
"Kenapa Mama diam, apa semua yang Papa katakan itu benar?" tanya Farah sekali lagi. "Jadi itulah alasan mengapa dia selalu mengabaikan Farah?" lanjutnya.
Kedua mata Farah terpejam, dia menghempas tangan Ana yang hendak meraihnya. Hatinya terlalu sakit untuk menerima semua kenyataan. Faktanya, dialah anak haram itu, bukan Fay.
Tuhan, takdir ini sungguh kejam, mempermainkan perasaanku. Ternyata sesakit ini dibohongi oleh orang terdekat. Tega sekali kalian melakukan ini padaku.
"Farah, bukan maksud Mama seperti itu. Dengarkan penjelasan Mama." Ana berusaha mengejar Farah yang berlari ke kamarnya.
Belum sampai di depan pintu, suara bel berbunyi sangat nyaring. Wanita itu mengurungkan niatnya, langkahnya tiba-tiba melambat saat terdengar suara keributan dari balik pintu ruang tamu yang masih tertutup rapat.
Dadanya bergemuruh, perasaannya campur aduk, sedih, marah, dan takut. Siapakah gerangan yang membuat keributan di depan rumahnya? Farah ketakutan, akankan paparazi berhasil menemukan dirinya dan berbalik memburunya? Tidak, hal itu tidak boleh terjadi.
Farah menambah kecepatan berlarinya, menutup pintu dengan kasar dan menguncinya. Saat ini dia hanya ingin meluapkan semua kesedihannya. Ingin pergi, tapi kemana? Di sini satu-satunya keluarga yang dia miliki.
Sahabat, teman, tidak mungkin dia menceritakan kejadian yang dialaminya. Mereka semua hanya akan menertawakan hidupnya yang pahit dan penuh penderitaan. Image yang sudah susah payah dia bangun akan sirna dalam sekejap mata.
Mengapa kamu tidak pernah memikirkan akibat dari perbuatanmu sebelum bertindak?
*Tuhan, mengapa aku harus dilahirkan ke dunia ini jika hanya luka yang aku dapat? Dunia ini begitu kejam padaku, Kau tak memberiku kesempatan untuk menikmati rasa bahagian walau dalam sekejap.
Jika terus seperti ini, Kau ambillah nyawaku ini! Tiada guna lagi aku hidup di dunia ini. Jemput aku, Tuhan*.
Kedua lututnya ditekuk dengan kedua tangan terlipat di atasnya. Wajahnya terbenam diantara lipatan tangan itu. Tubuhnya berguncang hebat seiring isak tangis yang menyayat hati.
"Semua ini karena kamu, Fay. Aku benci kamu! Aku pasti tidak akan membiarkan hidupmu bahagia di atas penderitaanku," gumam Farah di tengah isak tangisnya. Dia terus saja menyalahkan Fay atas semua kejadian buruk yang menimpanya.
Farah merasa semakin frustasi, dilihatnya hasil pemeriksaan medis yang menyatakan dirinya tengah berbadan dua. Sementara ia masih belum menikah, nafsu sudah membutakannnya. Atas nama cinta dia rela menyerahkan mahkotanya kepada laki-laki brankshake yang berstatus tuangannya.
"Aku akan membuatmu membayar semua ini, seharusnya kamu yang menderita, bukan aku. Seharusnya kamu yang mengalami semua ini, bukan aku!"
Farah berpikir dialah korban di sini. Awalnya dia mengira akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini karena bisa menggantikan Fay masuk ke dalam keluarga Brahmana. Pada akhirnya, dialah orang yang paling menderita dan menyedihkan.
"Siapa yang bertamu sepagi ini?" gumam Ana dengan kening berkerut.
Sama halnya dengan Farah, dia begitu penasaran dengan orang yang bertamu di rumahnya. Dia mengintip dari lubang kecil di pintu untuk mengurangi rasa penasarannya. Alangkah terkejutnya wanita paruh baya itu saat mengetahui siapa yang bertamu ke rumahnya.
Bel kembali berbunyi untuk kedua kalinya, diiringi suara ketukan pintu oleh wanita seusianya. Dia begitu giat, membuat pemilik rumah terusik.
"Selamat pagi, Nyonya. Selamat datang di Kediaman Adijaya," sapa seorang pelayan dengan ramah.
Ana meminta pelayan untuk membukakan pintu, sementara dia kembali ke ruang makan yang sudah tidak berpenghuni. Riko kehilangan selera makannya dan memilih pergi ke ruang baca.
"Nggak perlu basa-basi, di mana tuan dan nyonya rumah ini?" tanya wanita itu sesaat setelah pintu dibuka.
"Bagus, ya. Mereka masih bisa menikmati sarapan pagi setelah mengetahui semua berita tentang putrinya," maki Maira--Nyonya Keluarga Brahmana.
"Ada apa ini, pagi-pagi sudah buat onar," cibir Ana.
Dia menatap Maira sengit, dari awal memang Maira tidak menyetujui pertunganan putranya dengan Farah. Awalnya mereka teman baik, sampai setelah pertunangan itu tiba, Maira membeberkan semua kelakuan buruk Farah di hadapan semua teman-temannya. Sebagai seorang ibu, Ana tentu saja tidak terima putrinya di rendahkan.
"Tolong jaga ucapan Anda, Nyonya Maira. Farah tidak akan melakukan hal itu kalau putra Anda tidak berkhianat sebelumnya." Ana sangat murka menuduh Farah selingkuh dengan pria lain, sementara Bryan-lah yang melakukannya.
"Heh, benar atau tidaknya kamu yang lebih tahu. Saya percaya, buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kelakuan anak pasti menvontoh dari ibunya yang mengicar milik orang lain," ejek Maira dengan tangan terlipat di atas perut.
"Siapa yang tidak tahu kenyataan itu? Kalian di sini sebagai saksinya, jalan apa yang sudah dia tempuh untuk menduduki posisinya," lanjut Maira.
Wajah Ana merah padam, rahangnya mengeras, tangannya terkepal erat hingga buku jarinya memutih. Meski semua itu kenyataan, tetapi Ana tidak terima Maira membongkarnya di hafaoan semua orang.
Byurr! Segelas jus jeruk berhasil membuat Maira berteriak, bagian depan tubuhnya basah oleh air berwarnya orange yang menyegarkan.
Maira tidak mau kalah, dia mengambil gelas dari nampan yang dibawa oleh pelayan yang lewat di sisinya. "Kamu berani mengotori pakaianku?" senyak Maira dengan wajah menyeringai.
Keadaan keduanya sangat memalukan, rambut, wajah dan pakaian mereka basah karena saling siram. Namun, Maira berhasil membuat Ana malu dan tidak berkutik. Semenjak itu, hubungan mereka semakin jauh.
"Di mana anak kamu yang tidak tahu diri itu?" ucap Maira dengan suara lantang.
Suara itu terdengar sampai di ruang baca, Riko yang sedang mempersiapkan dokumen untuk dibawa ke kantor merasa terusik, dia mengenal suara itu. Tanpa menunggu lagi, Riko bergegs kembali ke ruang makan, dia tidak akan membiarkan Ana menhacaukan rencananya. Bagaimanapun juga Keluarga Brahmana masih bermanfaat untuknya.
"Kamu yang tidak tahu malu, pagi-pagi membuat keributan di rumah orang lain," tantang Ana. Di sini wilayah kekuasaannya, dia tidak akan memniarkan Maira menindasnya di rumah sendiri.
"Berisik banget, sih." Riko mendecak, dia hanya melihat punggung wanita yang mendebat istrinyam Siapa orang yang berani mengusik keluarganya pagi-pagi begini? Pikirnya.
"Kalian ini berisik sekali," ujar Riko seraya meletakkan koper berisi dokumen penting.
"Nah, kau masih ada di rumah. Aku peringatkan untuk mengajari istrimu ini sopan santun!" tuduh Maira dengan wajah mencibir.
"Kau yang tidak tahu sopan santun, datang ke sini ...."
"Cukup, Ana. Nyonya Maira silakan duduk, kita bicarakan baik-baik." Wajah Riko seketika berubah ramah sesaat setelah mengetahui orang yang sedang berdebat dengan istrinya. Dia adalah calon besan, tentu saja Riko tidak boleh membuat kesalahan.
"Tidak perlu, aku cuma mau bertemu anak perempuan kamu. Cepat panggil dia kemari!" Maira berkacak pinggang, menantang sang pemilik rumah yang sudah berusaha merendahkan diri. "Aku mau pertunangan mereka dibatalkan!" lanjutnya.
"Apa?" sahut Riko dan Ana bersamaan.
Bersambung ....