabar, Fay. Kamu harus tahan, tidak boleh marah.


"Boleh bicara berdua?" lirih Fay.


"Tapi ...," Arlan merasa keberatan, selama ini Vano tidak pernah merahasiakan apa pun darinya.


"Lan, tinggalkan kami." Vano mengibaskan tangannya, meminta Arlan pergi. Lelaki berkacamata itu tidak kuasa menolak keinginan bosnya. Jika Vano berkata demikian, pasti ada sesuatu yang tidak ingin dia bagi dengan dirinya.


"Sudah, sekarang katakan." Vano duduk bersandar di kursi kebesarannya, Fay duduk berhadapan, hanya meja kayu ukir berlapis kaca yang membatasi mereka.


Fay tidak menjawab, ia memperhatikan wajah Vano dengan seksama. Sudah semerah seperti tadi, tetapi masih menyisakan bekas yang tidak tampak jika tidak diperhatikan dengan seksama.


"Kenapa, sudah mulai tertarik dengan wajah tampanku ini?" ucap Vano tersenyum miring.


"Ish, dari mana datangnya kepercayaan dirimu itu, Tuan?" Sudut mulutnya mencibir pria angkuh yang berhadapan dengannya.


*D*ia memang tampan, pantas saja banyak wanita yang berebut ingin bersanding dengannya.


Namun sesaat kemudian Fay tersadar, ia harus mengatakan tujuannya kembali ke sini. Dia harus menebalkan muka, kekhawatirannya ternyata tidak beralasan. (Thor, aku nggak khawatir sama dia!)


"Dih, masih nggak mau ngaku," said Author.


"Saya hanya ingin memastikan, apakah Anda ankan menepati janji tentang ...."


Vano mengerutkan kening dalam, tak sabar menanti kalimat Fay selanjutnya.


"Apa?"


"Uang yang Anda janjikan."


Apa katanya? Disaaat seperti ini dia hanya memikirkan uang? Tidakkah dia merasa bersalah sudah membuatku seperti ini? Haha ..., lelucon macam apa yang kamu harapkan dari wanita sepertinya, Vano?


Kekaguman Vano pada Fay perlahan memudar, sebelumnya ia berpikir Fay tidak akan lagi membahas masalah itu, nyatanya harapan tidak seindah kenyataan.


"Kamu mau bagaimana saya membayarnya? Cek, tunai, atau transfer?"


"Terserah Anda, Tuan." Wajahnya tampak cerah Vano segera menyetujui keinginannya.


"Ini, kartu unlimited. Kamu bisa bebas menggunakannya." Vano menggeser kartu berwarna hitam ke hadapan Fay.


Binar di wajah Fay tidak sanggup ia sembunyikan, dengan uang itu, pengobatan sang ibu akan segera terlaksana. Meski wakil kepala rumah sakit sendiri sudah menjanjikan hal itu, tetapi Fay tetap harus bersiap untuk segala kemungkinan.


"Terima kasih, Tuan."


"Saya juga tidak akan mengingkari janji tentang pernikahan itu. Tiga hari lagi kita menikah."


"What?!"


Akankah Fay setuju dengan keinginan Vano?


Bersambung ....