
Vano sengaja memberikan black card untuk Fay, dia ingin melihat apakah Fay akan memanfaatkan kesempatan itu untuk memerasnya? Seberapa besar nyali wanita itu untuk menghamburkan uangnya? Vano akan tahu setelah Fay menggunakan kartu tersebut.
"Kamu bilang uang itu sangat penting? Kita akan lihat seberapa pentingnya uang itu, dan berapa yang bisa kamu habiskan." Sudut mulutnya mencibir, menatap punggung wanita itu dari kejauhan.
Fay melennggang dengan wajah bimbang, dia tidak tahu harus sedih atau senang mendapat balck card di tangannya. Ia sudah menolak dengan berbagai alasan, tetapi Vano tetap kekeh memberikan kartu itu padanya.
Wanita berrambut panjang itu kembali menemui Yuri di kafe, ia berniat memenuhi keinginan sang ibu untuk berbelanja dan makan di restoran mewah dengan uang yang Vano berikan.
Aku tidak boleh serakah, satu milyar sudah cukup. Setelah itu, aku akan mengembalikan kartu ini pada pemiliknya.
"Mama sudah pesankan makanan kesukaanmu, makanlah!"
"Kita kan mau makan di luar, Mama bilang mau makan di restoran."
"Iya, Mama sudah kelaparan menunggumu, jadi sekalian pesan makan siang dan ternyata makanan di sini enak juga, loh."
Seharusnya Fay tahu bahwa Yuri hanya mencari alasan saja, dia sengaja mencari alasan untuk keluar rumah sakit agar membuatnya bertemu dengan Vano. Namun, ia juga harus berterima kasih karena dengan begitu sekarang sudah ada satu milyar di tangannya.
"Kenapa nggak dimakan, nggak sesuai sama seleramu?" tanya Yuri saat melihat putrinya hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Bagaimana kelanjutan hubungan kalian? Apa terjadi masalah? Apa Nak Vano menyakitimu?" Yuri mencecarnya dengan pertanyaan.
"Mama ini, kalau tanya satu-satu. Jangan borongan begitu," ucap Fay kesal.
"Habisnya kamu dari tadi sikapnya aneh banget."
Karena Yuri menolak pergi berbelanja, Fay memutuskan untuk mengantar Yuri kembali ke rumah sakit, dia tidak ingin ibunya kelelahan dan membuat kesehatannya menurun. Terlebih Dokter Adam berpesan agar segera kembali setelah selesai.
Sesampainya di rumah sakit, Fay meminta Yuri untuk kembali beristirahat setelah membersohkan diri dan berganti pakaian, ia tahu kondisi ibunya sudah tidak seperti dulu lagi.
"Mama istirahat, ya. Fay berangkat kerja dulu," pamit Fau pada sang ibu, tidak lupa mengecup wajahnya. Meski sudah ditumbuhi guratan halus, dan wajah semakin tirus, tetapi sisa kecantikannya masih sangat ketara.
"Iya, kamu harus pintar menjaga diri, Fay." Yuri menatap putrinya sendu, Fay masih begitu muda, tetapi sudah menanggung beban berat. Dia harus bekerja keras untuk menggantikannya, tidak hanya itu, Fay juga harus membiayai pengobatannya yang terbilang tidak murah bagi kalangan menengah kebawah seperti mereka.
"Mama tenang aja, Fay pasti baik-aja. Ya udah, Mama istirahat, ya."
"Iya," Yuri memaksakan senyum.
Maafin Mama, Fay. Semoga Nak Vano bisa menepati janjinya untuk menjagamu. Hanya dengan menyetahkanmu ke tangan orang yang tepat, Mama baru merasa lega dan bahagia.
Sepanjang menyusuri lorong rumah sakit, Fay hanya banyak berpikir, ia masih belum menjawab keinginan Vano untuk menikah tiga hari lagi. Untuk itu, dia memilih menyimpannya dan tidak memberitahu sang ibu sebelum semuanya jelas.
Bukankah seharusnya dia senang? Menjadi Nyonya CEO adalah keinginannya, dengan begitu ia dan ibunya tidak akan direndahkan dan dihina lagi. Namun, tidak dalam waktu yang sangat singkat, terlebih kondisi ibunya masih sakit, dia tidak ingin di hari bahagianya tanpa dihadiri sang ibu.
Ck, hari bahagia. Pertanyaan aneh macam apa itu? Pernikahan ini hanyalah alat, dimana keduanya mencari keuntungan masing-masing.
"Nona Fay," sapa seseorang yang baru saja keluar dari lift.
Wanita itu menelengkan kepala, ternyata Dokter Adam yang memanggilnya.
"Bisa bicara sebentar? Ada hal penting yang ingin saya katakan kepada Anda dan Ibu Yuri," ucapnya sopan.
"Ini tentang donor ginjal Ibu Yuri. Mari ikut saya." Fay mengekori dokter itu ke ruang perawatan Yuri.
"Apa ada yang tertinggal, Fay?" ucap Yuri, ia mengira Fay melupakan sesuatu.
"Ibu Yuri, bagaimana kondisinya?" tanya Dokter Adam ramah.
"Dokter, saya merasa lebih baik hari ini."
Setelah bertanya, Dokter Adam memeriksa kondisi Yuri dengan seksama dibantu Suster Ningsih. Hasilnya menunjukkan kondisinya memang lebih baik. Dengan begitu, dia bisa menyampaikan perihal pendonor yang cocok untuknya.
"Jadi begini, saya sudah menemukan sample yang cocok dengan ginjal Anda."
"Benarkah?" ucap Yuri dan Fay bersamaan. Keduanya saling memeluk menerima kabar bahagia itu, sudut mata Fay mulai basah oleh air mata. Ia sangat bahagia mendengar berita baik itu, sebentar lagi ibunya tidak akan menderita lagi.
"Lalu, kapan operasinya akan dilaksanakan, Dok?" tanya Fay dengan senyum tak memudar. Dia sangat bahagia mendengar berita itu, itu berarti ibunya akan segera sembuh.
"Jika kondisi pasien baik seperti sekarang ini. Kita akan melakukannya dalam minggu ini. Untuk jadwal pastinya nanti saya beritahu lagi, karena kami perlu melakukan berbagai persiapan," jelas Dokter Adam.
"Mama dengar, kan? Sebentar lagi mama sembuh, Mama nggak akan kesakitan, Fay sangat senang kalau Mama bisa sehat lagi." Fay tak kuasa menahan haru, tidak berbeda dengan putrinya, Yuri matanya dibanjiri oleh air mata.
Dokter Adam dan Suster Ningsih turut merasakan kebahagiaan mereka berdua dan membiafkan keduanya saling meluapkan kasih sayang.
"Tolong dijaga kondisinya jangan sampai drop, saya masih harus mengunjungi pasien lain," pamitnya kedua wanita itu.
"Terima kasih, Dok."
Dokter Adam hanya menjawab dengan anggukan. Setelah itu, melenggang keluar dari ruang perawatan diikuti Suster Ningsih.
Benda pipih persegi milik Dokter Adam berdering, ia melirik layar dan mengisyaratkan Suster Ningsih untuk menerima panggilan itu.
"Bagaimana?" ucap orang itu tanpa basa-basi.
"Beres, Tuan. Saya sudah menyampaikan kabar gembira itu pada pasien dan putrinya."
"Kerja bagus, kamu bisa cek rekening, Arlan akan men-transfer hasil pekerjaamu."
"Baik, terima kasih, Tuan Melviano."
Panggilan berakhir, layar yang meredup kembali menyala. Vano tidak berbohong dengan ucapannya, sejumlah uang sudah masuk ke rekeningnya.
"Sekarang, alasan apa lagi yang akan kamu gunakan untuk menolakku?" lirih Vano.
Fay berkata akan memikirkan kembali tentang pernikahan itu, dia mau menikah jika ibunya sudah mendapatkan donor ginjal dan kembali sehat.
"Ck, dasar plin-plan, awas saja kalau dia berani mempermainkanku. Aku pasti tidak akan pernah melepaskanmu, akan kubuat kaumemohon padaku. " Jemarinya semakin mengetat, mencengkeram benda pipih yang masih menyala.
Vano sangat kesal dan merasa dipermainkan oleh Fay, padahal ia sedikit berharap wanita itu akan memohon padanya. Fay bukanlah orang yang mudah dihadapi, sikapnya sulit ditebak. Apalagi setelah mendapatkan uang yang dia inginkan, seolah sudah tidak lagi membutuhkan Vano. Namun, bukan Vano namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
Bersambung ....