
Fay kembali menyusuri lorong menuju ke ruangan dimana Yuri berada, tetapi ekor matanya sekilas melihat Vano di sebuah ruangan yang pintunya terbuka sebagian. "Bukankah dia sudah pergi? Apa yang dia lakukan di ruangan ini? Sebelumnya masih terlihat baik-baik saja," gumamnya pelan.
"Tunggu, kapan dia berganti pakaian? Bukankah tadi dia bersama dokter Adam? Secepat itukah dia berganti pakaian?" Fay meneliti pakaian yang dikenakan Vano, dia hanya melihat sekilas, tetapi dia tahu laki-laki itu selalu berpakaian rapi dengan setelan jas mahalnya. Ah, benar saja, Vano melepaskan jasnya.
"Secepat itukah dia bergabti pakaian? Tapi bukan urusanku juga dia ganti pakaian atau tidak." Fay mengangkat kedua bahunya bersamaan. Untuk apa dia memperhatikan pakaian orang lain? Namun Vano yang dilihatnya sekarang sangat berbeda dari yang ditemui sebelumnya. Rambutnya dibiarkan berantakan, sweater berkerah dengan jas yang digulung hingga sebagian lengan.
Orang yang dikira Vano tengah berbicang serius dengan seorang dokter, Fay meneliti papan yang terdapat di depan pintu. Dibelakang nama dokter ada gelar Sp, And. (Dokter Spesialis Andrologi). Fay hanyalah orang awan yang tidak mengerti ilmu kesehatan, apalagi gelar dokter. Namun dia juga bukan orang bodoh, sekarang dunia sudah begitu mudah untuk mencari informasi melalui internet.
"Haish, nggak disangka, ternyata dia memiliki penyakit serius." Fay terkikik, membayangkan Vano memiliki masalah dengan aset berharganya. "Ah, bukan urusanku juga. Mungkin saja itu karma untuk orang yang suka mempermainkan hati perempuan."
Di dalam ruangan dokter, amarah Ferdi meledak karena hasil pemeriksaan belum menunjukkan perubahan. "Ini semua gara-gara orang itu, awas saja kalau bertemu nanti, aku tidak akan melepaskanmu!" gerutu Ferdi mengacak rambutnya kasar. Dia merasa sangat frustasi karena belum jiga ada kemajuan dari hasil pemeriksaan.
"Jangan sampai terjadi apa pun, kalau kamu tidak bisa menyembuhkannya, lebih baik kamu tidak usah datang lagi!" maki Ferdi pada dokter yang menanganginya.
"Anda tidak perlu cemas, kembalilah satu minggu lagi. Jika masih sama hasilnya, saya sendiri yang akan mengundurkan diri," jawab sang dokter santai.
"Aku akan memberimu kesempatan sekali lagi. Jangan sampai gagal!" ancam Ferdi, ia menghentak kaki dengan wajah kesal, dia sudah diperbolehkan pulang dengan syarat harus check up setiap satu minggu sekali.
Benda pipih persegi miliknya berdering, dari orang kepercayaannya. "Jangan menghubungiku kalau tidak memberiku kabar baik," sentak Ferdi.
"Tentu saja kabar baik, Tuan. Saya sudah berhasil meretas CCTV di lokasi waktu itu. Dan pelakunya sudah ada dalam genggaman, kita tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menangkapnya.
"Hmm, ku tunggu di tempat biasa."
"Baik, Tuan."
Panggilan berakhir, Ferdi segera menuju ke tempat yang telah disepakati, tepatnya di sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah sakit ini. Ferdi menyeringai penuh, ia akan membuat perhitungan dengan orang itu dan berjanji akan membuatnya hidup segan dan mati pun tak mau.
"Heh, aku akan membalasmu lebih dari apa yang kurasakan," batin Ferdi mengepalkan tangannya erat. Dia pasti akan membuat perhitungan dengan orang hampir saja membuat masa depannya hancur.
Apa dia sudah menemukan aku? Bagaimana ini, dia pasti tidak akan melepaskan aku jika tahu orang yang membuat masa depannya adalah aku.
Beruntung dua hari ini Fay sudah meminta izin untuk menjaga sang ibu. Sementara dia aman, tapi bagaimana hari selanjutnya? Dia sudah menyinggung orang yang salah.
"Pikirkan nanti saja, sekarang lebih baik aku menemui Mama." Wanita itu melenggang ke ruang observasi untuk menemui Mama Yuri.
Lagi-lagi langkah Fay harus tertahan oleh kedatangan seseorang paling imgin dihindarinya, Farah--kakak Fay dari ayah yang sama namun berbeda ibu.
"Hei, anak haram," ketus Farah dari jauh. Suara Farah sengaja menarik perhatian orang-orang yang ada di sana. "Kebetulan kita bertemu, bagaimana kondisi wanita pelakor itu? Apa sudah sekarat?" Mulut pedas Farah tidak berbeda dengan ibunya, Ana.
"Hei, apa pendengaranmu bermasalah? Tidak mendengarku?" ucap Farah dengan suara meninggi.
"Maaf, Nona. Apa kita saling mengenal?" cibir Fay menabrak bahu Farah.
"Kamu..., dasar anak haram. Berani sekali mengabaikanku," cicit Farah mulai terpancing amrah, terlebih dirinya yang terhuyung kebelakang karena senggolan bahu. Niat hati ingin mempermalukan Fay tetapi malah sebaliknya.
"Ops, sorry. Tapi aku sengaja," ejeknya. Fay terkekeh dan berbalik untuk menertawakan Farah. "Maaf, Nona. Anda menghalangi jalanku."
Farah menatap Fay tajam, seolah ingin menelannya hidup-hidup. Beberapa orang yang ada di sana saling berbisik dengan keributan dan dimulai Farah.
"Sekali anak haram memang begitu, tidak memiliki sopan santun. Jalan masih lebar tetapi menganggapku menghalangi jalan. Ingat, ini tempat umum bukan punya nenek moyangmu." Farah meluapkan kekesalanya dengan tangan terlipat di atas perut.
"Kalau iya, kamu mau bilang apa?" tantang Fay. Dia tidak takut dengan ancaman Farah padanya.
"Ada apa ini?" Bryan datang disaat yang tepat, hampir saja Farah membuat keributan jika dia terlambat sedikit saja.
"Tuan, tolong jaga pacar Anda dengan baik, dia menghalangi jalan orang dan masih menyalahkanku," ucap Fay dengan mulut mencibir.
"Heh, jelas-jelas dia yang sengaja mendorongku, Bry. Kamu harus bantu aku, dia yang salah tapi menyalahkan orang lain," rengek Farah pada tunangannya--Bryan.
Bryan sendiri merasa risih menjadi pusat perhatian orang-orang yang berkerumun, penasaran keributan apa yang terjadi. Dia menepis Farah yang hendak menyentuhnya, tatapannya justru teralihkan oleh wanita yang ditabraknya saat keluar dari toilet.
"Jangan membuatku malu, cepat minta maaf padanya," ucap Bryan dengan nada rendah.
"Tapi, Bry. Dia yang salah, kenapa harus aku yang minta maaf?" Farah tidak terima dirinya harus merendah dan meminta maaf pada Fay. "Kamu lebih memilih membela anak haram ini, dari pada aku, calin istrimu?"
Farah semakin tidak terima, dia hanya berniat mempermalukan Fay. Bukan malah dirinya yang dilermalukan di depan umum. Yang lebih menjengkelkan, Bryan justru membela Fay secara terang-terangan dengan memintanya untuk meminta maaf.
"Apa lo bilang? Gue nggak salah demgar, kan? Sebaiknya lo dengar baik-baik, pertunangan yang diatur oleh orangtua, dan gue nggak pernah menganggap lo. Gue harap mulai sekarang lo harus jauh-jauh dari hidup gue!"
Jleb!
Mulut Farah ternganga mendengar penuturan Bryan yang semakin menyudutkannya. Ia tidak menduga jika Bryan bukan hanya tidak membantunya justru semakin membuatnya malu.
"Nggak, aku nggak akan meminta maaf padanya." Farah menerobos sekelompok orang yang berkerumun mengelilingi mereka.
Bersambung ....