Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Akibat dari kelalaian



Vano mengernyitkan kening dalam saat melihat ranjang pasien yang ditempati Fay kosong, juga para pengawal yang bertugas tidak ada lagi di tempatnya.


"Kemana dia pergi? Apa dia berusaha kabur?" gumam Vano.


Terdengar suara canda tawa dari luar, Vank berpikir jika Fay sudah kembali bersama para pengawal. Namun, dia tidak mendapati orang yang dicarinya.


"Kalian kemana saja, hah?" sentak Vano pada kedua pengawal yang bertugas menjaga bangsal perawatan Fay.


"Maaf, Tuan. Tadi ada seorang wanita yang meminta tolong. Dia terlihat sangat menderita." Salah seorang diantara mereka menceritakan kronologi kejadian.


"Saya membayar kalian untuk membantu orang sakit, hah? Untuk apa dokter dan perawat yang ada di sini?" Vano memijat pangkal hidungya.


"Tidak, Tuan."


"Kalian tahu, apa akibat dari kelalaian kalian? Sekarang istri saya menghilang."


"Apa?" sahut keduanya bersamaan.


"Kalian ini ...." Rahang Vano mengeras, suara gemeletuk gigi yang saling beradu membuat nyali keduanya menciut.


"Ampun, Tuan. Kami salah, tolong ampuni kami."


"Rupanya aku terlalu meremehkan mereka. Beraninya bertindak di tempat keramaian seperti ini!" maki Vano dengan tangan terkepal erat, buku jarinya terlilat memutih seiring kobaran api yang semakin tersulut amarah.


"Kalian berdua, kalau istri saya tidak ditemukan. Jangan harap kalian juga akan selamat. Lebih baik kalian menjadi makan siang Prince."


"A ..., ampun, Tuan. Kami akan segera menemukannya." Kedua pengawal itu teribirit-birit meninggalkan Vano yang sedang marah.


Rumah sakit bukanlah tempat yang sunyi, bagaimana bisa seorang pasien menghilang dan lepas dari pantauan?


"Kalian semua, dengarkan baik-baik. Kalau sampai terjadi sesuatu pada istri saya. Jangan harap kalian juga bisa selamat!" Vano meminta Arlan melihat rekaman CCTV rumah sakit, dia juga meminta para pengawal mencari keberadaan istrinya di rumah sakit ini.


"Tuan, CCTV di lorong rusak dan masih dalam tahap perbaikan," ucap kepala pengawas yang bertugas memantau CCTV di rumah sakit itu.


Di sana terlihat normal, tidak ada yang mencurigakan. Bahkan setelah Vano pergi, tetapi hal janggal mulai terjadi saat dokter dan dua orang suster memindahkan Fay ke kursi roda. Wanita itu tampak diam, tanpa melakukan perlawanan.


"Aargghhh .... Tidak berguna, saya tidak menggaji kalian untuk bermalas-malasan." Vano melampiaskan kekesalannya pada petugas pengawas.


"Tenanglah, kita cari jalan lain." Arlan memintanya meredakan amarah dan berpikir jernih bagaimana menemukan Fay.


"Kau bilang tenang? Tidak lihat istriku diculik? Kamu bisa bicara seenaknya karena tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan," maki Vano.


"Ya, ya. Sekarang aku tahu kau sudah mulai peduli padanya," goda Arlan.


"Tutup mulutmu! Aku tidak peduli dia mau bagaimana dan di mana bukan urusanku." Vano menyangkal dugaan Arlan yang tertuju padanya.


Ck, bilangnya tidak peduli, tapi udah panik kayak anak kecil kehilangan mainan, batin Arlan.


"Baiklah, tidak peduli, hanya sedikit takut. Takut jika terjadi sesuatu yang buruk padanya."


"Arlan, kamu sudah tidak menginginkan posisimu sekarang?"


Vano sangat kesal dibuatnya, terlebih Arlan yang menyudutkannya karena kejadian hari ini. Dia sudah menduga ada sesuatu yang tidak beres dengan kedatangan Riko dan Ana di rumah sakit ini. Jangan-jangan ada mata-mata di antar para pengawal.


Tentu saja dokter maupun suster tidak begitu memperhatikan pasien di ruangan itu. Terlebih menghilangnya Fay bertepatan dengan jadwal kunjungan dokter. Semua dilakukan dengan sangat rapi dan penuh perencanaan.


"KALAU INGIN DIA SELAMAT, DATANG KE JALAN XXX NO. 2"


Ini pasti ulah mereka, tidak seharusnya Vano meninggalkan Fay seorang diri. Dia tidak menyangka orang-orang itu berani bertindak di tengah penjagaan yang semakin ketat. Mengapa dia begitu ceroboh?


"Kita mulai rencana lebih awal."


Flash Back On


"Kalian seharusnya tidak mungkin menerima begitu saja perlakuan orang sombong itu, bukan?" celetuk seseorang yang mengawasi Riko dan Ana dari kejauhan. Sekarang ada kesempatan, karena Riko sudah lebih dulu meninggalkan Ana.


"Ck, tidak ada hubungannya denganmu," ketus Ana.


Wanita itu melenggang keluar rumah sakit, melewati orang tak dikenal yang sembarang bicara padanya.


"Nyonya, saya ingin menawarkan sebuah kesepakatan." Dia tidak menyerah, saat ini menemukan seorang sekutu akan sangat menguntungkan. Terlebih mereka memiliki tujuan yang sama.


"Aku nggak tertarik," tolak Ana.


"Anda akan menyesal karena kesempatan hanya datang satu kali. Mari kita bicara dulu sebentar, setelah itu terserah Anda akan menerimanya atau tidak," bujuk orang itu.


Ana pun merasa penasaran, rencana apa yang dia maksud? Lebih baik Ana menurut saja, mungkin saja dia bisa menggunakan laki-laki itu.


"Baiklah."


Ana mengikuti langkah panjang laki-laki itu ke mini roof top sebuah kafe. Dia masih muda, juga tampilannya menunjukkan bahwa dia bukan orang biasa.


"Hal apa yang ingin kamu bicarakan denganku? Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni orang asing." Ana mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi. Dalam hatinya bertanya, "Mengapa laki-laki ini sok misterius?" batin Ana.


"Tidak perlu buru-buru."


Dia akhirnya memberitahu rencananya. Ana terlihat bersemangat dan antusias, meski awalnya sempat menolak. Pada akhirnya ada orang besar yang mendukungnya. Selain tampan, imbalan yang dijanjikan juga tidak kalah menggiurkan.


"Ini tempat umum, bagaimana kalau saya ketahuan?"


"Tidak akan, tugasmu hanya membawanya pergi, sisanya serahkan padaku."


Flash Back Off


"Haha ..., kerja bagus. Tidak sia-sia aku mengelyarkan uang untuk kalian." Dia menyeringai penuh kemenangan. Akhirnya dia bisa menemukan titik lemah Vano, dia pasti akan dapat untung besar.


Di sebuah ruangan gelap dan pengap, Fay mendesis pelan. Ruangan itu lembab dan tidak layak disebut sebagai tempat tinggal.


"Sshhh, dimana ini?" Fay mengerjap, mengusap matanya beberapa kali, berharap ini hanya mimpi. Namun berulang kali dia mencoba, hasilnya tetap sama.


Ruangan itu tidak ada jendela dan pintu, cahaya di sana hanya bergantung pada satu bola lampu berwarna kuning keemasan yang tidak terlalu terang. Bagaimana ini?


Aku harus pergi dari tempat ini secepat mungkin.


Meminta tolong tidak mungkin, berteriak apalagi. Fay mencoba berpikir jernih, dia tidak boleh tinggal diam. Harus memikirkan cara untuk keluar dari ruangan itu.


"Siapa yang berani mempermainkanku? Kalian pasti tidak akan berakhir dengan baik," gerutu Fay.


Mengapa dia sama sekali tidak ingat tentang kejadian sebelunnya? Begitu bangun dia sudah ada di ruangan ini.


Dari kejauhan, sepasang mata sedang mengawasi Fay dari ruangan yang lain. Dia menyeringai penuh kemenangan, akhirnya bisa menemukan wanita yang dicarinya selama ini.


"Kau tunggu saja, aku pastikan kau akan lebih menderita. Hahaha ...."


Siapakah yang menculik Fay? Akankah Vano bisa menemukan Fay dan menyelamatkannya?


Bersambung ....