Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Ikrar



"Selamat pagi, Tuan Riko Adijaya."


"Ah, selamat pagi. Selamat datang di...."


"Tidak perlu basa-basi (busuk). Ehm, maksud saya kedatangan saya ke sini untuk menjemput Anda secara khusus," jelas Arlan.


Apa dia bilang? Mungkinkah Tuan Melviano sudah setuju dengan proyek itu karena ia akan segera menikah dengan Fay?


"Baiklah, saya setuju."


"Setuju? Saya belum mengatakan tujuan saya menjemput Anda." Arlan menautkan kedua alisnya, Apakah Vano sudah mengatakannya sendiri? Ah, terserah saja, bukan wewenangnya untuk menanyakan hal itu. Yang terpenting tugasnya untuk menjemput Riko harus tepat waktu.


Tidak lama lagi proyek itu akan segera berjalan. Dengan dukungan HS Group, maka keuntungan akan semakin berlipat. Dia pasti tidak akan perhitungan, apalagi dengan mertua sendiri.


Riko mempersilakan Arlan untuk berjalan lebih dulu dia mengekor di belakanganya seperti anak kucing kehilangan induknya. Binar di wajahnya tidak dapat dielakkan, bahwa dirinya sedang dalam suasana hati yang baik.


"Sekretaris Arlan, kemana kita akan pergi?" tanya Riko dengan sebelah alis terangkat. Lantaran mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman mansion mewah yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Mansion mewah yang telah dihias seindah mungkin, dengan bunga-bunga yang didominasi warna biru muda dan putih.


Namun, laki-laki muda berkacamata itu menutup mulutnya rapat-rapat. Dia fokus pada benda pipih di tangannya yang terus bergetar.


"Apakah semuanya disiapkan untuk menyambutku? Bukankah ini terlalu berlebihan?" gumam Riko pelan.


Lagi-lagi Riko dibuat takjub dengan bangunan mewah yang didominasi warna putih tulang, tetapi tempat ini tidak menunjukkan adanya sebuah pesta. Mungkinkah para tamu undangan belum hadir?


"Mari ikut saya, Tuan." Arlan membukakan pintu untuk Riko, meski dalam hatinya tidak berhenti mengumpat.


Sejak semalam, Arlan harus memastikan sendiri acara hari ini berjalan sesuai keinginan Vano. Bahkan ia hanya tidur beberapa jam demi melakukan tugas yang Vano berikan.


Kening Riko berkerut dalam, di sebuah ruangan yang lebih mirip aula terdapat pelaminan. Pernikahan siapa yang dia datangi? Banyak orang-orang berlalu lalang, tetapi mereka semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Arlan membawanya masuk semakin jauh, Vano sudah menunggunya, duduk berhadapan dengan penghulu yang akan memimpin jalannya pelaksanaan akad nikah. Ekor matanya berusaha menemukan Fay, tetapi anak perempuannya itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiran.


Mungkinkah Tuan Melviano menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan Fay untuk menggertakku?


"Tuan, wali nikah sudah hadir," ucap Arlan.


"Saya?" semua orang mengangguk setuju.


"Baiklah. Acara sudah bisa dimulai, Pak?" tanya Vano pada penghulu.


"Ah, ya. Bisa, mari kita mulai acaranya," sahut pak penghulu.


"Tunggu, saya masih tidak mengerti, ini pernikahan siapa? Dan siapa yang harus saya nikahkan?"


Arlan membimbing Riko untuk duduk di samping penghulu dan saksi yang sudah ditunjuk Vano. Tuan Abimanyu sendiri yang menjadi saksi pernikahan cucunya. Dari pihak wanita, Arga yang mewakilinya.


"Apakah benar Fadila Atsya Yuuna adala putri kandung Anda?"


"Benar."


Vano menjabat tangan Riko, dengan suara lantang, Vano telah resmi menikahi Fay, sah di mata agama dan hukum. Keduanya sudah melakukan transaksi penting dalam hidup, menyerahkan taanggung jawab dan memberikannya pada sang suami.


Di dalam sebuah ruangan, hanya ada Fay dan ibunya. Menunggu ikrar janji pernikahan selesai. Fay menatap nanar sang ibu. Dia tidak pernah menyangka bahwa saat ini telah resmi menyandang status istri dari seorang Melviano Ansell Syahreza--CEO muda pewaris HS Gruop di masa mendatang. Dengan kata lain, saat ini dia sudah resmi menjadi Nyonya CEO seperti yang diinginkannya.


Namun, hatinya mencelos mengingat pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan. Hari bahagia yang diidamkan semua wanita, pernikahan sakral yang hanya ingin dilaluinya satu kali seumur hidup. Pada kenyataannya, Fay harus menyimpan rapat-rapat harapan itu dan membuangnya sejauh mungkin.


"Hei, anak Mama sudah cantik, kenapa nangis? Nanti cantiknya hilang," ujar Yuri dengan wajah mengembun. Dia mengusap butiran kristal yang mulai melelh di wajah cantik putrinya.


Sebagai seorang ibu, bohong jika dia bilang baik-baik saja sekarang. Bagaimana tidak? Dia merasa bahagia bisa menyaksikan putri satu-satunya menikah dengan laki-laki pilihannya. Namun, dia juga merasa sedih harus melepaskan Fay pada orang lain. Rasanya tidak rela, tapi dia bisa apa? Tidak selamanya dia bisa menemani putrinya, dengan Vano, Yuri berharap bisa bahagia memjalani kehidupan rumah tangganya kelak.


"Apa kamu tidak bahagia, Fay?" imbuhnya.


"Fay bahagia, terharu, juga sedih, Ma."


"Kenapa sedih? Katakan sama Mama, apa kamu menyesal sudah menikah dengannya?"


"Bukan itu maksud Fay, setelah menikah nanti, pasti waktu kita untuk bertemu akan berkurang. Fay sedih mengingat hal itu," ungkap Fay dengan air mata menderas. Dia mendekap sang ibu, mencari alasan agar sang ibu tidak curiga dengan pernikahannya.


"Dengar Mama, kamu bisa datang kapan pun. Nak Vano sudah mengatakan sama Mama, dia tidak akan melarang jika kamu ingin menemui Mama."


"Benarkah? Kapan Mama bicara dengannya?" Fay mendorong sang ibu perlahan, memberi jarak diantara keduanya. "Kenapa Fay tidak tahu?"


"Sudahlah, yang terpenting sekarang anak Mama enggak boleh sedih lagi. Mama percaya Nak Vano adalah laki-laki yang bertanggung jawab, dia pasti akan membuat kamu bahagia."


Keduanya kembali saling mendekap, sampai akhirnya ketukan pintu membuyarkan dua wanita itu. Fay membersihkan jejak air mata di wajahnya dengan perlahan, meski ia yakin kalau make up yang menempel di wajahnya tidak akan luntur oleh matanya.


"Ya, tunggu sebentar."


Sekali lagi dia menatap pantulan dirinya di cermin, tampilannya memang lebih mirip putri dalam dongeng. Gaun putih dengan manik-manik cantik dan mutiara yang indah, perhiasan bertahtakan berlian yang melingkar di leher, anting menjuntai dengan berlian senada dengan yang ada di leher. Jangan lupakan mahkota kecil di kepalanya.


Fay yakin, semua yang melekat pada dirinya pasti memiliki harga selangit dan membuatnya tidak menyangka Vano akan memperlakukannya dengan baik. Demi sebuah sandiwara, Vano rela menghamburkan banyak uang. Bukan banyak lagi sangat banyak jika dihitung, tetapi hal itu tidaklah seberapa bagi seorang Melviano.


Tamu yang hadir sudah menunggu kedatangan mempelai wanita, meski hanya beberapa orang yang datang. Namun, mereka semua adalah orang yang sangat berpengaruh di bidangnya.


"Ma, apa aku cantik?" tanya Fay memastikan sekali lagi.


"Cantik, sangat cantik. Cinderela kalah," canda Yuri.


"Mari, Non."


Jantung, bekerjasamalah denganku. Ini hanya sebuah sandiwara, kau tidak perlu gelisah.


Para pelayan membantu Fay menuju ke tempat acara, Suster Ningsih membantu Yuri dengan kursi rodanya menaiki lift.


Bagimana reaksi Vano saat pertama kali melihat Fay dalam balutan gaun pernikahan? Apakah acara berjalan sesuai keinginan Vano? Yuk, tulis jawabannya di komentar. Semoga berkenan like dan vote.


Bersambung ....