
"Apa?" sahut Riko dan Ana bersamaan. "Anda tidak bisa memutuskan hal ini secara sepihak, terlebih mereka berdua saling mencintai," cicit Ana.
"Ck, cinta? Jangan mengungkit masalah cinta di depanku. Kamu tidak pantas!" Sudut bibir Maira terangkat sebagian, ekspresi jijik dan merendahkan mendengar kata cinta. Baginya, cinta itu bullshit. Sesuatu yang tidak berarti.
"Benar, pernikahan mereka sudah ditetapkan, semua sudah dipersiapkan. Undangan juga sudah disebar, Anda tidak boleh egois. Apa kata orang nanti?" ujar Riko dengan wajah memucat.
"Yang paling penting udah booking, kalau batal nggak akan kembali. Huu ..., huu ...."
Ana membatin, uang muka sewa gedung, WO, juga biaya lain sudah menggunakan uang tabungannya. Dia melakukan itu semua hanya karena ingin terlihat mengesankan di depan semua tamu undangan yang kebanyakan kalangan menengah ke atas.
Apa jadinya kalau acara dibatalkan tiba-tiba? Bukan untung tapi malah buntung. Aish, Ana tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Maira tersenyum smirk, seolah merendahkan keluarga Riko. Meski tahu bahwa Bryan salah, tetapi dia tidak akan menyalahkan putranya sendiri. Hanya bisa menyalahkan Farah dan keluarganya.
"Aku nggak peduli, itu bukan urusanku. Lagian, anak kamu sudah hamil di luar nikah. Bagaimana kalau sampai diketahui orang lain? Bisa hancur reputasiku," ejek Ana.
"Jangan lupa, anak kamu yang sudah menodai Farah. Sampai kapan pun dia tidak akan pernah lari dari tanggung jawab!" tegas Ana dengan wajah memerah menahan marah.
"Aku nggak yakin, dia sudah berhasil menggoda putraku. Tidak menutup kemungkinan kalau dia juga menggoda laki-laki lain di luar sana. Bisa saja itu anak haram hasil perselingkuhannya dengan orang lain."
Mak jleb!
Ana jatuh terduduk, Farah tidak mungkin melakukan hal seburuk itu. Jangan sampai dia mengulangi kesalahannya terdahulu.
Nggak mungkin, Farah nggak mungkin sebodoh itu. Aku harus percaya padanya.
"Jaga ucapan Anda, Nyonya Maira. Saya tahu betul bagaimana Farah, dia tidak akan melakukan hal yang melampaui batas."
Bagaimanapun, reputasi Farah berhubungan dengan nama baik keluarganya. Mungkin saja Farah akan melakukan kesalahan seperti Ana, tetapi Riko juga tidak akan membiarkan mereka menghancurkan nama baiknya, juga keluarga Adijaya.
"Kenapa harus marah? Semua yang aku katakan adalah kenyataan, kalau tidak percaya, tanyakan sama wanita tidak tahu diri itu!" Maira menunjuk Farah yang berdiri di ujung tangga sana.
Farah merasa terusik karena Maira tidak mempercayainya, dia sangat marah karena selalu membela putra bajigurnya. Dia memang salah, karena termakan bujuk rayu Bryan, tetapi semua itu tidak sepenuhnya dia yang salah.
Saat perjamuan di kediaman Brahmana, Farah sedikit mabuk karena minuman beralkohol.
Flash Back
"Lo haus? Minumlah!" Bryan memberikan minuman yang dibawanya.
"Apa ini?" tanya Farah dengan kening berkerut. Dia memperhatikan warna minuman yang Bryan berikan untuknya.
"Jus strawberry kesukaanmu," sahut Bryan. "Ambillah!" Dia meraih tangan Farah yang tampak bingung.
"Kau yakin?" tanya Farah sekali lagi. Dia harus memastikan bahwa minuman itu tidak mengandung alkohol, terlebih dosis tinggi.
"Nggak percaya? Gue akan coba biar lo percaya." Bryan meraih cawan di tangan Farah dan meneguknya sedikit. "Kau lihat, aku baik-baik saja, bukan?"
Farah mengangguk, setuju dengan ucapan Bryan. Dia tahu Bryan juga memiliki toleransi buruk terhadap minuman beralkohol. Tidak mungkin Bryan akan berbuat hal buruk padanya. Karena Farah tahu Bryan bisa menghargainya dibandingkan dengan wanita di luaran sana.
Bryan memiliki prinsip, sesuatu yang sudah tidak berharga maka tidak perlu dipertahankan lagi, seperti wanita yang datang padanya. Mereka tidak menghargai dirinya sendiri, jadi dia tidak perlu menghargainya.
"Ada apa dengan minuman itu? Mengapa aku merasa semakin haus setelah meminumnya?" gumam Farah setelah meminumnya hingga tandas.
Rasa haus membuatnya sembarang mengambil minuman yang dibawakan pelayan. Bukan menghilang, dia justru merasa semakin haus.
"Siyal, Bryan pasti sengaja," maki Farah dengan tangan terkepal erat. Dia memilih menjauh dari acara pesta yangaaih berlangsung. "Lebih baik secepatnya aku pergi dari sini. Sebelum semuanya semakin kacau." Farah berniat meninggalkan pesta tanpa pamit, tetapi Bryan berhasil menyusulnya.
"Mau kabur, heh?"
"Aku harus pulang." Wajah Farah memerah, butiran keringat sebesar biji jagung memenuhi wajahnya. Sebelum kesadaraannya benar-benar hang, dia harus segera pergi.
"Hais, lo ini. Bisa nggak kalau nggak nyusahin gue?" ketus Bryan.
Di sana masih banyak tamu undangan, dia tidak ingin membuatnya terlihat sebagai pria kejam dan tidak berperasaan, terlebih mereka semua tahu hubungannya dengan Farah. Terpaksa Bryan mengantatnya pulang, meninggalkan pesta lebih awal.
Namun, di tengah perjalanan, Farah seperti cacing kepanasan yang terus menggeliat. Membuat Bryan merasa risih melihatnya. "Lo bisa diam nggak, sih?" bentaknya.
"Nggak bisa, aku nggak tahan lagi." Farah mendekap tangan kiri Bryan, menggesekkan bapao empuk yang sebagian menyembul karena dress yang dikenakannya sedikit terbuka.
"Lo nggak usah mancing-mancing. Gue nggak tertarik sama cewek matre kayak lo," ejek Bryan. Dia mengibaskan tangannya dan memindahkannya di tempat setir.
"Kamu bilang begitu karena belum mencobanya, kalau sudah, pasti tidak akan pernah kecewa." Farah tak gencar menggoda Bryan, tangannya mulai bergerilnya di tempat-tempat sempit dan gelap.
"Lo gila, hah?" Bryan menginjak rem mendadak, beruntung jalanan tidak terlalu ramai. Dia menepikan mobilnya dan bersiap hendak menurunkan Farah.
Cup! Sebuah benda kenyal mendarat di belahan bibirnya. Bryan mulai bereaksi, tetapi dia memiliku toleransi yang cukup lama, terlebih dia hanya meneguknya sedikit. Tidak dengan Farah yang sudah tidak bisa mengendalikan diri.
"Aarrgghh ..., lo yang mulai duluan. Jangan pernah menyesal nantinya!"
Bryan mencari hotel terdekat, dia tidak mungkin mengantar Farah pulang saat itu juga. Bryan juga mulai terpengaruh, mereka akhirnya membuka kamar di sebuah hotel ternama. Dia tidak lagi peduli dengan prinsipnya, dia harus menuntaskan hasratnya.
Terjadilah malam panjang diantara keduanya, hanya lenguhan dan jeritan di malam yang panjang.
Flash Back Off
Farah tidak dapat berkata-kata, dia mengutuki kebodohannya sendiri yang tidak bisa menjaga diri. Awalnya, Farah masih percaya bahwa Bryan akan bertanggung jawab. Di tambah rencana kedua keluarga yang menginginkan mereka segera manikah.
Namun, siapa yang menyangka bahwa Bryan justru menghindar, semenjak malam itu, Bryan berubah kasar dan selalu mengabaikannya.
"Kalian tidak perlu berdebat, aku yang akan pergi," ujar Farah dengan langkah panjang.
Farah berlari sekuat tenaga meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempatnya bernaung. Dia ingin pergi ke tempat yang tidak ada seorang pun mengenalnya. Dia ingin membuang semua kehidupan pahit yang sudah dilaluinya.
Bersambung ....