Sweetest Mistake With CEO

Sweetest Mistake With CEO
Andai Saja



"Ibu Anda kritis, sekarang dalam penanganan dokter."


Kalimat itu terus terngiang di telinga Fay, bagaimana bisa? Sebelumnya dokter mengatakan kondisinya baik-baik saja, bahkan jika hasil pemeriksaan hari ini bagus, operasi dinyatakan berhasil dan kemungkinan untuk sembuh semakin banyak.


Namun, hal mengejutkan yang bari saja di dengarnya benar-benar membuatnya tidak habis pikir. Mengapa hal itu bisa sampai terjadi? Fay menghapus jejak air mata dengan punggung tangannya. Dia tidak dapat menghentikan derasnya aliran cairan bening itu. Fay tidak ingin Vano melihatnyabdalam keadaan yang menyedihkan, tetapi saat ini Fay tidak dapat menutupi semuanya. Tubuhnya berkhianat dan berkata lain.


"Jangan sampai terjadi apa-apa sama Mama, tolong tetap bertahan," ucap Fay dalam hati.


Vano tahu kegelisahan yang Fay rasakan, dia pernah berada di posisi yang sama. Tidak ingin kehilangan wanita yang paling disayanginya.


"Menangislah! Jika hal itu membuatmu merasa lebih baik." Vano memberikan beberapa lembar tisu untuk Fay membersihkan sisa air mata di wajahnya. Dia tidak tahu harus bagaimana memperlakukan Fay. Mereka tidak sedekat itu.


Fay menatap Vano nanar, selama ini tidak ada yang peduli dengannya. Satu-satunya orang peduli kini tengah memperjuangkan hidupnya di rumah sakit. Laki-laki itu mengangguk dengan tisu di tangannya, tetapi reaksi Fay lain. Dia menghambur memeluknya. Vano tersentak, tidak menyangka Fay akan memeluknya.


"Biarkan seperti ini, sebentar saja."


Tidak dapat dipungkiri, ini pertama kalinya Vano merasa gugup dipeluk oleh seorang wanita. Ritme jantungnya semakin meningkat, tangannya perlahan memainkan surai panjang sang istri dengan tisu masih berada dalam genggaman.


Fay merasakan kehangatan dan kenyamanan yang telah lama menghilang dan begitu ia rindukan. Tidak ada jarak diantara mereka, Fay dapat mendengar kerja jantung Vano yang terus meningkat, tidak berbeda dengan dirinya. Namun siapa yang peduli, saat ini Fay hanya butuh pelampiasan. Hanya Vano yang ada di sebelahnya, tidak mungkin juga laki-laki di depannya yang sibuk mengendalikan laju kendaraan.


"Huuu ..., huuu ...." Fay membenamkan wajahnya semakin dalam. Seperti seorang anak yang mencari kenyamanan.


"Bisa nggak, jangan banyak bergerak?" tegur Vano. Dia merasa debaran itu semakin tidak terkendali, terlebih getaran tubuh Fay yang terisak membuatnya tidak bisa diam. Vano merasa naluri mulai bekerja, tetapi dia hanya bisa menyiksa dirinya sendiri karena kondisinya tidak memungkinkan.


"Huaaa ...," tangis Fay semakin pecah. Pakaian Vano sudah basah oleh air matanya.


Baiklah. Untuk kali ini saja aku akan membiarkanmu, tapi tidak untuk lain kali.


"Hei, kau ini jorok sekali!" kesal Vano. Dia berusaha mendorong Fay dan memberinya tisu untuk mengelap air matanya.


Semakin dibiarkan, Fay semakin menjadi. Dia jadikan jas mahalnya untuk mengelap ingus dan air matanya. Vano tidak boleh membiarkan hal itu terus terjadi, tetapi tangis Fay semakin kencang.


"Huaaa ..., tidak ada lagi yang peduli padaku. Mama, Fay nggak mau sendirian." Wanita itu tidak membiarkan Vano menjauhinya, dia mendekap Vano sangat erat. Bukan itu saja, Fay memukuli Vano untuk melampiaskan semua kesedihannya. Kapan lagi melampiaskan marah tanpa mendapat perlawanan dari Vano?


"Hei, kau mau membunuhku? Saya tidak bisa bernapas!" ucap Vano dengan suara meninggi.


Sabar, kamu harus ingat dia sedang tidak baik-baik saja.


Vano membiarkan Fay berbuat sesuka hati, meski dalam hatinya tak henti mengumpat. Dia menangis sepuasnya, hingga akhirnya wanita itu merasa tenang dan melepaskan dirinya sendiri. Kali ini Vano yang tidak membiarkan Fay pergi, sampai akhirnya wanita itu menutup matanya.


"Hei, ada apa dengamu? Jangan bercanda denganku!" Vano menepuk wajah Fay pelan, berharap Fay hanya tertidur, tetapi sampai mereka di rumah sakit, dia tidak juga membuka matanya.


"Tuan, kita sudah sampai di rumah sakit," ucap sang sopir.


"..."


Tanpa menunggu lama, Vano menggendong sang istri yang dengan setengah berlari, dia meminta tim medis untuk membantunya.


"Dokter, cepat tolong dia!" seru Vano dengan napas terengah. Dia tidak lagi peduli dengan tatapan orang-orang yang berlalu lalang menatap penampilan kusutnya.


Tangan kanan memijat pangkal hidungnya, satu tangan yang lain berkacak pinggang. Vano hampir saja melupakan tujuan awalnya datang ke rumah sakit. Saat ini yang terpenting adalah kondisi Fay, saat berangkat dia masih baik-baik saja. Apa yang membuatnya tidak sadarkan diri? Hal itu masih menjadi pertanyaan terbesarnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Arlan.


"Lan, dia masih ditangani, bagaimana kondisi di sana?" Arlan baru saja tiba, dia lebih dulu memastikan keadaan Yuri.


"Saya sudah meminta seluruh rekaman CCTV rumah sakit saat kejadian. Kemudian ...."


Arlan belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat dokter yang menangani Fay keluar ruangan.


"Siapa keluarga pasien?"


"Saya, Dok." Vano berjalan mendekat, semoga saja benar-benar tidak terjadi sesuatu yang buruk. "Bagaimana kondisinya?"


"Ya." tegas Vano. "Apa terjadi sesuatu yang buruk padanya?"


"Mari bicara di dalam." Vano mengikuti dokter itu masuk kembali ke ruangan Fay di tangani, tetapi masih ada sekat yang menghalangi. "Anda benar-benar suaminya?" tanya sang dokter sekali lagi.


"Apa menurutmu ada tampang penipu di wajahku?" ucap Vano kesal. Awas saja, kalau berani bertanya hal yang sama lagi, besok dia pasti tidak akan ada lagi di rumah sakit ini.


"Menurut hasil pemeriksaan, istri Anda kelelahan, kurang asupan makanan, dan terlalu stress."


"Apa katamu?"


Vano tidak habis pikir, bagaimana bisa Fay kekurangan asupan makanan? Di mansion semuanya tersedia, lengkap.


"Semua yang saya katakan benar sesuai hasil pemeriksaan, tetapi untuk memastikan lebih rinci kita akan menunggu hasil lab. Mungkin saja akan ada berita baik."


"Mama," teriak Fay. Dia baru saja terbangun dan langsung berteriak mencari sang ibu.


Vano beranjak dari tempatnya, membantu Fay yang sudah duduk di tepi ranjang, hendak berdiri dan mencari ibunya.


"Hei, kau mau kemana?" ketus Vano.


"Kenapa aku di sini? Aku mau lihat Mama, tolong bawa aku ke sana," ucap Fay memohon dengan matanya berkaca-kaca.


"Nggak bisa, dokter bilang ...."


"Aku nggak papa, nanti juga sembuh sendiri. Kalau kamu nggak mau, aku akan mencarinya sendiri."


Vano tidak memiliki pilihan lain, ia segera mengantar Fay ke ruangan Yuri.


"Saya tunggu hasil lab-nya," ujar Vano mendorong Fay dengan kursi roda.


Di sana, Adel menangis sesenggukan dalam dekapan sang suami. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada Yuri, terlebih saat kejadian hanya ada mereka di ruangan itu.


Pintu ruangan di dorong dari dalam, Dokter Adam membuang napas berat. Kondisi Yuri belum sepenuhnya pulih pasca operasi, sekarang ditambah lagi makanan yang beracun.


"Bagaimana?" tanya Henry dan Vano bersamaan.


Dokter Adam menggelengkan kepalanya perlahan, dia tidak tahu bagaimana harus mengatakannya.


"Maksudmu, dia ...."


"Pasien berhasil melewati masa kritisnya, tetapi ..."


"Tapi apa, Dok?"


"Sepertinya akan berpengaruh pada hasil operasi yang dijalaninya. Karena ginjal baru belum sepenuhnya berfungsi untuk menyaring darah beracun."


Adel semakim tergugu, perasaan bersalah semakin menusuk. Andai saja dia tidak datang, andai saja dia tidak menyuapinya. Masih banyak andai kata dalam benaknya.


Tatapan Vano tertuju pada wanita itu, semua ini pasti sengaja direncanakan. Hal yang paling tidak dia inginkan adalah melihatnya berada di sana saat kejadian.


"Sudah kubilang, kau tidak perlu datang dalam kehidupanku, tapi sekarang kau mengacaukan segalanya. Mengapa? Mengapa kau harus kembali ke sini?" ucap Vano dengan suara meninggi. Wajahnya memerah menahan marah.


Tentu saja semua yang ada di sana tidak menyangka Vano akan membentak Adel di hadapan mereka.


Nyesek banget thor ini, hik!


Apa yang akan Vano lakukan pada Adel? Bagaimana sikap Henry terhadap Vano? Apakah Fay juga akan menyalahkan Adel karena sudah membuat sang ibu kembali berhadapan dengan maut?


Bersambung ....