Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Kamu yang pertama dan satu-satunya



"Aaa ..., jam berapa ini?" teriak Fay saat menyadari matahari sudah beranjak dari singgasananya. Fay mengira hari ini adalah hari pertamanya masuk kuliah, untuk pertama kalinya setelah mengambil cuti. Sangat disayangkan apabila Fay tidak melanjutkan study-nya. Tinggal dua semester lagi dan dia akan berhasil memperoleh gelarnya.


Dari kejauhan, Vano terkekeh melihat sang istri kelabakan. Padahal sekarang masih hari minggu dan jadwal kuliah Fay dimulai hari senin.


"Apanya yang lucu, hah?" sentak Fay bergegas ke kamar mandi.


Jarum jam sudah berada di angka tujuh, sedangkan jam masuk kuliah dimulai tiga puluh menit lagi. Fay tidak ada waktu untuk meladeni Vano yang sengaja ingin menggodanya. Semua ini gara-gara laki-laki itu yang tidak membiarkannya tidur hampir semalaman.


"Kamu yang lucu," sahut Vano, tetapi sudah tidak terdengab oleh sang istri yang sudah menghilang di balik pintu.


Senyum tak memudar di wajah Vano. Terbayang kejadian semalam yang membuat perasaannya membuncah, untuk pertama kalinya Vano menjamah sang istri setelah resmi menjadi pasangan suami istri.


Ternyata inilah yang dimaksud kebahagiaan yang sesungguhnya. Surga dunia, tak ingin rasanya Vano berpisah dengan sang istri, meski hanya untuk sekejap saja.


Di dalam kamar mandi, Fay sudah menyelesaikan ritualnya. Dia berdiri di depan cermin besar di walk in closet, jejak kepemilikan yang Vano tinggalkan sungguh membuatnya terkejut.


"Aaaaaa ...." Jeritan Fay membuat Vano panik, takut terjadi sesuatu pada sang istri, dia menerobos masuk dan hal mengejutkan kembali terjadi. Fay hanya berbalut selembar kain tebal yang menutup dada sampai di atas lutut.


Gluk! Vano mengulum saliva, bayangan semalam tak pernah terlupakan. Namun, dia harus memastikan hal apa yang membuat sang istri berteriak histeris.


Fay kembali berteriak saat menyadari kehadiran Vano. "Dasar mesum, mau ngapain lagi, hah?" Dia melempar pakaian yang berada di tangannya.


"Mau ngapain, kau jelas lebih tahu," lirih Vano dengan suara serak. Dia menaik turunkan alisnya dengan langkah terus mendekat.


"Jangan kemari, sana pergi!" usir Fay. Wajahnya sudah semerah udang rebus, dia menutupi dirinya dengan perlengkapan seadanya.


Sial, dia tidak bisa melihat tubuh sang istri terekspos sedikit saja. Hal itu sudah membakar naluri yang belum sepenuhnya padam.


"Tidak perlu ditutupi, saya sudah melihat semuanya," ungkap Vano dengan wajah menyeringai.


Fay semakin kesal dibuatnya, benar yang Vano katakan, tetapi baginya hal itu bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah dibicarakan. Dia masih belum terbiasa, gemuruh suara jantung yang terus memompa, membuatnya memalingkan wajah yang semakin memanas.


"Hei, apa semalam masih kurang? Ingin saya mengingatkanmu bagaimana rasanya?" Vano tak henti menggoda sang istri, kebiasaan barunya yang akan terus menjadi jadwal wajib nantinya.


"Kau tidak lihat ini, hah? Di sini, ini, dan di sini juga. Kau masih belum puas menyiksaku?" sungut wanita itu menunjuk jejak merah yang hampir menghitam.


"Aish, saya tidak menyadarinya, karena terlalu bersemangat," ucap Vano tanpa dosa.


Semangat Vano benar-benar membuat Fay kewalahan, hingga detik ini, inti tubuhnya masih berdenyut, sangat nyeri. Untuk berjalan juga terasa tidak nyaman, tetapi hal itu dikalahkan oleh rasa panik karena takut terlambat di hari awal kuliah.


Ah, hampir saja Fay melupakannya, dia akan benar-benar terlambat jika terus menanggapi tingkah absurd sang suami. Fay berbalik badan, hendak mencari pakaian yang bisa menutupi jejak kepemilikan di bagian leher, mengabaikan Vano yang tak lelah menggodanya.


Namun, tiba-tiba sarafnya menegang saat tangan kekar melilit di perut. Fay menghentikan kegiatannya, menyingkirkan tangan itu. Tentu saja Vano tidak akan membiarkan sang istri melakukannya. Pelukannya semakin erat, indera penciuman Vano mengendus aroma shampo dafi rambut basah sang istri yang membuatnya candu. Kedua netranya terpejam untuk menikmati aroma dari wanita itu.


"Jangan begini, nanti aku terlambat," lirih Fay. Dia menggit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara lucknute yang akan membuat Vano semakin menggila.


"Biarkan seperti ini sebentar saja," pinta Vano dengan posisi mengunci sang istri dengan tangan dan kakinya.


Fay memberontak, ingin melepaskan diri, tetapi dia merasakan sesuatu. Syarafnya semakin menegang. Fay memejamkan matanya denga napas naik turun.


"Sudah kubilang, jangan banyak bergerak, kau membangnkan yang sedang tidur," bisik Vano dengan suara serak.


"Tentu saja, kamu membuatku tidak pernah puas, ingin terus, terus, dan terus."


Tidak boleh, Fay tidak akan membiarkan Vano kembali memakannya. Dia harus mencari alasan untuk terlepas dari Vano.


"Cepat lepaskan, aku harus berangkat kuliah," pintanya.


"Sekarang hari minggu, untuk apa ...."


Fay menepis tangan Vano kasar, dia membalikkan badan dan menatapnya nyalang. "Kamu bilang sekarang apa?"


"Minggu, sekarang hari minggu." Vano mengangkat kedua bahunya.


"Kenapa nggak bilang dari tadi?" ketus Fay.


Dia bergegas masuk ke kamar mandi membawa pakaian yang sudah dipilihnya. Memanfaatkan Vano yang lengah, akhirnya Fay berhasil kabur dari situasi canggung yang terasa ingin membunuhnya.


Namun, perlakuan Vano membuat perasaannya semakin menghangat. Perlahan sikap laki-laki itu melunak, meski terkadang menyebalkan. Dia juga sangat kagum dengan cara Vano menjaganya.


Semalam, Fay baru tahu bahwa Vano benar-benar belum menyentuhnya malam itu. "Bukankah ini malam pertama kita?" sela Fay di tengah kegiatan malam yang hendak dimulai.


"Malam pertama? Sebelumnya, kita pernah bermalam di hotel, loh. Saya ingat ada wanita yang sengaja datang untuk menggodaku dan meminta di ...."


"Stop! Nggak usah dibahas lagi," dengus Fay.


Vano menyingkirkan tangan Fay yang membekapnya. Dia menatap lekat manik mata indah yang terasa meneduhkan. Gelora cinta yang baru saja bermekaran, terlihat begitu menggoda.


"Baiklah, memang bukan malam pertama, tetapi ini adalah pertama kalinya aku menyentuh wanita," aku Vano dengan tatapan serius.


"Percaya atau tidak, itu terserah padamu. Kenyataannya, kamu yang pertama dan satu-satunya."


Sebagai laki-laki dewasa yang dirumorkan dengan banyak wanita, tidak menutup kemungkinan bagi Vano untuk memanfaatkan keadaan Fay yang dalam pengaruh obat. Namun kenyataan berkata lain, Vano justru membantunya tanpa menjamahnya. Tentu saja pengakuan Vano membuat Fay begitu bahagia, ternyata Vano tidak seburuk yang dia pikirkan.


"Kau boleh saja tidak percaya padaku, tetapi saya sudah mengatakannya dengan sebenar-benarnya."


"Sungguh?" Vano mengangguk, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman.


Fay dibuat terpana, senyuman lembut, tulus, dan meneduhkan yang tidak pernah Fay jumpai pada diri Vano sebelumnya. Apakah Fay harus merasa terhormat? Vano hanya memberikan senyuman itu untuk orang yang benar-benar berarti dalam hidupnya.


Setelah semua kejadian yang mereka lalui, Vano sudah memutuskan untuk membuka hatinya hanya untuk Fay seorang.


"Kau yakin?" tanya Fay dengan kening berkerut.


"Saya akan membuktikannya."


Vano mengikis jarak dengan menarik tubuh mungil sang istri semakin mendekatnya. Dia menatap lekat istrinya, berkata melalui tatapannya yang sangat dalam. "Bolehkah?" Fay mengiyakan dengan anggukan kepala, akhirnya Vano bisa memiliki Fay seutuhnya, begitu juga sebaliknya.


Bersambung ....