
"Saya yang asli," ucap orang yang berdiri di seberang Ferdi. Keduanya mengaku bahwa diri mereka yang asli.
"Jangan pedulikan dia, saya yang asli."
"Stop! Kalau kalian tidak ada yang mengaku, aku akan melenyapkan kalian bersamaan," gertak Ferdi.
"Saya tidak yakin kau memiliki waktu untuk melakukannya." Dalam keheningan sesaat, suara bass milik seorang pemuda yang tak asing lagi.
"Kau, bagaimana bisa ada di sini?" sela Ferdi. Dia lengah. Dalam sekejap keadaan berbalik, pisau lipat kini berada di lehernya tanpa sempat mengelak.
"Kalian sudah merencanakan hal ini untuk menjebakku?" Ferdi mendengkus, matanya terbuka lebar saat tahu bahwa Tuan Abimanyu yang asli kini berdiri di hadapannya. Dan ..., laki-laki itu. Bukankah seharusnya dia sedang sekarat di rumah sakit?
"Tebakanmu tepat sekali, sayangnya tidak ada hadiah untukmu," ejek Vano dengan satu sudut bibir terangkat.
"Hadiahmu sudah menantimu!" Tuan Abimanyu menambahkan.
"Hei, Nak. Kau harus lebih banyak belajar, terlebih untuk urusan tipu menipu orang. Buaya kok dikadalin." Henry menepuk bahu Ferdi, dia memberontak saat dua pengawal membekuknya dan memaksanya berlutut.
Lelaki yang Ferdi sandera bukanlah Tuan Abimanyu, melainkan seorang pengawal yang kebetulan memiliki wajah hampir mirip. Hanya tinggi badan dan nasib hidup yang berbeda.
Tentu saja jasa make over yang di sewa Vano sangat ahli di bidangnya, sampai dia sendiri sulit membedakan Tuan Abimanyu yang asli dan palsu.
"Nggak, aku nggak salah. Atas dasar apa kalian menangkapku? Kalian ingin dituduh melakukan kekerasan dan pencemaran nama baik, huh?" sungut Ferdi. Dia masih memberontak dengan sekuat tenaga, tetapi sayangnya tenaganya kalah besar.
"Kau jelaskan saja di kantor polisi nanti. Kalian, seret dia ke penjara yang paling jorok dan kejam!" perintah Henry.
"Kalian tunggu saja pembalasanku nanti!" teriak Ferdi saat diseret keluar melalui pintu khusus di sebelah ruang pribadi Vano.
Baik Henry maupun Vano tidak ingin berita penangkapan Ferdi mencuat ke publik sebelum polisi benar-benar membuktikan kesalahannya. Hal itu akan semakin berdampak dengan harga saham perusahaan yang saat ini sedang kacau akibat ulah paman keduanya.
"Bocah Nakal, sudah kubilang kau tidak perlu datang, kami bisa menangani masalah ini," ucap Henry kesal. Vano baru saja kembali satu hari yang lalu.
Flash Back On
"Lan, biarkan mereka bertindak sekarang!" desak Vano setelah mengecek masalah yang terjadi di proyek pembangunan stasiun kereta.
"Jangan bercanda! Bagaimana kalau kau celaka, apa yang harus kukatakan pada Daddy dan Papa nantinya?" tolak Arlan.
Pemuda itu menghentikan langkahnya, dia tidak setuju Vano membahayakan dirinya sendiri demi rencana mereka. Terlebih perusahaan baru saja pulih setelah diterpa berita miring tentangnya.
"Ini saat yang tepat, dia pasti diam-diam sudah menyuruh orang mengawasi kita. Kau lakukan sesuatu pada mobilku, biarkan seolah-olah orang suruhannya yang melakukannya."
Vano berbalik badan, dia mendekati Arlan yang tertinggal jauh di belakangnya. Saat ini hanya ada mereka berdua. Malam sudah larut, semua pekerja shift juga sedang beristirahat. Dia berusaha meyakinkan Arlan untuk memajukan rencananya.
"Kau gila! Aku nggak mau masuk bui karena mencelakai orang." Arlan berdecak, Vano memang sudah tidak waras, menggunakan dirinya sendiri untuk memancing musuh.
"Hei, tenanglah!" Vano mengajak Arlan duduk di kursi panjang di depan ruangannya. "Kau buat seolah-olah mobil mengalami kecelakaan, tetapi kau juga harus menyiapkan safety yang aman saat benturan itu terjadi," lanjutnya.
"Yang namanya kecelakaan pasti tidak akan bisa diprediksi, aku nggak mau mendengar kabar 'CEO HS Group tewas kecelakaan dan pelakunya adalah sekretarisnya sendiri', aku tetap nggak setuju. Titik.
"Kau lihat ini!" Vano meminta Arlan melihat rekaman CCTV yang terhubung ke komputer pribadinya.
Benar saja, seseorang tengah mengendap-endap di tengah malam ssperti ini. Tentu saja sangat mencurigakan. Dugaan Vano tidak meleset, lelaki itu memang melakuman sesuatu terhadap mobilnya.
Arlan dan Vano saling berpandangan, bukankah dia karyawan HS Group yang sudah dipecat beberapa jam lalu? Direktur pelaksana proyek pembangunan kereta api dan satu orang yang baru saja mendaftar sebagai pengawal di sisi Vano. Siapa sebenarnya dalang dibalik semuua kejadian ini?
"Biar aku yang gantikan kamu!" usul Arlan.
"Bagaimana kalau istrimu bertanya? Bagaimana kalau keluargamu mendesakku?" Arlan berdiri dari duduknya, dia tidak ingin benar-benar terjadi sesuatu pada Vano.
"Kau cukup mengatakan karena kecelakaan," sahut Vano enteng.
"Kita beritahu mereka bahwa semua ini hanya rekayasa."
"Kau berani membantah!" seru Vano. "Semakin sedikit yang tahu akan semakin baik, aku juga mau nereka terlihat natural dalam menghayati peran."
"Dasar sinting, tidak waras!" maki Arlan.
Keesokan harinya, pekerjaan baru selesai saat matahari sudah tergelincir ke barat. Vano bahkan mengabaikan Fay demi menyusun rencana. Dia ingin memastikan sendiri semua berjalan sesuai rencana.
Sayang, maafkan aku. Aku harap kau tidak akan menyalahkanku nantinya. Bekerjasamalah untuk membantuku, Oke.
Vano mengusap potret cantik sang istri yang diambilnya diam-diam. Wanita itu yang telah mengisi kekosongan hati dan menggantikannya dengan kenangan berharga.
Jika terjadi sesuatu padaku nantinya, kau harus menjadi wanita hebat meski tanpa adanya diriku di sisimu.
"Kau sudah siap?" tanya Arlan saat memasuki ruangan.
"Ya."
"Kau yakin? Tidak akan berubah pikiran?" desak Arlan sekali lagi.
Vano memutar bola matanya, malas meladeni Arlan yang begitu cerewet sejak semalam. Padahal dia sudah meyakinkan Arlan semalam.
"Jangan banyak bicara, di luar ada yang mengawasimu!" bisik Vano, mendekat ke arah Arlan. Dia berpura-pura meminta kunci mobil.
"Dia orang baru yang kau maksud?" Vano menjawabnya dengan anggukan.
Kening Arlan berkerut, dia merasa dejavu terhadap pengawal baru yang Vano maksudkan. Dia pernah melihatnya, tapi dimana?
"Pastikan dia mengikutiku!" ujar Vano memastikan. "Bagaimana dengan sopir kontener?"
"Sudah siap, mereka akan bergerak setelah menerima komando."
Rencana dimulai, Vano mengemudi seorang diri dari kejauhan sebuah mobil mengikutinya. Dan sampailah dia di persimpangan jalan.
"Sudah siap?" tanya Arlan di tempat yang berbeda, dia mengawasi Vano melalui kamera yang terpasang di mobil pengawal yang mengikutinya.
"Baiklah." Vano menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menutrisi paru-parunya, sebelum akhirnya membanting setir ke arah kiri, safety belt berhasil menahan tubuhnya meski mengalami benturan keras. Saat yang bersamaan dia ingin mendengar suara sang istri yang begitu nyaring di telinga. Namun ponsel itu terlempar entah ke mana.
Semua sudah dipersiapkan, tetapi dia lupa lengan tangannya tidak dapat diselamatkan.
Hari itu, perban di kepala hanya karena sedikit luka di pelipis akibat seriphan kaca depan mobil. Operasi yang dilakukan adalah untuk menyelamatkan tulang selangkanya yang patah.
Dia masih mendengar sekilas orang-orang yang datang berkerumun. Sebelum akhirnya benar-benar tidak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit.
FLASH BACK OFF
Bagaimana reaksi Fay saat mengetahui kondisi Vano?
Bersambung ....