
Rindu. Rasa sesak yang terus menjalar, menusuk relung hati yang terdalam. Merapuhkan semua tembok penghalang yang sudah terbangun dengan semua keringat dan jerih payah. Fadila Atsya Yuuna.
***
Ting! Sebuah notifikasi yang membuat layar ponselnya menyala, wajahnya seketika berbinar, berharap dia bersedia membujuknya seperti waktu yang lalu.
Sekarang sudah hari kedua semenjak terakhir kali Vano menghubunginya hari itu. Berulang kali Fay memeriksa ponselnya, berharap ada panggilan atau pesan yang mengingatkannya. Namun harapan hanyalah sebuah angan semata. Kenyataan telah mematahkan semangatnya.
Fay melempar benda pipih persegi miliknya, ternyata hanya notifikasi dari pihak kampus yang mengingatkan ujian akhir semester nanti. Hayo, siapa yang pernah ngalamin hal ini? Thor pernah juga, loh. Berharap doi yang kirim pesan. Eh, nggak taunya cuma dari operator seluler. Hik, meng-sad. (Sorry, malah curhat. Hehe ...)
Bibir cherry miliknya kembali berkerut, sejak kemrin Fay tidak berniat berangkat ke kampus meski ujian sudah menantinya.
"Apa dia marah karena aku mengacuhkannya kemarin? Dia berniat balas dendam padaku?"
Kedua netra bening milik Fay meredup, hanya dengan membayangkan sikap dingin Vano sudah membuatnya sakit. Butiran kristal berjatuhan tanpa permisi, Fay sendiri tidak mengerti dengan perasaannya yang begitu cepat berubah.
Jemari tangannya dengan lincah mengetikkan sesuatu, tetapi sesaat kemudian dihapus, ketik dan dihapus lagi, begitu hingga berulang beberapa kali. Fay dibuat frustasi dengan keinginannya. "Aaaa ..., lama-lama aku bisa gila kalau terus seperti ini," teriaknya.
"Gila kenapa, hmm? Kalau boleh Mama tebak, pasti sedang terserang demam," ucap Yuri, sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Ish, Mama ini. Fay sehat-sehat aja, kok." Dia mencebik, hanya melihat sekilas Mama Yuri yang semakin mendekatnya.
"Iya, lagi demam rindu," kekeh Yuri, sengaja menggoda putrinya.
"Mama nggak usah ngadi-ngadi, siapa juga yang merindukan laki-laki menyebalkan sepertinya." Fay berkilah, dia masih belum mengakui perasaannya. Jelas-jelas hal itu bisa terpancar dari wajahnya, terlebih sang ibu yang sudah membersamainya selama dua puluh satu tahun hidupnya.
"Kalau Mama ke sini cuma mau bahas itu, lebih baik nggak usah datang," ketus Fay dengan wajah sulit diartikan.
"Ngusir, nih?" ledek Yuri.
"Nggak."
"Kok, jadi marah-marah gitu, sih." Yuri mencolek wajah Fay yang terlihat semamkin membulat. "Oke, deh. Mama nggak bahas lagi. Kamu nggak pergi ke kampus hari ini?" lanjutnya.
"Nggak, Fay malas. Mau tidur lagi aja," sahut Fay seraya menutupi wajahnya dengan selimut.
"Tumben, biasanya anak Mama ini paling disiplin, loh!"
"Ah, Mama. Fay lagi malas, bolehlah sesekali bersikap nggak biasa," gerutunya dari balik selimut.
"Baiklah. Mama nggak ganggu lagi, nanti biar Mbak Rum yang mengantar makananmu ke kamar," imbuh Yuri.
"Aku nggak lapar," ucap Fay pelan, sangat pelan sehingga hanya dirinya yang dapat mendengarnya. "Aku cuma mau dia, kenapa nggak ada yang ngertiin perasaanku?"
Wanita itu meninggalkan kamar putrinya, menutup pintu kamar tanpa merasa curiga sedikit pun dengan perubahan sikap dan kebiasaannya. Dia berpikir Fay sedang kesal karena Vano belum juga pulang seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya.
Mentari sudah mulai terik, tetapi Fay belum juga beranjak dari ranjang ternyamannya. Semangat hidupnya seolah telah menghilang bersama ketidakhadiran Vano selama dua hari ini.
Sarapan pagi juga masih utuh tidak tersentuh sedikitpun, dibiarkan dingin di atas meja. Hanya segelas susu yang berkurang sebagian. Melihat hal itu, Yuri mencemaskan putrinya. Wanita paruh baya itu kembali ke kamar putrinya.
"Ya ampun, Fay. Kamu sakit?" Yuri terkesiap saat melihat putrinya masih bergelung di bawah selimut, siang ini matahari tersenyum cerah, meski tidak dengan suasana hati Fay. Lihatlah! Dia masih memakai piyama tidur yang sama, hal itu menandakan dia sama sekali belum beranjak dari ranjang sejak dia meninggalkannya pagi tadi.
"Mama ..., hiks ...."
"Eh, kamu kenapa? Mama panggilkan dokter, ya." Yuri menempelkan punggung tangannya di kening Fay, tidak demam. Leher juga, malah berkeringat karena pendingin ruangan dimatikan.
"Nggak mau, aku cuma mau dipeluk," rengek Fay manja.
Kening Yuri berkerut sangat dalam, dia sudah tidak tahan lagi. Pada akhirnya Yuri menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan putrinya. "Mandi dulu, sana!" Dia menghindar saat Fay ingin mendekapnya.
"Nggak usah mandi, yang penting udah sikat gigi sama bersihin muka," celetuk Fay, menampilkan deretan giginya.
"Dia nggak akan pulang."
"Siapa bilang? Dia bilang sama Mama lagi di jalan, loh."
"Hah? Mama nggak bohong, kan?"
"Nggak." Sebuah senyuman terbit di wajahnya. Mendengar itu, Fay kembali bersemangat. "Aku mandi dulu," teriaknya seraya berlari ke kamar mandi.
Maafkan Mama, terpaksa membohongimu. Hanya dengan begitu kamu tidak akan bermalas-malasan lagi.
Benda pipih milik Fay bergetar, tetapj dia tidak mengetahuinya. Mama Yuri juga sudah tidak ada lagi di sana.
Di tempat lain, Vano benar-benar bekerja keras bersama Arlan dan anggota tim yang terlibat dalam proyek pembangunan stasiun kereta api bawah tanah. Sejak kemarin Vano harus menunda urusan pribadinya karena ingin segera menyelesaikan pekerjaan. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang istri. Terbiasa bersama, sekarang harus terpisah rasanya ada yang hampa. Meski mereka lebih sering berdebat hanya hal-hal kecil, tetapi hal kecil itulah yang membuatnya terikat satu sama lain.
"Huh, akhirnya selesai juga," dengus Vano. Dia meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku, matanya terasa berat karena tertidur beberapa jam saja.
"Si bawel lagi ngapain, ya?" gumamnya. Dia mencari benda pipih miliknya, tetapi baru teringat ponselnya tertinggal di dalam mobil. Telepon tadi siang tidak ada jawaban, membuat Vano semakin penasaran dengan keadaan sang istri.
"Kenapa?" tanya Arlan, dia baru saja kembali mengurus dokumen.
"Aku lelah," eluh Vano.
"Kau pulanglah, biar aku yang selesaikan masalah ini," pinta Arlan.
"Kau yakin?"
"Hmm ...."
"Baiklah." Tangan Vano menengadah, membuat Arlan mengernyit.
"Apalagi?"
"Kunci mobil, kau kira mau apa, huh?" sungut Vano. "Ponselku tertinggal di sana."
"Oo ...."
"Cepat!" desaknya.
"Lebih baik diantar sopir, kau pasti lelah sejak kemarin."
"Nggak perlu, aku bisa sendiri." Vano memaksa ingin mengemudi, Arlan hanya bisa menyetujuinya.
Perasaan Arlan tidak enak, dia lebih baik mengutus orang untuk memastikan Vano sampai di rumah dengan selamat. Terlebih hari sebentar lagi gelap, dia tidak ingin disalahkan karena membiarkan Vano kembali seorang diri.
Vano terus bersiul sepanjang jalan, memikirkan tidak lama lagi akan bertemu sang istri membuat rasa lelahnya seakan sirna. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Namun, alanan lurus dan halus yang cukup lengang, membuat Vano tidak sabar dan ingin cepat sampai di mansion.
Vano baru teringat ponselnya, dia ingin menghibungi Fay. Mungkin saja kemarahannya sudah mereda. "Ah, kamu di sana rupanya." Dicarinya nomor sang istri, nada dering terdengar, tetapi sudah beberapa kali tidak juga ada jawaban.
Ponselnya terjatuh karena menabrak polisi tidur yang tidak disaadarinya. Namun, saat tangannya meraih benda pipih tersebut, dari arah berlawanan datang sebuah kontainer yang membawa bahan baku untuk pembangunan proyek.
Vano berusaha menghentikan laju mobil dengan mengurangi kecepatan, rem tidak berfungsi. Kecelakaan tidak dapat dihindarkan, Vano membanting setir ke sebelah kiri dan ternyata menabrak pohon besar yang berdiri kokoh menyambutnya.
Brak!
"Aaa ...," jerit Vano, sebelum pandangannya semakin kabur.
Bersambung ....