Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Kita bertemu lagi, Nyonya!



Tiga hari kemudian, Riko Adijaya mengundang Vano untuk makan malam, mereka akan membicarakan kerjasama yang akan disepakati. Berhasil atau tidaknya kerjasama kali ini akan sangat berpengaruh bagi Perusahaan Adijaya kedepannya.


Proyek milyaran itu sebenarnya tidak berpengaruh bagi HS Group, tetapi Vano memiliki tujuan lain. Sehingga ia bersedia menerima pengajuan kerjasama itu.


Sebuah restoran kelas atas akan menjadi saksi atas kesepakatan mereka. Tidak hanya itu, Vano juga meminta Riko membawa keluarganya. Awalnya Riko bimbang, namun ia berpikir kalau Vano bisa tertarik dengan Farah semuanya akan berjalan lebih mulus.


"Maaf, saya sedikit terlambat," ucap Vano sopan. "Kalian pasti sudah lama menunggu."


"Tidak papa, kami yang datang terlalu awal," jawab Riko tak kalah sopan, ia menarik kursi untuk Vano duduk, tetapi Vano mencegahnya.


"Biar sekretaris saya." Vano memberi kode pada Arlan untuk melakukan tugasnya.


Manja, biasanya juga tidak mau dilayani.


"Ah, iya. Perkenalkan, Riana dan Farah. Istri dan anak saya." Riko memperkenalkan dua wanita yang turut serta bersamanya.


Ana menunduk ketakutan, sebenarnya ia tidak ingin ikut makan malam hari ini, tetapi Riko mengancam akan memotong uang belanjanya. Terpaksa ia harus menurutinya.


Kenapa bisa ketemu lagi sama orang ini, apa dia akan mengenaliku? Bagaimana pun aku telah menyinggung orang yang salah.


"Saya Ana," ucapnya dengan memaksakan senyum.


Awalnya Vano tidak menyadari karena wanita itu selalu menunduk semenjak ia masuk. Sekarang dia ingat, wanita itu adalah orang yang memarahi Ibu Yuri di rumah sakit.


"Kita bertemu lagi, Nyonya." Sudut bibir Vano terangkat sebagian. Membuat Ana semakin ketakutan.


"Kalian saling mengenal? Tidak maksudku Tuan Melviano mengenal istri saya?" Riko menatkan kedua alisnya sampai hampir menyatu.


"Tidak. Hanya kebetulan pernah bertemu di jalan," ucap Vano malas. Ternyata wanita jahat itu adalah istri Riko, ia akan melihat trik apa yang bisa dimainkan oleh wanita itu.


Farah tidak berkedip menatap pahatan Tuhan yang begitu sempurna yang kini duduk berhadapan dengannya. Meski sudah memiliki tunangan, tetapi Farah tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak jatuh cinta pada pengusaha muda itu.


"Farah, cepat beri salah pada Tuan Melviano," lirih Ana pada putrinya. Dia tidak memberitahu Farah bahwa ia pernah berjumpa dengan Vano sebelumnya.


"Saya Farah," ucapnya dengan menyelipkan sulur rambut yang menghalangi mata, Vano hanya melirik uluran tangan Farah tanpa berniat membalasnya. Sehingga gadis itu tersenyum kecut dan menarik kembali uluran tangannya.


Sombong banget, sih. Untung ganteng, kaya lagi. Coba kalau nggak, ogah banget deh.


Ekor mata mata Vano tidak bisa diam, memindai seluruh sudut ruangan ruang VIP yang ditempatinya, tetapi tidak juga mendapati apa yang dicarinya. Ia menghembus napas kecewa, setelah menunggu beberapa saat juga wanita yang dicarinya tidak kunjung menampakkan diri.


Riko dan Ana saling bertukar pandangan, makanan sudah dihidangkan tidak lama setelah Vano duduk. Namun, sepertinya masih ada seseorang yang ditunggunya.


Arlan hanya diam dan memperhatikan, ia tahu isi hati Vano hanya dengan melihat perubahan wajahnya sekilas. Bukankah ia sudah meminta Riko untuk membawa putrinya? Tapi bukan Farah yang dia maksud, melainkan putri yang lain.


"Biarkan saya membantu Anda, Tuan." Farah berniat mengambilkan makanan untuk Vano, lagi-lagi penolakan yang ia dapatkan.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri," ucapnya dingin.


Sesekali Farah mencuri pandang, ia berusaha sehalus mungkin demi mendapatkan perhatian Vano, tetapi ia harus kecewa karena Vano sama sekali tidak melihatnya, melirik pun tidak. Tatapan pemuda itu selalu tertuju ke arah pintu. Mengharapkan kehadiran seseorang yang tak kunjung datang meski makan malam hampir selesai.


Melihat Vano meletakkan peralatan makan, Riko berusaha membuka percakapan, ia harus mendapatkan kesepakatan malam ini juga. "Soal proyek yang akan ...."


Vano sudah berdiri, mood-nya benar-benar kacau karena tidak sesuai harapan. Wanita yang ditunggunya ternyata memang tidak datang, atau Riko memang sengaja tidak memberitahunya?


"Tapi, bagaimana kerjasama kita, Tuan?" Riko berusaha mengejar Vano yang lebih dulu meninggalkan mereka. Harapannya pupus sudah, bukan keuntungan yang didapat, melainkan kerugian.


"Tuan Riko, Tuan Melviano masih ada janji penting dengan investor lain. Saya akan menghubungi Anda nanti." Arlan mencegah Riko yang hendak menyusul Vano. Sebenarnya ia sudah menduga hal ini akan terjadi karena dia sudah hafal betul sikap atasannya itu.


"Baiklah."


Riko mengikuti Arlan untuk mengantarnya sampai di depan pintu masuk, bagaimana pun dia masih harus bersikap sopan meski hatinya marah. Ia merasa dipermainkan oleh Vano, kehadiran Farah yang diharapkan dapat mencairkan suasana dan mempermudah kerjasama tidak berpengaruh apa pun. Apa yang salah dengannya?


"Bukankah kamu bilang wanita itu anak Riko Adijaya?" kesal Vano setelah Arlan masuk ke dalam mobil.


"Masih bilang tidak memiliki tujuan lain?" Arlan terkekeh, ia tidak menjawab pertanyaan Vano, justru menggodanya.


"Hmm."


Mobil melaju, meninggalkan restoran yang masih ramai akan pengunjung di jam makan malam. Vano mengalihkan pandangan pada gemerlapnya lampu jalanan di malam hari.


"Ish, sebal, tau begini aku nggak perlu dandan dan beli baju mahal segala," gerutu Farah.


"Sudahlah, kamu dengar sendiri dia sangat sibuk," bujuk Ana menenangkan putrinya. Ia sendiri tidak tahu arah pikiran Vano. Sama seperti Riko, dia begitu semangat untuk mendandani Farah dengan penampilan terbaiknya, berharap Vano akan meliriknya. Kenyataannya, Farah hanya dijadikan pajangan, dilirik pun tidak sama sekali.


"Aku nggak terima, Pa. Dia seenaknya sendiri, Papa lihat, kan?" adu Farah pada sang ayah.


"Cukup, kamu pikir Papa mau berakhir seperti inu? Semua itu karena kamu yang kegenitan, tidak bisa menjaga sikap." Riko justru memarahi sikap Farah yang tidak bisa mengambil hati Vano.


"Pa, jangan salahin Farah, dong!" Ana tidak terima Farah disalahkan.


"Kamu nggak usah membelanya, kalau bukan karena kamu terlalu memanjakan dia, pasti dia tidak akan tumbuh menjadi gadis yang genit dan tidak tau sopan santun!"


"Kamu nyalahin aku?" Ana semakin kesal karena Riko ikut memarahinya.


"Haish, terserah kalian. Aku lelah." Riko meninggalkan Ana dan Farah dalam keadaan kesal. Ia bahkan pulang tanpa menunggu mereka.


"Riko, kamu tunggu aja!" maki Ana. Dia sudah rugi dua kali, bahkan jatah belanjanya harus ia gunakan untuk membayar makan malam yang jumlahnya tidak sedikit. Kali ini Riko benar-benar keterlaluan.


"Ma, terus kita pukangnya gimana?" rengek Farah.


"Kamu ini, bukannya bantu Mama mikir bisanya merengek seperti bayi," ketus Ana. "Kita naik taksi."


Farah mengerucutkan bibir, ia membatalkan janji makan malam dengan keluarga Bryan demi menghadiri undangan Vano, tetapi apa yang dia dapakan sekarang? Vano tidak didapatkan, Bryan juga memakinya.


Sementara itu di rumah sakit.


Fay membenarkan posisi selimut Yuri yang tersingkap sebagian. Hari ini dia kerja pagi dan baru saja pulang. Ia tidak menuju ke rumahnya melainkan langsung ke rumah sakit untuk menjenguk sang ibu.


"Kamu sengaja ingin menghindar?"


Bersambung ....