Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Rencana Babymoon



"Nak, sudah pulang?" tegur Mama Yuri.


"Iya, Ma. Di mana istriku?" sahut Vano, celingukan mencari sosok yang sudah sangat dia rindukan. Padahal mereka baru berpisah selama beberapa jam saja.


"Mungkin di kamarnya," jawab Mama Yuri seraya menunjuk dengan dagunya.


Vano bergegas menyusuri undakan demi undakan anak tangga. Pintu kamar tidak tertutup rapat, Vano dapat menemukan istrinya dengan mudah. Wanita itu tengah berdiri membelakanginya, menikmati warna warni bunga yang tertata rapi di bawah sana.


"Lagi ngelamunin apa, sih?" Vano memeluk sang istri dari belakang. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat Fay tersentak.


"Ish, ngagetin aja." Fay memegang tautan tangan Vano yang melingkar di perutnya. Dia menggeser kepalanya tanpa berbalik. Kebiasaan Vano yang lain adalah memeluknya dari belakang seperti sekarang ini.


Mengendus aroma yang membuatnya candu, Vano tidak melepaskan diri meski Fay berusaha memberontak.


"Biarkan seperti ini, sebentar saja." Vano mempererat pelukannya. Hangatnya napas laki-laki itu membuat bulu roma Fay berdiri.


"Kok, udah pulang? Nggak jadi meeting?"


"Udah. Kangen baby," rengek Vano.


"Baru juga pergi sebentar, kasihan si Arlan kalau kamu tinggalin terus," tegur Fay.


"Jadi kamu lebih kasihan sama orang lain dari pada suamimu sendiri?" sungut Vano. Dia tidak suka Fay lebih perhatian dengan orang lain, hanya dia yang boleh mendapat perhatian darinya.


"Hei, tentu saja suamiku ini yang utama." Fay berbalik dan mencubit pipi Vano, gemas.


"Kalau gitu, peluk, dong!"


"Manja banget, dari tadi juga udah dipeluk." Fay mencebik, tidak ingin menuruti Vano yang semakin menjadi-jadi.


"Beda, dong! Tadi kamu yang dipeluk, sekarang gantian kamu yang peluk," ucap Vano tanpa dosa. Bukankah itu sama saja judulnya pelukan? Ish, bikin thor iri aja.


"Nggak."


"Ayolah! Nanti dapat hadiah, loh." Vano menaik turunkan alisnya, tangan kanannya tersimpan di dalam saku celana.


"Nggak," tegas Fay.


"Yakin, nggak tertarik sama hadiahnya?" Vano mengibaskan dua lembar tiket babymoon yang sengaja dipersiapkan sebelumnya.


Fay mengernyit keheranan, benda apa yang ada di tangan sang suami? pikirnya. Dia berusaha merebut tiket tersebut, tetapi Vano tidak membiarkan Fay mendapatkannya.


"Kiss dulu," ujar Vano menunjuk wajahnya.


"Katanya peluk?" Fay mengerucutkan bibirnya karena Vano semakin menggodanya.


"Yah, nggak jadi liburan, deh."


Seketika wajah Fay berbinar, apakah Vano benar-benar akan mengajaknya berlibur sesuai keinginannya?


Fay menghambur dalam dekapan sang suami, tak lupa sebuah kecupan hangat di wajahnya. Dia berhasil merebut kertas tersebut, rupanya Vano menepati janjinya untuk membawa Fay berkeliling tempat-tempat impiannya.


"Serius?"


"Hmm."


Kondisi Fay sangat baik, begitu juga baby dalam kandungannya. Namun tetap harus memperhatikan beberapa hal untuk menghindari ibu hamil kelelahan dan berakibat pada kesehatan mereka berdua.


"Thanks, Suamiku Sayang."


"Apa pun, asalkan kalian bahagia." Vano membenamkan sebuah kecupan yang cukup dalam, saling bertaut untuk beberapa saat.


"Boleh, ya." Wajah Vano sulit diartikan, dia memohon dengan napas tersengal. Berharap Fay mengizinkan dia menengok si baby di dalam sana.


"Tapi ...."


"Kata dokter sudah aman, aku akan perlahan," ucapnya penuh harap.


Fay mengangguk pelan setelah banyak pertimbangan, dia ingat terakhir kali Vano melakukannya. Dirinya harus bed rest selama dua hari karena Vano lupa diri.


"Tapi, bersih-bersih dulu, sana."


"Siyap!" Vano sangat bersemangat, dia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. "Tunggu aku, Sayang."


Fay hanya menggelengkan kepalanya, senyum tak memudar dari wajah cantiknya. Diusapnya perut yang semakin membuncit dan berkata, "kau lihat Daddy-mu? Jangan tiru dia, ya. Dia itu baik kalau ada maunya aja."


Di dalam sana, baby merespons ucapan Fay dengan gerakan, membuatnya merasa geli. Semakin hari baby semakin lincah. Dia terkekeh setelahnya. Inikah yang dinamakan nikmat dunia? Sungguh indah, Fay berharap sekua ini tidak akan pernah berakhir.


"Kau sedang bermain bola di dalam sana, huh?" lirih Fay. "Emm, apa kau lapar?" Makhluk mungil di tubuhnya kembali bergerak, Fay semakin bersemangat. Dia menuju ke dapur setelah menyiapkan pakaian untuk Vano, tidak lupa menyimpan hadiah yang diberikan oleh sang suami.


Mencari menu segar yang bisa mengisi lambungnya, sekarang Fay lebih cepat lapar, padahal ia baru saja menikmati kue keju di balkon kamarnya. Namun Fay tidak lagi peduli pada dirinya yang semakin membengkak, yang terpenting baby di dalam sana semakin sehat dan lincah.


Vano memdesahkan napasnya saat selesai dengan ritualnya di kamar mandi, tetapi tidak menemukan keberadaan sang istri. Dia tahu harus mencarinya ke mana, dapur. Hanya itu tempat yang akan Fay datangi setiap saat. Bukan hanya Fay, Vano sepertinya juga tertular hormon kehamilan. Dirinya mudah sekali lapar, terlebih jika makanan itu berasal dari tangan Fay.


"Kau di sini rupanya." Vano sudah berada di balik pintu lemari es saat Fay ingin menutupnya.


"Ish, kebiasaan, deh. Untung nggak tumpah," gerutunya.


"Palingan tumpah ke sini," kekeh Vano, dia mengusap perutnya yang tidak rata.


"Itu sih maunya kamh aja," ketus Fay, meninggalkan sang suami ke meja makan.


Dari kejauhan, wajah Mama Yuri tampak berseri melihat anak dan menantunya. Dia sangat bersyukur Fay bisa menikah dengan Vano. Laki-laki bertanggung jawab dan sangat penyayang. Meski awalnya tidak ada cinta, tetapi seiring berjalannya waktu, baik Vano maupun putrinya bisa saling membuka diri.


Mama sangat bahagia, mulai sekarang Mama tidak akan pernah takut lagi jika suatu saat malaikat datang menjemput ajal. Kamu sudah berada di tangan orang yang tepat, Mama berharap kehidupan kalian akan bahagia selamanya. Walaupun Mama sudah tidak bisa melihatnya lagi.


Hasil pemeriksaan Mama Yuri untuk terakhir kali tidak menunjukkan hasil yang baik. Bisa saja suatu hari nanti dia akan benar-benar pergi. Namun dirinya sudah tenang, Fay telah menemukan keluarga yang baik hati dan menerimanya. Dia tidak akan bersedih lagi sekarang, meski tanpa dirinya yang menemani.


Tanpa terasa butiran kristal menetes di wajahnya. Yuri segera menepisnya dengan punggung tangan, tetapi semua gerak-gerik Yuri tidak lepas dari pengamatan Mbak Rum.


"Ibu, kenapa nangis?" tegur Mbak Rum.


"Siapa yang nangis, Mbak? Aku cuma kelilipan aja," elaknya.


"Rum sudah melihatnya, Bu. Jangan berbohong lagi."


"Ini air mata kebahagiaan, akhirnya aku bisa melihat pemandangan seindah ini. Tuhan masih berbaik hati padaku dengan menambahkan usia sampai di detik ini," jelas Yuri tak kuasa menahan haru.


Bersambung ....